Ayang tidak menyangka kalau akan bisa merubah Rezef sesingkat itu, dia tidak tahu apa isi kepala Rezef jadi gadis itu harus berhati-hati.
Prinsipnya jangan mudah percaya pada orang lain.
"Sepertinya Anda memang sakit, Tuan Muda," komentar Ayang setelah mendengar pernyataan Rezef. Dia sambil menyuap nasi goreng ke mulutnya.
"Aku serius, anggap saja ini adalah naluri seorang ayah," ucap Rezef. Rasanya dia muak harus berpura-pura seperti ini.
Ayang menganggukkan kepalanya. "Baiklah, anggap saja Tuan Muda sudah sadar!"
"Jadi, di mana Kiko akan ditempatkan?"
"Di samping kamarku ada kamar kosong jadi Kiko akan tidur di sana," jawab Rezef.
Karena Ayang tidak pernah naik ke lantai atas, gadis itu ingin tahu bagaimana kamar baru bayi Kiko.
Jadi, setelah sarapan bersama Rezef, Ayang diantar pemuda itu naik ke lantai atas.
Ternyata kamar di lantai atas itu memang lebih besar daripada kamar yang ditempati bayi Kiko sekarang.
"Cukup luas," komentar Ayang.
"Biar Bibi Siti dan lainnya yang memindahkan barang kemari," ucap Rezef.
Tidak mungkin akan selesai hari ini jadi sementara bayi Kiko akan tidur di kamar Rezef. Dan hal itu membuat Ayang jadi canggung.
Artinya dia harus sekamar dengan Rezef?
"Kami akan tidur di kamar tamu saja, Tuan Muda," ucap Ayang ingin menolak secara halus.
"Kau ingin kerja dua kali, ya? Kalau di kamarku kan lebih dekat jaraknya," balas Rezef yang tidak ingin ditolak.
Mau bagaimana lagi, Ayang sepertinya harus menurut.
Selagi kamar baru bayi Kiko disiapkan, Ayang akan mengurus bayi itu di kamar Rezef.
Untuk pertama kalinya Ayang masuk ke dalam kamar seorang pria walaupun kenyataannya itu adalah kamar majikannya sendiri.
"Aku akan tidur di sofa, mungkin hanya semalam juga, bukan? Besok kamarnya pasti sudah siap," ucap Rezef.
Padahal bisa saja pemuda itu yang mengalah untuk tidur di kamar tamu tapi Ayang tidak berani menyuruhnya.
Menempatkan bayi Kiko di bangunan utama saja sudah kemajuan pesat.
"Baik, Tuan Muda," balas Ayang.
Pada saat itu, Ayang tengah menggendong bayi Kiko seraya memberi bayi itu susu. Setelahnya, Ayang menepuk-nepuk punggung bayi itu supaya bisa bersendawa.
"Kenapa harus seperti itu?" tanya Rezef penasaran.
"Supaya tidak gumoh, Tuan Muda," jawab Ayang.
"Apa itu gumoh?" Rezef tidak mengerti.
Ayang tergelak karena Rezef yang asing dengan pemilihan katanya.
"Seperti muntah begitu tapi kalau bayi namanya jadi gumoh," jelas Ayang kemudian.
"Ada-ada saja istilahnya," Rezef tak habis pikir. Dia kembali bermain ponsel sambil melihat referensi panti asuhan yang bagus.
Walaupun dia berniat membuang bayi tapi Rezef tidak sembarangan memilih tempat.
"Tuan Muda...." panggil Ayang.
Atensi Rezef langsung beralih pada gadis itu ketika dipanggil.
"Saya bisa titip Kiko sebentar? Saya ingin membantu Bibi Siti di sebelah supaya cepat selesai," ucap Ayang.
Sepertinya bayi Kiko sudah tertidur jadi Rezef merasa tidak keberatan.
"Hanya melihatnya saja, bukan?" tanya pemuda itu memastikan.
"Iya, Tuan Muda," jawab Ayang.
Karena Rezef setuju, Ayang segera keluar dari kamar pemuda itu.
Selepas kepergian Ayang, Rezef berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati bayi yang saat ini berbaring di atas ranjangnya.
"Kau sangat beruntung karena aku mau meminjamkan ranjangku padamu," ucap Rezef penuh kekesalan.
Bayi Kiko langsung merengek dalam tidurnya seolah mendengar perkataan Rezef itu.
"Wah, apa kau mendengarnya?" Rezef merasa merinding. Dia tidak tahu kalau bayi sesensitif itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Lyn
seruu ceritanya
2024-06-04
0
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
laaaa tanggung jawab nty klw oekkk oekkk
2024-03-03
2
Rahmi Miraie
jelas aja bayi kiko sensitif dan mendengarnya secara kalian ada ikatan darah
2023-11-20
2