Dia memegang satu tanganku dengan tangan kirinya dan tangan kanannya masih mengusap pipi kananku dengan lembut. Dia menjalankan jemarinya dari kening ke hidungku, ke pipi hingga ke bibirku. Matanya menatapku dengan intens ke arah bibirku. Aku tiba-tiba tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tenggorokanku terasa mengering.
Sopir Louis tampak terkejut melihat bosnya bersama seorang wanita berduaan dan menyentuh wanita itu dengan begitu intim, sama seperti setiap orang yang berpikir bahwa Bos mereka adalah seorang penyuka sesama jenis. Dia mencoba untuk fokus berkendara hingga mereka pun tiba di tujuan.
Aku dan Louis berpisah, aku keluar dari dalam mobilnya secepat mungkin.
Di dalam restoran...
"Jadi Hana, apa kau berkencan dengan seseorang?" Tanya Louis.
"Tidak." Balas ku.
"Bagaimana dengan mu?" Tanyaku.
"Tidak." Balasnya.
Aku tidak tahu kenapa aku malah bertanya tentang hal itu padanya.
"Apa yang kau pikirkan tentang cinta?" Pertanyaan ku itu mengejutkannya. "Tidak apa-apa jika kau tidak mau menjawab." Lanjut ku.
"Tidak... tidak... tidak apa-apa. Pertanyaan mu membuatku gugup. Sebenarnya aku tidak tahu apapun tentang cinta karena aku tidak pernah mengalaminya sekalipun." Ucapnya.
Ucapannya itu membuatku bingung. Aku ingin bertanya apa yang dia maksud, tapi aku tidak bisa melakukannya. Kami lalu mengobrol tentang banyak hal termasuk Projects yang kami kerjakan dan hal lainnya.
Makan siang pun berakhir dan kami kembali ke perusahaan untuk bekerja lagi.
...----------------...
Tiba di rumah....
Sekarang waktunya makan malam. Papa bertanya kepadaku, bagaimana pekerjaanku bersama Louis di perusahaan. Aku mengatakan kepada Papa bahwa semuanya baik-baik saja dan aku bisa bekerja di bawah tekanan perusahaan.
Malam harinya, saat aku hendak tidur tiba-tiba ponselku berdering. Aku menjawab ponselku melihat ke arah identitas pemanggil dan itu adalah sahabat, baikku Sonia.
Dalam kehidupanku yang sebelumnya, aku tidak pernah menghargai dirinya sebagai sahabat baikku karena dia seorang model yang berjuang begitu keras untuk karirnya dan aku bersikap begitu tinggi hati dan merasa menjadi orang yang paling kaya. Jadi aku berpikir bahwa dia merasa beruntung memiliki seseorang sepertiku.
Ironisnya dia malah bisa mengembangkan karirnya saat aku memutuskan hubungan pertemanan dengannya. Dia selalu ada untuk membimbingku. Dia selalu ada di sana untuk menghentikan aku dari menjahati Mira. Tapi aku tidak pernah mendengarkannya. Aku merusak pertemanan ku dengannya menggunakan kata-kata yang kasar.
Bahkan sampai akhir hanya dia yang mencoba untuk menghubungiku saat tidak ada orang yang bersamaku bahkan teman-teman yang bermuka dua itu. Kali ini aku akan menghargai persahabatan kami.
Aku lalu menjawab panggilan darinya.
"Hai Hana, apa kabarmu?" Ucap Sonia.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Kapan kau akan kembali ke kota ini?" Balas ku.
"Aku baik-baik saja Hana. Aku akan kembali besok. Pekerjaanku di sini hampir selesai. Sangat sulit menemukan pekerjaan di dunia glamor ini. Para orang-orang ini hanya tahu untuk tidur. Dasar brengsek." Ucap Sonia.
"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Tetaplah bekerja sesuai dengan apa yang kau suka. Takdir tidak akan mengkhianati setiap usahamu." Ucapku.
"Iya Hana. Aku juga berharap seperti itu. Aku punya sebuah ide, kenapa aku tidak merekomendasikan dirimu kepada bos ku sebagai seorang model untuk produk baru di perusahaan kami yang akan segera launching." Ucapku.
"Bos? Bukankah kau bekerja dengan Papamu? Apa yang terjadi, aku bingung." Ucap Sonia.
"Aku akan mengatakan kepadamu semuanya besok saat kita bertemu." Balas ku.
"Baiklah kalau begitu, selamat tinggal. Sampai bertemu besok." Ucap Sonia.
"Iya." Balas ku.
Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
yudi
💐💐💐
2023-06-12
1
Yuli Yanti
❤️❤️❤️
2023-06-12
1