SEBUAH KERTAS DARI ARKY
Mendengar teriakkan Aline dari bawah. Tentu saja Jolie merasa sedih sebagai seorang nenek. Dia tidak pernah menyangka cucunya akan sebenci itu dengan ayahnya sendiri. Tak cuma Jolie saja, Irie pun berpikir hal yang sama. Aline masih muda tetapi kelakuannya sangat kasar apalagi dengan orang tuanya.
Menyadari akan keberadaan Irie yang masih berada di sana, Jolie kembali tersenyum saat menatap wanita itu. Dia tidak ingin jika sampai Irie membatalkan pernikahan yang sangat Jolie nantikan.
“Kau dengar sendiri kan? Begitulah mereka. Tidak pernah akur.” Ucap Jolie.
“Apakah Alina pernah mendapatkan pukulan atau kekerasan?” tanya Irie yang ingin tahu detailnya sebelum dia menjadi ibu sambung gadis itu.
Jolie menggeleng, karena Arky memang tidak pernah sekalipun mengangkat tangannya ke Alina. Jika dia sampai lepas kendali, pria itu lebih memilih pergi begitu saja agar tidak kelewat batas saat memarahi putrinya.
“Tidak. Alina tidak pernah mendapatkan kekerasan apapun, hanya saja— dia kurang kasih sayang. Saffron selalu memanjakannya, ketika dia pergi dengan tiba-tiba, itulah yang membuat Alina syok dan tidak mau menerima kenyataan.” Jelas wanita tua itu yang kini kembali sedih, namun sebisa mungkin dia tidak menangis.
Irie mendengarkan dengan baik. Setidaknya dia sudah tahu alasan gadis itu menjadi liar.
Sementara di dalam kamar yang bergaya modern, bersih dan wangi. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Arky Vernandez! Pria itu sangat menyukai kebersihan, hingga jangan kaget jika kantor serta kamar dan rumahnya selalu bersih setiap menitnya.
Saat ini Arky baru saja mendudukkan dirinya di sofa singel sembari bersandar setelah melepas dasi yang melilit lehernya seharian. Pertengkarannya dengan sang putri selalu membuat Arky merasa bersalah di akhir.
“Kau lihat Saffron! Hari ini aku memarahinya lagi— Hffuuu... ” Pria yang masih mengenakan kemeja birunya itu mulai melepas kancing kemejanya, lalu membuat dirinya telanjang dada karena tubuhnya yang merasa gerah.
Nampak sekali otot vit dari pria berusia 38 tahun itu. Arky juga selalu menjaga tubuhnya juga kesehatannya, tak salah jika pria itu masih memiliki tubuh yang indah. Ketika ia mulai kembali memejamkan matanya, tiba-tiba dia baru ingat akan sosok wanita yang berdiri tepat di depannya saat dia memasuki rumah.
Arky kembali membuka matanya saat mengetahui sosok wanita tersebut yang merupakan calon istrinya. Karena rasa kesalnya ketika tahu bahwa Akina memberikan mobilnya lagi, membuat Arky tidak memperhatikan keadaan di sekitar bahkan melewati wanita bernama Irie itu.
“Maaf ya Irie. Mungkin malam ini hanya kita berdua yang makan di meja makan.” Ucap Jolie merasa sungkan dan tak enak hati.
“Tidak apa! Suatu hari kita akan makan bersama!” balas Irie berpikir positif. Wanita itu segera mengambilkan makanan untuk Jolie dan juga untuknya. Irie sudah pastikan dan akan berusaha membuat kedua orang angkuh dan dingin itu bersatu, meski itu akan sulit untuknya.
Selang beberapa menit kemudian, Irie dan Jolie baru saja menyelesaikan makan malam mereka yang penuh kesunyian, namun Irie menikmatinya begitu juga dengan wanita tua itu.
“Irie! Bisakah kau mengantarkan makanan ini ke kamar Arky? Aku akan mengantarkan makanan untuk Alina. Mereka benar-benar membuatku kewalahan— Hffuuu...” Irie tersenyum remang, mengantar makanan ke kamar Arky? Pria bak pangeran berkuda putih itu? Dia akan mengantarkan makanan tersebut kepadanya.
Irie merasa akan melewati babak baru lainnya. Asal kalian tahu, Irie menerima pernikahan ini karena dia ingin segera move on dari si Ken itu.
Dengan senyuman kecil, Irie menerima nampan yang sudah terisi oleh makanan dan minuman.
Sama seperti apa yang Jolie katakan. Dia pergi ke kamar Alina, sedangkan Irie pergi ke kamar Arky, dimana letak kamarnya yang berada di kamar paling ujung.
Tok! Tok! Tok! Berulangkali Irie harus menarik napas dalam-dalam agar tidak merasa gugup. Jujur saja, selain Ken, tidak ada pria lainnya yang sering Irie ajak bicara karena Ken seorang pria yang sangat posesif.
Wanita cantik dengan mengenakan pakaian berupa kaos putih longgar dengan celana putih itu mengerutkan keningnya. Sudah berkali-kali dia mengetuk pintu, tapi tidak jawaban sama sekali.
Dengan perlahan, Irie hendak membuka kenop pintunya, namun dia urungkan kembali karena takut jika salah faham. Wanita itu mencoba mengetuknya lagi dan lagi, namun jawabannya masih sama.
“Kenapa lama sekali? Jika aku kembali, nyonya Jolie akan bertanya..” Gumam Irie sedikit cemberut seraya menatap ke arah makanan yang dia bawa semakin mendingin.
Tanpa melihat, tangan kanan Irie mulai mengetuk lagi, namun kali ini tidak terdengar suara ketukan pintu malahan Irie merasakan kulit basah dan dingin seperti—
“Hah! Maafkan aku. Aku..” Irie tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa memalingkan wajahnya ketika dia melihat sekilas bahwa yang dia ketuk bukanlah pintu melainkan dada bidang dari seorang pria duda bernama Arky.
Yup! Arky yang baru saja selesai mandi melilitkan sebuah handuk putih di lingkar pinggangnya. Dengan rambut basah yang berantakan sungguh membuat siapapun yang melihatnya bakal mabuk kepayang dan ingin segera menyentuhnya. Tapi berbeda dengan keinginan Irie, wanita itu malah berpaling terkejut akan pemandangan indah dadakan di depannya, apalagi dia masih ingat bahwa pria itu adalah seorang pria yang sudah pernah menikah alias seseorang yang pasti memiliki sosok wanita yang dia cintai.
Arky menatap tajam dengan kedua alisnya berkerut, sorot matanya tertuju sekilas ke nampan yang Irie bawa. “Letakan di dalam.” Ujar suara berat nan serak itu seakan menjebol gendang telinga Irie. Padahal suara tersebut sangatlah terdengar santai namun sangat dingin.
Melihat Arky yang masuk lebih dulu, Irie mengangguk kecil lalu melangkah mengikuti langkah pria tersebut. Dan ketika dia masuk ke kamar, berapa harum dan bersihnya kamar yang serba putih itu. Irie seakan leluasa menghirup udara di sana.
“Letakan di meja.” Pinta Arky yang kini mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil lainnya yang tersampir di bahunya sambil menyeduh teh yang sudah tersaji di meja panjang dekat jendela besar yang tertutup gorden abu-abu.
Irie meletakkan nampan tersebut dengan hati-hati, melirik sekilas ke arah pria yang masih sibuk memegang gelas teh dan sebuah kertas di kedua tangannya.
“Sa-saya permisi.” Pamit Irie memilih segera pergi karena tidak mau sampai terjerumus ke dosa mata.
“Namamu Irie?” tiba-tiba sebuah Arky mengehentikan langkah Irie yang hampir saja ke pintu. Dia berbalik menatap pria yang kini juga menatapnya lekat.
Irie mencoba sebisa mungkin untuk tidak melihat ke arah leher hingga ke bawah, dia hanya memfokuskan matanya ke wajah Arky saja.
“Iya. Namaku Irie Bli—”
“Aku sudah tahu.” Potong Arky seraya meletakkan kembali gelasnya. Senyuman Irie yang hendak memperkenalkan dirinya tadi langsung hilang saat pria itu menyelanya begitu saja.
Arky berjalan mendekati Irie dengan selembar kertas yang tadi dia baca. Dengan keadaan bertelanjang dada, pria itu mendekati seorang wanita muda yang kini mencoba mati-matian untuk tidak mimisan.
“Baca ini sebelum memutuskan. Besok datanglah ke kamar jika kau menerimanya dan langsung pergi dari rumah ini jika kau menolaknya.” Jelas Arky tak banyak basa-basi. Irie menerima selembar kertas itu dengan wajah bingung. Sementara Arky langsung berbalik pergi begitu saja tanpa menjelaskan apa isi kertas tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trusceria
2024-11-07
0
Nur Bahagia
yasalaammm 🤦♀️🤣
2024-09-30
1
Bzaa
paling surat perjanjian kontrak pernikahan 😉
2024-07-16
1