Bab. 19

Anin hanya bisa menghela nafasnya melihat mobil Revan yang sudah jalan dan semakin lama semakin menjauh. Kemudian Anin menatap uang yang baru saja di berikan pada Revan. "Dasar lelaki sombong!" gumam Anin.

Dia berdoa semoga dia tidak atau jangan sampai jatuh cinta pada suaminya itu, lelaki sombong.

"Anin, kamu pulang naik taksi?!" tanya Kakek Ray yang melihat Anin turun dari taksi.

"Eh iya kek." jawab Anin sedikit terkejut melihat kakek Ray ada di pos security rumah kakek Ray.

"Loh kok kamu pulang naik taksi sih?! Apa Revan tidak mau mengantar kamu pulang?! Berondong kakek Ray.

"Gak kok kek, tuan Revan pagi ini ada meeting jadi dia langsung kekantor, jadi tidak bisa nganter Anin." ucap Anin memberi alasan.

Kakek Ray menghela nafasnya mendengar jawaban Anin. Kakek tahu itu pasti alasan Revan saja agar tidak mengantar Anin.

"Kalau gitu Anin masuk dulu ya kek." pamit Anin. "Apa kakek juga mau kedalam rumah?" tanya Anin.

"Iya Nin." jawab Kakek Ray

"Ya udah biar Anin yang dorong kursi rodanya kek sekalian." ucap Anin kemudian mendorong kursi roda kakek Ray.

"Anin.." panggil kakek Ray.

"Iya kek." sahut Anin. "Apa kakek Ray perlu sesuatu?" tanyanya.

Kakek Ray menarik nafasnya, lalu membuangnya perlahan. "Anin, kakek mau tanya. Apa kamu menyayangi kakek?!" tanya Kakek Ray.

"Kakek ini ngomong apa?!" Anin langsung menghentikan langkahnya, lalu berjalan menghadap kakek Ray. "Ya tentu Anin sayang sama kakek. Anin udah menganggap kakek seperti kakek Anin sendiri. Apalagi karena kakek lah Anin bisa mendapatkan pekerjaan di kota ini, dengan mudah. Padahal saat itu sulit bagi Anin mencari pekerjaan di ibukota yang hanya lulusan SMA seperti Anin." ucap Anin. "Sebenarnya kakek kenapa?! kok tanyanya seperti itu?!" tanya Anin bingung.

"Anin, kakek tahu mungkin kakek kesannya egois kepada kamu yang telah memaksa kamu menikah dengan Revan. Tapi kakek tidak punya pilihan lain. Anin, kakek mau kamu jangan pernah tinggalin Revan atau pun Yuna apapun yang terjadi kedepannya. Tetaplah bersama nya nak." pinta Kakek Ray sembari memegang tangan Anin.

"Tapi kek, tuan Revan bagaimana? Beliau tidak menyukai Anin."

"Kakek tahu Nin, tapi hanya kamu yang kakek percaya untuk mengurus keduanya. Anin, kakek yakin suatu saat Revan akan jatuh cinta padamu.Tetapi sebelum itu terjadi, kakek mohon kamu sabar menghadapi nya dan bertahan dengannya." mohon Kakek Ray.

Anin menghela nafasnya mendengar permintaan kakek Ray. Gimana dia bisa mengatakan pada kakek Ray jika dia mau menyerah. Bukan maksud ingin mempermainkan pernikahan, tapi melihat sikap Revan padanya rasanya dia ingin menyerah dan pasti bakalan sulit untuk meluluhkan lelaki sombong itu. Tapi dia juga tidak tega jika sudah menatap wajah sedih lelaki tua yang sedang duduk di kursi roda saat ini.

"Tapi kek tidak mudah untuk meluluhkan hati tuan Revan, sementara lelaki itu masih sangat mencintai kekasihnya." ujar Anin.

"Tidak ada yang tidak mungkin Anin. Kakek yakin itu."

"Anin tidak bisa janji kek. Tapi akan Anin usahakan." jawab Anin. Kemudian Anin melanjutkan langkahnya sambil mendorong kursi roda kakek Ray. Lalu mengantarkan kakek Ray masuk kedalam kamar.

"Kakek istirahat dulu ya.. Entar kalau sudah waktunya makan siang, Anin kesini lagi. Kalau kakek perlu apa-apa panggil Anin ya kek." ucap Anin.

Saat Anin akan keluar dari kamar, kakek Ray mengatakan sesuatu lagi pada Anin.

"Anin, kakek hanya percaya padamu. Dan kamu yang kakek harapkan Nin. Kamu tahu Nin, mengapa kakek tidak menyetujui Revan bersama dengan Gladies?!" Anin yang masih berdiri membelakangi kakek Ray langsung memutar tubuhnya menghadap kakek Ray. "Kakek pernah tidak sengaja melihat Gladies datang ke Hotel bersama dengan lelaki dan itu bukan Revan. Dan kakek juga melihat mereka berpelukan sambil berciuman di depan hotel itu dengan mesra. Apa menurut kamu saya salah melarang Revan menikah dengannya Anin?! Kakek tahu Gladies hanya menginginkan harta Revan saja. Saya tidak mau Revan salah pilih Anin, mencari istri." ujar kakek Ray.

"Apa menurut kakek, Anin wanita yang tepat buat tuan Revan?! Bisa jadi Anin juga nantinya mengkhianati tuan Revan dan ingin menguasai kekayaan kakek maupun tuan Revan?!" Kakek Ray tersenyum mendengar apa yang di katakan Anin.

"Kakek sudah mengenal kamu beberapa tahun ini Anin. Saya tahu kamu wanita seperti apa. Kamu wanita yang baik dan tulus." balas kakek Ray.

"Bisa jadi kakek salah menilai Anin selama ini." Kakek tersenyum lagi mendengarnya.

"Tidak, saya tidak pernah salah menilai orang selama ini, Anin." Anin tersenyum tipis.

"Baiklah, Anin keluar dulu kek. Mau memasak makan siang buat kakek dan Yuna." pamit Anin.

"Kakek hanya percaya padamu Anin." ucap kakek lagi saat Anin sudah ingin keluar dari kamarnya. Anin hanya menganggukkan kepalanya, kemudian ia berjalan keluar dari kamar kakek Ray.

Terpopuler

Comments

Kasih Bonda

Kasih Bonda

next Thor semangat

2024-03-01

1

Pasrah

Pasrah

smg kakek sll panjang umurnya ya biar bisa bersama "dgn keluarga nya itu, di tunggu lagi secepatnya Ok 🌹🌹🌹🥰🥰🥰

2024-03-01

1

Pasrah

Pasrah

akhirnya update juga setelah sekian purnama, berilah pelajaran pada lelaki sombong itu biar tau rasa, seperti apa kelakuan wanita yg di cintai nya itu

2024-03-01

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!