Kerja sama adik kakak

Setelah kepergian Gata dan lainnya, kini di rumah itu hanyalah tersisa Pak RT serta istrinya, Dania, Rania dan Kakek Rangga yang masih belum sadarkan diri setelah diberi infus oleh seorang dokter yang dipanggil oleh pak RT. 

“Kapan kakek Langga bangun kakak ? Kasihan kakek Langga balu juga sehat cudah sakit lagi gala-gala meleka… “ ucap Rania lirih. 

Bahkan dirinya sudah tidak memperdulikan sosok yang dipanggil sang kakak “Ayah” yang dirinya tahu adalah kedua orang tuanya sudah meninggal sehingga membuat mereka datang ke kota J untuk mencari kehidupan baru dan juga bertemu dengan Kakek Rangga yang bukan kakek kandung mereka. 

Dania yang diajak bicara oleh Rania tidak merespon bahkan saat ini pikirannya tengah berperang karena tindakan seseorang yang baru saja dirinya panggil “Ayah “.

“ Bunda, apa ayah sejahat itu tak mengenali Dania dan Rania… “ ucapnya dalam hati. 

“Dania tidak salah mengenalnya bunda, hanya penampilan ayah sekarang berbeda jauh dari penampilannya dulu.. Jika benar itu ayah, apakah ayah selama ini berkhianat dari bunda selama merantau maka dari itu ayah menghilang tanpa kabar ? “ ucap Dania dalam hati. 

“Bunda, tolong Dania… “

Bu RT yang melihat keterdiaman Dania pun, mengusap bahu gadis itu dengan lembut. “Sudah jangan dipikirin, emang mereka itu seperti itu semenjak istri kakek Rangga meninggal dunia.. Mereka gencar ingin menjual rumah beserta toko sembako untuk dijadikan dana usaha mereka, “

“Jadi jangan heran, mereka akan datang tiga bulan sekali ke rumah ini, bahkan tega menyakiti kakek Rangga agar mau menjualnya, “ lanjutnya. 

Dania menoleh dan menatap bu RT dalam, “ apa mereka setega itu bu, seharusnya mereka memberikan kasih sayang kepada kakek Rangga, beliau sudah sangat tua untuk usianya sekarang. Bahkan, ketika beliau sakit anak-anaknya tidak ada yang menjenguknya. Apa itu pantas ? “ ucap Dania kesal saat membicarakan anak-anak l4kn4t itu. 

“Huft, kami juga sama jengkelnya denganmu, nak. Apalagi Mba Gata anak kedua kakek Rangga semenjak menikah lagi tiga tahun lalu, dia semakin berani menentang nasehat kedua orang tuanya. Bahkan dua menantu perempuan kakek Rangga juga semakin berani menginjak harga diri beliau, “ ucap Bu RT geram mengingat kejadian tiga tahun yang lalu. 

“Jahat sekali, “ ucap Dania lirih. 

“NDA BICA DIBIALKAN ITU BU ELTE, NDA BAIK ITU ! HALUS DIBASMI OLANG-OLANG SEPELTI MELEKA, KASIAN KAKEK LANGGA HIKS ! “ ucap Rania menangis seolah mengerti perlakuan mereka terhadap kakek Rangga. 

“Kalau bukan karena kakek, mungkin Dania dan Rania masih berada di jalanan bu. “ ucap Dania mengingat bagaimana kedatangannya pertama kali dulu di kota J ini. 

“Maka dari itu, bantu dan tolong kakek Rangga untuk menjaga rumah dan toko ini, nak. Kami percayakan padamu dan adikmu Rania untuk menjaga kakek Rangga beserta warisan ini.. “ ucap Pak RT setelah lama mendengar pembicaraan istrinya dan Dania. 

Dania mendongak menatap Pak RT yang tersenyum kepadanya, “ Iya nak, ibu juga percaya kepada kalian berdua…  rawat kakek Rangga seperti kakek kandung kalian sendiri, jangan biarkan mereka mengambil paksa rumah dan toko untuk mereka jual, “ timpal Bu RT. 

Dania tersenyum saat kedua sepasang suami istri memberikannya petuah, dalam hatinya Dania akan melakukan apapun caranya ia akan menjaga dan merawat kakek Rangga sepenuh hati. 

“Baiklah, Dania akan merawat dan menjaga Kakek Rangga karena beliau sudah baik kepada Dania dan Rania untuk tinggal secara gratis disini… “  jawabnya mantap. 

“Kami senang dengan jawabanmu, kalau begitu bapak dan ibu pamit pulang ya. Kami sudah lama meninggalkan Roni di rumah bersama istri putraku takutnya dia stress karma tingkah Roni, “ ucap Pak RT sedikit menghibur Dania dan Rania. 

“Haha iya pak, terima kasih sebelumnya”

“Sama-sama Dania, “

“Rania, kapan-kapan main ke rumah. Roni pasti senang memiliki teman perempuan, “ pinta Bu RT. 

“Nda dulu lah bu elte, lania mau jaga kakek langga sampe sehat lagi. Tapi kalo loni mau main kesini juga nda papa, kok. Aman, Lania olangna nda galak hehe… “ sahutnya saat Bu RT menawarkannya untuk bermain bersama putra bungsu mereka. 

“HAHA Rania bisa saja, baiklah besok ibu antar Roni main ke sini ya.. “

“Siap ibu elte ! “ ucap Rania tersenyum manis. 

“Baiklah, kalau gitu kami pamit dulu ya, “ ucap Bu RT. 

Dania mengantarkan suami istri itu kedepan pintu rumah, hingga keduanya tak terlihat lagi. Dania langsung menutup dan mengunci pintu serta jendela yang ternyata masih terbuka lebar. 

*

*

*

*

*

*

Minggu di pagi hari, seorang gadis kecil terbangun dari tidur panjangnya. Rambut panjang yang kusut seperti sarang semut dengan wajah yang penuh ileran membuka matanya dengan malas. 

“Jam belapa sekalang ? Kenapa kalian nyentelin matana Nola pake cahaya ilahi.. Nola masih mengantuk, “ ucapnya serak. 

“Tolong matiin dulu, Nola masih mengantuk. Hali ini hali minggu altina Nola memanjakan mata Nola untuk tidul sebental.. “ ucap Nora dan kembali memejamkan matanya, namun cahaya matahari semakin menyoroti matanya membuat Nora kesal. 

“Cudah Nola bilang, matiin dulu napa sih ! “ pekiknya kesal dan bangun dari rebahannya kaki gendutnya mulai perlahan turun dari kasur, setelah itu beranjak berjalan mendekati gorden kamarnya. 

“Pantas silau, olah ininya nda di talik… “ ucap Nora kecil. 

Kemudian, Nora menarik gorden utama hingga menutupi sinar matahari yang masuk ke kamarnya membuat suasana kamar Nora menjadi gelap. “Nah, gini baru sedap ! “.

Nora kembali ke kasurnya dan melanjutkan tidurnya yang masih menghantui matanya. 

Sedangkan di tempat lain, Rania sudah mulai membuka toko sembako kakek Rangga dibantu oleh Dania yang hari itu mendapatkan jatah libur untuk pertama kalinya dalam bekerja. 

“Hali ini hali minggu, hali minggu halusnya sembahyang tapi kita hali minggu buka toko.. nda papa yang penting halal ! “ ucap Rania sesekali bersenandung merapikan letak sayur mayur yang baru saja di antar oleh mas-mas pengantar. 

Dania yang mendengarkan ucapan sang adik tersenyum gemas, biasanya mereka akan misa sore di gereja yang tak jauh dari rumah. 

“Selamat pagi Rania sayang, ibu mau beli dong ! “ sapa seorang ibu memakai daster doraemon. 

“Celamat pagi, mamana Lija ! Silahkan dong dipilih, cayulna masih segel-segel nih mamana Lija ! Dijamin nda ada ulatna, semuana belsih total ! “ sahut Rania semangat bahkan membuat Mama Riza dan Dania tertawa kecil. 

“Wah-wah pengusaha bocil ini namanya, “ celetuk Mama Riza. 

“Doakan Lania mamana Lija, bial jadi pengusaha cantik dan baik hati ! “ ucap Rania yang kembali berbeda cita-citanya. 

“Haha Rania sungguh pintar, “ puji Mama Riza. 

Rania tersenyum mendengarnya, tak lama seorang mas-mas datang membawa satu tempat ikan dan daging ke toko Kakek Rangga, setelah mengantar dan mendapatkan bayaran mas-mas tersebut pergi meninggalkan toko kakek Rangga. 

Dania segera memasukan ikan dan daging itu kedalam kulkas khusus untuk penyimpanan ikan dan daging. 

Matahari semakin beranjak naik sehingga suasana di toko semakin terasa panas, Rania menyalakan kipas angin di dua tempat sehingga membuat udara yang tadinya sangat panas menjadi sedikit berkurang. 

“Panas kalilah hali ini, nda kelen kali “ ucap Rania sambil menghapus peluh yang mengalir di sekitar wajahnya. 

“Ini minum dulu es teh manis, “ timpal Dania yang membawa seteko es teh manis dan dua gelas. 

“Uwaaaaawww, telima kasih kakak Dania.. “

“Sama-sama sayang, “ balas Dania pada adiknya. 

Minggu ini, stock ditoko sembako sedikit menipis membuat Dania harus mencatat barang apa yang sudah habis dan harus dibeli kembali, Rania membantu sang kakak untuk melihat barang-barang yang sudah tidak ada lagi di rak. 

Keduanya terlihat sangat kompak bekerja sama, bahkan dagangan hari ini sangat meningkat pendapatannya, membuat Dania maupun Rania tersenyum senang. 

“Belum juga sole, penghasilan pagi sampai siang sudah sebanyak ini kakak.. “ ucap Rania senang melihat tumpukan uang berwarna biru dan hijau. 

“Iya, nanti kita ke toko besar di ujung sana untuk membeli kebutuhan pokok yang sudah habis, sisanya nanti buat kita tabung lagi.. “

Rania bertepuk tangan girang, bahkan Rania sudah tidak sabar ingin berbelanja di toko besar yang ada diujung sana. 

“LANIAAAAAAA, LIJA DATANG NI !! “ teriak seorang anak perempuan gendut membawa tas kecil yang entah apa isinya berdiri di depan etalase bahan pokok. 

“CEBENTALLLL LIJAAA !! “ sahut Rania dari dalam. 

“Mau beli apa Lija ? Bukanna mamamu tadi pagi dah belanja ? “ tanya Rania bingung. 

“Lija kesini di suluh beli tepung cegitiga bilu cama macako lasa ayam ! “ ungkapnya. 

“Ooo cebental, Lania calikan dulu.. “ ucap Rania segera mencari keberadaan tepung dan masako. 

“LANIA TEPUNGNA YANG CEKILO CAMA MACAKO AYAM YANG BUNGKUS GEDE !! “ teriak Riza saat Rania menanyakan tepung dan masako. 

Rania kembali membawa pesanan Riza, “ totalna dua puluh lima lebu lima latus lupiah, “

“Ini duitna lima puluh lebu, “ ucap Riza menyerahkan uang sebesar lima puluh ribu kepada Rania. 

“Mau buat apa mamamu Lija ? “ tanya Rania kepo. 

“Nda tau, tapi kayakna mau buat kue deh.. “ sahut Riza asal bunyi. 

“Bilang mamamu, bagi-bagi kuenya ! “ ucap Rania tersenyum. 

“Yaaaa, nanti Lija bilang mama buat bagi ke Lania…  Dahlah Lija mau balik dulu ya, “ pamit Riza dengan membawa kantong kresek dan meletakkannya di keranjang sepeda birunya kemudian Riza naik dan mengengkol sepedanya meninggalkan toko sembako kakek Rangga. 

“Ginikan punya teman banyak tu, ada yang buat kue kita minta bagi hihi, kenyanglah pelutna Lania…  memang pintal ! “ ucapnya dan kembali masuk kedalam untuk menemani Dania yang sibuk menulis daftar bahan pokok yang sudah habis dan menipis. 

Terpopuler

Comments

fatmawati rahman

fatmawati rahman

Lanjuttttt thor. Yg rajin up

2024-02-24

0

Greenindya

Greenindya

owh jadi begitu ceritanya
kl kakek Rangga bukan kakek kandung

2024-02-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!