14 Mereka Anak Kita?

"Akhirnya, aku bisa menyentuh kasur juga."

Nina merebahkan tubuhnya di samping Rion, sedangkan Raya ada di sebelah Rean.

"Kita pesan makanan saja di hotel, aku malas kalau harus ke luar lagi," ucap Raya.

Raya melihat Rean dan Rion yang ternyata sudah tidur. Kedua anak itu pasti sangat lelah setelah perjalanan uang sangat jauh dan lama.

Tidak lama, kedua orang dewasa itu juga tertidur dalam satu kasur.

Di lain tempat, Keanu masih berkutat dengan pekerjaannya. Di hadapannya ada Vindra—sahabat tetapi juga masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Keanu.

"Kamu gak kerja?"

"Aku tidak terlalu sibuk hari ini."

Keanu menutup berkas yang dia baca, dan menyandarkan punggungnya di kursi. Dia menatap wajah Vindra yang terlihat sangat kusut.

"Ada masalah?"

"Tidak ... ada!"

"Ada atau tidak?"

"Setiap orang pasti punya masalah, Keanu."

Dua pria tampan itu kini duduk bersama di sofa. Keanu melonggarkan dasinya, dan mengacak rambutnya.

Dibandingkan dengan Vindra, justru dia yang terlihat memiliki banyak masalah.

"Ayo kita pergi."

Mereka berdua pergi ke salah satu hotel. Di sana, ada bar langganan mereka dan kenyamanannya begitu terjamin.

Keanu, Vindra dan Virza duduk di ruangan VVIP. Mereka baru saja lulus kuliah, meski lebih dulu Keanu. Ketiganya yang sama-sama harus meneruskan perusahaan, membuat mereka juga harus lebih cepat lulus agar bisa fokus.

"Kita nikmati hari ini, jangan pikirkan pekerjaan."

Di hotel, Raya baru saja bangun dari tidurnya. Dilihatnya Rean, Rion, dan Nina yang masih tidur. Perempuan itu segera memesan makanan, lalu mandi.

Selesai mandi, Raya melihat pemandangan kota dari jendela kamar hotel. Perempuan itu menghela nafas berat. Dia memegang dadanya, yang berdetak kencang. Masih ada rasa sakit dalam hatinya.

Andai saja mereka mau meminta maaf secara tulus padanya, mungkin dia tidak akan sebenci ini. Andai saja dulu mereka tidak menyakiti dirinya, mungkin dia tidak akan sekecewa ini. Tidak perlu bertanggung jawab dengan menikahi dirinya, cukup permintaan maaf yang tulus.

Apa mereka telah berubah?

Ah, rasanya tidak. Orang-orang seperti mereka tidak akan mungkin berubah.

Dia jadi teringat dengan Bu Mirna dan Eriza, dua orang yang dia tinggalkan begitu saja tanpa pamit, dan tanpa memberi kabar sedikit pun hingga saat ini.

Jauh dari mereka tanpa kabar, akan menyelamatkan mereka, juga menyelamatkan dirinya sendiri.

Raya melihat pantulan wajahnya di jendela. Apa mereka masih mengingat dirinya?

Ah, semoga saja tidak.

Tidak ada alasan buat mereka mengingat dirinya. Bahkan mereka saja tidak datang ke rumah sakit saat dirinya dinyatakan keguguran.

Anak itu sudah tidak ada, batin Raya.

Bel di pintu berbunyi, Raya membuka pintu dan menerima troli makanan.

"Terima kasih."

Perempuan itu segera membangunkan Rean, Rion dan Nina.

"Anak-anak, Nina, bangun. Ayo kita makan dulu."

Ketiganya segera bangun. Rion mengucek matanya.

"Jangan dikucek, nanti mata kamu merah dan iritasi."

"Ayo, kalian berdua cuci tangan dan cuci muka dulu."

Kedua anak itu langsung pergi ke kamar mandi tanpa dibantu, memang sangat mandiri karena mereka sering sendiri di rumah, saat Raya atau Nina bekerja.

Nina masuk ke kamar mandi setelah mereka.

Keempatnya makan dengan lahap, karena merasa sangat lapar.

"Acaranya kapan?" tanya Nina yang sedang menyuap kentang goreng.

"Besok malam."

"Kamu sudah menyiapkan gaun, kan?"

"Sudah."

"Nanti aku lihat."

Begitu melihat dress milik Raya, Nina menghela nafas berat.

"Yang benar saja, Raya. Masa kamu mau memakai pakaian ini di acara itu?"

"Memangnya kenapa? Ini masih bagus."

"Ck, biar aku pesankan gaun untuk kamu."

"Tidak perlu."

"Jangan menolak."

Raya akhirnya pasrah saja. Bukan dia saja yang seharusnya menghemat, tapi juga Nina.

Keesokan harinya, mereka berempat pergi ke butik. Nina memilihkan gaun yang sangat bagus untuk Raya.

"Coba ini."

"Jangan ini, ini terlalu mahal."

"Sekali-kali, Raya. Kamu harus memberikan kesan yang bagus untuk orang-orang. Bagaimana bisa nanti orang akan percaya kamu seorang arsitek, jika penampilan saja tidak diperhatikan."

Raya tahu, tapi kan masalahnya dia juga harus menghemat. Dia tidak mau Nina yang mengeluarkan uang untuk membelikannya gaun.

"Ini juga terlalu seksi."

"Apanya yang seksi, bagus begini. Kamu harus memancarkan kecantikan kamu."

Akhirnya Raya memilih gaun yang dipilih oleh Nina. Gaun yang sangat bagus dan begitu pas di tubuh Raya.

"Sekarang kita ke salon."

Lagi-lagi dia hanya menurut saja.

"Kamu silahkan melakukan perawatan, kami mau jalan-jalan dulu, ya."

Nina mengajak kedua anaknya jalan-jalan di dalam mall. Membeli es krim dan bermain di pusat permainan. Sekali-kali menyenangkan kedua anak itu penting, karena mereka yang pemasukannya tidak seberapa, tetapi banyak pengeluaran.

Nina yang saat itu dinyatakan hamil tanpa suami, harus hidup luntang-lantung dan penuh tekanan.

Raya tidak begitu menikmati perawatan ini, bukan karena tidak enak, tapi karena memikirkan biayanya yang sudah pasti tidak murah.

Lebih baik uangnya dia tabung, atau untuk keperluan yang lebih penting.

Rean dan Rion begitu senang menikmati jalan-jalan ini. Mata Rion sesekali melirik ke toko mainan, tapi dia diam saja. Dia tahu Raya dan Nina tidak punya banyak uang untuk membelikan dia dan Rean mainan.

"Rion kenapa diam saja? Ada yang kamu mau?"

"Tidak ada, Ma. Apa mommy masih lama?"

"Mungkin sebentar lagi. Doakan mommy agar menang, ya."

"Ya, kami akan mendoakan mommy menang."

Kedua anak itu dituntut dewasa, meski jiwa anak-anak mereka yang ingin sekali seperti anak lainnya tentu saja ada.

"Lion, ayo ke sini."

Nina harus menahan tawanya saat Rean menyebut Lion, kedua anak itu memang belum bisa menyebut huruf R dengan benar.

Raya telah menyelesaikan perawatannya.

"Sudah dibayar oleh teman Anda, Nona."

Raya meringis, lagi-lagi dia yang dibayarkan.

Aku harus menang agar bisa membalas budi orang-orang yang telah baik kepadaku.

Raya semakin bersemangat untuk menang. Bahkan jika sekarang dia kalah, dia akan ikut lagi dan lagi sampai dia bisa mendapatkan kemenangan dan mendirikan perusahaan properti sendiri.

Bukan hanya demi aku, tapi juga mereka.

Di tempat Nina

Nina dan si kembar sedang menelusuri toko demo toko meski tidak membeli apa-apa.

"Caren, ini kamu, kan?"

Nina menghentikan langkahnya saat seorang pria menyapa dirinya dengan nama yang telah lama tidak dia gunakan.

"Kamu apa kabar?"

Pria itu lalu melihat Rean dan Rion, meski wajah keduanya tidak terlihat."

"Mereka ... apa mereka anak kita?"

"Ma ...," tiba-tiba saja Rion memanggil Nina.

"Mereka anak kita? Kembar?"

Wajah pria itu terlihat sangat syok.

Terpopuler

Comments

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

siapa yah pria yang sudah menghamili si Nina dulu,,,

2024-08-10

2

Tri Lestari Endah

Tri Lestari Endah

apa benar raya keguguran
rean dan rion anak siapa ?

2024-03-28

1

Sururin Marfu'ah

Sururin Marfu'ah

caren,,,berarti nama asli nina caren,?wah wah siapa pria itu dan pasti mengira Rean dan Rion anak nya nina padahal mereka anaknya Raya..semoga Raya dan nina sama2 mendapatkan kebahagiaan mereka...Aamiin

2024-01-04

3

lihat semua
Episodes
1 1 Malam Naas
2 2 Bimbang
3 3 Visum
4 4 Ancaman
5 5 Mencoba Melupakan
6 6 Bukan Barang Bekas
7 7 Siksaan
8 8 Yang Terbaik
9 9 Satu Tahun
10 10 Waktu Yang Berlalu
11 11 Besser
12 12 Di Rumah Sakit
13 13 Mimpi
14 14 Mereka Anak Kita?
15 15 Jantung Yang Berdebar
16 16 Siapa Namanya?
17 17 Memantau
18 18 Pemilik Mata
19 19 Menyakiti
20 20 Apa Mereka Saling Mengenal
21 21 Tokoh Antagonis
22 22 Masa Lalu yang Belum Selesai
23 23 Ingin Merebut
24 24 Dua Pria
25 25 Mimpi
26 26 Apa Harus Tinggal Bersama Daddy?
27 27 Kecewa
28 28 Mengawasi
29 29 Egois dan Jahat?
30 30 Asal Usul yang Tidak Jelas
31 31 'Begini Saja'
32 32 Tiba-Tiba
33 33 Harapan
34 34 Sidang?
35 35 Ujian Pertama
36 36 Saling Serang
37 37 Bertengkar
38 38 Justin dan Keanu
39 39 Air Mata Raya
40 40 Berpisah Jalan
41 41 Anak Yang Tidak Baik?
42 42 Senang Sendiri?
43 43 Ruang Kosong
44 44 Di Sini di Sana
45 45 Harus Adil
46 46 Larut Malam
47 47 Memilih Jalan
48 48 Empat Jiwa
49 49 Pergi?
50 50 Menghubungi
51 51 Ibu Yang Buruk
52 52 Titik Paling Sensitif
53 53 Di Ruangan Yang Sama
54 54 Jangan Kenapa-Kenapa
55 55 Sebelum Kehilangan
56 56 Kurus
57 57 Bahagiakan Mommy Dulu
58 58 Direbut (Perpisahan Yang Sesungguhnya)
59 59 Kita Saudara
60 60 Takut
61 61 Rahasia Masing-masing
62 62 Ajakan Rion
63 63 Bertemu Dengannya
64 64 Menjadi Lebih Baik
65 65 Aneh
66 66 Langsung Saja
67 67 Ribuan Bintang
68 68 Bertemu Bibi
69 69 Sang Penyelamat
70 70 Menggelap
71 71 Terus?
72 72 Pesawat
73 73 Maaf
74 74 Bahagiakan Kalian
75 75 Tatapan Justin
76 76 Kebimbangan Keanu dan Justin
77 77 Di Bandara
78 78 Siap Bertemu Masa Lalu
79 79 Orang Asing yang Mengawasi
80 80 Pilihan Untuk Raya
81 81 Keputusan Raya
82 82 Bicara Dengan Justin dan Jenia
83 83 Persiapan Pernikahan
84 84 Siapa yang Tahu
85 85 Menjelang Hari H
86 86 Jangan Goyah Lagi
87 87 Tegang
88 88 Pernikahan Anakku
89 89 Mikaila
90 90 Ditutup Oleh Pakaian Mewah
91 91 Saudara?
92 92 Flashback
93 93 Menjauh
94 94 Masalah Baru
95 95 Hampa
96 96 Cerita Pilu Mikaila
97 97 Datang Untuknya
98 98 Rahasia Mike
99 99 Penolakan
100 100 Rencana Selanjutnya?
101 101 Sejak Kembalinya Mereka
102 102 Bagaimana Nasibnya?
103 103 Bukan Lagi Perempuan Miskin
104 104 Mendekatkan Diri
105 105 Butuh Waktu
106 106 Berpisah Jalan?
107 107 Isi Hati Mike
108 108 Mulai Berdamai Dengan Masa Lalu
109 109 Kado Pertama
110 110 Ulah Kamu?
111 111 Dua Generasi
112 112 Bukan Penjahat
113 113 Pembalasan Dendam
114 114 Calon CEO
115 115 Sarah dan Dimaz
116 116 Keresahan Virza
117 117 Keinginan Virza
118 118 Calon Keluarga Kecil
119 119 Mike Dan Jenia
120 120 Penjelasan Justin
121 121 Rahasia Terpendam
122 122 Canggung
123 123 Makan Bersama dan Menginap
124 124 Apartemen Keluarga
125 125 Mengusut Lebih Dalam
126 126 Kejutan Pernikahan Yang Tak Terduga
127 127 Pernikahan Yang Tidak Disangka
128 127 Nasihat Pernikahan Dari Yang Pernah Gagal
129 129 Suasana Yang Canggung
130 130 Malam Pertama?
131 131 Tinggal Bersama
132 132 Pura-pura Tidak Mendengar
133 133 Foto Perempuan Di Meja Justin
134 134 Menunggu Dilirik
135 135 Merasa Asing
136 136 Tawa Basa-basi
137 137 Hadiah Ulang Tahun
138 138 Satu Kamar
139 139 Merasa Bahagia
140 140 Iri Hati
141 141 Damai?
142 142 Papa
143 143 Masa Lalu Dan Masa Depan
144 144 Punya Adik?
145 145 Aura Pengantin Baru
146 146 Impian Raya
147 147 Mulai Menerima
148 148 Peresmian
149 149 Maharaya
150 150 Tumpul ke Atas, Runcing ke Bawah
151 151 Bersepeda
152 152 Sofa Dan Kasur
153 153 Bodyguard Bayangan
154 154 Orang Tua Yang Bijak
155 155 Boneka Dari Pria Lain
156 156 Cemburu?
157 157 Salah Tingkah
158 158 OTW Adik? OTW Cucu?
159 159 Membuka Diri—Lagi
160 160 Semakin Dekat
161 161 Sweet Moments
162 162 Kesambet
163 163 Hadiah
164 164 Kepura-puraan
165 165 Berempat
166 166 Kencan Dengan Perempuan Lain
167 167 Dua Tim
168 168 Rumah Yang Tidak Pernah Salah
169 169 Sama-sama Berusaha
170 170 Terima Kasih Sudah Menjadi Suamiku
171 171 Piknik Lagi
172 172 Hujan
173 173 Hanya Formalitas Belaka
174 174 Jam Empat
175 175 Di Dapur
176 176 Ketegangan Di Rumah Sakit
177 177 Hamil?
178 178 Mata Yang Berkaca-kaca
179 179 Kemarahan dan Kesedihan Justin dan Raya
180 180 Kekalahan Para Pria
181 181 Iming Gii Pikirin!
182 182 Ngambek
183 183 Lost
184 184 Dulu dan Sekarang
185 185 Pagi Ceria
186 186 Dua Anak Yang Disayang
187 187 Mengorbankan Satu Perasaan
188 188 Jangan Kalah Lagi, Daddy!
189 189 Sepuluh?
190 190 Cara Mendekati Perempuan
191 191 Persaingan Keanu Vs Justin
192 192 Makanan Untuk Raya dan Keanu
193 193 Kejutan
194 194 Makan Bersama Di Kantor
195 195 Tidak Keberatan
196 196 Projek Baru
197 197 Miranda
198 198 Bukan Perempuan Biasa
199 199 Rujak
200 200 Ngidam Ala Justin
201 201 Beda Feel
202 202 Sate Kenangan
203 203 Makan Siang Untuk Raya
204 204 Pingsan
205 205 Cemas dan Ketakutan
206 206 Kabar Yang Mengejutkan
207 207 Calon Adik
208 208 Sate
209 209 Menu Makan Siang
210 210 Wilson dan Aruka
211 211 Pohon Kedondong
212 212 Gara-gara Kedondong
213 213 Ingin Punya Anak Lagi
214 214 Kasus
215 215 Dendam Lama Bersemi Kembali
216 216 Irwan, Si Musuh Lama
217 217 Merenggang?
218 218 Satu Vs Dua
219 219 Ngiri atau Kompak?
220 220 Generasi Yang Solid
221 221 Kalah Saing
222 222 Tentang Warna
223 223 Foto Keluarga
224 224 Lahiran?
225 225 Keadaan Jenia
226 226 Rumah Sakit
227 227 Gelisah
228 228 Kegelisahan Jenia
229 229 Pemeriksaan Bersama
230 230 Kabar Buruk
Episodes

Updated 230 Episodes

1
1 Malam Naas
2
2 Bimbang
3
3 Visum
4
4 Ancaman
5
5 Mencoba Melupakan
6
6 Bukan Barang Bekas
7
7 Siksaan
8
8 Yang Terbaik
9
9 Satu Tahun
10
10 Waktu Yang Berlalu
11
11 Besser
12
12 Di Rumah Sakit
13
13 Mimpi
14
14 Mereka Anak Kita?
15
15 Jantung Yang Berdebar
16
16 Siapa Namanya?
17
17 Memantau
18
18 Pemilik Mata
19
19 Menyakiti
20
20 Apa Mereka Saling Mengenal
21
21 Tokoh Antagonis
22
22 Masa Lalu yang Belum Selesai
23
23 Ingin Merebut
24
24 Dua Pria
25
25 Mimpi
26
26 Apa Harus Tinggal Bersama Daddy?
27
27 Kecewa
28
28 Mengawasi
29
29 Egois dan Jahat?
30
30 Asal Usul yang Tidak Jelas
31
31 'Begini Saja'
32
32 Tiba-Tiba
33
33 Harapan
34
34 Sidang?
35
35 Ujian Pertama
36
36 Saling Serang
37
37 Bertengkar
38
38 Justin dan Keanu
39
39 Air Mata Raya
40
40 Berpisah Jalan
41
41 Anak Yang Tidak Baik?
42
42 Senang Sendiri?
43
43 Ruang Kosong
44
44 Di Sini di Sana
45
45 Harus Adil
46
46 Larut Malam
47
47 Memilih Jalan
48
48 Empat Jiwa
49
49 Pergi?
50
50 Menghubungi
51
51 Ibu Yang Buruk
52
52 Titik Paling Sensitif
53
53 Di Ruangan Yang Sama
54
54 Jangan Kenapa-Kenapa
55
55 Sebelum Kehilangan
56
56 Kurus
57
57 Bahagiakan Mommy Dulu
58
58 Direbut (Perpisahan Yang Sesungguhnya)
59
59 Kita Saudara
60
60 Takut
61
61 Rahasia Masing-masing
62
62 Ajakan Rion
63
63 Bertemu Dengannya
64
64 Menjadi Lebih Baik
65
65 Aneh
66
66 Langsung Saja
67
67 Ribuan Bintang
68
68 Bertemu Bibi
69
69 Sang Penyelamat
70
70 Menggelap
71
71 Terus?
72
72 Pesawat
73
73 Maaf
74
74 Bahagiakan Kalian
75
75 Tatapan Justin
76
76 Kebimbangan Keanu dan Justin
77
77 Di Bandara
78
78 Siap Bertemu Masa Lalu
79
79 Orang Asing yang Mengawasi
80
80 Pilihan Untuk Raya
81
81 Keputusan Raya
82
82 Bicara Dengan Justin dan Jenia
83
83 Persiapan Pernikahan
84
84 Siapa yang Tahu
85
85 Menjelang Hari H
86
86 Jangan Goyah Lagi
87
87 Tegang
88
88 Pernikahan Anakku
89
89 Mikaila
90
90 Ditutup Oleh Pakaian Mewah
91
91 Saudara?
92
92 Flashback
93
93 Menjauh
94
94 Masalah Baru
95
95 Hampa
96
96 Cerita Pilu Mikaila
97
97 Datang Untuknya
98
98 Rahasia Mike
99
99 Penolakan
100
100 Rencana Selanjutnya?
101
101 Sejak Kembalinya Mereka
102
102 Bagaimana Nasibnya?
103
103 Bukan Lagi Perempuan Miskin
104
104 Mendekatkan Diri
105
105 Butuh Waktu
106
106 Berpisah Jalan?
107
107 Isi Hati Mike
108
108 Mulai Berdamai Dengan Masa Lalu
109
109 Kado Pertama
110
110 Ulah Kamu?
111
111 Dua Generasi
112
112 Bukan Penjahat
113
113 Pembalasan Dendam
114
114 Calon CEO
115
115 Sarah dan Dimaz
116
116 Keresahan Virza
117
117 Keinginan Virza
118
118 Calon Keluarga Kecil
119
119 Mike Dan Jenia
120
120 Penjelasan Justin
121
121 Rahasia Terpendam
122
122 Canggung
123
123 Makan Bersama dan Menginap
124
124 Apartemen Keluarga
125
125 Mengusut Lebih Dalam
126
126 Kejutan Pernikahan Yang Tak Terduga
127
127 Pernikahan Yang Tidak Disangka
128
127 Nasihat Pernikahan Dari Yang Pernah Gagal
129
129 Suasana Yang Canggung
130
130 Malam Pertama?
131
131 Tinggal Bersama
132
132 Pura-pura Tidak Mendengar
133
133 Foto Perempuan Di Meja Justin
134
134 Menunggu Dilirik
135
135 Merasa Asing
136
136 Tawa Basa-basi
137
137 Hadiah Ulang Tahun
138
138 Satu Kamar
139
139 Merasa Bahagia
140
140 Iri Hati
141
141 Damai?
142
142 Papa
143
143 Masa Lalu Dan Masa Depan
144
144 Punya Adik?
145
145 Aura Pengantin Baru
146
146 Impian Raya
147
147 Mulai Menerima
148
148 Peresmian
149
149 Maharaya
150
150 Tumpul ke Atas, Runcing ke Bawah
151
151 Bersepeda
152
152 Sofa Dan Kasur
153
153 Bodyguard Bayangan
154
154 Orang Tua Yang Bijak
155
155 Boneka Dari Pria Lain
156
156 Cemburu?
157
157 Salah Tingkah
158
158 OTW Adik? OTW Cucu?
159
159 Membuka Diri—Lagi
160
160 Semakin Dekat
161
161 Sweet Moments
162
162 Kesambet
163
163 Hadiah
164
164 Kepura-puraan
165
165 Berempat
166
166 Kencan Dengan Perempuan Lain
167
167 Dua Tim
168
168 Rumah Yang Tidak Pernah Salah
169
169 Sama-sama Berusaha
170
170 Terima Kasih Sudah Menjadi Suamiku
171
171 Piknik Lagi
172
172 Hujan
173
173 Hanya Formalitas Belaka
174
174 Jam Empat
175
175 Di Dapur
176
176 Ketegangan Di Rumah Sakit
177
177 Hamil?
178
178 Mata Yang Berkaca-kaca
179
179 Kemarahan dan Kesedihan Justin dan Raya
180
180 Kekalahan Para Pria
181
181 Iming Gii Pikirin!
182
182 Ngambek
183
183 Lost
184
184 Dulu dan Sekarang
185
185 Pagi Ceria
186
186 Dua Anak Yang Disayang
187
187 Mengorbankan Satu Perasaan
188
188 Jangan Kalah Lagi, Daddy!
189
189 Sepuluh?
190
190 Cara Mendekati Perempuan
191
191 Persaingan Keanu Vs Justin
192
192 Makanan Untuk Raya dan Keanu
193
193 Kejutan
194
194 Makan Bersama Di Kantor
195
195 Tidak Keberatan
196
196 Projek Baru
197
197 Miranda
198
198 Bukan Perempuan Biasa
199
199 Rujak
200
200 Ngidam Ala Justin
201
201 Beda Feel
202
202 Sate Kenangan
203
203 Makan Siang Untuk Raya
204
204 Pingsan
205
205 Cemas dan Ketakutan
206
206 Kabar Yang Mengejutkan
207
207 Calon Adik
208
208 Sate
209
209 Menu Makan Siang
210
210 Wilson dan Aruka
211
211 Pohon Kedondong
212
212 Gara-gara Kedondong
213
213 Ingin Punya Anak Lagi
214
214 Kasus
215
215 Dendam Lama Bersemi Kembali
216
216 Irwan, Si Musuh Lama
217
217 Merenggang?
218
218 Satu Vs Dua
219
219 Ngiri atau Kompak?
220
220 Generasi Yang Solid
221
221 Kalah Saing
222
222 Tentang Warna
223
223 Foto Keluarga
224
224 Lahiran?
225
225 Keadaan Jenia
226
226 Rumah Sakit
227
227 Gelisah
228
228 Kegelisahan Jenia
229
229 Pemeriksaan Bersama
230
230 Kabar Buruk

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!