Putus asa

"Maafin Nayla, Ayah ... Maafin Nayla."

Nayla berlutut meminta ampun kepada sang ayah, karena hal ini pasti membuat pria paruh baya itu terguncang. Tidak lupa juga Nayla meminta ampun kepada sang ibu yang sudah rela membelanya di depan keluarga suaminya.

Air mata Usman, Ayah Nayla tidak bisa di bendung lagi. Lelaki yang rambutnya hampir berwarna putih itu meneteskan air matanya. Membuat hati Nayla sangat sakit saat melihatnya. Mereka memang bukan dari keluarga berada, tapi orang tuanya menyekolahkan anak-anaknya hingga menjadi sarjana.

Usman memeluk putri sulungnya. Pria itu merasa sakit hati putri kesayangannya menjadi tulang punggung keluarga, di perlakukan kasar oleh mertuanya. Mereka berdua menangis sembari berpelukan.

Rita juga tidak tahan menahan air matanya, apalagi saat melihat suami dan anaknya yang saling menguatkan satu sama lain. Wanita paruh baya itu mengusap air matanya dan pergi ke depan rumah mereka, membiarkan ayah dan anak itu saling berbicara dari hati ke hati.

"Kiara ..." panggil Rita, wanita itu melangkah mendekati cucunya yang sedang bermain dengan Baskara di teras rumah.

Baskara tersenyum saat anak kecil berusia tiga tahun itu berlari dengan gemasnya ke arah sang nenek. Lelaki itu juga melangkah mendekati wanita paruh baya itu dan berpamitan karena ada hal lain yang harus dia urus.

"Terima kasih, ya. Nanti Ibu sampaikan ke Nayla untuk menghubungi nak Baskara," lirih Rita dengan mata sembab.

"Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi. Dadah Kiara, om pulang ya? Sampai ketemu lagi." Baskara melambaikan tangannya kepada gadis berusia tiga tahun itu.

Kiara melambaikan tangannya kepada Baskara. Setelah melihat mobil Baskara melaju dan menghilang dari pandangan Rita, wanita paruh baya itu membawa masuk Kiara ke rumah. Bersamaan dengan Nayla yang keluar rumah untuk menemui pengacaranya. Rita memberitahu kepada putri sulungnya itu, bahwa pengacaranya sudah pulang terlebih dahulu karena adanya urusan yang perlu dia tangani.

Mendengar hal itu, ada perasaan kecewa yang menyelimuti hati Nayla. Bagaimana pun juga dia harus berterima kasih kepada lelaki itu karena sudah menyelematkan dirinya dan juga keluarganya. Nayla membawa putri kecilnya masuk ke dalam kamar lamanya sebelum dia menikah. Wanita muda itu mempunyai adik laki-laki yang bekerja di luar kota.

"Kiara sayang Papa?" tanya Nayla saat mereka berdua bersama di kamar.

"Iya ..." jawab gadis kecil berusia tiga tahun itu.

Napas wanita muda itu tercekat di tenggorokan, dadanya terasa sesak menatap putrinya yang cantik. Dia hanya berdoa di dalam hatinya yang paling dalam agar sang putri bisa merasakan kebahagiaan walaupun dia tahu keluarga kecilnya akan hancur berantakan, tapi dia akan memperjuangkan kebahagiaan sang putri.

Tanpa di komando, air mata Nayla jatuh membasahi kedua pipinya. Wanita muda itu bergegas mengusap pipinya agar tidak di lihat sang anak lalu mereka berdua melanjutkan permainan boneka yang mereka mulai sejak sedari tadi.

***

Hari berganti hati, minggu berganti minggu. Waktu sangat cepat berlalu bagi Nayla. Kini wanita muda itu bisa merasa lega saat tinggal di rumah kedua orang tuanya. Sangat berbeda saat dia tinggal di rumah kontrakan bersama dengan suaminya yang senang bermalas-malasan.

"Kamu sudah mantap untuk bercerai?" tanya Lisa teman kantor Nayla.

Nayla mengangguk dengan mantap, bahkan dia sudah menyiapkan dokumen yang akan dia serahkan ke pengacaranya nanti sepulang bekerja.

"Kamu pakai pengacara? Siapa nama pengacara kamu, Nay?" tanya Lisa yang penasaran.

"Baskara, tapi aku lupa nama panjangnya. Bagus dia kerjanya," sahut Nayla memuji kinerja pengacaranya.

"Baskara? ... Yang kantornya di jalan Pemuda? Dia memang terkenal bagus dan tampan!" seru Lisa.

Nayla menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sahabatnya, tapi apa yang dikatakan Lisa memang benar adanya. Lelaki itu memang sangat terlihat tampan, apalagi dia sangat berwibawa dan selalu bersikap tenang sehingga membuat orang berada di dekatnya merasa nyaman.

Nayla mengerjapkan matanya berkali-kali saat menyadari bahwa dia memikirkan laki-laki itu. Dia harus fokus dengan gugatan cerai ini agar dia benar-benar terlepas dari belenggu suaminya dan mertuanya.

Sepulang bekerja, Nayla menuju salah satu kafe di pusat kota untuk bertemu dengan Baskara. Kebetulan lelaki itu baru saja selesai rapat dengan salah satu perusahaan di dekat kafe tersebut. Lelaki yang hari ini memakai setelan jas berwarna hitam itu melambaikan tangannya saat melihat Nayla yang baru saja datang dengan membawa amplop besar di tangannya.

"Maaf ya, nunggu lama ya?" tanya Nayla sembari duduk di bangku yang berhadapan dengan pengacaranya.

Baskara hanya tersenyum, lelaki itu memanggil salah satu pelayan untuk membawakan mereka buku menu. Lelaki itu memberikan Nayla sebuah buku menu.

"Kamu mau makan sekalian, Nay?" tanya Baskara.

Nayla terdiam saat mendengar ucapan yang baru saja di ucapkan oleh pengacaranya. Dia menjadi salah tingkah saat Baskara memanggil namanya, bukan bermaksud apa-apa, hanya saja sudah lama dia tidak berteman dengan lawan jenis.

"Ngga masalah kan, kalau saya panggil nama. Kamu juga bisa panggil saya Baskara saja."

Lelaki itu tersenyum lalu memanggil salah satu pelayan karena hendak memesan makanan dan minuman. Nayla menyerahkan dokumen yang sudah lengkap itu kepada pengacaranya. Lelaki tampan itu menerima amplop besar itu dan memeriksa kelengkapan isinya.

"Oke, sudah semuanya. Besok aku daftarkan ke pengadilan." Baskara memasukkan kembali dokumen-dokumen penting itu ke amplop.

Wanita muda itu mengangguk pelan saat menyadari bahwa beberapa minggu lagi dia akan sah menjadi seorang janda. Mereka mengobrol tentang pekerjaan mereka masing-masing sampai seorang pelayan membawakan pesanan mereka.

***

Keadaan Rizky saat terpuruk setelah istri dan anaknya hengkang dari rumah kontrakan ini. Biasanya makanan tersedia di meja makan, tapi kini dia harus memasak sendiri jika ingin makan atau membeli makanan dari luar.

Persediaan uangnya juga sudah menipis. Rizky sudah mencoba untuk melamar pekerjaan tapi tidak ada satupun perusahaan yang menerimanya.

Tiba-tiba saat lelaki itu sedang duduk termenung, ponselnya bunyi menandakan ada pesan masuk. Lelaki itu membuka ponselnya, salah satu temannya mengirimkan pesan bergambar kepada lelaki pengangguran itu.

"Sial! Sudah kuduga mereka pasti ada hubungan spesial!"

Lelaki itu bergegas untuk pergi ke alamat yang sudah temannya kirimkan. Lelaki itu meminjam motor tetangganya dan mengendarai motor itu dengan sangat kencang. Rizky sudah tidak sabar lagi ingin melampiaskan amarahnya.

Dia membutuhkan waktu dua puluh lima menit untuk sampai di kafe itu. Dia melihat sang istri dengan pengacara itu sedang mengobrol, tidak menunggu lama lelaki yang masih berstatus sebagai suami Nayla itu bergegas menghampiri keduanya.

Rizky melayangkan tinjunya tepat di wajah lelaki yang berkedok sebagai pengacara itu. Baskara terjatuh ke samping dan membuat semua orang langsung tertuju pada keributan yang Rizky timbulkan.

"Dasar brengsek!" maki Rizky kepada pengacara itu.

"Mas Rizky! Apa-apaan sih kamu?!" bentak Nayla.

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

cemburu tu dan jangan bilang kau juga selingkuh di belakang Nayla..

2024-05-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!