Bab 20 Wanita Pelangkah

"Kalau pun kamu tidak salah, tidak seharusnya juga kamu menyakiti mereka yang tidak memiliki ilmu bela diri seperti mu. Itu sama saja dengan kamu menindas kaum yang lemah. Cukup saja kamu menghindar dan segera minta pertolongan pada ibu atau bapak guru atau Pak penjaga yang bertugas. Dan kamu juga jangan bersikap tidak sopan pada Pak kepala sekolah seperti tadi. Terlebih didepan murid-murid yang lain. Itu sangat sangat tidak baik." Ceramah Jamilah panjang lebar, tapi entah kenapa Alexander begitu senang mendengarnya.

"Aku hanya ingin memberi mereka pelajaran saja, karena sudah berani menindas ku. Dikira mereka aku lemah, belum tahu saja ilmu bela diri ku sudah sabuk hitam." Aku Alexander begitu sombong sambil menepuk dadanya berulang kali.

"Nanti kamu minta maaf pada Pak kepala sekolah untuk sikap mu yang sangat arogan." Jamilah mesem-mesem sendiri melihat Alexander yang meniru ucapannya supaya meminta maaf pada Pak kepala sekolah.

"Ibu tahu kenapa aku bisa bersikap arogan seperti ini?." Tanyanya pada Jamilah yang spontan mendapatkan jawaban dengan gelengan kepala dari Jamilah.

"Tuh orangnya baru datang." Tunjuk Alexander pada Daddy Emir yang baru datang ke kamarnya.

"Jadi bagaimana Alexander?, kau bikin ulah apa lagi tadi saat disekolah?. Kakek mu saja sampai kau buat pusing." Omel Daddy Emir sembari mendaratkan bokongnya pada kasur empuk milik Alexander.

Alexander menggeleng beberapa kali sebagai tanda ia tidak ingin berbicara lagi dengan Daddy nya. Dengan alasan untuk menghindari pertengkaran yang bisa lebih hebat dari tadi.

"Kan sekarang ada ibu yang akan memisahkan kita, kalau kita akan berakhir dengan bertengkar hebat nantinya." Balas Daddy Emir dengan entengnya menatap Jamilah yang sedang menatapnya.

"Dikira saya wasit harus menengahi kalian berdua." Jamilah bangkit dan hendak meninggalkan keduanya. Tapi dengan cepat Alexander menahan tangan kanan Jamilah dan Daddy Emir menahan tangan kiri Jamilah.

"Siapa yang akan ibu lindungi dan bela kalau aku dan Daddy bertengkar hebat." Jamilah melihat cekalan ayah dan anak itu begitu kuat pada tangannya.

"Keduanya akan ibu lindungi dan bela. Karena saat ini kalian berdua orang terpenting dalam hidup ibu." Jawaban Jamilah sungguh mengenai hati keduanya. Tapi Emir menahan sekuat tenaga untuk tidak memeluk Jamilah, jadi ia membiarkan Alexander yang menarik Jamilah dan memeluknya Erat.

"Aku merasa diriku berharga saat didekat mu, ibu." Tiba-tiba saja Alexander menangis dan mengeluarkan air matanya.

"Tapi aku juga ingin Mommy Isyana ditemukan. Aku ingin bilang padanya kalau aku sangat merindukannya." Tangis Alexander semakin pecah kala menyebut Mommy Isyana.

"Kita akan mencarinya bersama-sama." Balas Jamilah mengusap punggung Alexander.

Emir semakin kelu saat Jamilah akan membantu Alexander untuk menemukan Isyana. Bukan saja sebagai istri baginya dan ibu bagi Alexander, tapi merupakan malaikat yang hadir dalam hidup mereka berdua yang membawa kedamaian dan ketentraman.

.

.

.

Saat Jamilah keluar dari kamar mandi, Emir sedang berbicara ditelepon dengan seseorang. Jamilah tidak ingin tahu dan ikut campur dengan yang bukan menjadi urusannya. Jamilah sengaja lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan merapikan belanjaan yang belum sempet dirapikan.

Mengetahui Jamilah sudah keluar dari kamar mandi, Emir menghampiri dan duduk didepan Jamilah.

"Apa tidak berlebihan jika kamu ingin membantu Alexander untuk menemukan Mommy nya?."

"Saya rasa tidak. Hal yang wajar jika seorang anak sangat merindukan ibu nya apalagi itu ibu kandungnya, masih ada pula." Jawab Jamilah seketika menghentikan aktifitasnya.

"Memangnya apa yang terjadi dengan Mommy Isyana?, jika boleh aku tahu?." Jamilah menatap serius wajah Emir.

"Saya tidak ingin membahas itu untuk sekarang." Emir menghindari tatapan Jamilah yang sangat tajam sampai mengenai hatinya.

"Apa saja yang Alexander katakan tentang Isyana?." Emir mengeluarkan ponsel dan mengabaikan Jamilah.

"Tidak ada." Jamilah segera pergi dari hadapan Emir yang asyik bermain ponsel. Padahal sebenarnya Emir sedang mengalihkan perasaan dan hatinya dari sosok Jamilah.

"Kamu mau kemana?." Baru Emir menatap Jamilah lagi.

"Tidur, sudah malam." Jawab Jamilah menaiki kasur empuknya.

Emir mendekati Jamilah, ia melupakan kalau ia tidak ingin sampai terlalu dekat dangan Jamilah untuk urusan rumah tangganya, tapi entah lah malam ini.

"Kamu nyaman, tidur dengan pakaian seperti sekarang ini?." Jamilah dangan cepat mengangguk. Dan segera merebahkan tubuhnya.

Emir pun ikut mengangguk dan segera bangkit dari tempat tidur Jamilah.

"Selamat malam." Ucap Emir.

"Selamat malam." Balas Jamilah.

Sementara itu di dalam kamar Alexander, saat ini Alexander tidak bisa memejamkan matanya. Ia mengingat beberapa tahun silam, apa saja yang masih menempel dalam memori ingatannya. Mommy Isyana begitu baik, perhatian, penuh kasih sayang. Tapi tiba-tiba menjadi murung, pendiam, lebih sensitif, tidak boleh tersinggung sedikit pun. Tapi Alexander tidak tahu dengan perubahan sang Mommy yang terjadi dengan begitu cepatnya. Sampai mulai perlahan Alexander tidak bisa menemukan Mommy Isyana di setiap sudut rumahnya.

Alexander bangun dan segera keluar dari dalam kamar, tanpa berpikir panjang lagi ia langsung mengetuk pintu kamar Daddy Emir.

"Ibu...Ibu...Ibu..." Panggil Alexander.

Daddy Emir yang belum tidur pun langsung membuka pintu sebelum Jamilah bangun karena ulah putra nya

"Ada apa kau memanggil istri ku?." Usai pintu dibuka, Alexander langsung saja naik keatas tempat tidur, bergabung dengan Jamilah yang membelakanginya.

"Kau apa-apaan mengambil posisi ku dengan tidak sopan?." Daddy Emir menarik selimut yang sudah menutupi Alexander.

"Tempat ini kosong jadi siapa saja boleh mengisinya." Alexander tidak mau kalah, ia kembali menutupi tubuhnya.

"Tidak bisa begitu Alexander!. Kalau pun tempat ini kosong bukan berarti kau boleh menempatinya dengan sesuka hati. Tetap saja itu posisi ku sebagai suami dari ibu mu." Daddy Emir kembali menarik selimut dangan cukup kuat sampai selimutnya terjatuh ke atas lantai.

Jamilah menoleh kebelakang, dimana Emir dan Alexander sudah berada dibelakangnya.

"Kalian berdua sedang apa?, apa yang kalian ributkan?. Berisik sekali." Jamilah bangun dan memilik untuk duduk di kursi saja.

"Daddy menganggu tidur ku saja Bu." Adu Alexander menunjuk Daddy Emir. Tatapan Jamilah pun berpindah pada Daddy Emir.

"Kenapa?." Tanya Jamilah melihat tatapan Emir yang tidak biasanya.

"Aku tidak suka saja kalau anak ingusan ini mengambil posisi ku di tempat tidur ini?." Emir persis seperti anak kecil yang sedang berebut permen tidak ingin mengalah sebelum permen itu ada ditangannya.

Bola mata Jamilah membulat seketika, ada apa dengan suaminya itu?. Sangat terlihat aneh.

"Ish tadi tempat tidur disebelah Ibu kosong. Jadi apa salah kalau aku langsung menempatinya?." Jamilah menggeleng dengan cepat. Hingga Emir dibuat melongo.

"Tapi kan itu tempat ku!." Daddy Emir sudah mulai meninggikan suaranya. Tatapnya Jamilah masih belum berpaling dari mereka yang sedang merebutkan tempat tidur.

"Tadi tadi kosong Dad, aku bebas siapa pun bisa mengisinya." Teriak Alexander.

"Stop!." Jamilah berdiri dan berjalan hendak membuka pintu, tapi sebelum itu ia kembali membalik badan dan berbicara pada keduanya.

"Kalian berdua silakan tidur ini. Ibu mau tidur di kamar Alexander saja."

"Mana bisa begitu." Protes Emir dan Alexander bersaman dan menghampiri Jamilah. Emir bergerak cepat untuk mengunci pintunya supaya Jamilah tidak bisa keluar.

"Terus bagaimana kita bisa tidur ditempat tidur kecil itu?." Jamilah frustasi juga lama kelamaan menghadapi sikap menyebalkan Emir dan Alexander.

Alexander dan Emir membawa Jamilah unyuk duduk dipinggir ranjang.

"Ibu tidur ditengah, biarkan kami yang akan melindungi mu." Ucap Alexander santai. Tidak tahu saja jantung Emir sudah berdetak sangat kencang, membayangkan dirinya akan tidur satu ranjang dengan Jamilah.

"Iya kan Dad?." Emir langsung mengangguk patuh menjawab pertanyaan Alexander walau dengan perasaan bimbang.

Alexander menarik tangan Jamilah supaya ikut merebahkan tubuh seperti yang sudah dilakukannya. "Ayo kita tidur Bu, besok aku sekolah."

Jamilah ikut merebahkan tubuhnya di samping Alexander, sedangkan Emir menatap keduanya.

"Ayo Dad, tidur juga. Aku sudah tidak memiliki tenaga untuk meladeni mu." Ucap Alexander dengan mata yang sudah terpejam.

"Iya Boy." Jawabnya lirih.

Emir tidak bisa memperlebar jarak diantara dirinya dan Jamilah, karena memang tempat tidurnya hanya berukuran standar.

Sambil menahan nafas Emir berhasil merebahkan tubuhnya di samping Jamilah.

Matanya terpejam, tapi tidak dengan pikirannya hidungnya yang masih bekerja. Membayangkan sosok Jamilah tanpa busana apa pun, hingga ia bisa melihat dan memandanginya dengan jelas. Aroma yang tercium dari balik hijab Jamilah sangat sungguh wangi, menusuk indera penciumannya.

"Bagaimana aku bisa tidur bila seperti ini?." Gerutu Emir dalam hati. Sangat menyesali pertengkarannya bodohnya bersama Alexander jika pada akhirnya ia harus membayangkan Jamilah seperti ini.

.

.

.

Keesokan paginya...

Alexander dan Emir sudah terbangun saat Jamilah merapikan mukena dan sajadah.

"Ibu sudah minta pada Tuhan untuk membawa Mommy Isyana pada ku?." Tanya Alexander sambil mengucek mata.

Jamilah membuka gorden dan jendela kamarnya, supaya udara segar pagi hari masuk.

"Bagaimana kalau kamu minta juga pada Tuhan, supaya Tuhan bisa cepat mengabulkannya." Jawab Jamilah.

"Aku tidak bisa melakukannya!." Balas Alexander sambil bangun dan meminta Jamilah untuk duduk di sofa bersamanya.

"Apa ibu yakin, kalau Tuhan akan mendengarkan doa anak bandel seperti ku?." Alexander memang wajah sendu. Sebenarnya ada keinginan untuk melakukan apa yang dikatakan Jamilah, tapi sangat mustahil jika mengingat dirinya yang selalu membangkang dan membuat ulah. Apa iya Tuhan akan sayang dan mengabulkan permintaannya?.

"Hem pastinya. Perlahan kamu akan bisa melakukannya dan secara perlahan pula kamu akan terbiasa mengerjakannya. Tapi memang ujiannya sangat berat. Jadi kamu harus menunjukkan kesungguhan mu dan terus bersungguh-sungguh kalau Tuhan belum memberikan apa yang kamu inginkan. Berarti kamu harus bersabar lagi dan tetap yakin." Jawab Jamilah memberikan semangat pada Alexander untuk mulai belajar dekat dengan Gusti Alloh. Tanpa harus memaksanya.

"Aku akan berusaha dengan sungguh-sungguh." Alexander mencium pipi Jamilah dan mengusapnya.

"Terima kasih ibu." Alexander segera keluar dari kamar mereka, akan bersiap untuk berangkat sekolah.

"Saya tidak ingin kamu memberikan harapan apa pun pada Alexander." Ucap Emir tidak suka sembari masuk ke dalam kamar mandi lalu menutup pintunya cukup kencang.

"Astagfirullah" Jamilah mengelus dada.

Terpopuler

Comments

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

Jamilah ga pernah mendikte Alexander yah, makanya dia merasa nyaman berkeluh-kesah sama dia,,,

2024-04-29

0

s4msl Huda

s4msl Huda

yuli

2024-05-08

0

Yani

Yani

Ansk sama ayah bersaing

2023-12-10

3

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Wanita Pelangkah
2 Bab 2 Wanita Pelangkah
3 Bab 3 Wanita Pelangkah
4 Bab 4 Wanita Pelangkah
5 Bab 5 Wanita Pelangkah
6 Bab 6 Wanita Pelangkah
7 Bab 7 Wanita Pelangkah
8 Bab 8 Wanita Pelangkah
9 Bab 9 Wanita Pelangkah
10 Bab 10 Wanita Pelangkah
11 Bab 11 Wanita Pelangkah
12 Bab 12 Wanita Pelangkah
13 Bab 13 Wanita Pelangkah
14 Bab 14 Wanita Pelangkah
15 Bab 15 Wanita Pelangkah
16 Bab 16 Wanita Pelangkah
17 Bab 17 Wanita Pelangkah
18 Bab 18 Wanita Pelangkah
19 Bab 19 Wanita Pelangkah
20 Bab 20 Wanita Pelangkah
21 Bab 21 Wanita Pelangkah
22 Bab 22 Wanita Pelangkah
23 Bab 23 Wanita Pelangkah
24 Bab 24 Wanita Pelangkah
25 Bab 25 Wanita Pelangkah
26 Bab 26 Wanita Pelangkah
27 Bab 27 Wanita Pelangkah
28 Bab 28 Wanita Pelangkah
29 Bab 29 Wanita Pelangkah
30 Bab 30 Wanita Pelangkah
31 Bab 31 Wanita Pelangkah
32 Bab 32 Wanita Pelangkah
33 Bab 33 Wanita Pelangkah
34 Bab 34 Wanita Pelangkah
35 Bab 35 Wanita Pelangkah
36 Bab 36 Wanita Pelangkah
37 Bab 37 Wanita Pelangkah
38 Bab 38 Wanita Pelangkah
39 Bab 39 Wanita Pelangkah
40 Bab 40 Wanita Pelangkah
41 Bab 41 Wanita Pelangkah
42 Bab 42 Wanita Pelangkah
43 Bab 43 Wanita Pelangkah
44 Bab 44 Wanita Pelangkah
45 Bab 45 Wanita Pelangkah.
46 Bab 46 Wanita Pelangkah
47 Bab 47 Wanita Pelangkah
48 Bab 48 Wanita Pelangkah
49 Bab 49 Wanita Pelangkah
50 Bab 50 Wanita Pelangkah
51 Bab 51 Wanita Pelangkah
52 Bab 52 Wanita Pelangkah
53 Bab 53 Wanita Pelangkah
54 Bab 54 Wanita Pelangkah
55 Bab 55 Wanita Pelangkah
56 Bab 56 Wanita Pelangkah
57 Bab 57 Wanita Pelangkah
58 Bab 58 Wanita Pelangkah
59 Bab 59 Wanita Pelangkah
60 Bab 60 Wanita Pelangkah
61 Bab 61 Wanita Pelangkah
62 Bab 62 Wanita Pelangkah
63 Bab 63 Wanita Pelangkah
64 Bab 64 Wanita Pelangkah
65 Bab 65 Wanita Pelangkah
66 Bab 66 Wanita Pelangkah
67 Bab 67 Wanita Pelangkah
68 Bab 68 Wanita Pelangkah
69 Bab 69 Wanita Pelangkah
70 Bab 70 Wanita Pelangkah
71 Bab 71 Wanita Pelangkah
72 Bab 72 Wanita Pelangkah
73 Bab 73 Wanita Pelangkah
74 Bab 74 Wanita Pelangkah
75 Bab 75 Wanita Pelangkah
76 Bab 76. Wanita Pekangkah
77 Bab 77 Wanita Pelangkah
78 Bab 78 Wanita Pelangkah
79 Bab 79 Wanita Pelangkah
80 Bab 80 Wanita Pelangkah (Tamat)
81 Promo Novel baru Pernikahan Rahasia
82 Promo Novel baru Sebuah Pilihan
83 Promo Novel baru David dan Soleha
84 Bab 1 Season 2 : Wanita Pelangkah
85 Bab 2 Season 2 : Wanita Pelangkah
86 Bab 3 Season 2 : Wanita Pelangkah
87 Bab 4 Season 2 : Wanita Pelangkah
88 Bab 5 Season 2 : Wanita Pelangkah
89 Bab 6 Season 2 : Wanita Pelangkah
90 Bab 7 Season 2 : Wanita Pelangkah
91 Bab 8 Season 2 : Wanita Pelangkah
92 Bab 9 Season 2 : Wanita Pelangkah
93 Bab 10 Season 2 : Wanita Pelangkah
94 Bab 11 Season 2 : Wanita Pelangkah
95 Bab 12 Season 2 : Wanita Pelangkah
96 Bab 13 Season 2 : Wanita Pelangkah
97 Bab 14 Season 2 : Wanita Pelangkah
98 Bab 15 Season 2 : Wanita Pelangkah
99 Bab 16 Season 2 : Wanita Pelangkah
100 Bab 17 Season 2 : Wanita Pelangkah
101 Bab 18 Season 2 : Wanita Pelangkah
102 Bab 19 Season 2 : Wanita Pelangkah
103 Bab 20 Seosan 2 : Wanita Pelangkah
104 Promosi Novel Baru "Lala, Si OB Lugu
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Bab 1 Wanita Pelangkah
2
Bab 2 Wanita Pelangkah
3
Bab 3 Wanita Pelangkah
4
Bab 4 Wanita Pelangkah
5
Bab 5 Wanita Pelangkah
6
Bab 6 Wanita Pelangkah
7
Bab 7 Wanita Pelangkah
8
Bab 8 Wanita Pelangkah
9
Bab 9 Wanita Pelangkah
10
Bab 10 Wanita Pelangkah
11
Bab 11 Wanita Pelangkah
12
Bab 12 Wanita Pelangkah
13
Bab 13 Wanita Pelangkah
14
Bab 14 Wanita Pelangkah
15
Bab 15 Wanita Pelangkah
16
Bab 16 Wanita Pelangkah
17
Bab 17 Wanita Pelangkah
18
Bab 18 Wanita Pelangkah
19
Bab 19 Wanita Pelangkah
20
Bab 20 Wanita Pelangkah
21
Bab 21 Wanita Pelangkah
22
Bab 22 Wanita Pelangkah
23
Bab 23 Wanita Pelangkah
24
Bab 24 Wanita Pelangkah
25
Bab 25 Wanita Pelangkah
26
Bab 26 Wanita Pelangkah
27
Bab 27 Wanita Pelangkah
28
Bab 28 Wanita Pelangkah
29
Bab 29 Wanita Pelangkah
30
Bab 30 Wanita Pelangkah
31
Bab 31 Wanita Pelangkah
32
Bab 32 Wanita Pelangkah
33
Bab 33 Wanita Pelangkah
34
Bab 34 Wanita Pelangkah
35
Bab 35 Wanita Pelangkah
36
Bab 36 Wanita Pelangkah
37
Bab 37 Wanita Pelangkah
38
Bab 38 Wanita Pelangkah
39
Bab 39 Wanita Pelangkah
40
Bab 40 Wanita Pelangkah
41
Bab 41 Wanita Pelangkah
42
Bab 42 Wanita Pelangkah
43
Bab 43 Wanita Pelangkah
44
Bab 44 Wanita Pelangkah
45
Bab 45 Wanita Pelangkah.
46
Bab 46 Wanita Pelangkah
47
Bab 47 Wanita Pelangkah
48
Bab 48 Wanita Pelangkah
49
Bab 49 Wanita Pelangkah
50
Bab 50 Wanita Pelangkah
51
Bab 51 Wanita Pelangkah
52
Bab 52 Wanita Pelangkah
53
Bab 53 Wanita Pelangkah
54
Bab 54 Wanita Pelangkah
55
Bab 55 Wanita Pelangkah
56
Bab 56 Wanita Pelangkah
57
Bab 57 Wanita Pelangkah
58
Bab 58 Wanita Pelangkah
59
Bab 59 Wanita Pelangkah
60
Bab 60 Wanita Pelangkah
61
Bab 61 Wanita Pelangkah
62
Bab 62 Wanita Pelangkah
63
Bab 63 Wanita Pelangkah
64
Bab 64 Wanita Pelangkah
65
Bab 65 Wanita Pelangkah
66
Bab 66 Wanita Pelangkah
67
Bab 67 Wanita Pelangkah
68
Bab 68 Wanita Pelangkah
69
Bab 69 Wanita Pelangkah
70
Bab 70 Wanita Pelangkah
71
Bab 71 Wanita Pelangkah
72
Bab 72 Wanita Pelangkah
73
Bab 73 Wanita Pelangkah
74
Bab 74 Wanita Pelangkah
75
Bab 75 Wanita Pelangkah
76
Bab 76. Wanita Pekangkah
77
Bab 77 Wanita Pelangkah
78
Bab 78 Wanita Pelangkah
79
Bab 79 Wanita Pelangkah
80
Bab 80 Wanita Pelangkah (Tamat)
81
Promo Novel baru Pernikahan Rahasia
82
Promo Novel baru Sebuah Pilihan
83
Promo Novel baru David dan Soleha
84
Bab 1 Season 2 : Wanita Pelangkah
85
Bab 2 Season 2 : Wanita Pelangkah
86
Bab 3 Season 2 : Wanita Pelangkah
87
Bab 4 Season 2 : Wanita Pelangkah
88
Bab 5 Season 2 : Wanita Pelangkah
89
Bab 6 Season 2 : Wanita Pelangkah
90
Bab 7 Season 2 : Wanita Pelangkah
91
Bab 8 Season 2 : Wanita Pelangkah
92
Bab 9 Season 2 : Wanita Pelangkah
93
Bab 10 Season 2 : Wanita Pelangkah
94
Bab 11 Season 2 : Wanita Pelangkah
95
Bab 12 Season 2 : Wanita Pelangkah
96
Bab 13 Season 2 : Wanita Pelangkah
97
Bab 14 Season 2 : Wanita Pelangkah
98
Bab 15 Season 2 : Wanita Pelangkah
99
Bab 16 Season 2 : Wanita Pelangkah
100
Bab 17 Season 2 : Wanita Pelangkah
101
Bab 18 Season 2 : Wanita Pelangkah
102
Bab 19 Season 2 : Wanita Pelangkah
103
Bab 20 Seosan 2 : Wanita Pelangkah
104
Promosi Novel Baru "Lala, Si OB Lugu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!