Hari berikutnya, matahari terbit dengan sinar cerah di atas kampus yang ramai. Arief terbangun dari tidurnya dengan perasaan campur aduk. Semalam, perasaan kekecewaan dan frustrasi masih menghantuinya, tetapi ia juga merasa semakin penasaran tentang rahasia yang tersimpan di balik hubungan antara ayahnya, Mei, dan dirinya sendiri.
Saat Arief melangkah keluar dari kamarnya, pikirannya langsung terarah pada kejadian malam sebelumnya. Ia merasa bahwa ada begitu banyak informasi yang disembunyikan darinya, dan itu membuatnya semakin bertekad untuk mencari jawaban.
Di kampus, Arief menuju ke ruang kuliahnya dengan perasaan campur aduk. Dia berharap bisa bertemu Mei lagi dan berbicara dengannya. Saat dia tiba di kelas, tatapannya langsung tertuju pada sosok yang duduk di depan meja dosen.
“Selamat pagi, Arief. Kamu datang tepat waktu.”
Arief terkejut dan merasa sedikit gugup namun juga lega melihat Mei. Meskipun masih ada banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya, kehadiran Mei memberinya rasa kenyamanan.
“Selamat pagi, Mei. Aku... ingin berbicara dengamu.” Kata Arief dengan latah
Mei yang duduk menoleh ke Arief sambil tersenyum.
“Tentu, kita bisa bicara setelah kelas.”
Arief mengangguk sebagai jawaban, lalu ia duduk di bangku dan dimulainya pelajaran. Tetapi, pandangannya terus tertuju pada Mei di depan kelas. Dia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa Mei menyimpan banyak rahasia.
Ketika setengah pelajaran dimulai, Arief mendengarkan dengan setengah hati. Dia terus merenungkan apa yang harus ia katakan kepada Mei. Perasaan rasa ingin tahu yang kuat membuatnya merasa perlu untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
Setelah kelas selesai, Arief segera mendekati Mei yang tengah mengumpulkan buku-buku di mejanya.
“Mei, bolehkah aku bicara denganmu?” Kata Arief yang tidak sabar.
“Tentu saja, Arief. Mari kita pergi ke luar sebentar.”
Mereka berjalan keluar dari ruang kelas, menuju ke suatu tempat yang lebih tenang di kampus. Arief merasa detak jantungnya semakin cepat, tetapi dia memilih untuk tetap tenang dan terbuka.
“Mei, aku tahu ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku. Aku ingin tahu apa itu.”
Mei melihat Arief dengan mata lembut, dan dia bisa merasakan ketulusan dalam ekspresi wajahnya.
“Arief, aku mengerti perasaanmu. Dan kamu memiliki hak untuk tahu kebenaran.”
Arief mendengar yang diucapkan Mei sambil menahan emosi.
“Ayahku dan kamu... mengenal satu sama lain sebelumnya. Mengapa kamu tidak pernah memberi tahu aku?”
Mei berusaha untuk tenang, dengan lemah lembut berkata.
“Ini adalah cerita yang rumit, Arief. Ayahmu, aku, dan kamu... memiliki hubungan yang lebih dalam dari yang kamu tahu.”
Lantas, Arief bertanya dengan perasaan emosi.
“Apakah kamu bisa memberitahuku semuanya?”
Namun, sebelum Mei bisa memberikan jawaban, terdengar suara langkah kaki mendekat. Arief dan Mei berbalik, dan mereka melihat seseorang yang mendekat. Itu adalah seorang pria, memiliki wajah yang serius dan tatapan yang tajam.
“Maaf mengganggu. Namaku Kaito.” Lalu pria itu langsung menoleh ke Mei “Aku ingin bicara denganmu, Mei.”
Mei tampak terkejut, dan Arief merasa adanya ketegangan di udara. Dia merasa bahwa situasi ini semakin rumit dan membingungkan.
“(Siapa dia? Kenapa dia bisa pakai bahasa Indonesia? Dan mengapa dia ingin bicara dengan Mei?)” Pikir Arief dalam kepalanya.
Kaito, pria misterius yang tiba-tiba muncul di depan Mei dan Arief, memiliki aura yang membuat atmosfer menjadi tegang. Tatapan tajamnya menyapu di antara mereka, seolah-olah menganalisis situasi dengan cermat.
Lantas, apa kalian bisa menebak apa yang dilakukan Kaito? Kalau begitu, dengarkan, siapa tau tebakan kalian benar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments