Keputusan akhir

Pengacara itu melihat ada keraguan di mimik wajah wanita yang ada di hadapannya itu. Dia mencoba mendalami permasalahan apa yang sudah membuat dia hingga ada keinginan bercerai dari sang suami.

"Atau kalau Ibu Nayla mau, saya bisa antarkan ke psikolog pernikahan. Namun, ibu berserta suami harus datang bersama."

Nayla berpikir keras, wanita itu sudah bisa menebak pasti sang suami tidak ingin pergi ke sana. Dia menundukkan kepalanya, lalu menerima nomor telepon dari psikolog itu. Setidaknya, dia bisa mendapatkan sesuatu datang ke kantor seorang pengacara.

Mereka berbincang sampai Nayla tidak sadar jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dia menyudahi konseling itu, tidak lupa dia juga berpamitan kepada pengacara yang mungkin seumuran dengan sang suami.

"Ini nomor saya, kalau terjadi apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi saya." Baskara mengeluarkan kartu namanya dan di berikan kepada ibu beranak satu itu.

Nayla mengangguk dan meraih kartu nama itu dari tangan kekar itu. "Terima kasih."

Selama di jalan, pikiran Nayla tidak ingin diam. Pikirannya mendesak dia untuk menggugat cerai tapi hatinya berkata lain. Hatinya luluh saat melihat sang putri. Bagaimana jika dia tumbuh tidak mempunyai figur ayah di dalam hidupnya?

Sesampainya di rumah, wanita itu melihat ada dua pasang sandal di depan rumahnya. Dahinya berkerut saat memikirkan siapa yang sudah bertamu di rumahnya itu. Dia melangkah masuk ke rumah, dan melihat kedua mertuanya yang datang dari luar kota.

"Ibu ... Bapak ... Kapan sampai?" Nayla menyalam kedua tangan mertuanya dengan sopan.

"Kamu kok jam segini baru pulang, Nay?" tanya ibu mertuanya.

"Ada rapat Bu, biasanya jam setengah enam juga sudah sampai di rumah kok," sahut ibu Kiara itu dengan senyum paksa.

Nayla masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil pakaiannya yang baru karena wanita itu hendak membersihkan dirinya. Setelah itu, dia melangkah ke dapur dan menemui sang suami yang sedang menyeduh kopi panasnya.

"Ibu sama Bapak kenapa ke sini, Mas?" bisik Nayla kepada suaminya.

"Aku yang minta, besok aku ada panggilan kerja. Kan tidak mungkin Kiara ada di rumah sendirian," sahut lelaki yang sedang mengaduk kopi panasnya.

"Kenapa kamu ngga minta tolong sama orang tuaku? Kan mereka lebih dekat rumahnya dari sini," sambung Nayla kesal.

Hubungan Nayla dengan ibu mertuanya terbilang baik, tapi ada kalanya mereka saling menyindir karena ibu kandung suaminya itu selalu mengkritik apa saja yang sudah di kerjakan oleh Nayla. Seolah semua pekerjaan Nayla itu tidak ada yang benar.

Wanita itu juga kecewa dengan keputusan suaminya, seharusnya lelaki itu bisa mengkomunikasikan hal ini dengannya, bukan malah memutuskan sendiri dan memanggil orang tuanya yang berada di luar kota.

"Ibu sama Bapak sudah makan?" tanya Nayla berbasa-basi kepada kedua mertuanya.

"Sudahlah, jam berapa ini kamu baru tanya sudah makan atau belum," ketus ibu mertua Nayla yang bernama Widya.

Nayla langsung terdiam saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut dari wanita latihan baya itu. Dia lebih baik diam dan bermain dengan Kiara hingga jam menunjukkan pukul sepuluh malam.

***

Keesokan harinya, Nayla terlambat bangun. Biasanya, dia bangun jam empat pagi untuk membereskan rumah dan memasak untuk keluarga kecilnya. Wanita itu panik saat terbangun dan melihat jam dinding yang ada di kamarnya.

"Jam setengah enam?!" gumam Nayla lalu bangkit berdiri dan melangkah keluar kamar.

Begitu dia membuka pintu kamar, dia terkejut saat melihat rumahnya yang sudah tertata rapi. Wanita itu melihat Kiara yang sudah bermain dengan ayah mertuanya, kakinya melangkah menuju dapur rumahnya dan melihat ibu kandung suaminya yang sudah selesai memasak.

Nayla memutar badannya untuk kembali ke kamarnya mengambil pakaian bersih untuk dia pakai berangkat ke kantor. Saat dia keluar dari kamar mandi, dia sudah melihat suaminya yang bersenda gurau dengan ibunya.

"Nay, makan dulu sebelum berangkat. Ibu masak enak," ajak Rizky.

Nayla mengangguk lalu melangkah pelan menuju ke kamarnya karena jam sudah mepet dan dia bisa terlambat masuk ke kantor.

"Memangnya istrimu ngga enak masakannya kok kamu bilang ibu masak enak?" tanya Widya kepada putranya, wanita paruh baya itu sengaja mengencangkan volume bicaranya agar sang menantu mendengarnya.

Dan berhasil, Nayla memang mendengarnya. Hatinya terasa perih saat sang ibu mertua berbicara seperti itu. Wanita itu merasa tidak di hargai apalagi dialah yang menjadi tulang punggung keluarga kecilnya itu.

Wanita itu mencoba manarik napas dalam agar tenang. Dia tidak boleh menghancurkan suasana hatinya di pagi hari. Nayla memoles wajahnya dengan riasan sehingga membuat wajahnya yang sudah cantik jadi semakin mempesona.

Wanita muda itu memutuskan untuk membawa bekal dari rumah, dia merasa waktunya tidak akan cukup jika dia makan di rumah. Dia mencari tempat bekalnya di dapur dan memasukkan beberapa lauk pauk yang di masak oleh ibu mertuanya.

"Kok kamu bawa banyak banget, Nay? Satu aja, pilih mau ayam, tahu atau tempe, jangan semua satu-satu nanti sayang kalau ngga habis." Nayla terkejut saat ibu mertuanya muncul dari belakang tubuhnya dan berbicara seperti itu.

"Rizky ... Rizky! Sini nak, kamu bilang ke Nayla itu, ingat dia sudah punya suami dan anak jadi tidak perlu dandan menor seperti itu kayak wanita ngga benar aja!"

Ucapan sang ibu mertua benar-benar sudah keterlaluan. Dia tidak pernah kurang ajar kepada kedua orang tua kandung suaminya, tapi mereka tidak pernah sekali pun menghargai perasaan Nayla. Dia juga sudah lelah selama tiga tahun ini bekerja sendirian, membanting tulang demi mencukupi kebutuhan rumah tangganya yang seharusnya di lakukan oleh kepala rumah tangga.

"Ibu, cukup! Ibu sadar ngga omongan Ibu itu sudah keterlaluan?!" ucap Nayla tegas.

Ibu mertua dan suaminya tercengang saat Nayla mulai bersuara dengan sorotan mata tajam. Rizky melangkah mendekati istrinya untuk menenangkan wanita itu. Lelaki itu mencoba untuk menarik tangan Nayla dan membawanya ke dalam kamar.

"Kenapa, Mas? Harus aku lagi yang mengalah? Oh tidak bisa! Omongan Ibu kamu sudah sangat keterlaluan dan kamu masih mau membelanya? Iya?!" Nayla menepis tangan suaminya.

"Nay, kenapa kamu marah? Kan Ibu cuma titip pesan buat kamu biar laki-laki tidak semena-mena sama kamu!" Widya mencoba membela dirinya. "Kamu jadi kurang ajar gini sama Ibu?" lanjut Widya lagi dengan mata berkaca-kaca.

Rizky kembali menarik tangan sang istri dengan kasar, lelaki itu meminta istrinya untuk meminta maaf kepada ibunya dan mengakhiri pertengkaran pagi ini.

"Ngga sudi aku minta maaf ke Ibumu, dan ku peringatkan sekali lagi sama kamu ya, Mas. Aku sudah cari pengacara untuk memproses perceraian kita!"

Emosi Nayla memuncak, wanita itu sudah kehabisan kesabarannya. Di perlakukan semena-mena oleh keluarga suaminya sendiri, di rendahkan dan tidak di hargai. Lebih baik Nayla mengakhiri semuanya.

—bersambung—

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

sabar Nayla

2024-05-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!