Upacara pernikahan berjalan lancar tanpa masalah sedikitpun dan tanpa basa basi, aku langsung dibawa ke mansion tuan Whitterdern yang serba putih dan penuh dengan ornamen berwarna perak. Aku tidak begitu mengerti, kenapa luar dalam mansion megah ini yang kulihat hanyalah warna putih dan perak saja. Benar-benar monoton seperti pemiliknya.
Kamar baruku pun terasa begitu hampa tanpa seorang pun bersamaku di ruangan besar ini.
“Tuan Whitterdern datang.”
Aku tertegun, lamunanku terpecahkan begitu saja mendengar suara pelayan wanita yang berjaga di depan pintu kamarku. Tanpa pikir panjang aku langsung menghadap suara langkah yang masuk kedalam kamarku.
Dia adalah Grexyn Whitterdern, yang kini adalah suamiku. Ia masih seperti diriku dengan balutan setelan jas putihnya. Ia menatapku, aku tahu itu walaupun aku tidak menatapnya secara langsung.
“Hey.”
Suara bariton nan dingin itu menyapaku untuk pertama kalinya dan membuatku melawan tatapan datar tanpa nyawanya itu. Begitu biru dan dalam, indah, namun misterius. Begitulah aku menilai kedua bola matanya itu.
“Saya mengatakan ini padamu agar kamu tidak kebingungan nantinya. Disini kamu adalah seorang nyonya Whitterdern, mulai saat ini. bersikaplah selayaknya seorang Whitterdern kedepannya. Kejadian mendadak ini mungkin sedikit membingungkan, kamu pasti bisa menyesuaikan keadaan. Jika sudah mengerti saya pergi.”
“Tunggu sebentar, tuan Whitterdern.” ucapku menahan langkahnya.
“Hm?”
“Sedikit tidaknya, berikan saya alasan. Kenapa anda memilih istri dari keluarga kami? Setidaknya, jawaban anda mungkin bisa membantu saya menyesuaikan diri dan tidak bertindak sembarangan.”
Tanpa sedikitpun ekspresi kakunya berubah.
“Formalitas. Semua hanya untuk formalitas dan meneruskan garis keturunan. Jika tidak ada hal lain, saya pergi.”
Dia pergi sedetik setelah ia menyelesaikan kata-katanya tanpa menunggu aku yang harus berpikir lagi. Apa benar ia seorang yang terkenal dalam berbisnis dan keamanan negeri ini? sikap nya tidak lebih dari seorang yang tinggi hati.
Formalitas ia katakan? Apa laki-laki itu mengira menikah sama seperti membeli boneka. Oh, itu lebih baik. Kali ini ia seperti sembarangan tanpa peduli dengan dirinya. Bukan berarti aku orang yang sembarangan juga mau menerima.
*
*
*
Entah karena interior yang serba putih ini, membuatku lebih cepat bangun dari tidurku. Aku tidak biasa terbangun di tempat yang asing seperti ini.
Tidak ada suara pelayan rumahku.
Suara ibu,kakak, dan adikku.
Hanya suara sunyi dan kicauan burung di balik jendela yang terdengar. Membuatku berpikir, aku ingin pulang.
“Nyonya, kami adalah pelayan yang akan melayani anda.”
“Saya adalah Rose”
“Saya adalah Monica”
Aku tertegun dengan dua orang pelayan wanita yang masih muda masuk ke dalam kamarku.
Apa setiap pagi ku akan seperti ini?
Aku tidak tahu ingin berkata apa-apa saat Rose dan Monica membuka lemari yang menunjukkan deretan pakaian yang akan kukenakan sehari-hari. Begitu penuh warna dan glamour. Tidak seperti pakaian di rumahku yang cenderung berwarna gelap dan sederhana.
“Aku tidak ingin memakainya.” ujar ku pada Rose dan Monica.
Mereka berdua langsung menunduk.
“Tapi, tuan sudah meminta kami menyiapkan pakaian untuk nyonya.”
Hmm, aku tidak bisa melawan tuan Whitterdern.
“Bawakan aku yang hitam satu.” titahku singkat.
*
*
*
Entah kenapa, aku menebak akan menjadi menarik saat sarapan pertama aku dan tuan Whitterdern. Aku sengaja meminta Rose dan Monica mengenakan padaku gaun berwarna hitam sepanjang mata kaki, lengkap dengan sarung tangan berwarna hitam dan sepatu berwarna hitam. Sementara riasanku minimalis dengan lipstik merah darah di bibirku. Jujur saja, ini adalah gaya yang aku sukai dan model berpakaianku sehari-hari.
Sementara pria yang makan dengan tenang di seberang meja itu mengenakan setelan jas berwarna putih dengan surai panjangnya terikat rapi. Sudah kuduga ia adalah pria yang monoton dan tidak peduli.
“Sebelum anda pergi, tuan Whitterdern. Saya ingin berbicara sesuatu.”
Aku langsung angkat bicara saat ia selesai sarapan.
Seperti biasa wajah dinginnya menatap ku lurus dan nampak tidak begitu tertarik dengan ucapanku.
“Apa itu, katakanlah.”
“Saya ingin mengetahui tugas saya disini.”
Nampaknya perkataanku sudah masuk perhitungannya. Tuan Whitterdern nampak mengerti dalam diamnya.
“Sekretarisku, Leon akan mengatakan padamu.” Tuan Whitterdern menunjuk seorang pria bersurai abu-abu dibelakangnya dan pria bernama Leon itu menunduk menyapaku.
“Kalau begitu saya akan mulai bekerja. Jika kamu membutuhkan sesuatu dan lain hal, katakan saja pada Leon. Dia yang akan mengurusnya.”
Sedetik setelah tuan Whitterdern mengatakan hal itu, ia langsung beranjak dari meja makannya dan pergi meninggalkan ku diruang makan yang besar ini. Baiklah, hari pertama menjadi nyonya rumah akan dimulai dan kesan pada suami ku sendiri benar-benar biasa, sungguh biasa tanpa terasa apa-apa.
*
*
*
Aku masuk ke dalam rumah megah ini hanya karena tiba-tiba tuan Whitterdern yang merupakan suami ku menikahiku dalam waktu yang singkat. Aku belum terbiasa dengan hal ini, aku masih asing dengan pelayan di rumahnya, suasana rumah yang sunyi, wangi rumahnya, hingga pemandangan sekelilingku.
Semua terasa asing dan berbeda.
Namun, nampaknya tidak ada kesempatan untuk memutar balik langkahku. Aku telanjur di masukkan ke lubang tanpa dasar, bukan karena keinginanku.
Tanpa sadar, langkahku membawa ke suatu tempat yang indah.
Sebuah taman bunga di belakang mansion, begitu luas dan rindang.
Hampir seluruh bunga dalam negeri tersedia di taman luas ini. tidak kusangka, tempat monoton seperti ini memiliki tempat yang indah dan tenang seperti ini. tuan Whitterdern bahkan tidak memberitahuku sama sekali.
Heh, itu tidak mungkin. Ia tidak akan peduli dengan ini sama sekali.
Aku turun dari koridor dan mulai masuk kedalam taman. Aku semakin tertarik untuk tahu lebih dalam tentang taman seindah ini. mungkin tempat ini akan menjadi tempat favorit ku di mansion ini.
Terutama kau, kumpulan bunga mawar merah yang terawat indah dan berjajar rapi di depan taman. Aku memilih jongkok memandangi bunga mawar merah dengan perasaan senang. Warnanya begitu merah persis seperti lipstik yang ku gunakan setiap saat bahkan saat ini. begitu mencolok dan berani, memberi kesan yang kuat.
Bahkan untuk durinya, walau tidak mengeluarkan racun namun ketajamannya cukup disegani. Tidak bisa sembarangan memetiknya atau jarimu akan terkena si duri kecil itu.
Aku tertegun.
Sebuah suara seperti sedang bermain-main dengan tanaman dari balik pagar tanaman yang tinggi disampingku membuatku penasaran. Sesuatu, ku yakin ada sesuatu di baliknya atau di dalamnya. Apa seekor kelinci? Tikus tanah? Ular?
Aku bangkit secara perlahan dan melihat ke sekelilingku tentang apa yang bisa ku gunakan untuk pertahananku. Untungnya tenagaku cukup kuat mengangkat sebuah sekop. jemariku menggenggam erat sekop itu dan perlahan aku berjalan untuk melihat apa yang ada dibalik pagar tanaman itu.
Aku tidak berani maju dan memilih mengintip. Kulihat seorang maid tengah memetik mawar putih dan mengumpulkannya ke dalam keranjang hingga penuh. Aku rasa pemilik rumah ini tergila-gila dengan warna putih. Tidak ingin terlalu lama mengintip aku pun memutuskan pergi.
Eh?
"Awww!!!” aku meringis kesakitan saat kaki ku tersandung akar tanaman dan jatuh dengan konyolnya di hadapan pelyayan yang ingin pergi itu.
“Ny-nyonya!!! Anda tidak apa-apa?” pelayan bersurai merah itu langsung membantuku berdiri.
“Saya baik-baik saja.” ucapku sembari membersihkan gaun hitamku dari debu yang menempel.
“Apa yang kamu lakukan disini?” akhirnya aku menanyakan sesuatu yang membuatku penasaran.
Pelayan muda itu nampak kebingungan setelah ku tanya demikian. Apa pertanyaanku salah??
“Mawar putih merupakan penghormatan tuan untuk mediang orang tuanya. Beliau setiap hari meletakkan mawar putih di depan foto orang tuanya.”
“Tuan Leon.”
Aku memutar tubuhku dan terlihat Leon, sekretaris Grexyn muncul dengan senyuman ramahnya.
“Saya kesini untuk mencari nyonya, karena ada beberapa hal yang harus saya beritahu tentang apa saja yang dapat nyonya lakukan.” Ujarnya sembari menatapku.
“Saya?? Uh-oh, baiklah.”
Dengan langkah perlahan aku mengikuti langkah Leon pergi dan meninggalkan maid tadi di taman.
Leon membawaku pergi kesebuah ruangan cukup besar dengan terdapat sebuah meja kerja dan sofa ditengah ruangan untuk bersantai. Ini terlihat seperti ruang kerja yang penuh dengan ornament putih dan perak, jangan lupakan hal itu.
“Ini adalah ruang kerja nyonya. Sebagai seorang nyonya rumah, anda dipercaya oleh tuan untuk mengatur anggaran pembelanjaan dan lain hal. Itulah tugas anda dan saya akan mendampingi anda sampai anda sanggup melakukannya sendiri.”
Sudah mulai rupanya, ini tidak akan jauh berbeda dengan apa yang ibu lakukan di rumah. Hanya saja, skala di rumah ini akan lebih besar dan tentu itu sedikit rumit nantinya. Namun, aku sudah belajar dan kini didampingi oleh Leon. Aku cukup percaya diri dengan kemampuan yang aku miliki.
“Terima kasih.” ujarku.
“Sudah menjadi tugas saya nyonya.”
Aku teringat akan sesuatu tentang mawar putih tadi.
“Itu tentang mawar putih, saya sudah mendengarkan penjelasan mu tadi. Sekarang saya ingin tahu, dimanakah mawar itu diletakkan, dapatkan kamu menunjukkan jalannya pada saya??” pinta ku.
Namun, raut wajah Leon berubah seketika.
“Maafkan saya nyonya, tuan Whitterdern tidak memperbolehkan siapapun masuk kecuali beliau.” ujar Leon.
Kukira akan mudah.
“Bahkan istrinya sendiri??” tanyaku.
Baiklah ini pertama kali aku menggunakan hak statusku dirumah ini. sebagai nyonya rumah, apa aku tidak diperbolehkan mengetahui seluk beluk rumah tempat aku menghabiskan sisa hidupku??
“Saya minta maaf nyonya, saya tidak memiliki hak untuk memberitahu. Saya permisi dulu.”
Aku menatap pintu ruanganku dengan datar. Apa aku sama sekali tidak diperbolehkan melihat foto mediang mertua ku? ck, tidak adil.
Kuputuskan untuk keluar ruangan dan berkeliling secara diam-diam hingga di persimpangan lorong aku sekilas melihat maid berambut merah itu lewat membawa keranjang Bunga mawar putih. Aku beruntung belum ketinggalan langkahnya. Aku mengintip gelagatnya diam-diam, wanita muda itu terlihat lebih berhati-hati sembari menggenggam erat keranjang berisi mawar putih itu.
Perlahan aku melihat Leon menghampirinya dan mengambil keranjang itu hingga maid itu pun pergi dan menyisakan Leon. Aku mengambil napas dalam.
Oke, ini tidak akan mudah.
Aku memberanikan diri mengikuti langkah Leon yang menuju kesuatu tempat paling belakang mansion ini.
Aku berhenti melangkah dan melihat sebuah bingkai foto besar disebuah dinding saat mengikuti Leon. Foto lawas sepasang suami istri dengan ekspresi datar. Sang suami memiliki rambut putih keperakan disini dan bermata biru seperti Grexyn. Sedangkan sang wanita memiliki rambut emas dengan mata biru juga. Tunggu, ini kan orang tuanya Grexyn?!
Mawar putih...mawar putih…
Bukan!
Kenapa malah krisan? Aku tidak melihat mawar putih di sekitaran ini. Hanya sebuah vas bunga berisi bunga krisan putih.
Jika bukan untuk kedua orang tua Grexyn, lantas untuk apa?
Tanpa ragu aku melanjutkan langkahku hingga membawaku ke ujung lorong tanpa pintu dan jendela. Iya, ini adalah jalan buntu. Tidak, pasti ada sesuatu.
Tidak ku lihat Leon kembali sejak tadi dan ku yakin jika pria itu berjalan melalui lorong ini. aku tidak boleh berhenti disini, hal yang tidak aku ketahui seperti ini dan membuatku begitu penasaran harus ku hilangkan dari diriku. Tidak mungkin sebagai nyonya rumah ini (walaupun aku tidak ingin) aku tidak mengetahui apa-apa. Tidak, tidak ingin aku dibodohi.
Aku meraba seluruh dinding putih itu dengan perlahan dan melangkah secara berhati-hati. Mungkin saja ada sesuatu yang dapat kutemukan dan dapat membantuku memuaskan rasa penasaranku. Tidak bisa aku sembarangan membuat bunyi atau semacamnya, takutnya seseorang malah mecurigaiku.
Aku merasa ada ruang kosong di lantai yang kupijak. Tidak besar dan tidak kecil, namun aku merasa ada sesuatu. Tanpa menunggu lama aku langsung menekan-nekan disekitar itu dengan telapak tanganku.
Sebuah penutup berbentuk persegi berukuran 30 cm x 30 cm terbuka dan menampakkan tuas. Tidak perlu aku berpikir 1, 2, 3…aku langsung menarik tuas tersebut dan
Sebuah gagang keluar begitu saja dari dinding dibelakangku.
Terima kasih kepada rasa penasaran ku yang besar.
Dengan perasaan semakin tertantang aku pun membuka sebuah pintu dengan memutar gagang misterius nya itu hingga menampakkanku sebuah tangga turun dan seketika saat pintu itu terbuka barulah aku mencium wangi bunga yang kuyakini salah satu dari mawar yang dibawa Leon. Langkahku terus mengikuti tangga turun dan lorong yang kumasuki saat ini begitu gelap. Tidak ada cahaya sedikit pun hingga membuatku terus meraba dinding dan melangkah dengan hati-hati.
Wangi bunga mawar semakin pekat saat aku semakin masuk kedalam dan semakin membuat rasa penasaranku terus bergolak untuk melihat apa yang ada. Disisi lain, aku juga merasa takut akan sesuatu yang buruk karena jantungku berdebar begitu kencang, terlebih perasaanku memang merasakan sesuatu yang tidak enak.
“Tuan, ini mawar yang hari ini. Maaf saya sedikit terlambat karena harus mengantar nyonya ke ruang kerjanya.”
Suara Leon dari sebuah ruangan yang bercahaya membuatku semakin memelankan suara langkahku. Bahkan aku sampai melepas sepatu hak ku agar tidak menciptakan ketukan pada lantai.
“Letakkan saja di tempat biasa dan buang bunga yang layu, hari ini banyak sekali pekerjaan hingga aku tidak sempat memetiknya seperti biasa.”
Aku mendengar Grexyn berbicara cukup panjang saat ini, namun aku tidak berani mengintip ruangan tersebut karena bisa saja berakibat fatal.
“Pasti menyakitkan bagi anda mengalami pernikahan ini.”
Kenapa Leon berkata demikian? Apa Grexyn tidak menginginkan pernikahan di antara kami?
Tidak ada sambutan dari Grexyn.
“Sampai memilih putri dari keluarga Rosmand, padahal raja merekomendasikan banyak putri bangsawan yang cantik dan pintar.”
Heh! Apa dia pikir aku juga mau dinikahkan seperti ini.
“Aku tidak menginginkan orang yang mengganggu kekuasaanku berada disekitarku. Keluarga nya tidak akan mampu memengaruhi ku. Terlebih, aku tidak memikirkan wanita lain saat ini.”
“Sayang sekali nona Alice harus berakhir di tangan orang-orang kejam.”
“Aku tahu, dia banyak menghabiskan hidupnya untuk menderita dan aku akan membalaskan penderitaannya pada orang-orang yang telah menyakitinya.”
Oke, pembicaraan mereka tiba-tiba terasa begitu serius. Lalu, siapa Alice? Aku memang sedikit kesal dengan kalimat pertamannya menyangkut keluargaku. Namun, tiba-tiba aku sedikit bersimpati dengan si Alice itu. apa dia kekasih Greyxn dulu dan sekarang sudah tiada? Apa seperti itu?
Seketika aku langsung bingung karena aku harus bersembunyi dari Grexyn maupun Leon sebab mereka berdua ingin keluar dari ruangan misterius tersebut.
Aku memutuskan masuk kedalam lemari kosong yang tidak jauh dari tempat aku berdiri.
“Segera kirimkan hal-hal yang telah kujanjikan untuk keluarga Rosemond dan katakan pada mereka semua nya baik-baik saja.” ucapan pelan Grexyn bahkan masih terdengar jelas ditelingaku.
Janji? Apa yang telah dijanjikan Grexyn pada ayahku dan keluargaku? Tunggu, ini terdengar seperti aku dijual untuk Grexyn. Bahkan ibu tidak mengatakan apa-apa terkait perjanjian yang dimaksud.
Sial! Aku malah tak sengaja membenturkan sepatuku pada badan lemari hingga membuat kedua pria itu terdiam dan memerhatikan lemari tempatku bersembunyi.
Oke, baiklah aku siap untuk mati bahkan ditangan suamiku sendiri. Terlebih saat Leon mendekat kelemariku itu sudah membuat jantungku ingin meledak dan aku ingin berteriak saat ini juga.
Namun, disaat-saat kritisku tiba-tiba muncul saja tikus dari belakang lemari. Kupikir aku masih ada harapan hidup, untuk saat ini.
“Tuan, tempat ini harus dibersihkan.” ujar Leon.
“Kamu tahu bagaimana mengaturnya.” timpal Grexyn lalu pergi diikuti oleh Leon dari belakang.
Cukup lama aku berada dalam lemari, barulah saat aku merasa suasana sudah cukup aman untuk keluar aku pun membuka lemari tempatku bersembunyi. Kurasa kedua pria itu sudah naik keatas dan kini saatnya melihat apa yang ada didalam ruangan berbau bunga mawar itu.
Sebuah bingkai foto besar seukuran dengan foto kedua orang tua Grexyn dan didalam bingkai tersebut terdapat gambar wanita dengan rambut emas yang panjang dan bergelombang dan mata merah shapire yang cantik. Sungguh wanita yang cantik…dengan bingkai foto yang dipenuhi mawar putih dibawahnya.
Tidak salah lagi, mawar tadi pagi yang dibawa Leon adalah untuk wanita yang ada di foto ini.
“Alice Gouldent.” aku membaca tulisan yang terdapat di bawah foto.
Sekali lagi aku melihat foto wanita anggun itu. ia memiliki senyum yang menawan dan sorot mata yang lembut nan hangat. Kulitnya begitu pucat namun bercahaya, benar-benar seorang putri bangsawan yang terkenal.
Siapapun yang menatap matanya pasti akan langsung jatuh cinta. Bahkan untuk pria sedingin Grexyn. Apa dulu wanita ini adalah kekasih Grexyn? Pasti begitu, dilihat bagaimana Grexyn memperlakukannya bahkan setelah ia tiada. Jika wanita ini masih hidup, aku pasti tidak akan terjebak dalam mimpi buruk saat ini.
Aku bahkan tidak tahu, haruskah aku bersedih dengan hal seperti ini atau tidak.
Jika Alice masih hidup, ia pasti akan dinikahi Grexyn dan aku tidak akan pernah bertemu dengan pria semacam itu.
Aku juga tidak ingin menyalahkan kepergian Alice adalah penyebab hidup sialku. Hanya saja, aku masih sedikit marah mendengar ucapan Grexyn tentang bagaimana ia menikahiku.
“Haaahh, salah benarnya aku tidak ingin menyalahkanmu atas segala yang aku alami.” keluhku di hadapan foto Alice.
“Kamu wanita yang cukup berani juga.”
Jantungku hampir jatuh dari tempatnya.
aku langsung memutar tubuhku dan melihat Grexyn dan Leon sudah berdiri diambang pintu memerhatikanku. Aku bahkan tidak sadar sejak kapan mereka melihatku. Intinya saat ini aku tidak berpikir akan selamat ditangan Grexyn yang menatapku tajam saat ini.
“Masukkan dia ke penjara sekarang!”
Habislah aku.
To Be Continued.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Nafisah Hasna
seru nih ceritanya
2020-08-22
2