11 Besser

"Tuan, ini data-data peserta lomba design yang ikut."

Keanu lalu melihat sketsa-sketsa yang ada di hadapannya. Setiap dua tahun sekali, perusahannya memang akan mengadakan lomba desain, sesuai kebutuhan perusahaan. Ada dua jenis kompetisi, yaitu kelas profesional—yang sudah sangat berpengalaman di bidangnya, dan untuk kalangan umum.

Keanu biasa-biasa saja saat melihat desain-desain itu. Namun saat melihat desain terakhir, dia begitu tertarik. Hasil rancangannya begitu rapih dan detail. Untuk kalangan pemula, ini sempurna.

"Siapa yang membuat ini."

Lucas—asisten Keanu—membuka berkas yang ada di pegangannya.

"Rayana Gretta Wilfred. Salah satu mahasiswi jurusan teknik semester tiga. Apa Anda ingin membaca datanya?"

"Tidak."

Keanu masih memperhatikan desain itu.

"Ikut sertakan dia ke tahap selanjutnya."

"Baik, Tuan."

Lomba desain ini memang diselenggarakan di berbagai negara. Yang menjadi pemenangnya, tentu saja akan mendapatkan banyak keuntungan, bukan hanya memenangkan hadiah berupa uang, tapi hasil desainnya akan digunakan oleh perusahaan, juga akan membuka pintu gerbang menjadi arsitek ternama.

Meskipun mengatakan itu, tapi dalam hati, Keanu seperti telah mengambil keputusan kalau dia akan memakai desain itu. Ada kesan tersendiri dalam hatinya begitu melihat guratan gambar di kertas itu.

"Besser," ucap Keanu membaca judul desain itu.

Keanu terus mengulang-ulang kata itu, seolah kata itu bisa membuatnya bersemangat atau mungkin beruntung, hingga pria itu tanpa sadar tertidur di kursi kerjanya.

Dua telapak tangan kecil menarik Keanu ke kedalaman laut. Keanu berusaha menggapai permukaan, tapi tidak bisa.

"Daddy ... jangan tinggalkan kami."

Tangan kecil itu terus saja memegang lengan Keanu. Keanu hanya bisa melihat tangan itu, tapi tidak bisa melihat wajah si pemilik.

"Kamu telah menyakiti hati kami," ucap suara lainnya, yang lebih terdengar lirih.

"Hidupmu tidak akan bahagia, kamu telah menyakiti kami. Kamu ingin merebut anakku. Kenapa kamu merebut anakku?"

"Tidak ... tidak ...."

"Tuan, Tuan!"

Keanu terbangun dari tidurnya, menatap ke sekeliling dengan tatapan bingung.

"Aku di mana?"

"Di kantor, Tuan. Anda baik-baik saja."

"Ya," jawabnya, tapi kepalanya menggeleng kuat.

Lucas menatap khawatir pada bosnya itu. Ini bukan pertama kalinya dia melihat Keanu seperti ini.

"Sebaiknya Anda pulang, Tuan."

"Ya, aku ingin pulang, ke rumahku," ucap Keanu dengan tatapan kosong.

Keanu menatap pemandangan kota dari balkon kamarnya. Dia memegang dadanya, entah kenapa jantungnya berdetak kencang. Bulir-bulir keringat keluar dari tubuhnya.

Sekarang hari Minggu, tapi tidak ada waktu bagi Raya untuk bersantai-santai. Pagi-pagi sekali dia sudah membersihkan rumah, mencuci baju, menyetrika, memasak, dan mencuci piring.

Sekarang waktunya dia belajar. Di sebelah kanannya ada buku-buku teknik, di sebelah kirinya ada buku-buku hukum.

Sesekali akan ada anak tetangga yang memintanya menjadi guru privat, ada juga memintanya mengajar anak-anak kecil membaca dan menulis. Kini waktunya Raya ke rumah tetangganya, tempat berkumpulnya anak-anak yang ingin belajar.

"Pagi."

"Pagi Mommy Aya."

Raya terkekeh pelan saat anak-anak itu serempak memanggilnya mommy.

Anak-anak itu memeluk Raya yang baru tiba. Melihat wajah-wajah polos itu, Raya jadi bersemangat meski dia lelah.

"Rean, Rion, ayo duduk. Cello juga duduk yang rapih."

"Maaf ya, Raya. Ini hari Minggu, tapi saya malah meminta kamu bekerja."

"Tidak masalah, tidak setiap Minggu juga seperti ini."

Di lain tempat

Keanu sedang berkumpul bersama teman-temannya. Ada yang membawa pasangannya, ada juga yang sendiri. Pria itu duduk dengan nyaman di sofa, dengan beberapa gadis yang sejak tadi mencuri-curi pandang padanya.

Dokter Bian sedang melakukan perjalanan ke luar negeri. Dia ada pertemuan dengan beberapa orang dokter di sana. Di dalam pesawat, dia menatap salah seorang penumpang yang sedang bersama dengan anaknya. Pria itu menghela nafas, seolah ada beban berat yang dia pikul.

Anak itu menoleh ke belakang, bertatapan dengan mata dokter Bian. Dia tersenyum kepada dokter Bian, lalu kembali melihat ke depan.

Entah apa yang ada di hati dokter itu, saat melihat anak itu. Melihat anak-anak, ada perasaan yang sulit dijabarkan olehnya. Pria itu menghela nafas berat, menengok ke jendela, di mana hamparan awan memenuhi penglihatannya.

Dua jam kemudian dia tiba di negara tujuannya, langsung menuju hotel.

"Terima kasih ya, Aya. Kapan-kapan kalau ada waktu, kamu mengajar lagi, ya?"

"Iya Bu, tapi paling bisanya hari Minggu saja, itu pun tidak lama."

"Tidak masalah, saya mengerti."

Raya berjalan menuju kediamannya dengan anak-anak yang berjalan di belakangnya. Mungkin karena dulu Raya besar di panti asuhan, jadi dia sudah terbiasa dengan anak-anak.

Tangan Raya menggandeng Rean dan Rion—anak laki-laki yang sangat menggemaskan dengan berbagai tingkahnya.

Sesampainya di rumah, Raya kembali sibuk dengan aktivitasnya. Notifikasi email masuk berbunyi. Raya melihat kalau dia lolos ke tahap seleksi selanjutnya.

Semoga saja aku menang.

Raya bisa membeli rumah berukuran kecil jika memenangkan kontes ini, agar setiap bulannya tidak selalu didatangi oleh pemilik rumah.

"Aya, hari ini bagaimana kalau kita jalan-jalan. Jangan sibuk belajar dan bekerja terus."

"Ayo, ayo Mommy kita jalan-jalan," ucap Rean dan Rion.

Melihat wajah gembira kedua anak itu, Raya jadi tidak tega untuk menolak.

"Oke."

"Yeeey. Ayo, Mama," Rion menarik tangan Nina dengan semangat.

Mereka pergi ke pusat perbelanjaan, Raya membeli empat cup es krim dan kue coklat. Mendapatkan itu, si kembar sangat senang. Mereka langsung mengecup pipi Raya.

"Mama juga mau, dong, dicium," ucap Nina.

"Aku ke toilet dulu, ya," ucap Nina.

Rean dan Rion makan dengan pelan. Raya tersenyum melihat kedua anak itu, yang terlihat menggemaskan meski hanya diam saja. Saking gemasnya pada mereka, galeri di ponsel Raya penuh dengan foto mereka.

Pandangan mata Raya beralih pada sepasang suami istri, di mana seorang istri yang sedang hamil, perutnya dielus oleh sang suami. Hal itu membangkitkan kenangan masa lalu. Kenangan pahit yang sangat ingin Raya lupakan. Di mana dia teringat dengan kejadian-kejadian selama tinggal bersama Keanu. Pria yang sama sekali tidak pernah peduli padanya meski dia telah mengandung benih pria itu.

Raya yang saat itu tengah mengidam, namun harus dia tahan sekuat mungkin. Sebisa mungkin, Raya tidak mau lagi bertemu dengan mereka. Bahkan dia rela pergi jauh dari orang-orang yang dia kenal demi menghindari Keanu dan keluarganya.

Aku sudah cukup bahagia, jangan ganggu hidupku lagi.

Raya tidak menyadari sejak tadi ada yang memperhatikan mereka. Dia terus menatap ke arah Raya, Rean dan Rion.

Apa aku salah lihat, ya? Dia bersama siapa? Anaknya? Tapi mana mungkin.

"Maaf, ya, mama lama. Tadi antri di toilet."

Nina mengecup pipi Rean dan Rion dengan gemas. Perempuan itu tertawa saat melihat wajah kesal kedua anak itu. Mereka memang paling tidak suka pipinya yang sering jadi korban kegemasan mamanya itu.

"Gimana kuliah kamu, Ay?"

"Lancar. Tadi aku mendapatkan kabar kalau aku lolos seleksi tahap pertama."

Rean dan Rion diam saja mendengarkan percakapan dua perempuan dewasa itu. Rean melihat ke sekitarnya, dan mulai merasa bosan.

"Ayo pulang, anak-anak sepertinya sudah lelah."

"Oke."

Melihat Raya pergi, orang tadi langsung pergi juga. Raya menoleh ke belakang, mereka ada yang memperhatikan dirinya, tapi tidak ada yang mencurigakan.

"Aya, ayo!" ucap Nina sambil menahan tangan Rean dan Rion agar tidak pergi begitu saja. Bisa repot mereka berdua karena ulah kedua anak itu.

"Oya, kita belanja keperluan dapur dulu, ya," ucap Nina.

"Oke. Aku juga harus membeli beberapa kebutuhan."

Kedua perempuan muda itu berbelanja bersama. Raya memasukkan beberapa cemilan, juga susu, teh dan coklat ke dalam keranjangnya.

Begitu juga dengan Nina yang memasukkan banyak cemilan anak-anak, sayur, ikan, daging, susu berbagai rasa.

"Ayo, kamu sudah selesai?"

"Sudah."

Mereka akhirnya tiba juga di rumah. Raya menghempaskan tubuhnya di kasur, ingin memejamkan mata tapi melihat tumpukan buku di atas meja, sepertinya istirahat hanya sebuah khayalan saja.

Terpopuler

Comments

retiijmg retiijmg

retiijmg retiijmg

anaknya raya ya, kyknya kembar

2024-09-05

1

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

ada misteri yah setelah dulu Raya pergi,,,

2024-08-10

1

guntur 1609

guntur 1609

ohh. kembar 3 anaknya

2024-05-12

1

lihat semua
Episodes
1 1 Malam Naas
2 2 Bimbang
3 3 Visum
4 4 Ancaman
5 5 Mencoba Melupakan
6 6 Bukan Barang Bekas
7 7 Siksaan
8 8 Yang Terbaik
9 9 Satu Tahun
10 10 Waktu Yang Berlalu
11 11 Besser
12 12 Di Rumah Sakit
13 13 Mimpi
14 14 Mereka Anak Kita?
15 15 Jantung Yang Berdebar
16 16 Siapa Namanya?
17 17 Memantau
18 18 Pemilik Mata
19 19 Menyakiti
20 20 Apa Mereka Saling Mengenal
21 21 Tokoh Antagonis
22 22 Masa Lalu yang Belum Selesai
23 23 Ingin Merebut
24 24 Dua Pria
25 25 Mimpi
26 26 Apa Harus Tinggal Bersama Daddy?
27 27 Kecewa
28 28 Mengawasi
29 29 Egois dan Jahat?
30 30 Asal Usul yang Tidak Jelas
31 31 'Begini Saja'
32 32 Tiba-Tiba
33 33 Harapan
34 34 Sidang?
35 35 Ujian Pertama
36 36 Saling Serang
37 37 Bertengkar
38 38 Justin dan Keanu
39 39 Air Mata Raya
40 40 Berpisah Jalan
41 41 Anak Yang Tidak Baik?
42 42 Senang Sendiri?
43 43 Ruang Kosong
44 44 Di Sini di Sana
45 45 Harus Adil
46 46 Larut Malam
47 47 Memilih Jalan
48 48 Empat Jiwa
49 49 Pergi?
50 50 Menghubungi
51 51 Ibu Yang Buruk
52 52 Titik Paling Sensitif
53 53 Di Ruangan Yang Sama
54 54 Jangan Kenapa-Kenapa
55 55 Sebelum Kehilangan
56 56 Kurus
57 57 Bahagiakan Mommy Dulu
58 58 Direbut (Perpisahan Yang Sesungguhnya)
59 59 Kita Saudara
60 60 Takut
61 61 Rahasia Masing-masing
62 62 Ajakan Rion
63 63 Bertemu Dengannya
64 64 Menjadi Lebih Baik
65 65 Aneh
66 66 Langsung Saja
67 67 Ribuan Bintang
68 68 Bertemu Bibi
69 69 Sang Penyelamat
70 70 Menggelap
71 71 Terus?
72 72 Pesawat
73 73 Maaf
74 74 Bahagiakan Kalian
75 75 Tatapan Justin
76 76 Kebimbangan Keanu dan Justin
77 77 Di Bandara
78 78 Siap Bertemu Masa Lalu
79 79 Orang Asing yang Mengawasi
80 80 Pilihan Untuk Raya
81 81 Keputusan Raya
82 82 Bicara Dengan Justin dan Jenia
83 83 Persiapan Pernikahan
84 84 Siapa yang Tahu
85 85 Menjelang Hari H
86 86 Jangan Goyah Lagi
87 87 Tegang
88 88 Pernikahan Anakku
89 89 Mikaila
90 90 Ditutup Oleh Pakaian Mewah
91 91 Saudara?
92 92 Flashback
93 93 Menjauh
94 94 Masalah Baru
95 95 Hampa
96 96 Cerita Pilu Mikaila
97 97 Datang Untuknya
98 98 Rahasia Mike
99 99 Penolakan
100 100 Rencana Selanjutnya?
101 101 Sejak Kembalinya Mereka
102 102 Bagaimana Nasibnya?
103 103 Bukan Lagi Perempuan Miskin
104 104 Mendekatkan Diri
105 105 Butuh Waktu
106 106 Berpisah Jalan?
107 107 Isi Hati Mike
108 108 Mulai Berdamai Dengan Masa Lalu
109 109 Kado Pertama
110 110 Ulah Kamu?
111 111 Dua Generasi
112 112 Bukan Penjahat
113 113 Pembalasan Dendam
114 114 Calon CEO
115 115 Sarah dan Dimaz
116 116 Keresahan Virza
117 117 Keinginan Virza
118 118 Calon Keluarga Kecil
119 119 Mike Dan Jenia
120 120 Penjelasan Justin
121 121 Rahasia Terpendam
122 122 Canggung
123 123 Makan Bersama dan Menginap
124 124 Apartemen Keluarga
125 125 Mengusut Lebih Dalam
126 126 Kejutan Pernikahan Yang Tak Terduga
127 127 Pernikahan Yang Tidak Disangka
128 127 Nasihat Pernikahan Dari Yang Pernah Gagal
129 129 Suasana Yang Canggung
130 130 Malam Pertama?
131 131 Tinggal Bersama
132 132 Pura-pura Tidak Mendengar
133 133 Foto Perempuan Di Meja Justin
134 134 Menunggu Dilirik
135 135 Merasa Asing
136 136 Tawa Basa-basi
137 137 Hadiah Ulang Tahun
138 138 Satu Kamar
139 139 Merasa Bahagia
140 140 Iri Hati
141 141 Damai?
142 142 Papa
143 143 Masa Lalu Dan Masa Depan
144 144 Punya Adik?
145 145 Aura Pengantin Baru
146 146 Impian Raya
147 147 Mulai Menerima
148 148 Peresmian
149 149 Maharaya
150 150 Tumpul ke Atas, Runcing ke Bawah
151 151 Bersepeda
152 152 Sofa Dan Kasur
153 153 Bodyguard Bayangan
154 154 Orang Tua Yang Bijak
155 155 Boneka Dari Pria Lain
156 156 Cemburu?
157 157 Salah Tingkah
158 158 OTW Adik? OTW Cucu?
159 159 Membuka Diri—Lagi
160 160 Semakin Dekat
161 161 Sweet Moments
162 162 Kesambet
163 163 Hadiah
164 164 Kepura-puraan
165 165 Berempat
166 166 Kencan Dengan Perempuan Lain
167 167 Dua Tim
168 168 Rumah Yang Tidak Pernah Salah
169 169 Sama-sama Berusaha
170 170 Terima Kasih Sudah Menjadi Suamiku
171 171 Piknik Lagi
172 172 Hujan
173 173 Hanya Formalitas Belaka
174 174 Jam Empat
175 175 Di Dapur
176 176 Ketegangan Di Rumah Sakit
177 177 Hamil?
178 178 Mata Yang Berkaca-kaca
179 179 Kemarahan dan Kesedihan Justin dan Raya
180 180 Kekalahan Para Pria
181 181 Iming Gii Pikirin!
182 182 Ngambek
183 183 Lost
184 184 Dulu dan Sekarang
185 185 Pagi Ceria
186 186 Dua Anak Yang Disayang
187 187 Mengorbankan Satu Perasaan
188 188 Jangan Kalah Lagi, Daddy!
189 189 Sepuluh?
190 190 Cara Mendekati Perempuan
191 191 Persaingan Keanu Vs Justin
192 192 Makanan Untuk Raya dan Keanu
193 193 Kejutan
194 194 Makan Bersama Di Kantor
195 195 Tidak Keberatan
196 196 Projek Baru
197 197 Miranda
198 198 Bukan Perempuan Biasa
199 199 Rujak
200 200 Ngidam Ala Justin
201 201 Beda Feel
202 202 Sate Kenangan
203 203 Makan Siang Untuk Raya
204 204 Pingsan
205 205 Cemas dan Ketakutan
206 206 Kabar Yang Mengejutkan
207 207 Calon Adik
208 208 Sate
209 209 Menu Makan Siang
210 210 Wilson dan Aruka
211 211 Pohon Kedondong
212 212 Gara-gara Kedondong
213 213 Ingin Punya Anak Lagi
214 214 Kasus
215 215 Dendam Lama Bersemi Kembali
216 216 Irwan, Si Musuh Lama
217 217 Merenggang?
218 218 Satu Vs Dua
219 219 Ngiri atau Kompak?
220 220 Generasi Yang Solid
221 221 Kalah Saing
222 222 Tentang Warna
223 223 Foto Keluarga
224 224 Lahiran?
225 225 Keadaan Jenia
226 226 Rumah Sakit
227 227 Gelisah
228 228 Kegelisahan Jenia
229 229 Pemeriksaan Bersama
230 230 Kabar Buruk
Episodes

Updated 230 Episodes

1
1 Malam Naas
2
2 Bimbang
3
3 Visum
4
4 Ancaman
5
5 Mencoba Melupakan
6
6 Bukan Barang Bekas
7
7 Siksaan
8
8 Yang Terbaik
9
9 Satu Tahun
10
10 Waktu Yang Berlalu
11
11 Besser
12
12 Di Rumah Sakit
13
13 Mimpi
14
14 Mereka Anak Kita?
15
15 Jantung Yang Berdebar
16
16 Siapa Namanya?
17
17 Memantau
18
18 Pemilik Mata
19
19 Menyakiti
20
20 Apa Mereka Saling Mengenal
21
21 Tokoh Antagonis
22
22 Masa Lalu yang Belum Selesai
23
23 Ingin Merebut
24
24 Dua Pria
25
25 Mimpi
26
26 Apa Harus Tinggal Bersama Daddy?
27
27 Kecewa
28
28 Mengawasi
29
29 Egois dan Jahat?
30
30 Asal Usul yang Tidak Jelas
31
31 'Begini Saja'
32
32 Tiba-Tiba
33
33 Harapan
34
34 Sidang?
35
35 Ujian Pertama
36
36 Saling Serang
37
37 Bertengkar
38
38 Justin dan Keanu
39
39 Air Mata Raya
40
40 Berpisah Jalan
41
41 Anak Yang Tidak Baik?
42
42 Senang Sendiri?
43
43 Ruang Kosong
44
44 Di Sini di Sana
45
45 Harus Adil
46
46 Larut Malam
47
47 Memilih Jalan
48
48 Empat Jiwa
49
49 Pergi?
50
50 Menghubungi
51
51 Ibu Yang Buruk
52
52 Titik Paling Sensitif
53
53 Di Ruangan Yang Sama
54
54 Jangan Kenapa-Kenapa
55
55 Sebelum Kehilangan
56
56 Kurus
57
57 Bahagiakan Mommy Dulu
58
58 Direbut (Perpisahan Yang Sesungguhnya)
59
59 Kita Saudara
60
60 Takut
61
61 Rahasia Masing-masing
62
62 Ajakan Rion
63
63 Bertemu Dengannya
64
64 Menjadi Lebih Baik
65
65 Aneh
66
66 Langsung Saja
67
67 Ribuan Bintang
68
68 Bertemu Bibi
69
69 Sang Penyelamat
70
70 Menggelap
71
71 Terus?
72
72 Pesawat
73
73 Maaf
74
74 Bahagiakan Kalian
75
75 Tatapan Justin
76
76 Kebimbangan Keanu dan Justin
77
77 Di Bandara
78
78 Siap Bertemu Masa Lalu
79
79 Orang Asing yang Mengawasi
80
80 Pilihan Untuk Raya
81
81 Keputusan Raya
82
82 Bicara Dengan Justin dan Jenia
83
83 Persiapan Pernikahan
84
84 Siapa yang Tahu
85
85 Menjelang Hari H
86
86 Jangan Goyah Lagi
87
87 Tegang
88
88 Pernikahan Anakku
89
89 Mikaila
90
90 Ditutup Oleh Pakaian Mewah
91
91 Saudara?
92
92 Flashback
93
93 Menjauh
94
94 Masalah Baru
95
95 Hampa
96
96 Cerita Pilu Mikaila
97
97 Datang Untuknya
98
98 Rahasia Mike
99
99 Penolakan
100
100 Rencana Selanjutnya?
101
101 Sejak Kembalinya Mereka
102
102 Bagaimana Nasibnya?
103
103 Bukan Lagi Perempuan Miskin
104
104 Mendekatkan Diri
105
105 Butuh Waktu
106
106 Berpisah Jalan?
107
107 Isi Hati Mike
108
108 Mulai Berdamai Dengan Masa Lalu
109
109 Kado Pertama
110
110 Ulah Kamu?
111
111 Dua Generasi
112
112 Bukan Penjahat
113
113 Pembalasan Dendam
114
114 Calon CEO
115
115 Sarah dan Dimaz
116
116 Keresahan Virza
117
117 Keinginan Virza
118
118 Calon Keluarga Kecil
119
119 Mike Dan Jenia
120
120 Penjelasan Justin
121
121 Rahasia Terpendam
122
122 Canggung
123
123 Makan Bersama dan Menginap
124
124 Apartemen Keluarga
125
125 Mengusut Lebih Dalam
126
126 Kejutan Pernikahan Yang Tak Terduga
127
127 Pernikahan Yang Tidak Disangka
128
127 Nasihat Pernikahan Dari Yang Pernah Gagal
129
129 Suasana Yang Canggung
130
130 Malam Pertama?
131
131 Tinggal Bersama
132
132 Pura-pura Tidak Mendengar
133
133 Foto Perempuan Di Meja Justin
134
134 Menunggu Dilirik
135
135 Merasa Asing
136
136 Tawa Basa-basi
137
137 Hadiah Ulang Tahun
138
138 Satu Kamar
139
139 Merasa Bahagia
140
140 Iri Hati
141
141 Damai?
142
142 Papa
143
143 Masa Lalu Dan Masa Depan
144
144 Punya Adik?
145
145 Aura Pengantin Baru
146
146 Impian Raya
147
147 Mulai Menerima
148
148 Peresmian
149
149 Maharaya
150
150 Tumpul ke Atas, Runcing ke Bawah
151
151 Bersepeda
152
152 Sofa Dan Kasur
153
153 Bodyguard Bayangan
154
154 Orang Tua Yang Bijak
155
155 Boneka Dari Pria Lain
156
156 Cemburu?
157
157 Salah Tingkah
158
158 OTW Adik? OTW Cucu?
159
159 Membuka Diri—Lagi
160
160 Semakin Dekat
161
161 Sweet Moments
162
162 Kesambet
163
163 Hadiah
164
164 Kepura-puraan
165
165 Berempat
166
166 Kencan Dengan Perempuan Lain
167
167 Dua Tim
168
168 Rumah Yang Tidak Pernah Salah
169
169 Sama-sama Berusaha
170
170 Terima Kasih Sudah Menjadi Suamiku
171
171 Piknik Lagi
172
172 Hujan
173
173 Hanya Formalitas Belaka
174
174 Jam Empat
175
175 Di Dapur
176
176 Ketegangan Di Rumah Sakit
177
177 Hamil?
178
178 Mata Yang Berkaca-kaca
179
179 Kemarahan dan Kesedihan Justin dan Raya
180
180 Kekalahan Para Pria
181
181 Iming Gii Pikirin!
182
182 Ngambek
183
183 Lost
184
184 Dulu dan Sekarang
185
185 Pagi Ceria
186
186 Dua Anak Yang Disayang
187
187 Mengorbankan Satu Perasaan
188
188 Jangan Kalah Lagi, Daddy!
189
189 Sepuluh?
190
190 Cara Mendekati Perempuan
191
191 Persaingan Keanu Vs Justin
192
192 Makanan Untuk Raya dan Keanu
193
193 Kejutan
194
194 Makan Bersama Di Kantor
195
195 Tidak Keberatan
196
196 Projek Baru
197
197 Miranda
198
198 Bukan Perempuan Biasa
199
199 Rujak
200
200 Ngidam Ala Justin
201
201 Beda Feel
202
202 Sate Kenangan
203
203 Makan Siang Untuk Raya
204
204 Pingsan
205
205 Cemas dan Ketakutan
206
206 Kabar Yang Mengejutkan
207
207 Calon Adik
208
208 Sate
209
209 Menu Makan Siang
210
210 Wilson dan Aruka
211
211 Pohon Kedondong
212
212 Gara-gara Kedondong
213
213 Ingin Punya Anak Lagi
214
214 Kasus
215
215 Dendam Lama Bersemi Kembali
216
216 Irwan, Si Musuh Lama
217
217 Merenggang?
218
218 Satu Vs Dua
219
219 Ngiri atau Kompak?
220
220 Generasi Yang Solid
221
221 Kalah Saing
222
222 Tentang Warna
223
223 Foto Keluarga
224
224 Lahiran?
225
225 Keadaan Jenia
226
226 Rumah Sakit
227
227 Gelisah
228
228 Kegelisahan Jenia
229
229 Pemeriksaan Bersama
230
230 Kabar Buruk

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!