Kepergian kakek Rangga

Beberapa menit kemudian, keduanya telah siap dengan tas selempang yang sudah dikalungkan di pundak. Rania dengan style celana pendek serta kaos kebesaran milik Dania menampilkan kesan gemas dan imut pada Rania. 

Keduanya terlebih dahulu berpamitan dengan kakek Rangga yang masih belum sadarkan diri, bahkan selang infusnya sudah dilepaskan oleh dokter yang semalam menangani sang kakek. 

Ada rasa khawatir dalam diri Dania saat ingin meninggalkan sang kakek sebentar. Entah perasaan apa yang tengah dirasakan hari ini  seperti sebuah musibah yang akan siap menimpa mereka detik-detik kedepannya. 

Saat sampai di tempat toko besar, Dania segera mengambil troli besar sedangkan Rania mengambil troli kecil untuk menyimpan bahan pokok lainnya. 

“Dek kamu cari kecap dan lain-lainnya ya, ini kertasnya.. jangan sampai salah ya ! Kakak mau akan cari beras dan lainnya, “ ucap Dania memberikan sebuah kertas berisi tulisan bahan apa saja yang akan dibeli mereka. 

“Siap kakak, “ akhirnya kedua kakak beradik itu berpisah tempat. 

*

*

*

*

*

*

*

Sedangkan di depan rumah kakek Rangga kembali didatangi anak dan menantu perempuannya. Ketiganya datang tanpa diketahui oleh warga setempat. 

“Sepertinya tidak orang di rumah, “ ucap Gata anak kedua kakek Rangga. 

“Iya Gat, mbak rasa mereka sedang keluar. “ sahut Resti menantu pertama kakek Rangga. 

“Iya, tokonya tutup ! “ sahut Nella menantu bungsu kakek Rangga. 

“Ayo masuk, mungkin dua bocah itu sedang tidak ada di rumah “ ucap Gata tak sabar. 

Gata segera membuka pintu rumah, namun terkunci. “ sepertinya dikunci dari dalam, “

Nella yang kebetulan berdiri didepan jendela pun segera melihat kesela-sela gorden. “sepi, “.

“ Kemana mereka ? Apa kamu tidak ada kunci cadangan lain ? “ tanya Resti kepada adik iparnya. 

“Punya mbak, tapi kayaknya kuncinya diganti sama bapak.. “ jawab Gata kesal. 

“Coba kita lewat pintu belakang, pasti bisa kan ? “ tanya Resti dengan ide sempitnya. 

“Ayolah, kita coba dulu ! “ sahut Gata. 

“Mbak, Nella tunggu disini ya “ ucap Nella memelas. 

“Nggak bisa gitu, harus ikut bertiga biar cepat ! “ tolak Resti saat Nella hanya menunggu didepan. 

“Oh, ayolah kak ! “ rengek Nella. 

“Nggak ! Harus ikut, ayo ! “ ajak Resti menarik tangan Nella, sedangkan Gata sudah lebih dulu menuju halaman belakang. 

Singkatnya waktu, ketiganya sudah masuk ke pintu belakang yang langsung menemui ruang dapur. Ketiganya bergegas ke kamar kakek Rangga untuk mencari surat tanah dan warisan. 

Saat berada di kamar, Nella ditugaskan Resti dan Gata untuk memperhatikan pintu utama sedangkan keduanya akan bereaksi mencari surat tanah dan warisan milik kakek Rangga. 

Sedangkan di sisi lain, Dania merasakan perasaan tidak nyaman ia begitu gelisah saat memilih barang-barang kebutuhan pokok toko sembako. 

“Ada apa ini, kenapa rasanya aku sangat gelisah. Aku kepikiran sama kakek di rumah, ya allah bagaimana ini… “ ucapnya lirih, bahkan Dania berhenti sejenak memilih barang-barang sembako. 

Di tempat lain, Gata dan Resti berusaha membongkar lemari pakaian kakek Rangga. 

“Dimana bapak nyembunyiin surat itu ! “ ucap Gata kesal tangannya tak berhenti mengobrak abrik lemari. 

“Bapak !! “ tepuk Resti jengkel karena belum bisa mendapatkan surat tersebut. 

Kakek Rangga yang belum sadarkan diri sebelumnya tiba-tiba mengerjapkan matanya pelan membuat Resti senang bukan main. 

“Bapak ! Bapak ! Dimana bapak simpan surat penting itu ! “ ucap Resti tak sabar. 

“Bapak bangun mbak ? “ tanya Gata menghentikan aksinya dan berlalu menuju Resti. 

“Bapak bangun ! “ 

“Katakan pada kami pak, dimana bapak simpan surat itu !! “ paksa Gata menggoyangkan tubuh kakek Rangga yang masih melemah itu. 

Namun, tidak ada jawaban dari kakek Rangga membuat Gata dan Resti naik pitam. Gata dengan teganya menampar pipi sang bapak dengan kasar. 

“Kasih tau Gata pak ! Dimana bapak simpan surat itu !!! Gata mau jualnya pak !! “ teriak Gata marah. 

“Ba—-bapak ng—ngggak a—kan kasih tau kamu di—mana bapak simpankan su—rat itu “ ucap kakek Rangga terputus-putus. 

“Bapak lebih baik menyusul ibumu ketimbang harus memberikan surat itu dengan tangan terbuka… “ ucapnya lirih. 

“PAKKK NGGAK BISA GITU ! KALO MAU MATI TUNGGU SURATNYA DIKASIH KE GATA !! GATA PERLU ITU BUAT MODAL !! “ teriak Gata marah bahkan suaranya terdengar sampai di ruang depan. 

“Pelankan suaramu, nanti ada warga yang mendengar habis kita ! “ bisik Resti kepada Gata. 

Kakek Rangga tersenyum pedih bahkan kedua putranya tak lagi memperhatikannya semenjak menikah anak-anaknya mulai menjauhi dirinya dan istrinya. 

Bahkan kerap kali mereka datang hanya untuk meminta uang dan mengambil barang-barang sembako yang ada di toko. Hati ayah mana yang tak sakit saat melihat anak-anaknya mengabaikan dirinya demi nafsu dan harta duniawi yang belum tentu membuat mereka bahagia. 

“Katakan pada kami pak, dimana bapak simpan surat itu… “ ucap Resti jengkel bahkan berulang kali bertanya tidak pernah terjawab sekalipun. 

Gata yang sudah naik pitam pun tanpa sadar dengan tangan keduanya ia menarik kakek Rangga hingga jatuh ke lantai. 

“Ahhh… “ ringis kakek Rangga. 

Resti yang juga sudah naik pitam, justru kembali menarik tangan mertuanya dan 

BRUK !!! 

Darah segar mengalir dari kepala belakang kakek Rangga, Gata dan Resti kaget melihat itu hingga keduanya berlari keluar kamar bertepatan dengan Nella yang juga lari kedalam. 

“Gawat mbak gawat ! “

“Gawat kenapa Nella ? “ tanya Resti panik,. 

“Didepan ada RT dan beberapa warga, “ jawab Nella panik. 

“Kok mereka bisa ke sini ? “ tanya Gata panik bahkan ketiganya pun bingung mau kemana. 

“Kabur mbak, kabur !! “ itulah ucapan terakhir setelah otak Gata konslet sebentar. 

Ketiganya berlari ke pintu belakang, untung saja pintu tersebut tidak ada ada orang yang berkeliaran di sana sehingga ketiganya bisa langsung bersembunyi di dalam hutan yang ada di belakang rumah. 

*

*

*

*

*

*

“Kakak, Lania sudah selesai ni…  Ayo, bayal ! “ ajak Rania mendorong troli kecilnya yang sudah terisi penuh. 

“Ayo, “ jawab Dania dengan hati yang tak tenang. 

Setelah membayar jumlah barang yang dibelikan keduanya pun pergi dengan bantuan karyawan toko untuk mengantar barang mereka yang ternyata ada empat kardus besar. 

Dania dan Rania berjalan kaki menuju rumah yang tak terlalu jauh dengan masing-masing keduanya menikmati es krim. 

Hati Dania masih merasakan perasaan gelisah, bahkan ingin sekali cepat-cepat sampai dirumah untuk melihat keadaan sang kakek yang diketahui belum sadar dari pingsannya. 

Dari kejauhan Dania dan Rania melihat rumah kakek Rangga dikerumuni warga, terlihat ada benda asing yang berkibar di depan rumah. 

“Kakak, kenapa ada bendela kuning dan putih di depan lumah ? “ tanya Rania polos. 

Jantung Dania berdegup kencang, bahkan ia berlari meninggalkan Rania yang tercengang melihat sang kakak meninggalkannya. 

“Ada apa ini ? “ tanya Dania saat telah sampai di depan rumah. 

Salah satu warga menghampiri Dania dengan wajah sedih, “ Dania, maaf kakek Rangga sudah meninggal dunia “.

DEGH !!! meninggal? 

Jantung Dania berdetak lebih cepat, cairan putih mengalir di kedua sudut matanya. “Kakek… . “ ucapnya lirih. 

Rania yang baru sampai pun, kembali terheran melihat kakaknya menangis dan menyebut nama sang kakek. 

“KAKEKKK !! “ teriak Dania menangis berlari masuk ke dalam rumah diikuti Rania yang masih kebingungan. 

Saat di dalam Dania dan Rania melihat jasad kakek Rangga yang sudah terbujur kaku ditutupi kain panjang. 

“Kakek !! “ teriak Dania menangis tersedu-sedu, bahkan Rania turut menangis saat tahu apa yang telah terjadi. 

“Kakek bangun, hiks ! kake janan tinggalkan Lania kake hiks, kakek !! “ tangis Rania membuat siapa saja ikut menangis. 

“Apa yang terjadi dengan kakek, pak ? tanya Dania pada Pak RT. 

Pak RT menggeleng pelan, “ bapak nggak tau nak, tapi salah seorang warga mendengar ada keributan di dalam sehingga beliau memanggil bapak dan warga sekitar untuk datang ketempat ini, namun saat kami ketuk dan memanggil kamu dan Rania tidak ada sahutan, sehingga salah satu dari warga melihat dari celah gorden ada sepasang kaki terlihat entah kaki siapa bapak tidak tahu, tapi yang jelas ada bunyi suara dari arah belakang sehingga kami berlari ke belakang, “

“Dan benar saja, pintu belakang sudah terbuka lebar. Kami masuk dari pintu itu dan waktu memasuki kamar kakek Rangga, kami menemukan beliau sudah berlumuran darah.. Kakek Rangga meninggal di tempat, “ jelas Pak RT. 

“Siapa yang melakukan hal itu pak ? “ tanya Dania terisak. 

“Bapak curiga … . .. 

...***...

...Jangan lupa dukungannya dan follow ig @dlbt___ & @dlbtstae_...

Terpopuler

Comments

sendy kiki

sendy kiki

wah bener bener gata bunuh ayah sendiri 😡😡😡😡😡kakek Rangga.. ayo Rania hajar anak kakek Rangga ga ada akhlak.. crazy up Kaka 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹semoga terungkap.

2024-02-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!