Baskara mengemudikan mobilnya, sebentar lagi lelaki itu akan sampai di depan perusahaan wanita yang akan dia ajak untuk menonton bioskop. Dari kejauhan, lelaki yang memakai kacamata itu melihat seorang wanita yang hendak menyeberang. Namun, dia juga melihat dari arah berlawanan sebuah mobil melaju dengan kencang.
Mobil itu mengklakson Nayla yang mematung di tengah jalan. Baskara menginjak pedal gasnya lalu membanting stir ke kanan menghalangi mobil itu agar tidak menabrak wanita yang memejamkan matanya di tengah jalan.
Bunyi derit mobil terdengar sangat kencang. Kepala Baskara terbentur stirnya, kaca-kaca beterbangan mengenai pelipisnya. Setelah memastikan mobilnya berhenti bergerak, dia membuka pintu mobil dan berlari menghampiri Nayla.
"Kamu baik-baik saja, kan?" Kedua tangan Baskara memegangi kedua banyak wanita berambut panjang itu. Lelaki itu memastikan keadaan Nayla.
Nayla mendongakkan kepalanya, dia menyentuh pelipis lelaki yang lebih tinggi darinya itu. "Mas ... Kamu berdarah!"
Wanita itu menarik lelaki yang kepalanya berdarah itu untuk menepi. Dia memanggilnya sebuah ambulance untuk memberikan pertolongan pertama pada luka di kepala Baskara. Nayla mengambil tissue di tasnya, tangannya yang gemetaran mengusap wajah lelaki itu dari darah yang mengalir dari pelipisnya.
Lelaki itu meringis menahan sakit saat Nayla menyentuh wajahnya dengan tissue. Baskara bisa melihat wajah wanita itu dark dekat, wajah yang sangat terlihat terkejut san khawatir dengan apa yang menimpa lelaki itu.
Tidak lama kemudian seorang polisi dan ambulance datang di tempat kejadian, polisi itu memborgol tangan supir yang hampir menabrak Nayla. Dia terlihat sangat mabuk dan tidak bisa mengendalikan mobilnya.
"Untung saja lukanya tidak terlalu dalam, apa Anda yakin tidak perlu di antar ke rumah sakit?" tanya petugas dari ambulance.
Baskara mengangguk dan mengucapkan terima kasih karena sudah merawat lukanya dengan baik. Beberapa polisi meminta keterangan dari Baskara dan Hana untuk kasus ini. Ibu kandung Kiara itu sedih saat melihat mobil Baskara yang hancur karena kejadian ini.
"Tidak apa-apa, aku akan menghubungi pihak asuransi." Baskara menyadari wanita yang terlihat tidak enak dengan kejadian ini.
"Mas! Mas Baskara!"
Mereka berdua menoleh ke arah sumber suara yang ternyata keluar dari mulut Jiya. Adik Baskara itu berlari dan memeluk sang kakak. Dia sangat khawatir saat mendapatkan kabar tentang kecelakaan ini.
Si pemilik mata cokelat itu merasa lega saat sang kakak terlihat baik-baik saja walaupun terlihat ada perban yang menempel di kepalanya. Jiya mempersilakan sang kakak dan Nayla untuk masuk ke dalam mobilnya.
"By the way, kenapa kalian duduk di belakang semua? Dan aku terlihat seperti seorang supir!" Jiya mendengus kesal melihat dari spion di tengah mobilnya.
Nayla yang menyadari ucapan Jiya langsung menoleh ke sampingnya. Benar juga, kenapa Baskara dan dirinya duduk di belakang?
"Maaf, Jiya," lirih Nayla yang semakin merasa tidak enak.
Jiya langsung menggelengkan kepalanya, wanita berambut cokelat itu hanya bercanda. Baskara menyunggingkan senyumnya saat melihat wajah polos Nayla. Sang adik mengantarkan kedua penumpangnya ke rumah Baskara. Wanita itu tidak ikut turun karena sebenarnya dia masih ada janji dengan teman-temannya.
Baskara mempersilakan Nayla untuk menunggu di ruang tamu, sedangkan sang pemilik rumah naik ke lantai dua untuk mengganti pakaiannya yang sudah kotor terkena darah.
"Maaf ya, acara nontonnya jadi batal." Lelaki itu muncul dari balik dinding seraya melihat jam di pergelangan tangan kanannya.
Nayla heran, dia baru saja mengalami kecelakaan tapi masih bisa memikirkan hal lain yang tidak penting. Sontak membuat wanita muda yang mengikat rambutnya menjadi satu itu mengatakan bahwa kesehatan lelaki itu lebih penting daripada menonton bioskop. Lagipula, bagaimana mungkin mereka pergi menonton dengan keadaan Baskara yang terluka.
Tiba-tiba saja kepala Baskara seperti berputar, lelaki itu juga merasakan mual. Nayla mendekati laki-laki itu dan menuntunnya untuk duduk di sofa.
"Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang, aku takut terjadi sesuatu denganmu."
Wajah wanita muda itu terlihat sangat mencemaskan Baskara. Dia menatap dalam bola mata lelaki itu seolah memohon untuk menuruti perintahnya. Bagaikan tersihir, Baskara menuruti permintaan wanita cantik itu untuk pergi ke rumah sakit.
Baskara memberikan kunci mobil yang lain kepada Nayla. Wanita itu bisa menyetir mobil karena sang ayah yang mengajarinya dengan sabar sewaktu wanita itu menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Nayla menyetir dengan hati-hati, sesekali dia melirik ke samping kirinya dan melihat Baskara yang terlihat sedang menahan rasa sakit di kepalanya. Mobil itu berhenti tepat di ruang IGD.
"Sepertinya kita harus melakukan CT scan, karena saya curiga pasien mengalami gegar otak."
Dokter itu berbicara kepada Nayla setelah memeriksa Baskara yang tidur terlentang di bilik IGD. Wanita muda itu hanya menganggukkan kepalanya saja mengikuti saran dari dokter. Nayla membawa pulang Baskara setelah mereka melakukan CT scan yang hasilnya akan keluar besok pagi. Saat ini, dokter hanya menyarankan Baskara untuk beristirahat saja, dan memberikan obat pereda nyeri untuk rasa pusingnya.
"Kalau begitu, aku pamit pulang ya, mas? Semoga cepat sembuh." Naya tersenyum saat berpamitan dengan pengacaranya.
"Maaf ya, aku tidak bisa mengantarmu pulang."
Ada rasa bersalah yang dirasakan Baskara karena tidak bisa mengantarkan wanita itu pulang ke rumah. Lelaki itu menatap punggung kliennya hingga hilang dari pandangannya.
***
Sudah tiga hari Nayla tidak mendengar kabar tentang pengacaranya, padahal besok adalah jadwal sidang cerainya dengan Rizky. Ingin rasanya wanita itu menghubungi lelaki itu lebih dulu, hanya saja rasa gengsi dan malunya terlampau lebih besar. Wanita yang masih di kantornya itu kembali fokus kepada pekerjaannya walaupun di hati kecilnya dia ingin tahu kabar terbaru tentang Baskara. Apakah dia baik-baik saja?
Sore hari, saat Nayla pulang ke rumah orang tuanya, dia melihat sang ibu yang sedang menangis. Hal itu membuat wanita muda berparas cantik itu menjadi panik dan menanyakan apa yang sedang terjadi kepada wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Ibu tadi belanja, terus tetangga pada ngomongin kamu. Ibu jadi sedih," ucap wanita paruh baya itu sembari menangis.
"Ngomongin apa memangnya, Bu? Kenapa harus di dengerin," sahut Nayla, hatinya seperti tersayat saat melihat sang ibu yang menangis seperti itu.
Rita menceritakan omongan tetangga perumahan ini kepada putrinya, ada yang mengatakan bahwa Nayla itu berselingkuh dengan pengacaranya, dan yang paling bikin Rita sakit hati adalah saat gosip itu mengatakan bahwa Kiara adalah anak hasil perselingkuhan Nayla dengan orang lain.
Napas Nayla tercekat saat mendengar ucapan dari mulut sang ibu. Bagaimana manusia bisa sejahat itu menyusun sebuah skenario seperti itu? Nayla menenangkan sang ibu yang masih terguncang dengan gosip-gosip seperti itu.
Wanita itu yakin pasti keluarga suaminya yang sudah menyebarkan fitnah seperti itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
sabar Nayla biar lah tetangga kalian bergosip kan mulut nya 😏 .... mereka tidak tahu seperti apa
2024-05-09
0