Raya terlihat ketakutan, dan tiba-tiba saja dia merasa sesak nafas. Dokter Bian heran melihat Raya yang seperti itu.
“Raya, kamu tidak apa-apa? Oya, ini Keanu, keponakan saya.”
“Apa?”
Dokter Bian melihat wajah Raya yang pucat, apalagi setelah dia mengatakan tentang Keanu. Melihat ekspresi Raya, dokter Bian langsung berpikir cepat. Dia juga melihat tatapan tajam Keanu dan Justin.
“Kamu baik-baik saja?”
Raya merintih, perutnya terasa sangat sakit. Dia belum pernah sesakit ini. Rasanya seperti isi di dalam perutnya akan keluar begitu saja.
“Raya ....”
Begitu dokter Bian menyentuh pundak Raya, perempuan itu langsung pingsan. Dokter Bian mengangkat tubuh Raya ke kamar tamu yang ada di lantai bawah, ditemani oleh Maira.
Dokter Bian memeriksa Raya, didampingi oleh Maira, setelah itu mereka ke ruang keluarga.
“Apa kamu yang telah menodai perempuan itu, Keanu?”
“Apa? Apa maksud Uncle?”
“Jangan mengelak. Uncle tahu yang terjadi pada perempuan itu!”
“Perempuan itu tidak akan berani macam-macam pada keluarga kita. Dia telah menandatangani surat perjanjian,” ucap Justin.
Raya yang baru saja sadar, diam-diam mendengarnya dari balik pintu. Dia sudah tidak sanggup lagi, rasanya dia berputar-putar di antara orang-orang itu. Kenapa harus bertemu lagi dengan mereka?
Dengan memantapkan hati, dia membuka pintu itu. Orang-orang langsung melihat ke arahnya.
“Saya permisi dulu.”
“Tunggu dulu!” ucap dokter Bian.
Entah mengapa Raya tidak lagi merasakan suara ramah ala dokter pada diri dokter Bian. Atau hanya perasaannya saja yang terlalu sensitif mengenai orang-orang yang berhubungan dengan keluarga laknat itu?
“Saya tidak ada lagi urusan di sini,” ucap Raya dingin.
“Tentu saja ada.”
“Sudahlah Bian, biarkan saja perempuan kampung ini pergi, malah lebih bagus.” Justin menatap tajam apa Raya.
“Saat ini kamu sedang hamil, apa kamu tahu itu?”
“Apa?” Bukan hanya Raya yang kaget, tapi semua orang.
Rasanya Raya ingin pingsan sekali lagi, kalau bisa tidak usah bangun lagi.
“Kamu hamil.”
Siapa yang lebih syok dari ini? Wajah Raya puas, sedangkan Keanu tetap memasang wajah datar.
Hah, andai saja saat itu Raya memutuskan untuk bubuh diri, mungkin dia tidak akan jatuh berkali-kali seperti ini. Dia yang menjadi korban, dia yang diancam, sekarang hamil. Kesialan apa lagi yang harus dia derita?
“Kamu tidak boleh menggugurkan anak itu!”
Dokter Bian tentu saja akan mencegah hal itu terjadi. Sudah banyak kasus di mana perempuan hamil di luar nikah, entah karena pelecehan seksual atau hubungan terlarang atas dasar kesadaran, yang menggugurkan kandungannya. Apalagi Raya, yang masih sangat muda. Pikiran masih labil, yatim piatu, dan tidak memiliki banyak harta. Tidak ada hal baik—saat ini—yang dimiliki perempuan itu.
“Lahirkan anak itu dengan baik.”
“Untuk apa? Lebih baik digugurkan saja!”
Justin tentu saja tidak mau Raya melahirkan anak itu, anak yang merupakan darah daging dari Keanu.
“Ini adalah keturunan keluarga Ainsley. Apa nanti kata orang kalau keturunan Ainsley digugurkan.”
Keanu menatap tajam Raya, seolah di sini Raya lah yang bersalah.
“Baiklah, lahirkan anak itu. Mulai hari ini kamu akan tinggal di kediaman kami.”
“Tidak, aku tidak mau.”
“Kamu tidak berhak menolak atau meminta apa pun.”
“Bukankah kalian sendiri yang meminta saya untuk tidak lagi menampakkan wajah di hadapan kalian? Lalu sekarang?”
“Kamu seharusnya bersyukur kami mau menampung kamu.”
“Saya bukan barang yang bisa ditampung seenaknya.”
“Orang miskin seperti kamu lebih baik diam saja.”
“Dan orang kaya seperti kalian, lebih baik mati saja!”
“Beraninya kamu!”
“Sudah, ini bukan saat yang tepat untuk berdebat. Mulai hari ini, tinggallah di kediaman orang tua Keanu. Bagaimana pun juga, anak yang kamu kandung adalah keturunan Ainsley.”
Akhirnya Raya dibawa ke kediaman Justin, dengan cara paksa. Bahkan niatnya yang ingin ke rumah Eriza, tidak jadi.
“Saya ingin mengambil barang-barang saya.”
“Orang seperti kamu mana mungkin punya barang berharga.”
Raya diam saja, meladeni perkataan mereka sama saja secara sadar membuat dirinya sendiri gila. Yang waras lebih baik diam.
“Ini kamar kamu.”
Raya memang tidak berharap banyak diperlakukan baik di rumah ini, tapi juga tidak berpikir dia benar-benar diperlakukan seperti barang bekas. Kamar yang akan ditempatinya ini, berada di bawah tangga dapur. Sangat kecil, bahkan lebih kecil dari kamar kosannya. Ada satu jendela kecil mengarah ke halaman belakang tempat menjemur baju. Langit-langit kamarnya miring, karena di atasnya adalah tangga. Ada satu lemari kayu usang. Satu kasur lantai. Lampunya juga sangat redup. Sudah, itu saja.
“Saya harus kembali ke kosan, barang-barang saya lebih berharga daripada nyawa Anda.”
Keanu menatap tajam perempuan yang ada di hadapannya itu. Perempuan ini sangat berani, tidak ada takutnya sama sekali. Pria itu lalu mendengus.
“Supir akan mengantar kamu, jadi kamu tidak bisa kabur.”
Raya diam saja, dia seperti orang yang ditagih hutang, yang harus selalu diawasi. Malam itu juga, Raya pergi ke kosannya. Dia mengambil baju-bajunya. Dia ragu, apakah harus membawa semua barangnya atau tidak. Dia tidak tahu sampai kapan dia akan beradu di rumah itu. Siapa tahu saja besok pagi mereka sudah berubah pikiran dan kembali mengusirnya. Tapi jika dia terlalu lama pergi, dia juga harus membayar uang kos meski tidak menempatinya, sedangkan masih ada barang-barangnya di sini.
Bawa sajalah, semuanya. Apa yang akan terjadi, pikirkan saja nanti.
Raya kembali ke rumah itu, rumah yang berbeda dari rumah yang pernah dia datangi bersama bu Mirna dulu. Rumah ini lebih besar lagi, dengan banyak penjaga.
Raya memasukkan barangnya ke lemari udang itu. Sisanya dia biarkan tetap berada di dalam tas.
Kenapa harus hamil?
Raya membenci bayi yang ada di dalam perutnya. Haruskah dia berdoa agar dia keguguran? Raya ingin menggugurkan kandungannya, tapi takut. Ingin mempertahankan, tapi juga tidak siap. Mereka hanya mengatakan akan menampung dirinya selama hamil. Tidak membicarakan pernikahan. Ya, tentu saja dia tidak akan dinikahkan dengan pria itu. Lagi pula, siapa juga yang mau menikah dengan jelmaan setan?
Raya mencoba tidur meski susah, dan setelah tertidur, dia bermimpi buruk. Tubuhnya serasa dihempaskan ke dalam lautan. Dia mencoba menggapai apa saja, namun tetap saja tidak bisa mencapai permukaan. Gelap, tidak ada cahaya sedikit pun. Rongga-rongga udara di paru-parunya semakin tipis.
Bahkan kini tubuhnya terasa semakin basah dsn dia menggigil.
“Bangun, jangan enak-enakan tidur!”
Raya terbangun, dalam keadaan yang sudah basah kuyup karena disiram air.
“Kamu pikir karena tinggal di rumah ini, kamu bisa enak-enakan tidur? Cepat bereskan rumah, jangan seperti ratu yang tidak mau bekerja di istana.”
Tangan Raya ditarik dengan keras, bahkan dia saja belum sempat berpikir jernih tentang apa yang baru saja terjadi. Dia masih sedikit linglung, masih mengatur nafas dan detak jantung.
“Cepat kerja, atau kamu tidak bisa makan. Jangan berpikir apa yang kamu dapatkan di rumah ini gratis!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 230 Episodes
Comments
retiijmg retiijmg
kshan raya..
2024-09-05
1
Sugiharti Rusli
dokter Bian apa ga tahu apa kalo keluarga si Justin itu sombong, dia malah menyarankan Raya tinggal di kediaman mereka,,,
2024-08-10
1
ICA
Keterlaluan sig ini
2024-03-29
1