Anindita Yuana, seorang gadis cantik berusia 23 tahun terpaksa harus pergi dari desanya merantau ke Ibu kota demi menghindari pernikahan paksa. Sekaligus bekerja untuk menghidupi kebutuhannya yang sudah tidak memiliki siapapun lagi.
Kedua orangtua Anin sudah meninggal dunia karena suatu penyakit yang di derita keduanya. Setelah kedua orangtuanya meninggal dunia, Anin sempat tinggal dengan paman dan bibinya di kampung. Sedangkan rumah milik orangtua Anin di jual oleh paman dan bibinya dan katanya uang penjualan rumah untuk menghidupi dirinya selama tinggal bersama mereka. Tapi Anin tidak di beri seper pun uang penghasilan rumah orangtuanya. Malahan ia di suruh bekerja dengan paman dan bibinya.
Entah di kemanakan uang hasil penjualan rumah milik orang tuanya itu oleh paman dan bibinya. Nyatanya ia masih harus banting tulang untuk kehidupan ia dan mereka. Sampai akhirnya ia menyerah tinggal bersama mereka, karena setiap harinya ia mendapat omelan bibi maupun pamannya. Tambah lagi ia mau di nikahkan oleh rentenir yang umurnya setara dengan orangtuanya demi untuk melunasi hutang Pamannya pada rentenir itu.
Karena Anin tidak mau menikah dengan rentenir tua itu. Dengan memiliki tabungan yang cukup, Anin nekat pergi dari rumah pamannya itu.
Selama satu bulan di ibukota, ternyata mencari pekerjaan tidak semudah yang Anin bayangkan. Sulit sekali mencari pekerjaan di Ibu kota. Sampai pada dimana Anin bertemu dengan kakek Ray Maherza. Ketika itu Anin lagi duduk di sebuah taman. Tidak sengaja ia menemukan kakek Ray yang pingsan di taman itu juga dengan memakai pakaian olahraga.
Anin pun langsung menolong kakek Ray dan membawanya ke rumah sakit. Selang seminggu setelah menyelamat kakek Ray, beliau mencarinya. Dan akhirnya mereka bertemu di taman kembali. Kakek Rey pun menawari Anin pekerjaan yang gajinya bisa dibilang cukup besar baginya dari pada gaji yang ia terima saat bekerja di kampung. Anin pun tanpa pikir panjang langsung menerimanya meskipun bekerja merawat Kakek Ray.
"Sayang yang rajin belajar ya..!" ucap Anin ketika sudah sampai di sekolah Yuna.
"Iya Aunty..!" sahut Yuna sembari mencium punggung tangan Anin. "Dada aunty.. Entar jemput Yuna lagi ya..!" ucap Yuna sambil berjalan menuju kelasnya.
"Iya sayang.. entar Tante jemput lagi." balas Anin.
Setelah memastikan Yuna masuk kedalam kelas, Anin pun langsung pergi ke sekolah Yuna dan pulang kerumah kakek Ray karena Anin memang tinggal disana.
***
Di London, seorang pria tampan tengah sibuk membicarakan bisnis kepada rekannya di sebuah Perusahaan milik rekannya itu. Ya, dia adalah Revan papa dari Yuna. Sudah satu Minggu pria itu berada di sana tengah perjalanan bisnis di negara itu.
Satu jam akhirnya ia selesai membicarakan bisnis dan pria itu memilih langsung kembali ke Hotel pada rekan bisnisnya menolak dengan halus ajakan makan siang rekannya karena malam ini harus terbang ke Indonesia. Ia juga sudah merindukan putri cantiknya yang sangat menggemaskan itu.
Sebelum kembali ke Hotel, ia menyempatkan untuk ke Mall membelikan boneka dan mainan yang lain untuk putrinya. Seperti biasa jika ia pergi keluar kota atau keluar negeri ia tak lupa membalikan mainan untuk putrinya begitu banyak. Di ruang bermain putrinya sudah seperti toko mainan sangking banyaknya.
"Dian, kita singgah ke mall dulu ya?!" pinta pria itu pada asistennya.
"Baik Bos." Jawab Dian. "Beli mainan buat nona Yuna ya bos?!" tanya Dian.
"Iya Yan, kamu kan tahu dia paling suka di belikan mainan kalau saya sudah pergi perjalanan bisnis." jawab pria itu sembari tersenyum, kalau mengingat putrinya.
"Putri bos, Yuna sangat menggemaskan ya bos..!" ucap Dian lagi.
"Ya begitulah Yan dan anak itu ngangenin banget." sahutnya dan di anggukin oleh Dian sambil tersenyum. "Dia juga yang selama ini membuat saya terus bertahan menjalani hidup. Tapi sayang Yane, Yuna tidak begitu beruntung. Anak seusianya seharusnya sangat membutuhkan Mamanya, sayangnya Mamanya pergi gitu saja meninggalkan anak itu demi karirnya." tambahnya lagi.
"Kenapa bos gak nikah aja sih dengan mbak Gladies? jadi putri bos memiliki ibu sambung." saran Dika.
Revan tertawa kecil, "saya maunya juga gitu, tapi kamu tahu sendiri Yuna dan kakek tidak suka dengan Gladies. Entah apa kurangnya wanita itu sampai kedua orang itu tidak menyukainya." ucap Revan 3 menghela nafasnya.
"Iya juga sih bos. Coba deh bos sering ajak Yuna dan mbak Gladies jalan bareng gitu, siapa tahu karena putri bos belum begitu mengenal mbak Gladies." Revan berpikir sejenak.
"Seperti nya kamu benar Yan. Soalnya Yuna baru bertemu dengan Gladies dua kali. Ini karena kesibukan saya jadi saya jarang Quality time dengan mereka. Untung Yuna dan Gladies tidak terlalu banyak nuntut dan ngertiin pekerjaan saya." ucap Revan. "Seperti nya setelah ini saya akan sering mempertemukan mereka." lanjut Revan lagi.
"Itu harus bos. Agar Yuna bisa dekat dengan mbak Gladies." sahut Dian.
Sampainya di mall, Revan langsung menuju toko mainan bersama Dian.
"Dian kayanya Yuna bakalan suka yang itu deh!" tunjuk Revan.
"Itu juga bagus bos." saran Dian menunjukan salah satu mainan lain kepada Revan.
"Saya jadi bingung Yan, mainannya lucu-lucu semua." ucap Revan.
"Kenapa gak di beli aja keduanya Bos?!"
"Wah ide bagus tuh. Ya deh Yan ambil keduanya aja." jawab Revan dan Yan langsung mengambil mainan yang di tunjuk tadi, lalu ia pun membawanya ke kasir.
"Apa ada lagi yang ingin di beli Bos?!" tanya Dian.
"Kaya nya gak deh. Kita langsung ke hotel aja Yan habis ini."
"Baik Bos."
Setelah selesai membeli mainan buat Yuna, anaknya. Revan pun langsung kembali ke Hotel untuk membereskan pakaiannya, karena malam ini dia akan pulang ke Indonesia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Pasrah
pasti baik nya cuma di depan papa nya aja,kan perasaan anak kecil itu peka terhadap di mana itu tulus atau tidak
2024-02-01
3