"Kamu tuh ya, sudah di bantu. Memang perempuan ngga tahu terima kasih! Masih untung dulu anakku mau sama kamu tahu ngga, perempuan miskin!"
Wanita paruh baya itu merasa kesal dengan ucapan sang menantu, dia tidak bisa lagi berbasa-basi dengan istri dari putranya itu. Widya bahkan memukul kepala Nayla dengan pelan. Wanita muda itu tentu saja tidak tinggal diam dan semakin menjadi-jadi.
"Ibu kenapa jadi main tangan sih? Orang tua saya aja tidak pernah memukul kepala saya!" bentak Nayla dengan lantang.
Mendengar teriakan Nayla, suami dan ayah mertuanya langsung datang ke dapur dan melerai keduanya. Rizky menarik tangan sang istri dan mendorongnya hingga wanita itu tersungkur di lantai. Kiara yang melihat ibunya merintih kesakitan menjadi menangis.
Rizky tidak bermaksud untuk mendorong istrinya, hanya saja kekuatan tangannya lebih besar dan membuat sang istri jatuh dan salah paham. Bersamaan dengan nangisnya Kiara, orang tua dari Nayla datang berkunjung. Nenek Kiara sangat terkejut saat melihat putri kesayangannya yang terjatuh di lantai.
"Astaga! Ada apa ini? Apa yang terjadi?" tanya Ibu nayla dengan sangat panik.
"Ajarin tuh anak kamu biar sopan sama orang yang lebih tua!" timpal Widaya kepada besannya yang bernama Rita.
Rita membantu putrinya untuk bangkit berdiri, sementara pihak Widya masih saja meracau dan menyalahkan Nayla atas kejadian ini. Nayla yang menangis melangkahkan kakinya ke kamar, dia memasukkan bajunya ke salam tas jinjing berwarna hitam. Rizky mencoba menenangkan sang istri, tapi Nayla malah mengusir suaminya dari kamar. Ibu kandung dari Kiara itu mengunci pintu kamarnya dari dalam.
Nayla menyesal sudah memaafkan suaminya semalam. Wanita muda itu berteriak histeris melampiaskan amarahnya dengan membanting semua barang di kamarnya.
"Tidak ... Aku tidak tahan lagi!" teriak Nayla tangannya menarik sprei tampat tidurnya.
Wanita muda itu menggusar rambutnya hingga berantakan. Tiba-tiba ponselnya berdering, Nayla mencari keberadaan ponselnya yang sudah terjatuh di lantai. Dia melihat layar ponselnya yang tertera nama pengacara yang hendak membantunya.
Nayla mengusap air matanya dan menelan gambar telepon yang berwarna hijau. "H-halo?"
"Halo? ... Apa kamu baik-baik saja?" tanya Baskara di ujung telepon.
Nayla mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku butuh bantuanmu."
Wanita muda yang sedang menangis itu meminta Baskara untuk datang ke rumahnya. Dia sudah tidak bisa menghadapi ini sendirian. Nayla keluar dari kamarnya dan juga mengemasi barang putri semata wayangnya.
Rizky memohon kepada wanita itu untuk tenang dan berbicara dengan kepala dingin. Lelaki itu juga meminta Nayla agar tidak pergi dari rumah kontrakannya itu. Nayla sudah bertekad, tidak ada lagi ampun untuk suami dan keluarganya.
"Sayang aku mohon ... Ayo kita bicarakan baik-baik." Rizky menarik kedua tangan sang istri.
Saat wanita muda itu hendak bicara, dia dan Rizky mendengar suara keributan di luar kamar putrinya. Nayla menarik kedua tangannya dan berlari ke arah sang ibu. Rita dan Widya cekcok karena membela anak mereka masing-masing.
"Anak kamu tuh ngga bener, dandan menor ke kantor mah godain bosnya ya?" sindir Widya.
"Harusnya kalian itu berterima kasih sama Nayla karena masih mau berumah tangga sama Rizky yang kerjanya serabutan ngga jelas!" balas Rita yang tidak terima anaknya di olok-olok.
Kedua wanita paruh baya itu seakan tidak ada yang mau mengalah, ayah Rizky sudah kuwalahan melerai kedua wanita itu. Nayla juga mencoba untuk menarik sang ibu dengan menggendong Kiara yang menangis.
"Nay! Jangan bawa Kiara pergi. Gila kamu ya?" Rizky mencoba merebut putrinya dari tangan sang istri.
Wanita berambut panjang itu mencoba untuk menahan putrinya, Nayla langsung memberikan putrinya ke ibunya dan menyuruh mereka untuk keluar dari rumah ini terlebih dahulu. Rizky mencoba mengejar ibu mertuanya tapi wanita muda itu menahannya.
"Rizky jangan biarkan hak asuh jatuh ke tangan perempuan itu!" teriak Widya dari dapur tapi dengan suara kencang sampai Nayla bisa mendengarnya.
"Lihat kan Mas? Bagaimana aku menjalani rumah tangga ini selama bertahun-tahun dan menghadapi sifat Ibu kamu itu?" lirih Nayla. Air matanya tidak lagi keluar.
Rizky menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia tidak ingin keluarga kecilnya hancur, tapi dia tidak membela sang istri di depan ibunya. Itu yang membuat Nayla menjadi gila menghadapi Ibu mertuanya sendirian.
Lelaki itu tetap menahan lengan istrinya, tapi Nayla menarik tangannya dengan paksa sehingga meninggalkan kemerahan di lengan tangannya yang berkulit putih itu.
"Sudah ngga usah kamu bertahan dengan perempuan tidak ada harga dirinya itu!" teriak Widya yang mencari perkara.
"Ibu jangan mentang-mentang lebih tua jadi buat aku ngga berani melawan ibu ya?!" bentak Nayla.
Mendengar sang ibu di bentak dengan istrinya membuat Rizky kesal. Tangan kanannya sudah melayang di udara hendak mendarat di pipi mulus wanita yang membentak sang ibu. Nayla sudah memejamkan matanya menyiapkan dirinya di tampar, tapi tiba-tiba tangan Rizky tertahan oleh tangan yang tidak kalah kekar dengan Rizky.
"Siapa kamu?!" tanya Rizky dengan mata yang menyala kemarahan.
"Saya pengacara dari Ibu Nayla." Baskara melepaskan cengkeramannya.
Sepasang suami istri itu duduk di ruang tengah, di temani dengan kedua orang tua dari kedua belah pihak. Kiara sudah di amankan di tempat tetangganya dan bermain dengan teman sebayanya. Terlihat ayah Nayla yang sudah sangat kecewa dengan adanya permasalahan ini.
Baskara mencoba untik menengahi masalah pasangan suami istri ini. Untung saja lelaki itu datang tepat waktu dan membuat mertua Nayla menjadi bungkam.
"Keputusan saya sudah final. Saya ingin bercerai."
Semua orang terdiam mendengar ucapan tegas dari Nayla. Rizky mencoba berbicara dengan lembut, tapi Nayla tetap pada pendiriannya. Wanita muda itu sudah tidak sanggup lagi hidup bersama dengan suaminya. Dia sudah menghilangkan nama suaminya dari daftar rencana hidupnya di masa depan.
"Mulai malam ini, Kiara dan aku akan tinggal di rumah ibu," lanjut Nayla lagi dengan mulut bergetar.
"Apa kamu yakin, Nayla? Kamu ngga kasihan sama Kiara?" tanya orang tua kandungnya.
"Lebih baik aku hidup berdua dengan Kiara, Ayah. Daripada harus merasa sakit hati seperti ini. Aku tidak sanggup lagi," sahut wanita itu dengan mata berkaca-kaca. Nayla menahan air matanya agar tidak tumpah.
Jantung Nayla berdegup kencang, ini keputusan yang benar-benar sudah dia pikirkan dengan matang. Dia tidak ingin lagi bertemu dengan keluarga dari suaminya terlebih ibu mertuanya,, entah mengapa wanita paruh baya itu selalu mencari masalah dengan Nayla, padahal dia tahu menantunya lah yang menjadi tulang punggung dan putranya bekerja tidak jelas.
Malam itu juga, Nayla membawa barang-barangnya untuk pindah ke rumah orang tuanya. Baskara membantu wanita muda itu untuk mengangkut barangnya dan memasukkan ke dalam mobilnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
lebih baik pergi saja daripada tunggu lelaki seperti itu yang tidak bekerja 😏
2024-05-08
0