"Saya yang akan melamar Jamilah!. Dua Minggu dari sekarang saya akan menikahi Jamilah!. Saya akan berusaha untuk membahagiakan putri Emak sama Bapak." Ucap Emir dengan tegas disertai tidak ada keraguan sedikit pun dalam ucapannya. Emir menoleh pada Jamilah yang menundukkan kepala, menghapus air mata yang tidak mau berhenti.
Ya, Emir sudah memantapkan pilihannya pada Jamilah. Melupakan posisi Arkam dan Tiffani saat ini, sementara waktu, untuk menghapus air mata keluarga wanita yang dianggapnya tidak menarik. Sebab tidak berselang lama, dari ia mendengar suara tawa pihak keluarga Jamilah seketika berubah menjadi tangis kesedihan, saat pihak keluarga Pak Teguh meminta untuk merayakan kembali pernikahan Jamilah dan Pak Teguh di kota B. Kota kelahiran Pak Teguh, dengan biaya yang sangat besar pula. Bahkan keluarga Pak Teguh sudah menentukan biaya yang harus dikeluarkan oleh keluarga Jamilah.
Keluarga Pak Teguh sudah keluar dari rumah Jamilah saat Emir datang dan mengucapkan dengan lantang kalau dirinya lah yang akan melamar Jamilah di hadapan mereka semua.
Hening seketika usai Emir mengutarakan maksud dan tujuannya. Sampai Jamilah dengan berani menatap mata elang itu.
"Terima kasih banyak atas bantuan Pak Emir pada keluarga kami. Untuk tidak membuat wajah kami malu dihadapan mereka. Sekali lagi terima kasih." Ucap Jamilah dengan mata sedikit sembab.
"Saya serius dengan apa yang saya ucapkan untuk menikahi mu, waktu dua Minggu yang saya minta untuk mengurus semua administrasi kita. Saya akan menikahi mu!." Emir kembali menegaskan apa yang ucapkan sambil menatap lekat wajah Jamilah yang tidak biasanya.
"Ini sebagai tanda saya mengikat mu!." Emir menyerahkan satu set perhiasan berlian kehadapan Jamilah. Jamilah mengingat setiap detik dari mimpinya itu, apa iya Emir jodohnya?.
"Dan Uang ini sebagai bukti kesungguhan saya untuk minta Jamilah pada Emak dan Bapak." Emir menyerahkan lima gepok uang pecahan 100rb dihadapan Emak dan Bapak.
"Besok saya akan membawa orang tua saya yang masih ada, untuk melamar Jamilah secara resmi." Lagi-lagi Emir sudah mempersiapkan semuanya dengan begitu matang.
Emir menatap ketiganya yang tidak bergeming dengan apa pun yang diucapkannya atau yang diberikannya.
Emir tersenyum simpul, menyadari kekagetan mereka yang tidak mengenal dirinya sama sekali. Yang datang dengan tiba-tiba langsung meminang putri mereka. Hanya Jamilah saja yang sudah tahu dirinya Ayah dari Alexander, salah satu muridnya. Sedangkan Emak dan Bapak belum mengetahui apa pun tentangnya.
"Baiklah saya perkenalkan diri terlebih dulu. Saya Fahreza Emir Wijaya Santoso. Usia 37 Tahun, pekerjaan seorang pebisnis, status saya duda dengan dua orang anak. Anak pertama saya Alexander yang menjadi anak didik Jamilah, yang kedua Joy tapi saat ini Joy sedang ada di luar negeri. Ayah saya Utomo Santoso."
Emak dan Bapak menatap wajah pria yang berstatus duda itu.
"Saya mengenal Jamilah dari putra saya yang pernah datang kesini bahkan pernah tidur disini." Emir menjawab rasa penasaran mereka, itu yang Emir tangkap dari tatapan keduanya.
Emak dan Bapak terlihat mengangguk- anggukan kepala sebagai tanda mengerti. Lalu mereka menatap Jamilah yang ternyata sedang menatap kearah mereka.
"Emak dan Bapak berharap, kalau kamu mau menerima lamaran ini. Kalian bisa saling mengenal setelah menikah." Emak tidak akan pernah membuang kesempatan sedikit pun, yang belum tentu akan datang dua kali pada hidup putrinya. Tidak ingin mendengar lagi hinaan yang terus menerus dialamatkan pada putri pertamanya.
Pun dengan Jamilah. Tidak ingin mengecewakan setiap doa dan usaha Emak sama Bapak, maka Jamilah menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah" Ucap Emak, Bapak dan Emir bersamaan.
.
.
.
Ibu Zahra yang kedapatan mengajar di kelas Alexander saat satu jam terakhir menuju pulang. Memberikan materi Matematika yang biasanya diberikan oleh Jamilah. Alexander sedikit tidak bersemangat saat mengikuti pelajaran.
"Baru kemarin izin, sekarang enggak masuk lagi." Gerutu Alexander dengan suara pelan. Tapi masih bisa mendengarnya dengan baik.
"Mungkin ibu guru Jamilah sedang ada keperluan." Bisik Tari.
Alexander menatap Tari dengan wajah datar. "Memang kamu tahu aku sedang membicarakan Ibu guru Jamilah?."
Tari mengangguk paham, "Heemmm..."
Alexander menatap tidak suka kearah papan tulis. Dimana materi pembagian masih harus dipelajarinya.
Saat semua siswa sudah selesai mengerjakan materi itu dan kini mulai mengerjakan tugas. Sedangkan Alexander kembali sibuk dengan ponselnya.
Ibu Zahra kembali kedalam kelas saat ia sudah selesai meneguk air minum karena haus.
Matanya langsung tertuju pada Alexander yang sedang asyik bermain ponsel dengan beberapa temannya seperti, Tono, Agus, Lili dan Iwan.
"Ada apa ini?. Kenapa kalian ada di bangku Alexander?." Tanya Ibu Zahra sambil meminta mereka untuk kembali duduk ditempatnya masing-masing.
Ibu Zahra masih berdiri didekat Alexanddr yang tidak mengindahkan tegurannya. Lalu Ibu Zahra membuka buku tulis Alexander kemudian menggelengkan kepala.
"Alexander!. Buku tulis mu masih kosong?, kenapa bisa begitu?. Kamu tidak mengerjakan tugas dari Ibu?. Bahkan kamu tidak menyalin materinya." Saat bicara panjang lebar seperti itu Alexander tidak menghiraukan Ibu Zahra.
"Sekarang ibu minta matikan ponsel mu!." Ucap Ibu Zahra tegas tidak terbantahkan.
Alexander mematikan ponsel lalu menyerahkannya pada Ibu Zahra.
"Ibu guru boleh menghukum ku sesuka hati Ibu. Tapi jangan pernah minta ku untuk menyalin dan mengerjakan hal yang tidak aku sukai." Ucap Alexander dengan kedua tangan di atas meja.
"Ini bukan suka atau tidak suka Alexander!. Tapi kamu harus paham dan menguasainya. Kalau kamu tidak bisa, bagaimana nanti kamu mengerjakan soal saat ujian?." Ibu Zahra memberikan penjelasannya.
Alexander menggeleng, tetap pada pendiriannya. Kalau ia tidak ingin mengerjakan apa pun tentang materi pembagian.
Ibu Zahra hanya mampu mengelus dada sambil memberikan kembali ponsel milik Alexander.
Setelah beberapa lama, semua siswa-siswi sudah pulang. Menyisakan hanya Alexander dan Ibu Zahra serta Bapak kepala sekolah di ruang guru. Menunggu kedatangan Daddy Emir Dan Jamilah.
.
.
.
Sebelum meninggalkan rumah, Jamilah membawa semua berkas yang diminta Emir untuk kebutuhkan pendaftaran mereka ke KUA. Emir tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, terlebih ia ingin menunjukkan keseriusannya.
Selama dalam perjalanan keduanya tidak ada yang berbicara, hanya Emir sesekali mencuri pandang pada Jamilah.
Kenapa Jamilah bisa ikut bersama Emir sekolah?. Pertama Bapak kepala sekolah yang memintanya, kedua Jamilah ingin mengambil sepeda motornya yang ditinggal kemarin disekolah.
"Tadi saat di rumah mu, saya udah memperkenalkan diri. Sekarang giliran kamu?." Emir membuka obrolan guna mengusir kecanggungan diantara keduanya.
Jamilah tetap fokus pada jalanan didepannya,
"Nama saja Jamilah Putri Wulandari. Usia 34 Tahun, pekerjaan sebagai tenaga pengajar SD, saya anak pertama dari enam bersaudara." Jawab Jamilah dangan suara yang begitu lembut. Hingga tanpa disadarinya, Emir sangat menyukai suara Jamilah.
Emir tersenyum tipis tapi tetap fokus pada kemudinya.
"Kira-kira apa yang diperbuat Alexander hingga kita sebagai orang tuanya dipanggil ke sekolah seperti ini?." Tanya Emir saat keduanya keluar dari mobil. Jamilah hanya menggeleng lemah, sebab ia pun tidak tahu kenapa Pak Ginanjar memintanya datang ke sekolah.
Sampai di ruang guru, terlihat Alexander fokus pada ponselnya, dimana ia sedang bermain game online. Sementara Pak Ginanjar dan Ibu Zahra sedang berbincang.
"Assalamu'alaikum...Pak kepala sekolah, Ibu Zahra, Alexander." Jamilah mengucapkan salam pada ketiganya saat masuk kedalam ruangan.
"Wa'alaikumsalam...Ibu guru Jamilah." Jawab keduanya. Alexander sendiri menghampiri sang Daddy yang berdiri di samping Jamilah.
Kini semuanya sudah duduk dengan saling berhadapan satu sama lain. Hanya Alexander yang sedikit jauh dari para orang dewasa tapi tetap dalam pengawasan mereka. Dan Pak Ginanjar yang pertama kali membuka obrolan mereka, menyampaikan maksud dan tujuannya kenapa orang tua wali dari Alexander untuk datang. Yang dikiranya jika Kakek Utomo lah yang akan datang, tapi ini melainkan ayah kandung dari Alexander sendiri.
Dilanjutkan dengan Ibu Zahra yang menjelaskan secara detail apa yang terjadi pada Alexander di dalam kelas selama jam pelajaran berlangsung.
"Bagaimana Ibu guru Jamilah?. Apa sebelumya Alexander seperti ini?." Tanya Pak Ginanjar.
Emir menatap wajah teduh Jamilah yang akan berbicara. Jamilah pun menjelaskan pengalaman pertamanya mengajar Alexander yang kebetulan mendapatkan materi pembagian. Tapi Jamilah tidak memaksanya, masih bisa mengajarinya nanti saat diluar sekolah. Tapi nyatanya baik dirinya atau Alexander belum menemukan waktu yang tepat untuk belajar materi tersebut.
"Apa Alexander memiliki catatan tersendiri Pak Emir mengenai materi pelajaran itu, dari sekolah sebelumya?." Kini Pak Ginanjar menanyai Emir.
Meski Emir sedikit kesusahan untuk menjawab, sebab ia sedikit pun tidak tahu kegiatan atau kejadian apa saja yang sudah terjadi disekolah sebelum-sebelumnya. Karena hanya keonaran dan keributan yang diketahuinya sampai harus keluar masuk sekolah. Tapi ia dengan bijak memberikan alasannya.
"Selama ini setahu saya, Alexander tidak memiliki masalah dengan nilai akademisnya. Semuanya selalu bagus, tapi mungkin kalau sekarang ia menemukan cara yang baru lagi. Jadi Alexander agak sedikit kesusahan dalam mempelajarinya."
Jamilah tidak menceritakan semua yang diketahuinya tentang Alexander. Biar lah itu ia bicarakan dengan Emir saja nanti. Tidak enak kalau sampai harus membaginya dengan yang orang lain.
"Oh begitu, mungkin bisa jadi seperti itu. Jadi Alexander lebih cendrung tidak mau mencobanya sama sekali saat mengetahui tingkat kesulitannya." Pak Ginanjar setuju dengan alasan yang diberikan Emir.
Jamilah dan Ibu Zahra mengangguk paham.
Sebelum pulang, Pak Ginanjar meminta Jamilah untuk meluangkan waktu supaya bisa mengajari Alexander dengan private supaya tidak ada pelajaran yang ketinggalan oleh Alexander.
"Baik Pak kepala sekolah, akan saya usahakan." Jawab Jamilah.
Mereka pulang dengan membawa kendaraanya masing-masing. Tapi sebelum itu Emir menghampiri Jamilah yang sudah menyalakan mesin motornya.
"Nanti malam saya akan ke rumah mu lagi, untuk membicarakan beberapa hal." Ucap Emir tanpa meminta persetujuan Jamilah terlebih dulu. Sehingga Jamilah pun mengangguk. Lalu Emir kembali masuk kedalam mobil setelah Jamilah mengucapkan salam.
"Dah ibu guru Jamilah..." Alexander melambaikan tangan saat Jamilah melintas di depan mobil mereka.
"Dah Alexandr..." Jamilah membalas lambaian tangan Alexander. Dimana Emir juga ikut melambaikan tangan serasa Jamilah melambaikan tangan padanya juga.
"Kenapa Daddy ikut melambaikan tangan pada ibu guru Jamilah?." Alexander menatap intens Daddy Emir. Sampai Daddy Emir dibuat salah tingkah dengan pertanyaan anaknya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Wiwit Wilowati
mgkin Arkan yg mo lamar Jamilah dulu..dan Tiffany perempuan yg ngaku sudah hamil anak yg mo lamar Jamilah.
😇😇
2024-05-25
3
Retno Anggiri Milagros Excellent
Jamilah sekarang calon ibumu Alexander hehe 🤭😍😂
2024-05-18
1
Sugiharti Rusli
apa Arkam yang dulu pernah mau melamar Jamilah yah
2024-04-29
2