"Bagaimana dengan pujaan hati kamu? Kok belum kenalkan pada kakek?" Tanya Mr. LG, kakek Marco yang pagi ini memberi kejutan dengan mendatangi GT Corp. Alhasil, semua dewan direksi kalang kabut menyambut kedatangan pendiri perusahaan tempat mereka mencari nafkah.
Berry, asisten setia kakek yang sudah 20 tahun ini mendampingi kakek selalu ada di sampingnya. Ya, Berry Indrawan, anak dari Benny Indrawan, asisten pertama kakek yang sudah pergi menghadap sang kuasa terlebih dahulu.
Benny yang merupakan sahabat baik Mr. LG, paling tahu lika liku perjalanan hidup pengusaha sukses itu. Maka, di akhir hidupnya ia meminta izin pada Mr. LG untuk menjadikan Berry, anak bungsunya, yang saat itu masih berusia 19 tahun sebagai asisten menggantikan dirinya. Benny akan merasa tenang jika ada orang yang dapat dipercaya untuk menjaga sahabatnya itu di hari tuanya. Maka, sudah 20 tahun ini Berry menjadi orang kepercayaan Mr. LG. Bahkan, laki-laki yang sudah dianggap sebagai ayahnya itu yang mengurus dan mendampingi Berry saat menikah dulu.
"Hari ini kakek membuat semua dewan direksi kalang kabut dengan kedatangan kakek." Celetuk Marco protes pada kakeknya. Ia tidak menjawab pertanyaan kakek tadi, malah mengomeli si kakek. Ia beranjak dari kursi kebesarannya dan berpindah duduk di samping kakek.
"Kok nggak bilang kalau mau berkunjung?" ujar Marco penasaran.
"Kalau bilang-bilang ya bukan surprise dong namanya." sahut kakek tertawa.
Marco mendengus kesal. Bukannya ia tak senang dikunjungi kakek, tapi gara-gara kedatangan beliau kantor megah itu menjadi heboh dan ribut. Karena seharusnya ia disambut oleh semua dewan direksi dan karyawan. Tapi, itu bukan sifat mr. LG. Ia bukan orang yang senang dipuja. Ia lebih suka merendah dan berbaur dengan karyawan.
"Bagaimana? Sudah ada perkembangan soal gadismu itu?" Desak Kakek masih penasaran dengan gadis yang sudah membuat Marco jatuh hati.
"Cih... kakek terlalu mau tahu soal itu." Cibir Marco meledek kakek. Ia bersandar panjang pada sofa dan menatap langit-langit ruangannya.
Kakek memukul pelan kaki Marco dengan tongkat tangannya.
"Kalau kamu lambat meluluhkan hatinya, kakek akan menikahkanmu dengan Valencia. Apalagi ayahnya sudah menghubungi kakek membicarakan tentang kelanjutan hubungan kalian." tukas kakek kesal atas sikap Marco yang dinilainya lambat dalam meluluhkan hati seorang wanita.
"Ayah Valencia menghubungi kakek?" Tanya Marco cepat.
"Iya... dan kakek sudah menyetujui rencana pernikahan kalian." ucapan kakek membuat Marco seperti disambar petir. Ia yang bersandar panjang langsung menegakkan duduknya.
"Ayolah, kek... jangan bercanda." seloroh Marco malas. Kakek tertawa lepas. Ia merasa lucu melihat ekspresi cucu tampannya ini.
"Maka dari itu lekaslah mendapatkan gadis itu." tutur kakek memberi semangat.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu membuat kakek dan cucu kesayangannya itu menoleh ke arah pintu. Tanpa diperintah, pintu sudah dibuka. Dan itu hanya berani dilakukan oleh Raymond. Tangan kanan Marco.
Raymond tersenyum saat menyembulkan kepala dari luar pintu. Ia segera masuk dan diikuti oleh Icha dengan nampan di tangan. Raymond mendekati kakek dan mencium punggung tangan kakek sebagai tanda hormat pada orangtua itu.
Icha segera meletakkan minuman di meja tamu. Ia tidak berani melihat ke arah Marco. Tetapi, tatapan Marco yang penuh cinta membuat kakek menyipitkan mata dan mulai curiga.
Jangan-jangan gadis ini yang disukai Marco. Tebak kakek dalam hati.
"Tunggu." kakek menghentikan langkah Icha yang hendak keluar.
"Iya, tuan... " Sahut Icha sopan.
"Kamu sekretaris barunya Marco?" Tanya kakek lembut. Icha mengangguk dan melirik sebentar ke arah Marco. Yang dilirik sedang menatapnya mesra. Icha salah tingkah.
"Iya, tuan... saya sekretaris baru Tuan Marco."Jawab Icha mengulangi pertanyaan dari kakek. Kakek manggut-manggut melihat ke arah Marco yang masih mengunci bibir dengan ekspresi datar. Raymond yang sepertinya sudah curiga pada gelagat Marco akhir-akhir ini hanya tersenyum menyeringai. Ia mulai curiga kalau bosnya jatuh hati pada sekretaris cantiknya itu.
"Siapa nama kamu?"
"Marissa, Tuan. Marissa Lebrina." Suara lembut Icha terdengar menjawab pertanyaan kakek.
"Asal?" Tanya kakek singkat.
"Kota x, tuan." Icha masih menjawab pertanyaan kakek dengan senyum kikuk.
"hmmmm... Kabupaten Bandung?" Tanya kakek sedikit kaget.
"Iya, tuan." Icha menjawab pelan.
Kakek mengangguk paham. Terpancar senyum penuh makna pada wajah tua itu. Sepertinya ia menyukai gadis ini, karena Senyuman kakek yang berkata demikian.
"Baiklah... kamu boleh lanjut bekerja. Saya harap kamu betah bekerjasama dengan laki-laki datar ini." Ucap kakek sambil menunjuk Marco dengan dagunya. Marco melirik kesal pada pria tua itu.
"Terimakasih, tuan. Saya permisi." Icha segera ke luar menuju meja kerjanya. Marco memandang sampai Icha menghilang.
Icha terduduk lemas di kursi kerjanya. Lama-lama ia bisa pingsan dalam ruangan itu. Bagaimana tidak? Marco menatapnya intens, kakek mengintoregasi, dan si Raymond mengejek dengan senyuman devilnya.
Sedangkan dalam ruangan megah CEO GT Corp sedang terjadi percakapan antara kakek dan cucu kesayangannya.
"Pilihanmu bagus juga. Kakek suka. Dia cantik." Ungkap kakek setelah Raymond pamit kembali ke ruangannya.
Mendengar ucapan sang kakek, Marco tertawa kecil. Ia menopang dagu dengan kedua tangan.
"Kakek rasa dia sangat cocok dengan Mario, sepupu kamu." sambung Kakek dengan senyum menggoda. Ia melirik ke arah Marco. Ia ingin tahu reaksi cucunya itu.
"Ayolah, kek... jangan memulai lagi." Marco sedang malas berdebat.
"Diakah orangnya?" Tanya kakek hanya mau memastikan saja. Karena kakek sudah menebak kalau gadis itulah yang membuat Marco menduakan hati. Tatapan Marco pada sekretarisnya itu sangat berbeda.
Marco mengangguk dan melihat ke arah kakek.
"Kakek sudah melihatnya. Bagaimana menurut kakek?" Marco memang tidak bisa berbohong pada laki-laki beruban itu.
"Cantik, menarik, persis nenek kamu. Kakek suka." Ucap kakek sambil tersenyum. "Yang terpenting dia berasal dari kota x, asal nenek kamu." lanjut kakek. Ya, nyonya Guatalla merupakan gadis ayu berasal dari suku Sunda. Karena itu, Mr. LG membangun sekolah dan kampus di kota itu agar ia terus terikat dengan keluarga istrinya di sana. Ny. Guatalla meninggal 8 tahun lalu. Kakek sangat terpukul atas kepergian istri terkasih. Melihat kisah Marco yang sama dengan dirinya, ia bahagia.
"Jangan lama-lama... Nanti dia diambil orang." Bisik kakek mengingatkan Marco.
"Cih.. Dia milikku, kek." ujar Marco mantap.
"Memangnya kamu sudah mencaritahu tentang kehidupan pribadinya?" Tanya kakek mencibir.
Marco mengangguk cepat.
"Sudah... bahkan dari 5 tahun lalu dia selalu dalam pantauanku." sahut Marco berterus terang. Kakek yang mendengarkan itu langsung tertawa lepas. Ia tidak menyangka kalau Marco sudah berbuat sejauh ini.
"Baiklah... kakek harap kamu tidak terlalu mengulur waktu pada gadis itu. Ingat, kaum perempuan itu membutuhkan kepastian. Kalau kamu terlalu mengulur waktu, dia akan berpaling ke lain hati. Kakek yakin, pasti banyak pria di luar sana menyukai sekretaris kamu itu." Terang kakek panjang lebar.
"Dia nggak akan ke lain hati, kek. Dia milikku. Seandainya saat ini pun dia punya kekasih pasti aku akan merebutnya dari laki-laki itu." Imbuh Marco percaya diri.
Hahahahahahahaha... kakek tertawa terbahak-bahak.
Aku seperti melihat fotokopi diriku sendiri pada Marco. Watak dan karakter yang sama. Gumam kakek dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments