Pagi itu Nayla berdoa agar persidangan berjalan lancar dan secepat mungkin dia bisa lepas dari belenggu suaminya yang tempramental. Dia datang seorang diri ke pengadilan agama yang letaknya lumayan jauh dari rumah.
Wanita muda itu lumayan gugup dan memutuskan untuk naik tadi menuju ke sana. Dia takut akan terlalu memikirkan tentang persidangan dan membahayakan dirinya di jalan. Sesampainya di pengadilan, Nayla tersenyum menyapa pengacaranya.
"Bagaimana kabarmu, Nayla?" tanya Baskara.
Wanita berambut panjang itu sangat senang bertemu dengan sang pengacara. Setidaknya dia bisa sedikit lebih tenang menghadapi jalannya persidangan nantinya. Mereka saling bertukar kabar, sesekali Baskara juga memberitahu tentang sidang nanti.
Tidak lama kemudian, mereka berdua melihat kedatangan Rizky dengan keluarganya. Pandangan keluarga Rizky sangat terlihat sinis terhadap Nayla seolah perceraian ini adalah kesalahan wanita itu.
"Jangan terpancing. Kita pasti akan memenangkan persidangan ini," bisik Baskara di jawab dengan anggukan kepala dari Nayla.
Tiba giliran perceraian Nayla dan Rizky. Mereka semua memasuki ruang sidang dengan tertib. Baskara membuka persidangan hari itu menjelaskan kepada hakim ketua alasan mengapa Nayla menggugat cerai suaminya.
Jalannya persidangan cerai antara Nayla dan Rizky berjalan sangat lama karena mereka bersikeras dengan keputusan mereka masing-masing. Lelaki itu tidak ingin berpisah dengan Nayla, sedangkan ibu satu anak itu sudah menghapus lelaki itu dari rencana masa depannya.
Akhirnya, Baskara menunjukkan sebuah tayangan cctv dimana Rizky menyerangnya beberapa minggu yang lalu dan memaki Nayla dengan kata-kata yang sangat tidak etis di katakan kepada seorang istri atau ibu dari anaknya.
"Semoga ini menjadi bahan pertimbang yang mulia, sekian dari saya. Terima kasih," ucap Baskara yang sedari tadi berdiri kini kembali duduk di samping Nayla.
Kubu Rizky sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dan hakim menyatakan hari itu juga mereka sah secara hukum bercerai. Nayla sangat lega sekali, dia berterima kasih kepada Baskara karena sudah membantunya.
"Sekali jalang tetap saja jalang, aku jadi kasian dengan Kiara yang lahir dari rahim seorang jalang!"
Nayla mendengar ucapan mantan adik iparnya itu, dia sengaja berbicara seperti itu dengan nada kencang agar dia mendengarnya. Namun, wanita itu tidak ingin merusak kebahagiaannya karena hal itu jadi dia tidak menanggapi mantan adik iparnya itu yang bernama Lia.
"Ya sudahlah Mas Rizky bersyukur sudah lepar dari belenggu wanita tidak tahu malu seperti Nayla!" ucap Lia dengan lantang.
"Apa maksudmu?! Aku dari tadi sudah diam tapi mulutmu terus saja membahasku!" Nayla tidak tahan lagi menahan emosinya yang meledak.
Rizky menarik adiknya dan Baskara menarik kliennya yang siap untuk baku hantam di pengadilan. Untuk mencegah hal itu tidak terjadi, Baskara menarik jauh Nayla hingga keluar ke halaman depan.
"Kamu tidak kembali ke kantor hari ini?" tanya Baskara tiba-tiba.
Nayla menggelangkan kepalanya dan menatap lelaki itu karena seperti hendak mengatakan sesuatu. Setelah menanyakan dimana motor Nayla, dan wanita itu menjawab dia naik tadi ke sini, Baskara tersenyum seperti malu dan mempersilakan wanita muda itu untuk masuk ke mobilnya.
Lelaki yang memakai kacamata itu mengajak Nayla pergi ke suatu bukit dimana di sana terdapat sebuah kafe dengan pemandangan yang begitu menakjubkan. Wanita muda itu benar-benar senang sekali berada di tempat yang udaranya sangat sejuk karena di berada di atas bukit.
Baskara memberikan es krim kepada Nayla yang membuat mata wanita muda itu semakin berbinar karena terharu akan kebaikan pengacaranya.
"Apa kamu selalu mengajak semua klienku untuk merayakan status jandanya?" tanya Nayla penasaran karena lelaki itu sangat baik sekali.
Baskara hampir tersedak es krim, lelaki itu berdeham untuk melancarkan tenggorokannya. "Tidak, hanya kamu."
Jantung Nayla berdetak kencang, dia mencuri pandang melirik lelaki yang sibuk dengan es krimnya. Entah kenapa jawaban laki-laki itu membuat wanita yang baru saja mendapatkan status baru menjadi salah tingkah. Dia berusaha untuk mengatur napasnya lalu kembali menikmati es krim yang ada di tangannya.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Baskara memecahkan keheningan di antara mereka berdua.
"Aku ingin fokus dengan karirku, walaupun terlambat. Aku ingin membahagiakan diriku sendiri dan orang di sekitarku," sahut Nayla sembari memikirkan keinginan-keinginan yang belum tercapai.
"Termasuk aku?" timpal Baskara.
Kali ini lelaki itu menatap Nayla, mereka saling menatap untuk beberapa detik lalu wanita muda itu menganggukkan kepalanya. Menurut Nayla, lelaki itu adalah teman pertamanya semenjak dia memutuskan untuk berpisah dengan suaminya.
Baskara juga yang selalu menghiburnya, entah itu karena memang pekerjannya seperti itu atau lelaki itu berusaha untuk mendekatinya. Nayla tidak peduli, yang dia tahu Baskara adalah teman yang baik.
Mereka menghabiskan waktu hingga sore menjelang. Lelaki itu mengantarkan pulang Nayla dengan selamat sampai pada rumah orang tuanya.
"Terima kasih banyak, Mas Baskara."
Mereka berdua hendak berpisah hari itu, tapi tiba-tiba Kiara keluar dari rumah dan berlari menghampiri lelaki yang berprofesi sebagai pengacara itu. Anak kecil itu meminta gendong kepada Baskara, tentu saja lelaki itu tidak bisa menolak permintaan gadis kecil yang cantik seperti Kiara.
"Ayo main, Om," bisik Kiara.
Mendengar hal itu Nayla hanya tersenyum dan mempersilakan lelaki itu untuk masuk ke dalam rumah. Kakek dan nenek Kiara juga menyambut hangat kedatangan tamu yang sudah membantu permasalahan putri sulungnya. Ponsel Baskara berdering saat itu karena panggilan video dari sang adik.
Baskara mengangkat telepon itu dan menghadapkan kamera ponselnya kepada Kiara, gadis kecil itu senang sekali melihat Jiya yang ada di layar dan menyuruhnya untuk datang.
"Besok Tante yang datang ya, jangan lama-lama main sama Om, ya?" ucap Jiya bercanda.
Semua orang tertawa mendengar ucapan Jiya yang seperti cemburu dengan Baskara yang bermain bersama dengan Kiara, padahal wanita muda itu sudah berjanji akan kembali bermain dengannya.
Rita mengajak Baskara untuk makan malam di rumahnya karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Lelaki itu hendak menolak, tapi kedua orang tua Nayla memaksanya untuk tetap tinggal sebentar lagi karena jam makan malam juga sudah tiba.
Mau tidak mau akhirnya Baskara menuruti perintah orang tua Nayla. Sudah lama dia tidak merasakan kehangatan berkumpul dengan keluarga seperti saat itu. Mungkin terakhir kali sewaktu dia masih kelas enam SD sebelum kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai.
Mereka mendengar suara ketukan pintu, seperti orang yang tidak sabar. Rita memutuskan untuk melangkah mendekati pintu utama.
"Ya sebentar ..." Rita membuka gagang pintu rumahnya.
Wanita paruh baya itu terkejut saat membuka pintu dan melihat mantan besannya yang muncul di balik pintu.
"Tolong!" ucap wanita itu dengan bercucuran air mata.
—bersambung—
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
seperti nya orang tua Rizky tidak puas hati 😠😡
2024-05-09
0