"Baiklah, aku ke depan yah... Yuk, Sum! Pindah ke depan," ajak Ningsih.
Mereka berdua berpindah tempat, dan Seojun pun mengalah pada akhirnya dan duduk sendirian dibelakang.
"Kalau tau begini, seharusnya aku tak membiarkan Somi mengajak gadis tengil itu! Tapi kalau aku melarangnya nanti dia kecewa denganku, hufth!" ujar Seojun dalam hati.
Dan benar dugaannya Seojun, Ningsih kesulitan menyesuaikan diri menggunakan setir kiri mobil itu. Beberapa kali Seojun mengarahkannya, dan beberapa kali juga mereka hampir kecelakaan.
"Ini mah sama kayak kursus mobil! Udah lu pindah aja gih, daripada kitanya telat dan pada koit kalau lu yang bawa mobilnya!" ujar Sumiatun, antara takut dan khawatir beda tipis.
"Kagak, harga diri gw di kemanain kalau gitu! Udah, tenang saja! Kita akan sampai pada tujuan, biar lambat asal selamat pokoknya!" sahut Ningsih masih dengan pedenya.
"Masalahnya itu istilah lu kagak kepakai disini, disini pakai sistem palli-palli alias cepet-cepet, Oneeeng..." ujar Sumiatun gemes.
"Bikeyo (minggir)!" sahut Seojun kesel juga dia.
"Sireoyo (gak mau)!" balas Ningsih malas pindah tempat duduk, sebenernya gengsi tapi gak mau mengakui kalau dia kesulitan sendiri.
"Aigoo, palli.. Kami bisa terlambat karenamu jika membawa mobil seperti itu!" ujar Seojun udah kesel sampai ke ubun-ubun.
"Dasar, blegug shia!" umpat Ningsih kesel.
"Mwarago (kau bilang apa)?" tanya Seojun tak mengerti.
"Aneoyo, gaja' ( gak ada, ayo pergi)!" jawab Ningsih cuek.
Sekarang Seojun kembali lagi ke setirnya dan Ningsih mau gak mau akhirnya duduk juga dibelakang sendirian, tau begitu kenapa pakai bedebat segala tadi. Ujung-ujungnya tetap aja Seojun yang bawa mobilnya dan Sumiatun duduk didepan juga akhirnya.
"Syialan, tau gini mending gw maraton nonton drakor daripada jadi obat nyamuk!" gumam Ningsih sendirian.
"Ning, lu gak apa kan?" tanya Sumiatun sambil noleh kebelakang.
"Kagak, noh liatin gebetan lu! Ntar marah dianya nanti," jawab Ningsih masih keki dia.
"Galak amat lu, lagian siapa juga yang jadi gebetan! Die bukan selera gw," ujar Sumiatun.
"Terus selera lu kayak siape? Si Hanif? Paling juga dia udah deket sama cewek lain sekarang, jangan percaya sama modal laki macam dia mah, yang deket aja dulu. Siapa tau jodoh," goda Ningsih.
"Kagak, bisa darah tinggi gw kalau sama dia. Emosi mulu kalau ngomong sama dia, tengil banget dia sama kayak lu!" balas Sumiatun.
"Eh, Sum.. Tau gak" Ningsih ingin membalas ucapan Sumiatun lagi.
"Kagak!" sahut Sumiatun cepat.
"Ish, belum juga selesai! Dengerin dulu, kata orang kalau ada laki atau wadon yang mukanye mirip sama saudara kita atau kelakuannya mirip sama saudara kita, bakalan jodoh tau! Hehe..." ujar Ningsih lagi, menggoda Sumiatun.
"Kalau gitu, lu jodoh tuh sama dia! Sama kelakuannya kayak bocil," sahut lagi Sumiatun.
"Lagian yang benar adalah kalau muka dua orang berlainan jenis mirip, biasanya jodoh. Nah, gw ama dia jangankan muka yang mirip sifat aja sangat jauh berbeda! Dia jadi laki gragasan banget, lah gw kan lembut gini.. Kagak cocok sama dia," sahutnya lagi.
"Apa, lembut?! Uhukk, uhukk! Kagak salah denger gw?! Lembut darimanenye, kalian berdua adalah tipe-tipe malu-malu meong, pura-pura gak mau tapi aslinya saling cakar, grrr..." ucap Ningsih sambil memperagakan kucing imut menggoda.
"Serah lu dah!" kata Sumiatun males menanggapi si Ningsih.
Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Ningsih ada benarnya juga tentang si Hanif, dalam hati sih ada sedikit perasaan yang dia pendam sama tuh laki, tapi dia juga sedikit bimbang dengan perasaannya sendiri, apa dia benar-benar menyukainya atau tidak.
"Huft, apa dia benar-benar bakalan nungguin gw gak yah?" gumamnya dalam hati.
Sementara Seojun dari tadi hanya diam menyimak pembicaraan mereka, sebenarnya dia tau sedikit dengan bahasa Indonesia, beberapa bulan terakhir sebelum keberangkatannya ke Indonesia dia pernah belajar bahasa Indonesia, agar bisa berkomunikasi dengan baik dengan karyawannya di sana.
Sebenarnya dia ingin sekali berbicara menggunakan bahasa Indonesia, tapi belum pede karena masih banyak kata-kata yang belum dia mengerti, dan susah dalam penyampaiannya.
"Sepertinya mereka sedang membicarakan seorang lelaki, siapa dia? Saudara, teman atau pacar?" gumamnya dalam hati, sambil sesekali melirik kearah Sumiatun.
Tidak lama kemudian, mereka sampai juga di sebuah rumah yang terletak di tengah taman kota, rumah yang indah dan sangat asri, dikelilingi beberapa pohon rindang, rumah itu bergaya seperti bangunan tua dimasa dinasti Joseon, sangat artistik sekali.
"Wah, daebak! Ini kalian beneran mau belajar disini, apa kalian sedang mempelajari sejarah Korea?" tanya Ningsih kagum.
Dia begitu sibuk memperhatikan di sekelilingnya, sehingga tak sadar jika Seojun dan Sumiatun sudah keluar meninggalkannya, kedua orang itu setengah berlari karena sudah sangat terlambat sekali.
Keduanya sedang menaiki tangga menuju bangunan diatasnya, sementara Seonho sudah menunggu mereka diatas bersama beberapa tenaga pengajar lainnya. Tatapan mata Seonho yang tajam dan mengintimidasi keduanya, seolah seorang raja yang siap memberikan hukuman kepada dua orang rakyat jelata.
"Berhenti! Kalian berhenti sampai di sana, kalau mau kesini kalian harus berjalan sambil jongkok, naiki tangganya dengan berjongkok! Palli.." ujar Seonho, vibes udah kayak raja memberikan perintahnya pada dua kasim yang menderita.
"Apa?! Sireoyo (gak mau)!" tolak Seojun tegas.
"Kalau gak mau maka akan aku tambahin lagi hukuman kalian yang datang terlambat," ujar Seonho sambil mengedipkan matanya kearah Sumiatun membuat Seojun gelagapan, untungnya anak itu tak melihat kelakuannya si Seonho.
"Baiklah, ayo Somi.. Biar cepat selesai, dan kita bisa langsung belajar" ajak Seojun lagi.
"Sebentar, huft... Aku ambil nafas dulu," ucap Sumiatun.
Kemudian keduanya menaiki anak tangga terbuat dari batu itu satu-persatu dengan berlahan, sesekali Seojun berhenti menunggu Sumiatun yang terlihat kelelahan, sebenarnya Seonho kasihan juga melihat mereka, tapi kapan lagi kan bisa mengerjai bos yang lagi bucin!
"Kalau kamu sudah gak kuat, jangan dipaksakan!" ujar Seojun merasa kasihan.
"Gak apa, aku kuat kok.." jawab Sumiatun sambil berusaha menaiki anak tangga itu.
~Kriiuukk!~
Suara senandung perut keroncongan terdengar jelas oleh Seojun, dan mungkin juga sama Seonho dan dosennya. Wajah Sumiatun memerah menahan rasa malunya, maklumlah dia kan gak makan banyak, ramyeon buatan si Ningsih tak cukup buat mengganjal perut kosongnya.
"Maaf, hehe... Tadi aku belum sempat makan malam, sorry" ucap Sumiatun, menunduk dan memalingkan wajahnya menahan rasa malu.
Seojun terlihat iba dan kasihan sekali melihat Sumiatun, kemudian dia menatap Seonho diatas anak tangga itu dengan tatapan tajam, Seonho juga merasa bersalah kemudian menghentikan hukumannya.
"Ya sudah, kalian naiklah! Kelamaan kalau menunggu kalian sampai disini, naiklah.." ucap Seonho pura-pura tak melihat lirikan tajamnya Seojun.
"Naiklah ke punggungku, akan aku gendong kamu sampai keatas" ujar Seojun kepada Sumiatun.
Gadis itu terkejut mendengar ucapannya Seojun, dia melihat kearahnya dan bertatapan langsung dengan Seojun, Sumiatun merasa ada sesuatu dimatanya Seojun, berkilauan dan begitu hangat saat ditatap.
"Astogeee, nyebut-nyebut! Masa iya secepat itu.." gumamnya menolak rasa.
"Ayo, naiklah!" ucap Seojun lagi, kali ini dia sudah memunggungi Sumiatun agar dia langsung naik dan mereka cepat pergi keatas.
"Astaga, aku cuma lapar saja bukan cidera! A-aku bisa berjalan sendiri, akh!" Sumiatun langsung berdiri begitu saja, kakinya yang kelamaan jongkok langsung kram dan hampir saja terpeleset jatuh.
"Hap! Untung saja aku sigap, kalau enggak kamu sudah menggelinding kebawah! Ayo naik, gak usah banyak alasan," ujar Seojun terlihat marah, dan dia juga khawatir.
"I-iya, maaf.." ucap Sumiatun merasa gak enak hati dianya.
Seojun hampir terkejut saat mengangkat tubuh Sumiatun, gadis itu terlihat kecil badannya tapi tak sesuai faktanya. Seojun merasa sedang menggendong karung beras muatan besar, saking beratnya si Sumiatun.
"Maaf, aku berat.." kata Sumiatun, sadar diri badannya berat.
"Gak apa, tapi kamu harus mengurangi sedikit makanmu... Tapi beneran kok, aku kuat! Gwenchana-gwenchana (tidak apa-apa)" ujar Seojun menenangkan Sumiatun, tapi gadis itu malah merasa tersindir, dia hanya mencibir kesal.
Sementara itu, Ningsih yang ditinggal sendirian didalam mobil celingukan mencari dua anak ilang itu, dia menggerutu kesal lalu keluar dari mobilnya dan berjalan-jalan disekitar area itu.
Dan pada saat itu juga, Seonho sedang menerima telpon dari atas melihat Ningsih berjalan-jalan sendirian dibawah, dia seperti melihat sosok lain di diri Ningsih, gadis itu penampilannya sangat berbeda dari biasanya.
Terlihat begitu cantik dan cute, Ningsih tampak menikmati pemandangan disekitar bangunan itu, cahaya lampu kuning taman itu membuat wajahnya semakin bersinar di pandangannya Seonho, udah kayak di drakor-drakor gitu, macam adegan favorit scene-nya si Ningsih gitu, dan gak taunya dia juga mengalaminya.
"Astaghfirullah! Alamak, kaget aing!" ujar Ningsih baru sadar dari tadi diperhatikan oleh Seonho dari atas.
Antara senang dan kesel sih, apa dia harus pura-pura gak liat aja dan membiarkan Seonho memperhatikannya terus, atau dia mulai caper lagi?
...----------------...
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments