Bab. 15

Seminggu telah berlalu setelah pembicaraan mereka kemarin, akhirnya hari ini Revan dan Anin menikah. Ijab Kabul di lakukan di kediaman Revan dan hanya di hadiri keluarga inti saja. Karena itu syarat yang di minta oleh Revan, ia tidak mau mengadakan resepsi pernikahan. Dan mau tidak mau kakek Ray menyetujuinya kalau tidak, Revan tidak mau menikah dengan Anin. Sementara Anin sudah tidak memiliki orang tua lagi, jadi akad nikah di wakilkan oleh penghulu.

"Bagaimana saksi?!" tanya pak penghulu.

"Sah." jawab para saksi pernikahan mereka.

Anin yang duduk di sebelah Revan di suruh mencium tangan Revan, sementara Revan hanya mengelus kepala Anin saja. ia enggan untuk mencium kening Anin seperti dia mencium kening mantan istrinya ketika mereka menikah dulu. Yuna sendiri langsung memeluk keduanya. Dia sangat senang dan bahagia akhirnya dia memiliki mama juga. Meskipun bukan mama yang sesungguhnya. Yuna sendiri sebenarnya masih mengharapkan bisa bertemu dengan ibu kandungnya tapi papanya melarangnya. Tanpa sepengetahuan Revan Yuna menyimpan foto ibu kandungnya yang di berikan oleh kakeknya Ray. Terkadang ia juga sering memandangi foto itu. Dia sangat merindukannya. Tetapi ia juga tidak mau ke Amerika dimana mamanya berada, ia tidak mau jauh dari papanya. Andai papanya tahu, kalau dia menyimpan foto mamanya pasti papanya sangat marah. Entah mengapa papanya begitu membenci mamanya itu makanya papa dan mamanya berpisah dan kakek Ray juga mengatakan padanya jika mamanya dan papanya tidak bisa kembali bersama lagi. Anin juga selalu mengatakan kepada Yuna, jangan pernah melupakan ibu kandung yang telah melahirkan kita meskipun dia tidak menginginkan kita. Anin juga selalu bilang padanya jika mamanya itu bukan tidak menginginkannya, akan tetapi memang mamanya lagi ada pekerjaan di Amerika yang mengharuskan mamanya pergi dan menitipkan dirinya pada kakek dan papanya. Dan suatu saat jika pekerjaannya sudah selesai, mamanya akan kembali menemuinya. Itulah yang selalu di ingat oleh Yuna sampai sekarang. Kalau mamanya akan kembali menemuinya kalau pekerjaannya sudah selesai. Yuna anak yang pintar dan cerdas .Di usianya yang baru menginjak 6 tahun Yuna sudah mengerti hal itu.

"Selamat ya bos, akhirnya bos menikah juga dengan Anin. Saya doain pernikahannya langgeng." ucap Dian asisten dari Revan. Saat ini mereka lagi berada di taman belakang rumah Revan.

Revan menghela nafasnya sembari menatap Dian. "Ini yang bukan saya harapkan sebenarnya Yan." ucap Revan.

"Bos, mungkin anda memang sudah berjodoh dengan Anin." balas Dian.

"Tapi bagaimana dengan Gladies Yan.. Bahkan saya belum berani mengatakan soal pernikahan ini padanya. Gimana hancurnya dia, jika dia sampai tahu." sambung Revan lagi sembari mengusap wajahnya kasar. Revan benar-benar sudah frustasi dengan adanya pernikahan ini.

"Jadi bos belum putus dengan mbak Gladies dan belum membicarakan soal ini padanya?! Atau jangan-jangan bos akan tetap menjalin hubungan dengan mbak Gladies meski sudah menikah dengan Anin?!" tebak Dian tepat sasaran.

"Gak segampang itu Yan, putusin dia dan masih berat rasanya buat saya meninggalkan nya. Saya masih sangat menyayangi nya." ujar Juna.

"Ya itu sih terserah bos, kan bos yang ngejalanin. Asal nantinya bos tidak salah memilih yang akan membuat bos menyesal seumur hidup." Saran Dian.

"Permisi tuan.." ucap Anin yang baru saja menghampiri mereka dan membuat Revan dan Dian menoleh bersamaan. Melihat siapa yang berbicara, Revan langsung menunjukkan wajah datarnya. Berbeda dengan Dian, ia malah terpesona dengan kecantikan Anin. Sayang sekali wanita yang ada di hadapannya saat ini sudah menjadi istri bosnya.

"Ada apa?!" tanya Revan datar.

"Itu tuan, di panggil sama kakek untuk makan siang." jawab Anin.

"Ayo Yan kita makan siang dulu." ajak Revan pada asisten nya. Kemudian mereka beranjak dari tempatnya dan Revan berjalan dengan cuek meninggalkan Anin. Sementara Dian tersenyum menatap Anin sambil menganggukkan kepalanya. Dan Anin membalas senyuman dari Dian.

"Gila nih bos, wanita secantik Anin aja gak suka. Kalau gue mah terima dengan senang hati kalau dapat jodoh seperti Anin." gumam Dian dalam hati sembari berjalan di belakang Revan.

Anin sendiri hanya bisa menghela nafasnya melihat sikap Revan yang selalu datar padanya. Sebelum menikah dengannya pun sikapnya selalu datar dan cuek padanya, apalagi sekarang mereka sudah sah menjadi suaminya istri semakin dingin saja lelaki itu.

Terpopuler

Comments

Jamaliah

Jamaliah

semoga cepat terungkap kebusukan gladis

2025-03-25

0

Pasrah

Pasrah

yang sabar ya smg nanti akan indah pada waktunya

2024-02-26

1

alhusna name

alhusna name

yakin deh, gladies main hati😒😒

2024-02-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!