Kedatangan Gama

Suasana pagi ini sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Hari ini, hari pertama Dania masak bersama Nella. Keduanya terlihat seperti anak dan ibu kandung, bahkan Dania tak canggung lagi memanggil Nella dengan sebutan mama mengikuti keinginan Rania yang ingin kakaknya turut memanggil Nella dengan sebutan mama. 

Gio tak mau kalah, ia juga ingin dipanggil papa oleh kedua kakak beradik itu. Alhasil, Dania dan Rania memanggil Gio dengan sebutan papa dan Nella dengan sebutan mama. 

“Sudah selesai, sekarang kita siapkan di meja makan. “ ucap Nella yang baru saja mematikan kompor. 

“Baik, ma ! “ sahut Dania yang menyimpan barang kotor di wastafel. 

Setelah menata makanan, Nella segera ke kamarnya untuk membangunkan suaminya yang baru tertidur beberapa jam yang lalu. 

Terlihat seorang bocah laki-laki masuk ke dapur dengan wajah bantalnya. 

“Hai, Gaga sudah bangun “ tegur Dania. 

“Cudah khakwakk chantik ! “ sahutnya lemas dan menguap. 

“Cuci muka dulu sana, “ ucap Dania kepada Gaga yang masih menguap. “Hm”.

Mendengar deheman Gaga membuat Dania menggelengkan kepalanya. 

Tak lama datanglah Rania dengan wajah segarnya. Hari  ini, ia akan membuka toko sembako bersama Gaga yang ia paksa untuk ikut bekerja bersamanya. 

“Janji halus ditepati, jangan malas ! “ ucap Rania saat melihat Gaga yang menempelkan pipi kirinya di atas meja dengan mata yang masih mengantuk. 

“Ada apa ? “ tanya Nella yang baru kembali dari kamarnya dengan Gio yang sudah mengenakan kaos rumahan dan celana pendek selutut memberikan kesan tampan dan macho. 

Dania menggeleng kepalanya. “ Nda papa mama, “ sahut Rania. 

“Ayo kita sarapan ! “ ajak Nella dan mulai menyendok nasi untuk suaminya sedangkan Dania ia membantu Gaga dan Rania mengambik sayur dan lauk setelah itu mengisi nasi ke dalam piring keduanya. 

“Jangan banyak !! “ pekik Gaga saat sayur dan nasinya melebihi kapasitas perutnya. 

“Makan yang banyak bial gendut ! “ ujar Rania. 

“Ndaa, pelutna Gaga dah besal ini !!” sahut Gaga memperlihatkan perut bulatnya itu.

Saat Rania akan membalas ucapan Gaga, tiba-tiba pintu diketuk dengan keras dari luar membuat ketiga orang dewasa saling pandang.

“Pagi-pagi begini siapa yang bertamu ?” tanya Nell bingung.

“Nggak tahu, ma. Biar Dania lihat dulu !” ucapnya dan berjalan keluar dapur menuju pintu depan.

TOK !! TOK !! Pintu diketuk semakin keras membuat Dania berteriak kesal.

“SEBENTAR !!!” 

Ceklek !

Dania mematung saat melihat sosok pria yang sudah lama meninggalkan mereka.

“Ada apa tuan datang kemari ?” tanya Dania datar.

Ucapan Dania, seketika membuat d4d4 Dani terasa nyeri namun, kesombongan dan keangkuhannya mengubah cara pandangnya. 

“Kembalikan surat rumah ini ! “ satu kalimat terucap dari mulut Dani. 

“Surat apa yang dimaksud anda ? “ tanya Dania datar dan dingin. 

“Surat tanah milik mertua saya yang kamu curi ! “ tuduhnya. 

“Kapan saya mencuri ? Saya tidak tahu suratnya dimana, saya juga nggak tahu jika surat yang kalian maksud ada ditangan saya ? “ sarkas Dania. 

“Jadi, jika anda menanyakan surat itu, maka anda tanyakan saja pada mendiang kakek ! Jangan bertanya pada saya “. sambung Dania marah. 

“ KAMU !! “

“APA ?! MAU NAMPAR SAYA ? “ tantang Dania. 

“DASAR ANAK NGGAK TAHU DIRI !! “ hina Dani pada Dania. 

“SAYA ATAU ANDA YANG NGGAK TAHU DIRI  ?! “ teriak Dania marah. 

“CEPAT SERAHKAN SURAT ITU !! “bentak Dani yang membuat Dania menggeleng tak percaya. 

“Kalo tuan datang hanya untuk mencari surat itu, maaf, bukan di tempat saya ! “ seru Dania. 

Dani yang mendengar itu, berdecak kesal. Ia memaksa Dania untuk memberikan surat itu dan meminta Dania untuk kembali ke desa. Dania menolak hingga dimana Dani untuk pertama kalinya menamp4r wajah Dania. 

“PLAK !! “

“DANIA !!!! “ teriak Nella yang melihat Dania ditampar oleh iparnya. 

“Kakak ipar kenapa nampar Dania ! “ pekik Nella memarahi Dani kakak iparnya. 

“Nella kamu kenapa berada disini ? “ suara perempuan yang sangat dikenal membuat tubuh Nella menegang. 

“Kakak… “

Nella mengalihkan pandangannya menatap Gata yang melihatnya seakan ingin menelannya hidup-hidup.

“Ada apa ini ?” tanya Gio yang ikut menyusul dibelakangnya ada Gaga yang memegang dua paha ayam dan Rania yang membawa piring berisi makanan.

“KALIAN SEMUA DISINI ?! “ pekik Gata yang baru saja datang. Pantas saja, pagi ini ia berencana ingin menjemput Gaga di rumah adiknya itu namun, rumah adiknya terlihat sangat sepi ternyata mereka berada di rumah mendiang orang tua mereka. 

“SEJAK KAPAN KALIAN DISINI !! “ teriak Gata marah. 

Nella mengalihkan pandangannya menatap sang suami kemudian menatap kedua bocah gendut yang masih makan sambil menonton mereka. 

Gio menggode istrinya untuk membawa anak-anak masuk kedalam rumah dan melanjutkan sarapan yang tertundak. 

Setelah kepergian istri dan anak-anak, Gata langsung mencecar banyak pertanyaan kepada adiknya itu. 

“Kenapa kalian bisa di sini ? Apa kalian tinggal disini ?Apa gadis itu sudah memberimu surat tanah ? Dimana ? Berikan padaku ??” cercah Gata dengan tangan kanan menengadah meminta surat tanah. 

Gio mengerutkan keningnya, “ surat tanah ? Untuk apa surat tanah kak ? “

“Untuk kami jual, dan uangnya mau kakak modalkan serta biaya kuliahnya gadis ! “ sahut Gata santai. 

“To the point aja deh, serahkan surat itu dan kami akan segera pergi dari sini ! “ ucap Dani kesal. 

Gio menggelengkan kepalanya, “Kak, aku nggak tahu dimana. Kalaupun ada, surat itu bukan hak kita. “ jelas Gio karena ia juga mendengar ucapan kakak laki-lakinya jika surat itu sudah atas nama Dania bukan mereka anak-anaknya. 

“Nggak bisa gitu ! Dania bukan anak bapak ! Dania nggak punya hak untuk itu !! “ bantah Gata tak terima. 

“Siapa bilang Dania nggak punya hak atas warisan bapak ! “ suara berat dan dingin itu membuat kedua kakak beradik itu menoleh. 

“Abang ! “ ucap Gio dan langsung menyalami kakak laki-lakinya. 

Gama tersenyum kecil melihat adik bungsunya itu. Kemudian, Gama menatap adik perempuannya dengan tajam. Sedangkan, Resti dibelakang Gama menunduk takut. 

“Abang ngapain disini ? “ tanya Gata pelan. 

“Kamu tanya abang kenapa disini ? “ Gata menatap wajah abangnya lebih tepatnya wajah Resti yang memberi kode padanya. 

“Ya–yakan biasa abang nggak pernah mau kesini, “ ucapnya pelan. 

“Abang kesini cari kamu ! “ ucapan Gama membuat Gata mengerutkan keningnya. “Ada apa bang ? “ tanya Gata bingung. 

“Ayo, ikut abang ! “

“Mau kemana bang ? “ tanya Gata bingung. 

“Kamu dan suamimu ikut abang !! “ titah Gama. 

Gata melihat Resti, Resti menggeleng membuat Gata frustasi. “ Bang, kita ngomongnya disini aja ! “ pinta Gata memelas. 

“Iya bang, ini masih pagi banget. Kita mau kemana, “ timpal Dani yang turut bingung dengan kedatangan iparnya. 

“Ini sudah jam 7, apanya yang masih pagi ? “ tanya Gama datar. 

“Ikut saja !! “ titah Gama tak bisa dibantah lagi. 

Dengan wajah bingung sepasang suami istri itu mengikuti langkah kaki Gama dan Resti yang berjalan dibelakang Gama. 

Langkah Gama terhenti, ia berbalik menatap adik bungsunya itu. “Gio, bilang pada istrimu untuk menyusul kami ! Abang akan kirim alamatnya setelah sampai tujuan, jangan lupa bawa Dania dan adiknya ! “ pinta Gama. 

“Baik bang, “

Setelah mengatakan itu, Gama dan lainnya masuk ke dalam mobil pribadi Gama. Mobil tersebut melaju meninggalkan rumah mendiang kakek Rangga. 

“Ada apa sebenarnya, “ ucap Gio dalam hati. 

...***...

Jangan lupa dukungannya😘

follow ig @coretandella_ untuk baca AU & visual dari cerita Girls first love

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!