Sebuah gedung tua dijadikan tempat pertarungan bebas ilegal.
Walaupun Erland sedang terluka tapi dia tidak bisa absen dalam pertarungan bebas malam ini. Erland sudah terbiasa dengan luka di tubuhnya.
Riuh para penonton membuat susana begitu ramai.
Erland hari ini bertarung dengan pria yang badannya lebih besar darinya.
Pertarungan bebas ini telah memakan banyak nyawa, Erland harus siap konsekuensinya jika nyawanya tidak terselamatkan.
Jack, sang lawan menatap Erland dengan tatapan sangar, dia membuka bajunya dan melemparkan bajunya ke penonton, mungkin karena dia keturunan orang barat, badannya begitu tinggi besar, Erland pasti akan kesulitan menghadapinya.
Erland membuka bajunya, sampai para wanita disana langsung ramai karena melihat tubuh Erland yang indah dan sixpack.
"Erland! Erland!" Para wanita berbaju sek si berteriak memanggil nama Erland.
Wajah Erland yang tampan tak heran jika membuat para wanita menggemarinya, aplagi di dunia gemerlap ini pasti banyak yang menawarkan diri untuk tidur dengannya. Namun karena dia mendapatkan beberapa nasihat dari Bu Darmi membuat Erland tidak ingin terjerumus dalam pergaulan bebas apalagi ada Chelsea di hatinya.
Pertarungan di mulai.
Jack dan Erland saling melayangkan pukulan dan sama-sama mencoba untuk menghindari pukulan lawan.
Bughhh...
Sebuah pukulan melayang bebas mengenai wajah tampan Erland.
Erland merasa pusing mendapatkan pukulan yang begitu keras, sampai hidungnya mengeluarkan darah.
Pukulan kedua akan dilayangkan kembali.
Erland segera menghindar, melesat ke belakang Jack lalu menjegal kaki Jack sampai tubuh besar itu ambruk ke lantai.
"Aarrrggghhh..." Jack meringis kesakitan.
Bughhh...
Bughhh...
Erland melayangkan beberapa pukulan dan mengunci tubuh Jack agar tidak bisa berkutik.
Bughhh...
Jack menendang wajah Erland sehingga Erland terjatuh, dengan cepat Jack segera berdiri lalu mengangkat tubuh Erland dan menbatingnya ke lantai.
"Aargghhh!" Erland merasakan badannya begitu remuk, dia merasa tidak sanggup untuk berdiri.
Sang wasit langsung berteriak lantang.
"Satu"
"Dua"
"Ti..."
Erland teringat dengan rencananya untuk melamar Chelsea secepatnya. Dia tidak boleh menyerah, dia harus menang.
Erland segera bangkit, dia berlari ke arah Jack lalu menendang perut Jack dengan keras.
"Shiittt.." Jack merasakan linu pada perutnya. Dia berusaha untuk menghindari Erland yang melayangkan tinju ke arah wajahnya, malah dia yang berbalik meninju wajah Erland.
Namun Erland tidak menyerah, dia mundur sebentar lalu berlari dan meloncat melayang kakinya ke arah wajah Jack, menendang kepalanya dengan keras.
Bughhh...
Jack merasakan kepalanya sangat pusing sehingga dia kehilangan keseimbangan.
Bughhh..
Erland menendang perut Jack dan memukul dadanya sehingga tubuh Jack ambruk ke lantai.
"Satu"
"Dua"
Tidak ada tanda-tanda Jack akan bangkit kembali, dia terkapar di lantai dengan tubuhnya yang terasa lemas.
"Ti...ga"
Wasit mengangkat tangan Erland, pertanda Erland adalah pemenangnya.
"Woahhh...Erland!"
"Erland!"
Banyak orang yang bersorak memanggil namanya.
...****************...
"Lu yakin gak akan ke rumah sakit nih?" tanya Rizal, dia sengaja mengantar Erland pulang karena takut Erland tidak bisa fokus menyetir mobil.
"Gak, gak apa-apa gue."
Erland mengirim pesan pada Chelsea.
[Sayang, aku kangen. Bisa kita ketemu? Aku ingin membahas tentang pernikahan kita.]
Namun belum ada juga jawaban dari Chelsea, karena Chelsea masih asik menghabiskan malam bersama Ruben.
Erland mendengus kesal begitu teringat dengan bom mainan itu, "Ishhh...gara-gara bom mainan itu, nyawa gue hampir melayang."
"Hehe sorry-sorry, waktu itu gue buru-buru soalnya anak gue rewel ingin dibuatkan bom-boman."
Erland jadi teringat dengan Eliana, Bagaimana kabar gadis itu?
Erland memegang bibirnya begitu mengingat saat dia memberikan nafas buatan pada Eliana, semoga dia tidak ingat aku memberi nafas buatan padanya.
Erland bisa menebak Eliana akan marah besar jika ia tau Erland yang telah mencuri ciuman pertamanya karena dia teringat ucapan Eliana yang tidak tertarik dalam asmara.
"Dua tahun yang lalu di jalan ini gue melihat dengan jelas ada sebuah truk sengaja menabrak mobil sedan berwarna putih...." Rizal tidak meneruskan perkataannya karena dia melihat Erland yang sibuk memainkan ponselnya.
[Sayang, kamu sudah tidur ya?]
Setengah jam berlalu. Rizal menepikan mobilnya di depan rumah Bu Darmi.
Dari semenjak Riko di penjara, Erland memang tinggal di rumah Bu Darmi, namun setelah beranjak dewasa, dia terkadang tidur di rumah milik ayahnya karena di rumah itu Erland memiliki kenangan indah bersama sang mama, Kinar.
"Astaga! Pasti kamu bertarung lagi ya." Bu Darmi mengomel saat melihat wajah Erland yang baru keluar dari mobil, wajahnya terlihat babak belur.
"Iya, omelin aja tante biar gak terlalu bucin sama cewek." kata Rizal sambil terkekeh, dia berpamitan kepada Bu Darmi karena tidak bisa mampir dulu.
Bu Darmi mengobati luka di wajah Erland, seorang anak laki-laki yang dia rawat saat Erland menginjak usia 11 tahun.
"A-a-arrrggg sakit sakit." protes Erland.
"Sakit kan? Makanya jangan bertarung lagi, tinggalkan semua pekerjaan berbahaya itu." Bu Darmi terus mengomelinya.
"Aku harus melamar Chelsea bu."
"Mamanya kak Chelsea itu matre kak, kenapa gak nyari cewek lain aja?" Diana ikut menyahut begitu mendengar kakak angkatnya menyebutkan nama Chelsea. "Bener kan bu?" Diana juga memanggil Bu Darmi dengan sebutan ibu.
Suaminya Bu Darmi yang berada di dapur, ikut bergabung dengan pembicaraan mereka, "Nah iya ayah gak suka dengan si Joko, ayahnya Chelsea, orangnya belagu."
Rupanya Bu Darmi sudah menikah lagi jauh sebelum dia bertemu dengan Erland.
"Huss...itu biarkan jadi keputusan Erland saja." Bu Darmi tidak ingin ikut campur dengan urusan Erland.
Erland memberikan sebuah amplop berwarna coklat berisi uang kepada Bu Darmi, "Ibu kan butuh modal buat membangun restoran kembali, ini ibu pakai buat uang ini saja."
Tapi Bu Darmi malah menolak uang pemberian dari Erland, "Nggak, pakai uang ini buat kebutuhan kamu."
Tapi Erland malah memaksa Bu Darmi untuk menerimanya, "Ini uang dari anak ibu, Erland. Tolong di terima."
Bu Darmi sadar mungkin Erland akan tersinggung jika tidak menerima uang itu, "Ya ampun, tapi ini besar sekali Erland. Terus ada buat biaya pernikahan kamu dan Chelsea?"
"Iya Erland, harusnya uang itu kamu simpan buat biaya pernikahan kamu dan Chelsea." ayah Redi menyetujui perkataan sang istri.
"Tenang saja, biaya untuk pernikahan aku dan Chelsea sudah ada, ayah."
Erland memperhatikan ponselnya, ternyata Chelsea belum membalas pesannya, rumah mereka memang satu komplek, hanya terhalang 6 rumah, tapi Erland tidak ingin mengganggu Chelsea, mungkin Chelsea sudah tidur.
...****************...
Besoknya...
"Ini data tentang pria yang bernama Erland itu." Miss Bona memberikan beberapa lembar kertas mengenai Erland, berikut foto Erland dari kecil sampai dewasa.
Eliana memperhatikan dengan serius tentang pria yang sudah membuat nyawanya hampir terancam itu, dia membaca latar belakang Erland yang hanya lulusan SMA, seorang petarung bebas, dan membuka biro jasa apa saja di dalam dunia gemerlap seperti menjadi kurir dalam pertukaran senjata ilegal.
Eliana mulai melihat satu persatu foto Erland. Dia akui Erland memang sangat tampan tapi dia tidak ada ketertarikan untuk menjalin hubungan dengan siapapun.
Eliana terbelalak begitu melihat wajah Erland yang masih kecil, mirip sekali dengan pria yang menolongnya waktu itu.
"Ini kan foto anak yang menolongku dulu?"
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalian....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Alexandra Juliana
Chelsea lg msh mantap2an sama Ruben di hotel
2025-03-06
0
Siti Yuliyatin
ayo.. ayo..
pertemukan lah.. 😂😂
2025-02-20
0
nobita
iyaa... emang Erland anak yg menolong mu dulu Elliana... apa kamu sudah ingat??? hmm
2024-05-15
0