Kecelakaan

Nayla menatap layar ponselnya yang silau karena lampu yang memancar dari ponsel itu. Wanita Muda itu sedikit ragu apakah dia harus mengirim pesan kepada pengacaranya itu? Atau tidak? Tapi setidaknya dia harus mengucapkan rasa terima kasih bukan? Nayla seperti berdebat dengan dirinya sendiri. Jemarinya yang lentik seperti bulu matanya mulai mengetikkan sesuatu di ponselnya.

Terima kasih sudah mengirimkan Jiya hari ini, sampai ketemu lagi.

Nayla mengunci ponselnya, wanita muda itu hendak berbaring menemani sang putri yang sudah terlebih dahulu tertidur menyelami dunia mimpi. Ibu muda itu meletakkan ponselnya di atas nakas yang berada di samping tempat tidurnya. Tiba-tiba ponsel itu bergetar.

Ibu kandung Kiara yang sudah berbaring meraih ponselnya. Dia tidak berekspektasi bahwa pesan itu berasal dari sang pengacara, karena dia sedang saling mengirim pesan singkat kepada Lisa, sahabatnya di kantor.

Good night.

Bibir Nayla melengkung ke atas saat membaca pesan singkat itu. Wanita muda itu kembali mengunci ponselnya dan meletakkan kembali seperti semula. Nayla menarik selimut untuk dirinya dan juga putri kecilnya. Dia mencium kening putri semata wajahnya sebelum dirinya menyusul sang anak yang sudah berada di alam mimpi.

Waktu cepat berlalu, langit yang gelap berubah warna menjadi biru. Hari ini sangat cerah sekali, anehnya bulan ini sudah masuk musim hujan tapi cuaca terasa sangat panas sekali. Perlahan Nayla membuka matanya, dia melihat sang putri yang sudah keluar dari kamar. Mungkin ibunya sudah masuk ke dalam kamarnya.

Dia sangat senang sekali tinggal bersama dengan orang tuanya lagi, dia tidak perlu bangun pagi sekali untuk mengurus semua segala hal yang berada di rumah. Sekarang setelah dia bangun dia bergegas untuk mandi, untuk sarapan pagi sang ibu sudah menyiapkan semuanya.

"Nay, motor kamu bocor bannya, tadi Ayah pakai jalan-jalan sama Kiara. Nanti kamu Ayah antar saja ya? Biar sekalian ngajak Kiara."

Nayla yang sedang menyantap sarapannya menganggukkan kepalanya saja dan menuruti perintah sang ayah. Dia bisa bersantai di perjalanan tidak memikirkan jalannya yang sangat ramai jika di pagi hari, mungkin karena semua orang berangkat ke kantor di waktu yang sama.

Setibanya di kantor, wanita itu bekerja seperti biasa. Wanita itu bekerja sebagai admin penjualan di perusahaan manufaktur. Perusahaan tempat dia bekerja lumayan besar, dan memiliki cabang dimana-mana.

"Nay, gimana proses perceraiannya?" tanya Dani, salah satu teman sekantor Nayla.

"Di tunda, mungkin sebelum akhir pekan ini," sahut Nayla dengan santai.

"Eh kami pakai Baskara ya?" tanya Dani sekali lagi.

Nayla menoleh ke arah Dani yang duduk tidak jauh dari meja kerjanya. Wanita muda itu mengangguk dan bertanya dalam hatinya, kenapa semua orang terkejut dengan Baskara? Siapa lelaki Itu sebenarnya?

Dani juga memuji kinerja pengacara yang dia sewa itu. Salah satu kerabat teman kantornya itu satu angkatan dengan Baskara dan lelaki itu sangat cerdas, tidak heran dia lebih sukses di bandung teman seangkatannya yang lain.

"Dia juga seorang duda."

Nayla menoleh dengan cepat ke arah kanannya. Kenapa dia terkejut dengan berita itu?

"Bagaimana kamu bisa tahu banyak hal tentang lelaki itu?" Nayla mulai penasaran dengan Dani.

Teman sekantornya itu menceritakan bahwa dulu sewaktu Baskara masih kuliah di salah satu Perguruan tinggi di luar negeri, di menjalin hubungan dengan seorang wanita yang berasal dari tanah air juga. Wanita itu hamil, Baskara hendak bertanggung jawab tapi keluarga dari pihak wanita menentang lelaki itu dan menjodohkan putrinya dengan seorang pengusaha ternama kali itu.

Tentu saja Dani hanya tahu cerita ini dari kerabatnya yang mengenal cukup dekat dengan Baskara. Pada jam makan siang, Nayla makan siang bersama dengan beberapa teman kantornya termasuk dengan Dani dan Lisa. Berita Nayla yang hendak bercerai sudah menyebar dan semua orang menatap iba wanita muda itu.

"Nay, kamu yakin cerai? Kamu ngga kasihan sama anak kamu nanti ngga punya sosok bapak di dalam hidupnya?" tanya salah satu teman sekantor Nayla yang berasal dari divisi lain.

Nayla hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Awalnya mungkin dia kesal dengan pertanyaan seperti itu seolah hanya dia yang bersikap egois memikirkan dirinya sendiri. Namun, Baskara pernah mengatakan sesuatu, lebih baik memikirkan diri sendiri terlebih dahulu karena jika dia memiliki jiwa dan raga yang sehat pasti akan lebih baik, mencintai diri sendiri terlebih dulu maka semua hal yang dia kerjakan pasti akan terasa ringin.

Nayla setuju dengan ucapan pengacaranya itu. Tiba-tiba ponsel wanita muda yang sebentar lagi menjadi janda itu bergetar. Dengan cepat dia membuka pesan singkat itu karena dia takut salah satu salesnya bermasalah atau dari klien perusahaannya.

Apa kamu ada waktu? Aku mendapatkan tiket nonton nanti malam dari seorang klienku.

Dahi Nayla berkerut membaca pesan singkat itu. Jantung wanita muda itu berdetak kencang, apakah dia mengajaknya Nayla berkencan atau semacam itu? Atau hanya sayang saja jika tiket itu tidak di gunakan?

Hmm ... Boleh, kapan? Jam berapa?

Jam tujuh malam ini, aku jemput?

Oke, baiklah. Sampai ketemu nanti jam lima. Aku tunggu di kantor.

Nayla tersenyum saat membalas pesan singkat dari pengacaranya. Lisa yang melihat hal itu menjadi bertanya-tanya dan Nayla memperlihatkan pesan singkat itu kepada sahabatnya yang saat ini sedang menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dia baca.

Setelah jam makan siang, Nayla memfokuskan dirinya untuk mempercepat pekerjaannya agar cepat selasi. Tepat pukul setengah lima sore, dia sudah menyelesaikan dengan cepat. Wanita muda itu berkemas.

"Yang mau kencan, hati-hati ya!"

Nayla tersipu malu dan melototi wanita itu agar tidak membocorkan informasi ini. Wanita itu turun ke lobby, dari dalam dia belum melihat mobil Baskara. Nayla melangkah keluar menuju jalan raya, dia hendak menyeberang karena tahu pasti Baskara muncul dari jalan sebelah kiri.

Saat hendak menyeberangi jalan tiba-tiba dia mendengar suara klakson mobil yang kencang, wanita muda itu menoleh karena arah kanannya dan melihat sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya. Tubuh wanita itu mematung tidak bisa bergerak karena sangat terkejut. Dia memejamkan matanya dan pasrah jika tertabrak mobil saat itu.

Suara tabrakan terdengar sangat kencang di depan Nayla. Wanita itu memberanikan dirinya untuk membuka matanya dan melihat sebuah mobil menghalangi mobil yang melaju ke arah ibu satu anak itu. Sesaat dia di kejutkan dengan seseorang yang keluar dari mobil itu dengan kepala yang sudah berlumuran darah.

Lelaki itu berlari ke arah Nayla dan memeriksa keadaan wanita itu. "Kamu baik-baik saja, kan?"

"Mas ... Kamu berdarah."

Nayla meraih ponselnya dan menghubungi ambulance.

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

siapa yang berdarah....Baskara atau Rizky

2024-05-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!