“Rania, ingat pesan kakak. Jangan nakal di sekolah, belajar yang rajin, dengerin apa kata guru bila menjelaskan, bertanya jika tidak tahu okey ! “ pesan Dania.
Rania mengangguk paham. “Lania akan lajin belajal dan selalu beltanya jika tidak paham ! “. janji Rania.
“ Baiklah, kalo gitu kakak berangkat kerja dulu ya, “ ucap Dania berdiri dari jongkoknya, sebelumnya ia mencium kening adiknya.
“Rania masuk kelas gih, ingat pesan kakak ! “.
Rania mengangguk, ia berlari masuk ke dalam kelasnya tak lupa ia mengangkat kedua tangannya membentuk love.
Membuat Dania terkekeh. “Bunda, doakan Dania dari atas sana untuk membahagiakan Rania … “.
Dania pergi meninggalkan sekolah taman kanak-kanak menuju tempatnya bekerja, untung saja tempat kerjanya tak begitu jauh dari sekolah TK adiknya sehingga ia bisa berjalan kaki menikmati paginya kota J.
*
*
*
*
*
“Eh, Dania ! Tolong buatkan kopi untuk bos ! “ titah salah satu karyawan WD Group.
“Ba-baik mba “ ucapnya gugup.
Bos yang dimaksud bukanlah Ceo atau direktur, bos yang dimaksud adalah kepala manajer keuangan. Beliau juga masih baru lebih dulu masuk dua bulan sebelum Dania melamar kerja.
“Kenapa harus kamu sih, Dan ? “ tanya rekannya heran. Dania menggeleng, “ nggak tau Jen, “.
“ Hati-hati Dan, sepertinya ada maksud tertentu… “ Gadis itu menepuk pundak Dania, mengingatkan Dania untuk hati-hati.
“Huft, iya Jen.. “.
Setelah selesai membuat kopi untuk kepala manajer keuangan, Dania segera mengantarkan kopi tersebut dengan hati-hati.
Sesampainya di depan pintu ruangan keuangan, Dania menjadi gugup dan takut. Ia juga mengingat pesan Jena rekannya, “ Dan, tenang dan tenang ! Cuma antar kopi abis itu balik kerja ! “ ucapnya menyemangati diri.
“Huft ! Tuhan, lindungi hamba ! “ doanga dalam hati.
TOK ! TOK ! TOK !
“MASUK !! “.
Dengan ragu dan gugup Dania membuka pintu ruangan itu, dengan langkah ragu ia memasuki ruangan dimana kepala manajer berada.
“ Permisi pak, saya mau mengantarkan pesanan bapak ! “ ucap Dania dan segera meletakkan secangkir kopi panas di atas meja kerja bosnya itu.
Kepala manajer keuangan menatap Dania dengan tatapan tak biasanya. Beberapa kali mengusap bibirnya serta dagunya, jakunnya naik turun, tatapannya seperti ingin menerkam Dania.
“Dania… . “ panggilnya dengan suara yang membuat tubuh Dania meremang.
“I–iya pak ? “ jawab Dania gugup.
“Umurmu berapa ? “
“tujuh belas pak, “ jawab Dania takut, perasaannya sudah was-was saat kepala manajer keuangan berjalan ke arahnya.
Dania memundurkan langkahnya, wajahnya semakin pucat saat kepala manajer sudah berada di hadapannya.
“Paa— pak Niko ma-mau nga–ngapain… “Dania ketakutan, saat Pak Niko hendak menyentuhnya tiba-tiba pintu terbuka keras dari luar.
BRUKK !!!
“APA-APAAN INI !!! “ teriak seorang wanita paruh baya, di belakangnya ada beberapa karyawan berkerumunan berlomba-lomba untuk melihat ke dalam ruangan.
“Ma–mami … “ ucap Pak Niko saat melihat istrinya datang.
“APA MAKSUDNYA INI PI !! “ teriak seorang wanita yang ternyata istri sah dari kepala manajer keuangan.
“Di—dia yang menggodaku mami ! “ tuduhannya kepada Dania lalu mendekat pada sang istri.
Dania menggeleng ribut, wajahnya yang pucat masih kentara membuat istri dari kepala manajer keuangan salah paham berpikir bila Dania ketahuan menggoda suaminya.
“Jadi kamu yang terus mengejar suamiku ? Bahkan dengan beraninya menggoda suamiku di kantor !! “ teriaknya marah.
“Ti–tidak bu ! Saya tidak menggoda suami ibu ! “ tegasnya.
PLAK !!! Pipi mulus Dania mendapatkan cap lima jari dari istri kepala manajer. Dania meringis menahan sakit, air mata yang sedari tadi ia tahan kini lolos begitu saja.
“Jangan ngelak kamu !! Masih kecil sudah berani menggoda suami orang !! Orang tuamu tidak mengajarmu apa gimana haaa !! “ teriaknya marah.
Suara ricuh membuat para karyawan menilai Dania sebagai wanita murahan, mereka berlomba-lomba memberikan asumsi yang tidak benar tentang Dania.
Seorang HRD yang ikut menyaksikan pertengkaran itu memutuskan untuk memecat Dania di hari itu juga tanpa pesangon dan gaji.
“Tapi bu, saya nggak salah ! “ bantah Dania tak terima. “Saya datang karena disuruh karyawan meminta saya membuatkan kopi untuk pak Niko ! Saya melakukan tugas saya sebagai office girl ! “
“Benar bu, Dania hanya menjalankan tugasnya, “ bela Jena.
“Pelakor tetap aja pelakor ! Dan kamu Jena, ucapanmu tak akan membuat Dania tetap bekerja disini !“ sentak Liyana kepala HRD WD Group.
“Anda nggak punya hak buat pecat Dania dari sini !! “ sentak Jena berani.
“Kamu yang nggak punya hak buat ngatur saya Jena ! Ingat, kamu itu hanya OG disini ! “ sarkas Liyana angkuh.
“Kalau saya OG, apa saya nggak bisa bela rekan saya yang tidak bersalah ? Gitu maksud ibu ! “ terang Jena.
“Pecat saja Bu Liyana ! Orang seperti itu nantinya mencari mangsa lain ! “ ucap Pak Niko.
“Benar bu, “ sahut istri pak Niko.
“Baiklah, saya putuskan Dania tetap dipecat ! “ ucapnya angkuh dan membuat Jena tak terima.
“IBU NGGAK BISA GITU !! “ teriaknya marah.
“Oh, kamu mau sekalian dipecat juga ? “ tantang Liyana.
Dania melirik Jena, ia menggeleng. “ Aku nggak papa Jen, jangan sampai kamu ikutan dipecat. “
“Tapi Dan, “ bantah Jena.
“Nggak papa, “ balas Dania. “Baiklah bu, saya permisi ! “.
Jena yang kesal segera menarik tangan Dania keluar dari ruangan kepala manajer keuangan dengan disambut sorakan karyawan.
“Huuu masih muda udah jadi pelakor ! “
“Amit-amit temenan sama situ ! “
“Cantik-cantik kok pelakor ! “
Banyak lagi cacian dan makian yang diterima Dania, hal itu membuat Jena geram. Ia mengirim pesan kepada seseorang tak lupa mengirimkan video kejadian barusan.
*
*
*
*
*
“Jen, aku pamit pulang duluan ya. “
“Iya Dan, kapan-kapan aku main ke kontrakanmu ya ! Sekalian ketemu Rania, aku kangen banget sama bocah gembul itu “ ungkap Jena.
“Haha, datang saja. Tiap sore dia selalu stay di warung ! “
“Hahaha, pasti dia bangga menagih hutang orang-orang ! “ ujar Jena yang sudah beberapa kali melihat Rania yang melayani dan menagih hutang pembeli.
“Ya begitulah. Jen, aku pergi dulu ! “ ucap Dania dan menghentikan angkot lalu kemudian naik ke dalamnya meninggalkan Jena yang berdiri di tepi jalan.
Air mata Dania kembali menetes, rasa sakit yang dirasakan hari ini membuatnya terlihat sangat rapuh.
“Bunda… . “ ucapnya lirih.
Dania menangis sesenggukan, hingga ia tiba berhenti di pangkalan tempat biasanya turun.
“Huft ! Dania tenanglah, jangan sampai Rania melihatmu bersedih ! “ ucapnya.
“Besok, cari kerja lain aja lah… masih muda harus semangat ! “ ucap Dania, lagi- lagi ia harus menyemangati dirinya sendiri.
“TOLONG !!! “ teriak seorang wanita paruh baya yang sedang dihadang oleh beberapa preman.
“Serahkan tas itu pada kami ! “ ucap salah satu preman yang memegang pisau lipat.
Dania menatap sekelilingnya, ia melihat seorang ibu tengah dihadang dua preman yang salah satunya pernah menghadangnya saat pertama kali dirinya menginjak kaki di kota J.
Dania berjalan ke arah mereka. “ Masih punya nyali kalian ? “ tanya Dania santai, walau suaranya masih serak ia masih bisa menormalkan suasana hatinya.
Salah satu preman membalikkan tubuhnya, “Siapa dia ? “ tanyanya pada rekannya itu.
“Dia yang kemarin bikin kami babak belur bos… “
“Kecil gitu ? “ tanyanya tak percaya.
“Benar bos, belum lagi mulut pedas adiknya.. Beh lumer telinga saya di ceramahin ! “ bisik rekannya itu kepada bosnya.
“Masih mau ganggu atau mau bubar ? “ tanya Dania kesal.
“Kabur saja lah bos, Sih Jedol aja udah nggak bisa makan pake tangan kanan karena dia..! Emang bos mau juga ? Kalau aku kaburlah cari aman! “ ujar Lonong mencari aman.
“Dan, aku pamit dulu ya. Mungkin bos aku yang mau lawan hiii seram ! Pamit dulu ! “ ucapnya kocar kacir melarikan diri meninggalkan bosnya yang melongo tak percaya.
“Oh anda bosnya ? Tolong pergi sebelum gugur ! “ ancam Dania.
“Bacutttt !! “ teriaknya kesal. Bahkan dirinya sudah memasang kuda-kuda untuk….
“KA—KABURRRRRRRRRRRRR ! “ teriaknya mengejar rekan kerjanya itu.
Wanita paruh baya yang tadinya ketakutan, melongo tak percaya, “ Badan gede nyali ciut ! Banci dong ! “ gumamnya lirih.
...****************...
Jangan lupa dukungannya❦
follow instagram : dlbtstae_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments