Sudut pandang beralih ke Akane, yang kini berada di tempat aman bersama Mei, Kaito, dan ayah Arief. Mereka berempat telah berada di tempat tersembunyi yang aman dari ancaman mayat hidup. Namun, situasi yang rumit dan ketidakpastian tetap membayangi mereka.
Di dalam ruangan yang tenang, cahaya temaram memancar dari beberapa sumber, memberikan atmosfer misterius. Mereka semua duduk di sekitar meja kecil, memandang satu sama lain dengan berbagai perasaan.
“Kita harus memutuskan apa yang akan kita lakukan dengan Arief.” Kata Mei dengan tegas
Kaito mengangkat alisnya, seolah-olah berfikir saat ini Mei sudah tidak waras.
“Apa yang kamu usulkan, Mei?”
Mei menggigit bibirnya, seolah-olah khawatir.
“Aku merasa bahwa kita harus mencari cara untuk melindunginya. Arief harus diberi kesempatan untuk bertahan hidup seperti kita semua.”
Akane yang mendengar kata-kata Mei langsung mengeluarkan ekspresi ketus.
"Mengapa kita harus membuang waktu dan energi untuk menyelamatkannya? Dia hanya beban bagi kita semua."
Mei berbicara dengan tekad, memberitahu kepada Akane dan Kaito.
“Dia juga manusia. Dia memiliki hak untuk bertahan.”
Kaito mencoba menenangkan suasana, Kaito tidak memahami sifat Mei yang seperti ini, sebab Mei adalah tipikal yang berfikir 2 kali dalam segala urusan.
“Mari kita pikirkan dengan kepala dingin. Apakah kita bisa membawa Arief bersama kita tanpa membahayakan diri kita?”
Ayah Arief yang dari tadi diam sejenak tiba-tiba angkat bicara.
“Aku setuju dengan Akane. Arief mungkin akan menjadi risiko bagi kita semua.”
Akane mengangguk, sedangkan Mei seperti shock mendengar kata-kata itu dari Ayahnya Arief sendiri
"Lihatlah situasinya. Dia bahkan tidak bisa berbicara bahasa Jepang. Bagaimana dia akan bertahan di negara yang dipenuhi bahaya ini?" Kata Akane.
Mei tidak menyerah berusaha membujuk mereka semua.
“Kita bisa melatihnya, membantu dia belajar. Arief adalah seseorang yang berharga bagi kita.”
Ayah Arief yang berusaha diam tiba-tiba berbicara dengan tegas.
“Tidak ada waktu untuk pelatihan. Situasinya semakin buruk.”
Suasana ruangan penuh ketegangan. Pendapat-pendapat yang berbeda saling bentrok, dan keputusan yang sulit harus diambil. Mei ingin melindungi Arief, Kaito merasa perlunya pertimbangan lebih lanjut, Akane merasa bahwa keselamatan kelompok lebih penting, dan ayah Arief merasa bahwa mereka harus memikirkan keselamatan mereka sendiri.
“Arief memiliki potensi untuk berkontribusi. Dia bisa menjadi bagian dari kelompok ini.” Kata Mei yang penuh tekad.
Akane menggertakkan giginya, menandakan dia juga sudah punya keputusan bulat yang tidak bisa diganggu.
“Kita tidak bisa membawa beban yang tidak produktif.”
Ayah Arief menggenggam kedua tangannya, ingin mengakhiri pembicaraan ini
“Kita harus berfokus pada bertahan hidup kita sendiri.” Kata Kaito sembari mengangkat tangan sebagai tanda damai. “Mari kita jangan lupa bahwa kita semua di sini bersama-sama. Kita perlu menemukan kompromi yang baik bagi semua pihak.”
Saat mata mereka saling berpandangan, keputusan harus diambil. Pertanyaan mengemuka: apakah Arief layak untuk diselamatkan? Di tengah keadaan yang semakin genting, mereka harus menemukan jawaban yang mungkin akan membentuk takdir mereka semua.
Lalu, apa kalian menganggap diskusi mereka sudah selesai? Atau malah penasaran, bagaimana cara mereka sudah sembumyi dari kawanan mayat hidup? Kalau gitu dengarkanlah lanjutannya. Siapa tau kalian dapat mengungkap rahasia dan alasan Mei, serta sikap ayahnya Arief di dalamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments