Semua demi Kiara

"Nay ... Nay! Tunggu dulu." Rizky menahan tangan istrinya yang hendak pergi.

"Apalagi, Mas? Ada kalian hargai aku di sini? Semua yang aku lakukan salah di mata ibu kamu!" seru Nayla.

"Sudah ... Masih pagi ini kenapa sudah ribut-ribut? Kasian Kiara. Sudah Nayla cepat berangkat kerja nanti terlambat." Ayah mertua Nayla menengahi permasalahan ini dan menyuruhnya untuk cepat berangkat ke kantor.

Nayla mengambil tas dan juga kunci motornya lalu pergi dari rumah kontrakannya yang kecil. Sepanjang perjalanan wanita itu menangis. Air matanya terjun bebas membasahi kedua pipinya. Pandangan wanita itu menjadi kabur karena genangan air mata hingga dia tidak bisa melihat dengan jelas.

Wanita itu memutuskan untuk berhenti di pinggi jalan. Tiga menit lagi jam delapan, dia sudah pasti terlambat. Oleh karena itu dia menelepon bosnya untuk mengajarinya jika dia terlambat mungkin terlambat tiga jam dengan alasan keluarga.

Wanita muda itu ingin sekalian menenangkan dirinya. Dia mencari tempat untuk duduk dan melihat ada warung di dekatnya, tapi tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Nayla sempat berpikir siapa orang di dalam mobil itu, kenapa dia menghalangi jalannya.

Nayla mendapatkan jawabannya setelah kaca jendela itu turun dan melihat pengacara yang semalam dia temui. Lelaki itu menyapa Nayla, sontak membuat wanita itu juga tersenyum membalas senyumannya.

Lelaki yang memakai kemeja berwarna biru langit itu turun dari mobilnya dan menghampiri Nayla.

"Apa yang terjadi?" tanya lelaki itu ketika melihat mata wanita itu yang bengkak akibat menangis. .

Nayla mengusap kedua matanya hingga benar-benar kering. "Tidak Pak, tidak terjadi apa-apa."

Baskara membantu wanita itu menuntun motornya dan memarkirkan ke tempat yang aman, lalu mengajak Nayla untuk masuk ke mobilnya agar mereka bisa berbicara dengan nyaman. Lelaki itu tahu pasti ada yang tidak beres dengan wanita itu.

Benar saja, wanita muda itu langsung menangis hebat saat berada di mobil. Nayla sudah tidak tahan lagi menanggung semua emosi ini sendirian. Dia juga tidak peduli lelaki itu menganggap Nayla seperti apa, wanita itu hanya ingin meluapkan semuanya.

"Maaf ya, Pak, maaf saya membuang waktu Pak Baskara hanya untuk melihat saya yang terlihat menyedihkan ini," kata Nayla, kini dia merasa malu karena menangis di depan pria yang tidak dia kenal.

"Tidak perlu merasa sungkan, Anda klien saya, jadi saya tidak mau sesuatu yang buruk menimpa klien saya," sahut Baskara dengan santai karena lelaki itu memang sering mengalami hal seperti itu.

Nayla mulai menceritakan kejadian tadi pagi, awalnya dia ragu untuk menceritakan hal memalukan itu, tapi lelaki itu adalah pengacaranya, dia harus menceritakan kejadian yang sebenarnya agar mempermudah pekerjaan lelaki yang terlihat tampan saat memakai kacamata itu.

"Tapi dia bersikeras tidak mau bercerai, kalau begitu bagaimana, Pak?" tanya Nayla yang buta akan hukum di negrinya sendiri.

"Kalau dari cerita dari Ibu Nayla, sebenarnya tiga bulan berturut-turut tidak memberi nafkah saja bisa menjadi masalah. Apalagi ini suami Ibu Nayla tidak memberi nafkah selama tiga tahun lamanya. Ini bisa menjadi alasan yang kuat untuk Ibu mengajukan gugatan cerai ke pengadilan," ungkap pengacara itu.

Nayla semakin yakin untuk menceraikan suaminya itu. Wanita itu tidak takut menjanda, lagipula selama ini uang jerih payahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Kalau mereka bercerai, sang putri bisa dia titipkan kepada orang tuanya.

"Lalu bagaimana tentang hak asuh anak?" tanya Nayla takut akan berpisah dengan putri semata wayangnya.

"Anak di bawah tujuh belas tahun, hak asuh anak akan jatuh ke tangan ibu," sahut Baskara singkat.

Wanita muda itu bernapas lega setelah mendengarkan penjelasan dari pengacaranya. Nayla sudah merasa tenang setelah berkonsultasi dengan pengacaranya yang sangat mendadak ini. Tidak terasa waktu cepat berlalu dan dia harus kembali ke kantornya.

***

Malam itu, Nayla tidak pulang ke rumah kontrakannya tetapi wanita muda itu pulang ke rumah orang tua kandungnya. Hal ini pasti membuat kedua orang tuanya bertanya-tanya, hanya saja mereka tidak berani bertanya lebih dulu dan menunggu Nayla untuk bercerita dengan sendirinya.

Nayla meraih ponsel dari tasnya dan melihat tiga puluh lima panggilan tidak terjawab dari suaminya. Dia menghela napas berat.

"Bu, Nayla pulang ke rumah ya?" pamit Nayla kepada sang ibu.

"Hati-hati ya, Nay. Salam sayang untuk Kiara dan salamkan untuk suamimu," sahut wanita paruh baya itu.

Rumah kontrakan mereka satu perumahan dengan orang tua Nayla hanya berbeda beberapa blok saja. Sesampainya di rumah, Kiara menyambutnya dengan pelukan hangat dan membuat wanita muda itu tersenyum.

"Nay, coba ayo kita bicarakan semuanya." Ayah mertuanya menyuruh Nayla untuk duduk di ruang tamu dan berbicara dengan kepala dingin.

"Aku tidak mau bercerai, Nayla. Kamu tidak kasihan sama Kiara? Dia masih butuh sosok ayahnya!" ketus Rizky bersikeras tidak ingin bercerai.

"Kalau bisa di bicarakan baik-baik, Nayla maunya bagaimana dengan suamimu. Dan Rizky juga bagaimana dengan istrimu," Ucap Danu, ayah kandung Rizky.

Nayla menatap wajah cantik putrinya, memang benar di dalam tubuh Kiara mengalir deras darah Rizky suaminya. Wanita muda itu terlihat bimbang dengan keputusannya sendiri. Dia hanya tidak tahan jika keluarga suaminya bertindak semena-mena dengannya, terlebih ucapan Ibu mertuanya.

"Baiklah kalau begitu, aku akan menghubungi pengacaraku dan membatalkan proses gugatan," lirih Nayla.

Kedua mertuanya tersenyum lega, terlebih Rizky yang memeluk sang istri dan mencium kedua pipi Nayla. Wanita itu tidak tahu keputusan yang dia bil benar atau salah, yang dia pikirkan hanya masa depan sang anak.

Wanita muda itu melangkah masuk ke kamarnya, dia mengambil ponselnya untuk menghubungi sang pengacara. Namun, lelaki itu tidak menjawab teleponnya. Nayla memutuskan untuk menemuinya besok sore di kantor setelah dia selesai dengan pekerjaannya.

"Jadi bagaimana panggilan kerjamu tadi, Mas?" tanya Nayla kepada sang suami saat mereka hendak tidur.

"Ngga cocok, bosnya sombong banget," sahut Rizky singkat.

Dahi Nayla berkerut tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh suaminya. Dia sendiri merasa aneh dengan suaminya, sampai kapan dia akan berpikiran seperti itu terus menerus. Jika tidak cocok dengan bosnya, dia tidak melanjutkan pekerjaannya kembali.

Waktu cepat berlalu, malam berganti dengan pagi. Sinar matahari mulai menyinari bumi, burung-burung mulai berkicauan membangunkan Nayla dari alam mimpinya. Wanita muda itu lupa, jika hari ini adalah hari minggu.

Dia bisa bersantai dan tidak terburu-buru melakukan aktivitas rumahnya. Nayla dan Ibu mertuanya tidak saling bicara setelah pertengkaran mereka kemarin pagi. Wanita muda itu memilih untuk diam daripada memancing ucapan wanita paruh baya itu yang akan menyakiti hatinya.

"Nay, bantu Ibu dong. Ibu kuwalahan jika harus membereskan rumahmu sendirian," celetuk wanita paruh baya itu dengan mimik wajah kesal.

"Letakkan saja, nanti Nayla yang beresin semuanya kalau Ibu terpaksa bantuin Nayla," sahut wanita muda yang tidak kalah kesalnya dengan Ibu mertuanya.

—bersambung—

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

mertua Nayla suka cari masalah 😏

2024-05-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!