Bab 5 Diceraikan

"Nisa mau turun, Mas!" Nisa mengigau saat seorang dokter dan perawat masuk ke ruangannya. "Nisa nggak mau pergi!"

"Ibu Nisa?" Dokter itu pun mendekat. "Apa Ibu Nisa bisa mendengar suara saya?"

Perlahan, Nisa mulai membuka mata. "Dokter?"

"Ibu sedang di rumah sakit. Syukurlah ibu sudah siuman!" Dengan cekatan, dokter itu pun segera melakukan serangkaian pemeriksaan. "Mana yang sakit, Bu?"

"Semuanya," jawab Nisa.

Nisa meringis karena sekujur tubuhnya terasa sakit. Selagi dokter memeriksa, dia memegang kepalanya. Lalu mengingat kejadian yang membuatnya sampai terbaring di rumah sakit.

"Mas Arman?" Seketika Nisa bangkit. "Dimana Mas Arman?"

Baru beberapa detik, tapi Nisa merasakan sakit luar biasa di bagian perut. "Dokter, bayiku baik-baik saja kan?" tanya Nisa.

Nisa tidak berpikiran macam-macam. Mengira sakit yang dia rasakan adalah efek benturan keras yang dia terima saat kecelakaan.

Tapi, dia begitu panik menyadari tidak ada gerakan bayi di dalam perutnya.

"D-dokter?" Nisa membuka mulutnya lebar-lebar. "Mana anakku, dokter?"

"Maaf, Bu!" Dokter berwajah cantik itu memegang tangan Nisa. "Bayi ibu sedang istirahat sekarang."

"Istirahat?" Matanya yang lebam melihat sekeliling, berharap mendapati box bayi atau semacamnya. Tapi tidak ada benda seperti itu di sana. "Dimana dia istirahat? Saya ingin melihatnya, Dokter. Dia lahir prematur, kan?"

Nisa sangat berharap adanya keajaiban. Berharap anak itu selamat dan bertahan hidup meskipun lahir secara prematur.

Sayangnya harapan itu tidak ada karena bayinya benar-benar tak selamat. Arman, pria yang hanya mengalami luka ringan itu sudah memakamkan bayi itu tepat di samping makam almarhumah ibu Nisa.

Melihat Nisa, dokter dan suster itu pun saling berpandangan. Kasihan, tapi mereka harus memberitahu bahwa bayinya telah meninggal dunia. "Ibu Nisa, anak ibu sudah pergi ke surga."

"S-surga?" tanya Nisa dengan suara terbata. "Apa anakku meninggal, dokter?"

Dokter itu mengangguk. Tak lupa memeluk Nisa untuk memberikan penghiburan. "Maafkan kami, Bu. Kami sudah berusaha. Tapi bayi ibu sudah meninggal saat ibu dibawa ke rumah sakit."

"Tidak mungkin!" Seketika, tangis Nisa pecah. Protagonis wanita itu meraung sejadi-jadinya di pelukan sang dokter.

Althafunnisa, dia hanyalah seorang gadis sebatang kara. Tak punya ibu dan tak punya ayah. Yang dia punya hanyalah Arman tapi Arman mencampakkannya.

Dunianya nyaris runtuh, tapi berkat janin yang tumbuh di rahimnya, dia bisa bertahan. Tapi janin itu pun pergi meninggalkannya. Lantas, bagaimana cara Nisa melanjutkan hidupnya yang kian tak berwarna?

"Kenapa semuanya pergi?" Nisa terisak. "Kenapa aku tidak mati bersama anakku saja?"

Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Meratapi nasibnya yang buruk karena kehilangan anak. Sebuah rasa sakit yang bahkan tidak dirasakan Arman.

Yah, pria itu tahu anak itu mati. Tapi yang dia lakukan hanyalah berpesan pada dokter agar dokter menghubunginya ketika Nisa sadar.

.

.

.

"Mereka lucu sekali." Di ranjang pesakitannya, Nisa menoleh. Di balik kaca itu, Nisa melihat sekumpulan bocah bermain-main dengan ibu mereka di taman. "Kalau tahu begini akhirnya, aku pasti tidak akan pergi menemuimu hari itu."

Tangannya yang lemah menggenggam erat selimut. Menyesali keputusannya pergi menemui Arman tempo hari. "Ini yang kamu mau kan, Mas?"

Padahal, tinggal sebentar lagi Nisa akan berganti status menjadi seorang ibu. "Apa kamu senang sekarang?"

Melihat Nisa terus memperhatikan anak-anak itu, Arman pun mulai menyahut, "Jangan bicara seolah paling tersakiti. Kamu kehilangan bayimu karena kesalahanmu sendiri."

Bukannya meminta maaf, Arman justru menyalahkan Nisa. "Kalau kamu tidak menggangguku, tidak mungkin ada kecelakaan hari itu."

"Begitu, ya?" Nisa tersenyum nanar. "Ya, semua ini memang salahku!"

Sadar dia hanya akan jadi pihak yang disalahkan, Nisa pun memilih mengakui kesalahannya. Disisi lain, Arman mulai mendekati Nisa.

"Segera tanda tangani ini!" Arman menyodorkan sebuah map ke pangkuan Nisa.

"Apa ini?" tanya Nisa.

"Kita cerai saja!" jawab Arman.

Belum kering luka hati Nisa karena kehilangan calon anak. Tapi Arman sudah tega memberinya luka baru untuk Nisa. "Aku tidak mau!"

Nisa membuang map pemberian Arman. Tapi Arman kembali memberikannya pada Nisa.

"Dengar, aku berencana menikahi Sandra secepatnya." Arman membuka map itu. Lalu mengambil surat cerai di dalamnya dan menyodorkannya pada Nisa. "Tapi sebelum itu, aku harus menceraikanmu dulu."

"Kamu tahu, Mas?" Tiba-tiba Nisa menatap Arman. "Sandra yang memintaku masuk ke kamar hotel untuk mengganti sprei waktu itu."

"Lalu?" Arman menyela. "Kamu yang menawarkan tubuhmu untuk pria itu, kan?"

"Mas?"

"Cukup, Nisa!" Arman mulai meninggikan suaranya. "Jangan berani menuduh Sandra sengaja melakukan itu. Sandra bukan orang seperti itu!"

Jujur saja, Nisa bukannya menuduh Sandra menjebak atau semacamnya. Nisa hanya ingin Arman meninjau ulang keputusannya.

Apakah wanita yang memaksanya mengerjakan tugas yang bukan menjadi tanggungjawabnya itu adalah wanita baik-baik?

Tapi sungguh sangat disayangkan karena sebanyak apapun Nisa menjelaskan Arman tetap teguh dengan pendiriannya. Pria itu akan tetap menikahi Sandra apapun yang terjadi.

"Apa kamu sangat mencintainya?" tanya Nisa.

"Ya, aku sangat mencintainya!" jawab Arman.

Sakit rasanya mendengar suaminya mengatakan kata cinta untuk wanita lain. Tapi itu belum cukup untuk membuat Nisa menyerah.

Mereka menikah atas dasar cinta. Hanya saja ujian pernikahan mereka sangat sulit. Dan meskipun Nisa membenci Arman, tapi jauh di dalam lubuk hatinya masih sangat mencintai Arman.

Setelah berpikir sejenak, akhirnya Nisa pun membuat sebuah keputusan besar. Sebuah keputusan yang tidak pernah terpikirkan akan dia ambil untuk menyelamatkan pernikahannya dengan Arman.

"Aku tidak keberatan kamu menikah lagi." Nisa menatap Arman tanpa ekspresi. "Aku tidak keberatan kamu menghabiskan tujuh hari dalam seminggu bersamanya. Tapi tolong jangan ceraikan aku!"

Nisa pun menggapai tangan Arman. Berharap Arman mengabulkan permintaan terakhirnya. Tapi Arman melepaskan genggaman tangannya. "Kenapa kamu begitu keras kepala?"

"Karena aku sangat mencintaimu!" kata Nisa.

"Tapi aku sudah tidak mencintaimu." Arman menghela nafas panjang. Lalu melihat ke arah lain. "Aku tidak ingin memiliki hubungan apapun denganmu."

"Kamu akan menyesal karena menceraikan aku, Mas!" kata Nisa memperingatkan.

"Aku akan lebih menyesal jika harus menghabiskan seluruh hidupku denganmu, Nisa!" sahut Arman.

Pria itu mengabaikan peringatan terakhir Nisa. Lalu menyodorkan bolpoin untuknya. Karena Arman bersikeras meminta cerai, Nisa pun mengalah.

Mengambil bolpoin pemberian Arman dan menandatangani surat perceraian itu dengan suka rela.

Tidak ikhlas memang. Tapi apa yang bisa Nisa lakukan? Dia akan menjadi penjahat jika memaksa Arman untuk tetap tinggal.

"Ini untukmu!" Pria itu menyodorkan sebuah map yang lain. Di dalamnya berisikan surat kepemilikan rumah beserta tanah yang mereka tinggali selama ini.

"Aku tidak butuh rumah itu!" tolak Nisa.

"Nisa, jangan membuatku marah. Apa kamu lebih suka tinggal di kolong jembatan?" bentak Arman.

Karena kesal, Arman pun meletakkan map itu di meja. Nisa menerimanya atau tidak Arman tidak peduli. "Anggap saja sebagai permintaan maaf karena aku telah menceraikanmu!"

***

Terpopuler

Comments

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

lihat aja aman pasti menyesal sdh nikah sm sandra

2024-11-09

0

Rafalia Azen

Rafalia Azen

ambil saja nisa

2024-11-06

0

Yurniati

Yurniati

tetap semangat terus update nya thorr

2024-07-01

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Putri Pelacur
2 Bab 2 Di Ujung Perceraian
3 Bab 3 Patah Hati
4 Bab 4 Selingkuh
5 Bab 5 Diceraikan
6 Bab 6 Ikhlas Melepasmu
7 Bab 7 Siapa Pencuri Itu?
8 Bab 8 Gadis Kecil Bernama Raya
9 Bab 9 Nasi Berbentuk Hati
10 Bab 10 Diceramahi Calon Mantu
11 Bab 11 Nisa dan Annisa
12 Bab 12 Ku Temukan Kau
13 Bab 13 Nyatakan Cintamu Sekali Lagi
14 Bab 14 Love Action
15 Bab 15 Upgrade Nama Panggilan
16 Bab 16 Tidak Ada Ciuman Untukku?
17 Bab 17 Mantan vs Masa Depan
18 Bab 18 Jadi, Ibunya adalah?
19 Bab 19 Sepuluh Detik
20 Pengumuman!
21 Bab 20 Ikatan Batin
22 Bab 21 Secercah Harapan
23 Bab 22 Anak Siapa Ini, Abiyyu?
24 Bab 23 Berandal Itu Aku
25 Bab 24 Aku Salah Apa?
26 Bab 25 Rindu Mantan Menantu
27 Bab 26 Penyesalan Arman
28 Bab 27 Kenangan Manis
29 Bab 28 Rujuk?
30 Bab 29 Tidur Denganku Malam Ini
31 Bab 30 OTW Ketemu Mama & Papa
32 Bab 31 Pulang ke Rumah
33 Bab 32 Bertindak Sebagai Ayah
34 Bab 33 Pulang Sekarang
35 Bab 34 Haruskah Unboxing?
36 Bab 35 Ayahmu Pria Brengsek, Nisa!
37 Bab 36 Jangan Potong Burungku, Pa!
38 Bab 37 Selamat Datang di Rumah!
39 Bab 38 Ngintip, Yuk!
40 Bab 39 Mau Lihat? Akan Kutunjukkan!
41 Bab 40 Tikus, Kecoak atau Belalai Abiyyu?
42 Bab 41 Bertengkar
43 Bab 42 Cemburu
44 Bab 43 Kau Bajingan!
45 Bab 44 Ayo Menikah
46 Bab 45 Sah
47 Bab 46 Only 21+
48 Bab 47 Berita Pagi
49 Bab 48 Jangan Curi Anakku
50 Bab 49 Adik & Kakak?
51 Bab 50 Anak yang Banyak dan Lucu
52 Bab 51 Saatnya Pensiun
53 Bab 52 Papa?
54 Bab 53 Hari Apes
55 Bab 54 Mati?
56 Bab 55 Kenapa Kalian Bau
57 Bab 56 Calon Ayah
58 Bab 57 Bukan Aku yang Nakal
59 Bab 58 Butuh Obat
60 Bab 59 Abiyyu is Back
61 Bab 60 Dean Nathan & Zayn Nathan
62 Bab 61 Sampah yang Lucu
63 Bab 62 Bukan Salah Abimanyu
64 Bab 63 Kenapa Zayn Berbeda?
65 Bab 64 Kembar Identik
66 Bab 65 Jempol Dean Nathan
67 Bab 66 Kelakuan Nakal Zayn
68 Bab 67 Testpack Milik Siapa?
69 Bab 68 Nggak Mau Punya Adik
70 Bab 69 4 Tahun Kemudian
71 Bab 70 Proyek Pembuatan Adik (Gagal)
Episodes

Updated 71 Episodes

1
Bab 1 Putri Pelacur
2
Bab 2 Di Ujung Perceraian
3
Bab 3 Patah Hati
4
Bab 4 Selingkuh
5
Bab 5 Diceraikan
6
Bab 6 Ikhlas Melepasmu
7
Bab 7 Siapa Pencuri Itu?
8
Bab 8 Gadis Kecil Bernama Raya
9
Bab 9 Nasi Berbentuk Hati
10
Bab 10 Diceramahi Calon Mantu
11
Bab 11 Nisa dan Annisa
12
Bab 12 Ku Temukan Kau
13
Bab 13 Nyatakan Cintamu Sekali Lagi
14
Bab 14 Love Action
15
Bab 15 Upgrade Nama Panggilan
16
Bab 16 Tidak Ada Ciuman Untukku?
17
Bab 17 Mantan vs Masa Depan
18
Bab 18 Jadi, Ibunya adalah?
19
Bab 19 Sepuluh Detik
20
Pengumuman!
21
Bab 20 Ikatan Batin
22
Bab 21 Secercah Harapan
23
Bab 22 Anak Siapa Ini, Abiyyu?
24
Bab 23 Berandal Itu Aku
25
Bab 24 Aku Salah Apa?
26
Bab 25 Rindu Mantan Menantu
27
Bab 26 Penyesalan Arman
28
Bab 27 Kenangan Manis
29
Bab 28 Rujuk?
30
Bab 29 Tidur Denganku Malam Ini
31
Bab 30 OTW Ketemu Mama & Papa
32
Bab 31 Pulang ke Rumah
33
Bab 32 Bertindak Sebagai Ayah
34
Bab 33 Pulang Sekarang
35
Bab 34 Haruskah Unboxing?
36
Bab 35 Ayahmu Pria Brengsek, Nisa!
37
Bab 36 Jangan Potong Burungku, Pa!
38
Bab 37 Selamat Datang di Rumah!
39
Bab 38 Ngintip, Yuk!
40
Bab 39 Mau Lihat? Akan Kutunjukkan!
41
Bab 40 Tikus, Kecoak atau Belalai Abiyyu?
42
Bab 41 Bertengkar
43
Bab 42 Cemburu
44
Bab 43 Kau Bajingan!
45
Bab 44 Ayo Menikah
46
Bab 45 Sah
47
Bab 46 Only 21+
48
Bab 47 Berita Pagi
49
Bab 48 Jangan Curi Anakku
50
Bab 49 Adik & Kakak?
51
Bab 50 Anak yang Banyak dan Lucu
52
Bab 51 Saatnya Pensiun
53
Bab 52 Papa?
54
Bab 53 Hari Apes
55
Bab 54 Mati?
56
Bab 55 Kenapa Kalian Bau
57
Bab 56 Calon Ayah
58
Bab 57 Bukan Aku yang Nakal
59
Bab 58 Butuh Obat
60
Bab 59 Abiyyu is Back
61
Bab 60 Dean Nathan & Zayn Nathan
62
Bab 61 Sampah yang Lucu
63
Bab 62 Bukan Salah Abimanyu
64
Bab 63 Kenapa Zayn Berbeda?
65
Bab 64 Kembar Identik
66
Bab 65 Jempol Dean Nathan
67
Bab 66 Kelakuan Nakal Zayn
68
Bab 67 Testpack Milik Siapa?
69
Bab 68 Nggak Mau Punya Adik
70
Bab 69 4 Tahun Kemudian
71
Bab 70 Proyek Pembuatan Adik (Gagal)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!