13 Mimpi

"Kenapa sih, Ay?"

"Gak apa."

"Jadi, kapan kamu akan pergi?"

"Entahlah, aku ragu. Rasanya sangat malas untuk pergi."

"Kenapa begitu?"

Raya tidak menjawab pertanyaan Nina, tapi mungkin saja Nina bisa menebak.

"Pergi saja, Aya. Apa yang akan terjadi, pasti terjadi. Tidak ada gunanya lari dari masa lalu."

Nina meringis dalam hati, ternyata bicara lebih mudah daripada menjalaninya. Menggurui lebih gampang daripada merasakannya.

Keduanya sama-sama menghela nafas berat.

"Kamu sendiri, bagaimana? Apa bisa memaafkannya begitu saja?" tanya Raya.

"Tidak, sih. Aku benar-benar sakit hati saat dia meninggalkan aku ketika hamil, aku begitu terpuruk, apalagi setelah itu, masalah datang bertubi-tubi. Untung saja ada Rean dan Rion yang mengobati kesedihanku."

"Ya, mereka berdua memang sangat menggemaskan, meski kita berdua sering kewalahan saat menghadapi mereka."

Itulah yang bisa membuat mereka berdua begitu akrab, perasaan senasib akibat masa lalu yang suram, yang sama-sama dihancurkan oleh seorang pria tidak bertanggung jawab.

"Jadi, ayo kita pergi. Kita hadapi bersama dunia yang kema ini. Kita singkirkan masa lalu dan dapatkan pria yang bisa menerima masa lalu kita."

"Kita?"

"Ya, kamu pikir aku tidak akan ikut? Ikut, dong."

Tanpa menunggu jawaban Raya, Nina langsung memasukkan kebutuhan Rean dan Rion ke dalam koper. Kalau sudah begini, mana bisa Raya menolaknya.

"Kita mau ke mana?" tanya Rean.

"Piknik," jawab Nina.

Piknik yang mendebarkan hati, pastinya, ucap Raya dalam hati. Dia mendelik kesal pada Nina, sedangkan perempuan itu hanya cengar-cengir saja.

"Oke anak-anak, sekarang waktunya tidur. Jangan sampai saat kita pergi, ada yang sakit," ucap Raya tegas.

"Tapi bagaimana pekerjaan kamu?"

"Aku sudah mengajukan cuti," ucap Nina santai.

"Bahkan kamu lebih antusias daripada aku."

"Tentu saja."

Raya dan Nina sama-sama memasukkan baju mereka ke dalam koper. Jujur saja, jantung Raya berdetak tak karuan. Ini untuk yang pertama kalinya dia kembali setelah hampir tiga tahun pergi.

Jangan pertemukan lagi aku dengan mereka. Aku tidak mau hidupku yang sudah aku tata ulang, kembali berantakan karena kekejaman mereka mereka.

Di lain tempat, Keanu kembali mimpi buruk. Dia merasa ada yang mencekik dirinya. Menikam tubuhnya dengan belati tajam.

"Daddy, kenapa kamu tega dengan kami?"

Bisikan-bisikan rintihan itu menyayat hati. Seperti ada rantai yang menarik jantungnya.

"Daddy ... Daddy ... tolong kami. Kenapa Daddy? Jangan sakiti mommy."

Keanu terbangun dari tidurnya.

Keanu meraba lehernya, memeriksa apakah ada jeratan di leher itu, lalu memeriksa perutnya, ada ada bekas darah.

"Kenapa aku sering bermimpi seperti ini?"

Rasanya Keanu tidak mau tidur lagi. Dia merasa dibunuh berulang-ulang. Pria itu memandangi kamarnya, kamar tempat dia merenggut kehormatan Raya hingga meninggalkan benih yang tidak sempat dilahirkan.

Keanu menyugar rambutnya, berharap semua itu hanya mimpi buruk yang tidak akan kembali lagi, meski entah kenapa dia sendiri tidak yakin.

Apa perempuan itu sudah meninggalkan dan menjadi hantu gentayangan?

Dia menatap wajahnya di cermin. Wajah yang semakin tampan dengan rahang tegas, namun tidak ada yang tahu, di balik wajah itu, dia pernah menyakiti seorang perempuan yang tengah mengandung anaknya hingga perempuan itu keguguran, tanpa berpikir bahwa segala sesuatu itu pasti akan ada balasan. Hanya tinggal menunggu waktu saja.

Kami tidak akan pernah bertemu lagi, kan? Ya, semoga saja tidak? Karena hal itu akan mempersulit semuanya.

Saat ini mereka berempat ada di dalam pesawat. Rean dan Rion terus saja diam, mungkin karena ini pengalaman pertama mereka naik pesawat.

"Kalian senang, naik pesawat?"

"Ya, Mom."

Raya duduk bersama Rion, sedangkan Nina duduk bersama Rean. Raya mencoba tenang, meski hatinya terus saja gelisah. Rion melihat wajah Raya yang sedikit pucat dan bibirnya kering.

Begitu juga dengan Rean yang melihat kegelisahan Nina.

"Jangan takut, Ma. Pesawatnya tidak akan jatuh."

Nina meringis dalam hati, bukan itu yang dia takutkan, bukan berarti juga dia berani.

Ah, anak ini, bukannya membuat hati Nina tenang, malah tambah gugup.

Di lain tempat, dokter Bian sedang duduk di taman, melihat seorang ibu hamil yang juga sedang duduk tidak jauh darinya. Pria itu berkali-kali menghela nafas berat.

Dia masih ingat, bagaimana dia melihat wajah perempuan itu yang terlihat sedih saat kandungannya keguguran. Entah kenapa dia—sampai saat ini, tidak bisa melupakan wajah itu.

"Dokter baik-baik saja?" tanya Dokter Ardi.

"Tidak. Aku sering kali merasa bersalah saat tidak dapat menyelamatkan nyawa seseorang."

"Itu sudah takdir, Dok. Kita sebagai dokter hanya bisa berusaha semaksimal mungkin. Maafkan saya, buka. maksud saya menggurui, meski apa yang yang dokter rasakan itu, saya juga sering merasakannya."

Mereka tertawa pelan. Sebagai sesama dokter, apalagi yang sering masuk ke ruang operasi, memang harus saling menyemangati. Entah mereka masih muda, atau sudah tua.

Pandangan mata dokter Bian kini beralih ke seorang anak. Jika anak itu masih ada, mungkin mereka seumuran. Anak itu menendang bola yang mengarah pada dokter Bian dan dokter Ardi.

"Ini, bolanya."

"Telima kasih," ucap anak itu dengan cadel.

Dokter Bian mengusap kepala anak itu dengan pelan, lalu memandang langit. Sebuah pesawat melintas di atasnya, nampak kecil namun mampu menarik perhatian dokter itu.

Mereka akhirnya tiba juga, menghirup udara yang malah menyesakkan dada.

Raya memejamkan matanya sesaat.

Aku bisa, pikirnya.

Mereka berempat melangkah ke luar, setelah mengambil barang-barang mereka.

"Ayo, Raya, jangan gugup," ucap Nina.

Raya hanya mendengkus, karena dia tahu Nina juga sama gugupnya. Bisa dia rasakan tangan Nina yang keringat dingin.

Raya sendiri juga mengusap-usap tangannya, dengan Rion yang memegang baju Raya.

Semoga aku tidak bertemu dengan mereka.

Ada banyak denyut jantung yang berdetak tak karuan.

Ada banyak hati yang merasa gelisah.

Ada banyak kerinduan namun tidak tahu kepada siapa harus dituju.

Selama perjalanan menuju hotel, Raya hanya memperhatikan jalan. Begitu juga dengan si kembar Rean dan Rion. Kedua anak itu terlihat antusias memandang sekitarnya dengan wajah polos mereka.

"Nanti kita jalan-jalan?"

Raya dan Nina yang sama-sama melamun, tidak menjawab pertanyaan itu. Rion menempelkan wajahnya di kaca dengan tangan yang mengapit pipinya, hingga wajahnya tidak terlihat jelas. Seseorang sekilas melihat kaca mobil di sebelahnya.

Mirip seseorang, siapa ya?

Orang itu juga melihat perempuan yang duduk di bangku depan. Dia mengucek matanya.

Apa itu dia? Aku tidak salah lihat, kan?

Ampun hijau membuat mobil yang ditumpangi oleh Raya, Nina dan kedua anak itu melaju dengan cepat.

Aku pasti hanya salah lihat. Dia sudah pergi jauh.

Terpopuler

Comments

Zatina

Zatina

Aku terlewat atau gimana ya, tapi kayaknya di beberapa bab yang lalu diceritakan kalau Raya perginya setahun yang lalu gitu, terus kenapa sekarang jadi tiga tahun? Maaf kalau aku salah/Pray/

2024-09-05

1

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

penuh teka-teki euy,,,

2024-08-10

1

Jeni Safitri

Jeni Safitri

Raya dan nina kenapa ngk menyamar aja, pakai kaca mata tebal dan kawat gigi pakai tompel atau apalah rubah gaya rambut sekalian

2024-05-23

1

lihat semua
Episodes
1 1 Malam Naas
2 2 Bimbang
3 3 Visum
4 4 Ancaman
5 5 Mencoba Melupakan
6 6 Bukan Barang Bekas
7 7 Siksaan
8 8 Yang Terbaik
9 9 Satu Tahun
10 10 Waktu Yang Berlalu
11 11 Besser
12 12 Di Rumah Sakit
13 13 Mimpi
14 14 Mereka Anak Kita?
15 15 Jantung Yang Berdebar
16 16 Siapa Namanya?
17 17 Memantau
18 18 Pemilik Mata
19 19 Menyakiti
20 20 Apa Mereka Saling Mengenal
21 21 Tokoh Antagonis
22 22 Masa Lalu yang Belum Selesai
23 23 Ingin Merebut
24 24 Dua Pria
25 25 Mimpi
26 26 Apa Harus Tinggal Bersama Daddy?
27 27 Kecewa
28 28 Mengawasi
29 29 Egois dan Jahat?
30 30 Asal Usul yang Tidak Jelas
31 31 'Begini Saja'
32 32 Tiba-Tiba
33 33 Harapan
34 34 Sidang?
35 35 Ujian Pertama
36 36 Saling Serang
37 37 Bertengkar
38 38 Justin dan Keanu
39 39 Air Mata Raya
40 40 Berpisah Jalan
41 41 Anak Yang Tidak Baik?
42 42 Senang Sendiri?
43 43 Ruang Kosong
44 44 Di Sini di Sana
45 45 Harus Adil
46 46 Larut Malam
47 47 Memilih Jalan
48 48 Empat Jiwa
49 49 Pergi?
50 50 Menghubungi
51 51 Ibu Yang Buruk
52 52 Titik Paling Sensitif
53 53 Di Ruangan Yang Sama
54 54 Jangan Kenapa-Kenapa
55 55 Sebelum Kehilangan
56 56 Kurus
57 57 Bahagiakan Mommy Dulu
58 58 Direbut (Perpisahan Yang Sesungguhnya)
59 59 Kita Saudara
60 60 Takut
61 61 Rahasia Masing-masing
62 62 Ajakan Rion
63 63 Bertemu Dengannya
64 64 Menjadi Lebih Baik
65 65 Aneh
66 66 Langsung Saja
67 67 Ribuan Bintang
68 68 Bertemu Bibi
69 69 Sang Penyelamat
70 70 Menggelap
71 71 Terus?
72 72 Pesawat
73 73 Maaf
74 74 Bahagiakan Kalian
75 75 Tatapan Justin
76 76 Kebimbangan Keanu dan Justin
77 77 Di Bandara
78 78 Siap Bertemu Masa Lalu
79 79 Orang Asing yang Mengawasi
80 80 Pilihan Untuk Raya
81 81 Keputusan Raya
82 82 Bicara Dengan Justin dan Jenia
83 83 Persiapan Pernikahan
84 84 Siapa yang Tahu
85 85 Menjelang Hari H
86 86 Jangan Goyah Lagi
87 87 Tegang
88 88 Pernikahan Anakku
89 89 Mikaila
90 90 Ditutup Oleh Pakaian Mewah
91 91 Saudara?
92 92 Flashback
93 93 Menjauh
94 94 Masalah Baru
95 95 Hampa
96 96 Cerita Pilu Mikaila
97 97 Datang Untuknya
98 98 Rahasia Mike
99 99 Penolakan
100 100 Rencana Selanjutnya?
101 101 Sejak Kembalinya Mereka
102 102 Bagaimana Nasibnya?
103 103 Bukan Lagi Perempuan Miskin
104 104 Mendekatkan Diri
105 105 Butuh Waktu
106 106 Berpisah Jalan?
107 107 Isi Hati Mike
108 108 Mulai Berdamai Dengan Masa Lalu
109 109 Kado Pertama
110 110 Ulah Kamu?
111 111 Dua Generasi
112 112 Bukan Penjahat
113 113 Pembalasan Dendam
114 114 Calon CEO
115 115 Sarah dan Dimaz
116 116 Keresahan Virza
117 117 Keinginan Virza
118 118 Calon Keluarga Kecil
119 119 Mike Dan Jenia
120 120 Penjelasan Justin
121 121 Rahasia Terpendam
122 122 Canggung
123 123 Makan Bersama dan Menginap
124 124 Apartemen Keluarga
125 125 Mengusut Lebih Dalam
126 126 Kejutan Pernikahan Yang Tak Terduga
127 127 Pernikahan Yang Tidak Disangka
128 127 Nasihat Pernikahan Dari Yang Pernah Gagal
129 129 Suasana Yang Canggung
130 130 Malam Pertama?
131 131 Tinggal Bersama
132 132 Pura-pura Tidak Mendengar
133 133 Foto Perempuan Di Meja Justin
134 134 Menunggu Dilirik
135 135 Merasa Asing
136 136 Tawa Basa-basi
137 137 Hadiah Ulang Tahun
138 138 Satu Kamar
139 139 Merasa Bahagia
140 140 Iri Hati
141 141 Damai?
142 142 Papa
143 143 Masa Lalu Dan Masa Depan
144 144 Punya Adik?
145 145 Aura Pengantin Baru
146 146 Impian Raya
147 147 Mulai Menerima
148 148 Peresmian
149 149 Maharaya
150 150 Tumpul ke Atas, Runcing ke Bawah
151 151 Bersepeda
152 152 Sofa Dan Kasur
153 153 Bodyguard Bayangan
154 154 Orang Tua Yang Bijak
155 155 Boneka Dari Pria Lain
156 156 Cemburu?
157 157 Salah Tingkah
158 158 OTW Adik? OTW Cucu?
159 159 Membuka Diri—Lagi
160 160 Semakin Dekat
161 161 Sweet Moments
162 162 Kesambet
163 163 Hadiah
164 164 Kepura-puraan
165 165 Berempat
166 166 Kencan Dengan Perempuan Lain
167 167 Dua Tim
168 168 Rumah Yang Tidak Pernah Salah
169 169 Sama-sama Berusaha
170 170 Terima Kasih Sudah Menjadi Suamiku
171 171 Piknik Lagi
172 172 Hujan
173 173 Hanya Formalitas Belaka
174 174 Jam Empat
175 175 Di Dapur
176 176 Ketegangan Di Rumah Sakit
177 177 Hamil?
178 178 Mata Yang Berkaca-kaca
179 179 Kemarahan dan Kesedihan Justin dan Raya
180 180 Kekalahan Para Pria
181 181 Iming Gii Pikirin!
182 182 Ngambek
183 183 Lost
184 184 Dulu dan Sekarang
185 185 Pagi Ceria
186 186 Dua Anak Yang Disayang
187 187 Mengorbankan Satu Perasaan
188 188 Jangan Kalah Lagi, Daddy!
189 189 Sepuluh?
190 190 Cara Mendekati Perempuan
191 191 Persaingan Keanu Vs Justin
192 192 Makanan Untuk Raya dan Keanu
193 193 Kejutan
194 194 Makan Bersama Di Kantor
195 195 Tidak Keberatan
196 196 Projek Baru
197 197 Miranda
198 198 Bukan Perempuan Biasa
199 199 Rujak
200 200 Ngidam Ala Justin
201 201 Beda Feel
202 202 Sate Kenangan
203 203 Makan Siang Untuk Raya
204 204 Pingsan
205 205 Cemas dan Ketakutan
206 206 Kabar Yang Mengejutkan
207 207 Calon Adik
208 208 Sate
209 209 Menu Makan Siang
210 210 Wilson dan Aruka
211 211 Pohon Kedondong
212 212 Gara-gara Kedondong
213 213 Ingin Punya Anak Lagi
214 214 Kasus
215 215 Dendam Lama Bersemi Kembali
216 216 Irwan, Si Musuh Lama
217 217 Merenggang?
218 218 Satu Vs Dua
219 219 Ngiri atau Kompak?
220 220 Generasi Yang Solid
221 221 Kalah Saing
222 222 Tentang Warna
223 223 Foto Keluarga
224 224 Lahiran?
225 225 Keadaan Jenia
226 226 Rumah Sakit
227 227 Gelisah
228 228 Kegelisahan Jenia
229 229 Pemeriksaan Bersama
230 230 Kabar Buruk
Episodes

Updated 230 Episodes

1
1 Malam Naas
2
2 Bimbang
3
3 Visum
4
4 Ancaman
5
5 Mencoba Melupakan
6
6 Bukan Barang Bekas
7
7 Siksaan
8
8 Yang Terbaik
9
9 Satu Tahun
10
10 Waktu Yang Berlalu
11
11 Besser
12
12 Di Rumah Sakit
13
13 Mimpi
14
14 Mereka Anak Kita?
15
15 Jantung Yang Berdebar
16
16 Siapa Namanya?
17
17 Memantau
18
18 Pemilik Mata
19
19 Menyakiti
20
20 Apa Mereka Saling Mengenal
21
21 Tokoh Antagonis
22
22 Masa Lalu yang Belum Selesai
23
23 Ingin Merebut
24
24 Dua Pria
25
25 Mimpi
26
26 Apa Harus Tinggal Bersama Daddy?
27
27 Kecewa
28
28 Mengawasi
29
29 Egois dan Jahat?
30
30 Asal Usul yang Tidak Jelas
31
31 'Begini Saja'
32
32 Tiba-Tiba
33
33 Harapan
34
34 Sidang?
35
35 Ujian Pertama
36
36 Saling Serang
37
37 Bertengkar
38
38 Justin dan Keanu
39
39 Air Mata Raya
40
40 Berpisah Jalan
41
41 Anak Yang Tidak Baik?
42
42 Senang Sendiri?
43
43 Ruang Kosong
44
44 Di Sini di Sana
45
45 Harus Adil
46
46 Larut Malam
47
47 Memilih Jalan
48
48 Empat Jiwa
49
49 Pergi?
50
50 Menghubungi
51
51 Ibu Yang Buruk
52
52 Titik Paling Sensitif
53
53 Di Ruangan Yang Sama
54
54 Jangan Kenapa-Kenapa
55
55 Sebelum Kehilangan
56
56 Kurus
57
57 Bahagiakan Mommy Dulu
58
58 Direbut (Perpisahan Yang Sesungguhnya)
59
59 Kita Saudara
60
60 Takut
61
61 Rahasia Masing-masing
62
62 Ajakan Rion
63
63 Bertemu Dengannya
64
64 Menjadi Lebih Baik
65
65 Aneh
66
66 Langsung Saja
67
67 Ribuan Bintang
68
68 Bertemu Bibi
69
69 Sang Penyelamat
70
70 Menggelap
71
71 Terus?
72
72 Pesawat
73
73 Maaf
74
74 Bahagiakan Kalian
75
75 Tatapan Justin
76
76 Kebimbangan Keanu dan Justin
77
77 Di Bandara
78
78 Siap Bertemu Masa Lalu
79
79 Orang Asing yang Mengawasi
80
80 Pilihan Untuk Raya
81
81 Keputusan Raya
82
82 Bicara Dengan Justin dan Jenia
83
83 Persiapan Pernikahan
84
84 Siapa yang Tahu
85
85 Menjelang Hari H
86
86 Jangan Goyah Lagi
87
87 Tegang
88
88 Pernikahan Anakku
89
89 Mikaila
90
90 Ditutup Oleh Pakaian Mewah
91
91 Saudara?
92
92 Flashback
93
93 Menjauh
94
94 Masalah Baru
95
95 Hampa
96
96 Cerita Pilu Mikaila
97
97 Datang Untuknya
98
98 Rahasia Mike
99
99 Penolakan
100
100 Rencana Selanjutnya?
101
101 Sejak Kembalinya Mereka
102
102 Bagaimana Nasibnya?
103
103 Bukan Lagi Perempuan Miskin
104
104 Mendekatkan Diri
105
105 Butuh Waktu
106
106 Berpisah Jalan?
107
107 Isi Hati Mike
108
108 Mulai Berdamai Dengan Masa Lalu
109
109 Kado Pertama
110
110 Ulah Kamu?
111
111 Dua Generasi
112
112 Bukan Penjahat
113
113 Pembalasan Dendam
114
114 Calon CEO
115
115 Sarah dan Dimaz
116
116 Keresahan Virza
117
117 Keinginan Virza
118
118 Calon Keluarga Kecil
119
119 Mike Dan Jenia
120
120 Penjelasan Justin
121
121 Rahasia Terpendam
122
122 Canggung
123
123 Makan Bersama dan Menginap
124
124 Apartemen Keluarga
125
125 Mengusut Lebih Dalam
126
126 Kejutan Pernikahan Yang Tak Terduga
127
127 Pernikahan Yang Tidak Disangka
128
127 Nasihat Pernikahan Dari Yang Pernah Gagal
129
129 Suasana Yang Canggung
130
130 Malam Pertama?
131
131 Tinggal Bersama
132
132 Pura-pura Tidak Mendengar
133
133 Foto Perempuan Di Meja Justin
134
134 Menunggu Dilirik
135
135 Merasa Asing
136
136 Tawa Basa-basi
137
137 Hadiah Ulang Tahun
138
138 Satu Kamar
139
139 Merasa Bahagia
140
140 Iri Hati
141
141 Damai?
142
142 Papa
143
143 Masa Lalu Dan Masa Depan
144
144 Punya Adik?
145
145 Aura Pengantin Baru
146
146 Impian Raya
147
147 Mulai Menerima
148
148 Peresmian
149
149 Maharaya
150
150 Tumpul ke Atas, Runcing ke Bawah
151
151 Bersepeda
152
152 Sofa Dan Kasur
153
153 Bodyguard Bayangan
154
154 Orang Tua Yang Bijak
155
155 Boneka Dari Pria Lain
156
156 Cemburu?
157
157 Salah Tingkah
158
158 OTW Adik? OTW Cucu?
159
159 Membuka Diri—Lagi
160
160 Semakin Dekat
161
161 Sweet Moments
162
162 Kesambet
163
163 Hadiah
164
164 Kepura-puraan
165
165 Berempat
166
166 Kencan Dengan Perempuan Lain
167
167 Dua Tim
168
168 Rumah Yang Tidak Pernah Salah
169
169 Sama-sama Berusaha
170
170 Terima Kasih Sudah Menjadi Suamiku
171
171 Piknik Lagi
172
172 Hujan
173
173 Hanya Formalitas Belaka
174
174 Jam Empat
175
175 Di Dapur
176
176 Ketegangan Di Rumah Sakit
177
177 Hamil?
178
178 Mata Yang Berkaca-kaca
179
179 Kemarahan dan Kesedihan Justin dan Raya
180
180 Kekalahan Para Pria
181
181 Iming Gii Pikirin!
182
182 Ngambek
183
183 Lost
184
184 Dulu dan Sekarang
185
185 Pagi Ceria
186
186 Dua Anak Yang Disayang
187
187 Mengorbankan Satu Perasaan
188
188 Jangan Kalah Lagi, Daddy!
189
189 Sepuluh?
190
190 Cara Mendekati Perempuan
191
191 Persaingan Keanu Vs Justin
192
192 Makanan Untuk Raya dan Keanu
193
193 Kejutan
194
194 Makan Bersama Di Kantor
195
195 Tidak Keberatan
196
196 Projek Baru
197
197 Miranda
198
198 Bukan Perempuan Biasa
199
199 Rujak
200
200 Ngidam Ala Justin
201
201 Beda Feel
202
202 Sate Kenangan
203
203 Makan Siang Untuk Raya
204
204 Pingsan
205
205 Cemas dan Ketakutan
206
206 Kabar Yang Mengejutkan
207
207 Calon Adik
208
208 Sate
209
209 Menu Makan Siang
210
210 Wilson dan Aruka
211
211 Pohon Kedondong
212
212 Gara-gara Kedondong
213
213 Ingin Punya Anak Lagi
214
214 Kasus
215
215 Dendam Lama Bersemi Kembali
216
216 Irwan, Si Musuh Lama
217
217 Merenggang?
218
218 Satu Vs Dua
219
219 Ngiri atau Kompak?
220
220 Generasi Yang Solid
221
221 Kalah Saing
222
222 Tentang Warna
223
223 Foto Keluarga
224
224 Lahiran?
225
225 Keadaan Jenia
226
226 Rumah Sakit
227
227 Gelisah
228
228 Kegelisahan Jenia
229
229 Pemeriksaan Bersama
230
230 Kabar Buruk

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!