Tarik ulur

Nayla menjadi salah tingkat saat tertangkap basah sedang memperhatikan lelaki itu. Apalagi lelaki itu tak kunjung melepaskan pergelangan tangannya. Baskara bangkit dan memposisikan tubuhnya untuk duduk di sofa itu. Jantung wanita muda itu berdegup kencang saat lelaki itu menarik tubuhnya, sontak Nayla terjatuh di pelukan lelaki itu.

Hanya berjarak lima centimeter wajah keduanya. Wanita itu bahkan bisa mencium bau napas segar lelaki itu. Kedua tangan Nayla mendarat di bahu Baskara, dia bisa merasakan betapa kuatnya otot tubuh lelaki itu. Pasti jika dia membalas pukulan tinju yang di lakukan mantan suaminya dia akan menang telak.

Nayla menelan ludahnya saat tak kuasa memandang lelaki yang terus menatap wajahnya. Dia yakin pasti wajahnya sudah memerah karena malu. Wanita muda itu mencoba untuk memalingkan wajahnya.

"Jadilah wanitaku ..."

Wajah Baskara mendekat hendak mencium bibir mungil milik wanita yang sedang duduk di pangkuannya. Nayla mengerjapkan matanya berkali-kali dan memalingkan wajahnya kembali saat lelaki itu hendak menciumnya. Namun, jemari Baskara memegang dagu wanita itu dan membawa wajah Nayla kembali bertatapan dengannya.

"Mas ..."

Tiba-tiba terdengar suara seperti benda jatuh di atap rumah Nayla dan mengejutkan kedua manusia yang hendak bercinta itu. Nayla bangkit berdiri lalu berlari masuk ke kamarnya. Sementara Baskara menyunggingkan senyum melihat wanita itu berlari.

Wanita muda itu duduk di tepi tempat tidurnya, sebelah tangannya memegang dadanya. Jantungnya masih saja berdebar dengan cepat. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya dengan menarik napasnya dalam lalu mengeluarkan lewat mulut. Dia melakukan hal itu berulang kali hingga dirinya benar-benar tenang.

***

Keesokan harinya, Nayla orang yang terakhir bangun. Wanita itu bangun jam tujuh pagi, padahal bisanya dia bisa bangun jam lima atau enam pagi. Semua orang sudah bercengkrama di ruang makan. Hanya wanita itu yang baru saja selesai mandi dan sedang bersiap untuk berangkat ke kantor.

"Ayo cepat Nay, nanti kamu terlambat!" teriak Rita dari luar kamar yang membuat wanita itu menjadi bingung.

Setelah selesai bersiap, Nayla keluar dari kamarnya tapi jam sudah menunjukkan setengah delapan pagi. Rita membawakan bekal untuk anaknya agar dia bisa sarapan di kantor saja. wanita muda itu menghindari kontak mata dengan Baskara, Jiya yang menyadari hal itu berbisik kepada sang kakak untuk menanyakan apa yang telah dia lewatkan antara sang kakak dan wanita muda itu.

"Kita berangkat sama-sama saja, Mbak Nayla." Jiya mengajak wanita itu untuk berangkat bersama.

Nayla yang tidak mempunyai waktu langsung mengiyakan ajak wanita berambut panjang itu. Kiara melambaikan tangannya kepada ketiga orang yang paling dia sayangi di muka bumi ini. Jiya mendahului kedua orang yang lebih tua itu untuk membuka pintu mobil bagian belakang.

"Eh? Kamu kenapa di belakang, biar aku yang di belakang," ucap Nayla yang tidak enak hati harus duduk di samping Baskara.

"Mbak Nayla saja yang di depan, aku di belakang saja." Jiya menutup pintu mobil dengan kencang.

Nayla sedikit ragu saat harus duduk di bangku depan. Lelaki melangkah mendekati ibu satu anak itu lalu membuka pintu mobilnya. Dengan suara beratnya, Baskara menyuruh Nayla untuk masuk ke dalam.

Wanita muda itu bergegas masuk ke mobil. Selama perjalanan menuju kantor Nayla mereka bertiga tidak saling berbicara. Jiya sibuk dengan ponselnya di belakang, sementara Baskara sedang fokus mengemudikan mobilnya dan Nayla sibuk melihat pemandangan di tepi jalan.

"Nanti aku jemput ya? Seperti biasa, kan?"

"Mas ngga usah, aku pulang naik ojek online saja." Nayla merasa tidak enak hati karena lelaki itu terus menerus menjemputnya.

"Ngga apa-apa Mbak. Dia senang ketemu Mbak Nayla terus," timpal Jiya dari bangku belakang.

Nayla mengucapkan terima kasih kepada lelaki itu karena sudah mengantarnya dengan selamat sampai di kantor. Wanita muda itu bergegas untuk absen dan naik ke lantai tiga dimana kantornya berada.

Wanita muda itu membuang wajahnya saat harus berpapasan dengan lelaki yang semalam baru saja dia tampar.

"Itu subsidiary company kenapa masih di sini?" tanya Nayla kepada Lisa.

"Biasalah ... Training," sahut wanita yang duduk di dekat meja kerja Nayla.

Nayla mencoba untuk tenang, dia tidak ingin suasana hatinya menjadi buruk saat menatap mantan suaminya. Tiba-tiba dia tidak bisa menyembunyikan suasana hatinya, saat lelaki itu menghampiri meja kerjanya.

Rizky meminta waktu Nayla sebentar dan mengajaknya mengobrol di luar. Tentu saja wanita muda itu menolak, baginya hubungannya dengan lelaki sudah selesai. Rizky terus mendesak wanita itu sehingga membuatnya menjadi tidak nyaman jika teman kantor yang lainnya melihat.

Wanita muda itu mengikuti langkah kaki Rizky yang mengajaknya untuk berbicara di sebuah tangga darurat. Dia siap mendengarkan seribu satu alasan mengapa dia dan teman-temannya hampir mengkeroyok seorang pengacara.

"Nay, lebih baik kamu jauhi Baskara itu. Aku takut dia aneh-aneh sama Kiara!" celetuk Rizky yang tidak suka dengan kedekatan lelaki itu dengan putri kandungnya sendiri.

Nayla tersenyum miring saat mantan suaminya mencoba mengatur hidupnya. "Sudah? Mau ngomong ini saja, kan?"

Rizky hanya diam tidak menanggapi pertanyaan mantan istrinya. Nayla yang merasa tidak ada hal lagi yang perlu dia bahas dengan Rizky bergegas melenggang pergi meninggalkan lelaki yang bisa di simpulkan bahwa dia sedang cemburu.

Lelaki itu memanggil nama Nayla, tapi wanita itu enggan untuk menghentikan langkahnya. Dia terus berjalan bak seorang model. Lelaki itu melayangkan tinjunya di udara, merasa kesal karena sang istri sudah benar-benar tidak mendengarkannya. Wanita itu menyesal karena sudah mengiyakan lelaki itu untuk mengajaknya berbicara, bahkan dia mendengar umpatan lelaki itu dari kejauhan.

***

"Nay, si Ayu anak Bu Budi itu hamil." Rita membuka percakapan dengan putrinya saat wanita itu baru saja pulang dark kantor.

"Ayu? Yang rumahnya di ujung sana? Dia kan belum menikah, Bu," ungkap Nayla.

Mereka berdua sedang membicarakan tetangga mereka yang hanya beda bebarapa meter dari rumah kontakan yang dulu dia tinggali dengan sang mantan suami. Nayla sangat menyayangkan hal itu karena tentangganya yang bernama Ayu itu adalah seorang wanita cantik dan cerdas karena dia adalah salah satu mahasiswa di perguruan tinggi yang lumayan terkenal di kotanya.

"Memangnya Ibu tahu darimana kalau dia sedang hamil?" tanya Nayla yang sedikit heran karena sang ibu tahu tentang gosip di perumahan ini.

"Dari Bu Dayat, dia tahu dari mantan mertuamu," sahut wanita paruh baya itu.

Nayla mendengus kesal, kenapa ibunya percaya dengan ucapan mantan mertuanya yang jelas-jelas hanya wanita yang suka mencari masalah tanpa sebab yang jelas. Wanita muda itu tidak ingin sa g ibu terlibat dengan wanita yang menurutnya salah satu penyebab dia memutuskan untuk meruntuhkan rumah tangganya.

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

siapa tahu Ayu selingkuhan Rizky.... karna Rizky takut kehilangan mu setelah tahu berbuat salah....

2024-05-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!