Satu tamparan mendarat di pipi wanita yang sedang memegangi pergelangan tangannya. Nayla sudah tidak tahan lagi dengan mulut mantan adik iparnya itu. Ingin dia melakukan lebih parah dari tamparan, hanya saja wanita berambut panjang itu menahan dirinya karena tahu dia sedang berada di rumah sakit.
Tidak lama kemudian, Widya menghampiri mereka berdua. Wanita paruh baya itu melihat putri bungsunya menempelkan tangan di pipi kirinya. Dia tahu apa yang sedang terjadi dan mendorong bahu Nayla.
"Kamu apain anak saya?! Hah?" tanya Widya dengan amarahnya yang meledak.
"Lebih baik kalian pergi dari sini sebelum aku panggilkan petugas keamanan!" ucap Nayla pelan tapi penuh dengan penekanan di setiap katanya.
"Dasar ngga tahu di untung! Gara-gara kamu anak saya mendekam di penjara!" timpal Widya yang tetap tidak ingin pergi.
Obrolan mereka terdengar hingga dalam kamar, Baskara menyuruh Rita untuk tinggal di dalam saja karena dia yang akan keluar menengahi mereka bertiga yang tidak akan berhenti berdebat. Lelaki itu melangkah keluar kamar, mereka bertiga langsung menatapnya.
"Pacar kamu tuh datang! Ayo Lia kita pergi dari sini!" celetuk Widya sembari menggandeng tangan putri bungsunya.
Nayla menggelengkan kepalanya penuh heran melihat tingkah ibu dan anak itu. Setelah melihat mereka berdua benar-benar pergi dan menghilang dari ujung lorong entah belok kemana, Nayla memutuskan untuk masuk ke dalam menemui putri kesayangannya.
Wanita berambut panjang itu menghembuskan napas panjang saat menatap Kiara yang sedang bermain dengan Jiya. Dia melihat wajah putrinya yang tertawa karena bermain boneka barunya. Rita melangkah mendekati putrinya yang terlihat termenung.
"Bersyukur sekali ya banyak yang sayang sama Kiara," bisik Rita kepada putrinya.
Nayla mengangguk setuju dengan ucapan sang ibu. Mereka berdua terlihat tulus menyanyangi putrinya. Rita berpamitan kepada semua orang di ruangan itu tidak terkecuali karena Nayla sudah datang waktunya sang ibu untuk pulang dan mengurus segala sesuatu di rumah. Hari juga hampir gelap, dia takut mengendarai angkutan umum jika hari sudah mulai gelap.
Jiya menawarkan tumpangan kepada wanita paruh baya itu, dengan alasan karena wanita muda itu ingin pergi ke arah yang sama dengan Rita. Melihat kebaikan Jiya, wanita paruh baya itu tidak menolaknya dan menerima tawaran itu.
Mereka berdua berpamitan kepada semuanya lalu meninggalkan Nayla dan Baskara menemani Kiara lagi. Gadis kecil itu hanya ingin bermain dengan Baskara dan mengabaikan sang ibu.
"Besok biar aku saja yang menjemput Kiara, Nay," ucap Baskara kepada ibu satu anak itu.
"Mas ngga kerja? Biar Ibu saja sama Ayah yang jemput," sahut wanita muda itu yang merasa sungkan dengan lelaki yang duduk di samping putrinya.
Baskara tetap ingin menjemput teman kecilnya itu. Lagi pula jadwal Baskara besok benar-benar kosong, jadi dia mempunyai banyak waktu luang. Wanita berparas cantik itu akhirnya menyetujuinya karena Baskara tetap bersikeras untuk menjemput Kiara.
Hal ini menjadi menyulitkan Nayla untuk menjaga jarak dengan lelaki yang sudah banyak menolongnya. Namun sepertinya putri semata wayangnya sudah sangat menyukai Baskara, padahal dengan ayah kandungnya dia tidak pernah sedekat ini.
***
Baskara baru saja mengantarkan ibu kandung Kiara ke kantor, lelaki itu kembali ke rumah sakit karena dia sudah berjanji kepada Kiara untuk mengantarnya pulang ke rumah. Sesampainya Kiara di rumah, dia sangat senang karena bertemu dengan sang kakek.
Rita menyuruh lelaki itu untuk beristirahat sebentar di rumah dan berbincang dengan ayah Nayla. Lelaki paruh baya itu duduk di depan dengan Baskara, mereka saling bertukar pendapat dan sesekali Usman menceritakan masa mudanya yang di gandrungi banyak wanita.
"Dulu aku sempat tidak setuju Nayla menikah dengan Rizky," ucap Usman tiba-tiba membuat lelaki di sampingnya menatap wajahnya yang sudah berkeriput.
Lelaki paruh baya itu meluapkan semua isi hatinya kepada Baskara. Dia hanyut dalam cerita ayah Nayla, lelaki yang berprofesi sebagai pengacara itu dapat menyimpulkan bahwa sang ayah sangat menyayangi putri sulungnya itu dan dia mau berkorban apapun demi Nayla dan Kiara cucu pertamanya.
Obrolan mereka terhenti karena tiba-tiba Kiara datang dan menarik Baskara untuk bermain gelembung di halaman rumahnya. Lelaki bertubuh kekar itu meniup gelembung dan Kiara menangkap gelembung yang berterbangan karena tiupan angin.
Baskara sangat senang sekali, sosok Kiara menjadi obat untuknya karena dia tidak pernah bisa tertemu dengan Alea, putri kandungnya yang sudah meninggal saat gadis kecil itu berusia tiga tahun. Melihat kelucuan Kiara membuat Baskara seakan melihat putri kandungnya sendiri.
"Kalau begitu saya pamit permisi Ibu, Ayah. Dadah Kiara! Sampai bertemu lagi." Baskara melambaikan tangannya kepada teman kecilnya itu.
Kiara terlihat murung dan sedih karena Baskara pergi dari pandangannya. Rita menjelaskan kepada cucu pertamanya itu Baskara harus pulang ke rumahnya sendiri karena seharian sudah bermain dengan Kiara dan sekarang saatnya beristirahat. Kiara mengangguk seakan mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh sang nenek.
Aku jemput?
Tidak usah Mas, aku sudah bilang temanku untuk mengantarkan pulang.
Nayla berbohong kepada lelaki itu, sebenarnya Lisa atau teman yang lain tidak bisa mengantarkan dia pulang dan wanita muda itu memutuskan pulang dengan ojek saja. Sesampainya di rumah dia merasa lega karena Kiara sudah beraktivitas seperti biasanya. Dia juga ikut bermain dengan Kiara sebelum jam tidurnya.
"Mama kenapa Om tidak bisa tidur di sini saja bersama kita?"
Nayla benar-benar di buat tidak bisa berkata-kata dengan ucapan dari mulut putri kecilnya. Bagaimans bisa anak umur tiga tahun berbicara seperti itu?
"Karena Om Baskara punya rumah sendiri, sayang. Dia harus pulang ke rumahnya," sahut Nayla seraya membelai lembut rambut sang putri.
***
"Semua sudah kujual demi mengeluarkan anakmu itu dari penjara!"
Rizky hanya menundukkan kepalanya penuh rasa bersalah kepada kedua orang tuanya. Orang tuanya sudah membayar banyak uang untuk membebaskan putra sulungnya itu. Ayah Rizky menyuruh putranya itu untuk melanjutkan hidupnya dan berubah menjadi orang yang lebih baik untuk Kiara, putri mereka.
Setelah ayahnya masuk ke dalam kamar, Widya mendekati putranya itu lalu menceritakan kepada Rizky bahwa sekarang Nayla semakin dekat dengan pengacaranya. Mendengar cerita itu Rizky mengepalkan kedua tangannya.
"Aku harus segera mendapatkan pekerjaan, agar aku bisa mengambil putriku," lelaki itu sudah bertekad.
"Iya kau harus tunjukkan kalau kau jauh lebih sukses dari pada pengacara Nayla itu!" timpal Widya memberikan motivasi kepada sang putra.
Lelaki yang baru saja keluar dari penjara itu memutar otaknya dimana dia harus mencari pekerjaan sesuai dengan ijazahnya yang seorang sarjana ekonomi. Semalaman dia mencari lowongan pekerjaan, dia harus mendapatkan pekerjaan entah bagaimana caranya agar bisa mengalahkan Baskara.
Rizky juga harus membuktikan kepada sang ayah, bahwa dia bisa menjadi orang yang berguna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
buktikan saja kalau kau bisa mampu menyaingi Baskara 😏
2024-05-09
0