"ARK!!!"
Melihat sahabatnya yang terhempas oleh satu pukulan Zombie, Jay berteriak. Dia sangat terkejut karena tidak menyangka kalau ada zombie yang bisa menyaingi sahabatnya. Menurut pria itu, Ark sudah sangat kuat.
"Jika kamu mengkhawatirkan aku, segera habisi mereka dan bantu aku!"
Mendengar teriakan Jay, Ark langsung membalasnya. Bagi pemuda itu, tidak perlu malu jika tidak bisa menghadapi lawanmu. Lagipula, tidak ada yang memiliki dua nyawa.
Lebih baik melarikan diri daripada mati. Lebih baik bertarung bersama jikalau memang tidak bisa menghadapinya sendiri.
Harga diri pria apa? Hal itu tidak bisa dimakan dan tidak membuatmu lebih spesial dibanding lainnya!
"Dimengerti!"
BAM!
Zombie merah langsung meninju kap mesin sampai penyok. Sementara Ark sendiri telah melompat dan menghindari serangan makhluk tersebut.
"Benar-benar tidak sabaran."
Ark berkata dengan nada dingin. Dia mendarat di belakang zombie merah lalu menebas belakang lehernya dengan kuat. Namun baru menggores kulitnya, makhluk itu memutar tubuhnya dan langsung meninju Ark.
Melihat tinju yang hendak mengenainya, pemuda itu langsung menendang tanah. Menggunakan tanah sebagai tumpuan, dia melompat mundur untuk menghindari serangan.
"Tsk! Merepotkan."
Ark mendecak tidak puas. Merasakan kalau katana miliknya tidak bisa langsung merobek daging lawannya, pemuda itu merasa agak tertekan.
Ark sadar kalau lawannya memiliki kekuatan, kecepatan, dan pertahanan yang lebih dari manusia yang telah memecahkan batasan pertama. Namun, dia tidak menyangka, bahkan setelah pengalamannya kembali dari masa depan ...
Semuanya masih sulit untuk dia tangani sendiri!
Hindari, tangkis, balas. Ark terus-menerus mengamati setiap detail serangan zombie merah. Dia tidak ingin sampai terkena pukulan lagi, apalagi digigit atau terkena cakaran.
Terus menerus menyerang perlahan tapi pasti, Ark melihat beberapa bagian tubuh zombie mulai dipenuhi luka. Dia kemudian melirik ke arah Jay yang selesai menghabisi para zombie normal.
"Jika selesai, segera bantu aku untuk menangani ini!"
Ark berteriak. Meski tampak baik-baik saja, dia sangat lelah harus mengimbangi setiap gerakan dari zombie merah.
"RROOAAARRR!!!"
Zombie merah itu kembali meraung. Saat itu, uap tipis muncul di sekitar tubuhnya. Melihat hal tersebut, ekspresi Ark langsung berubah menjadi lebih buruk.
Alasan Ark berani menghadapi zombie tersebut adalah Jay. Jika mereka bertarung bersama, seharusnya masih bisa bertarung dengan zombie tersebut pada mode gila. Namun siapa sangka, ternyata Jay malah kelelahan sebelum bisa membantunya.
'Sudah kuduga! Terlalu mengharapkan bantuan orang lain sama saja dengan bunuh diri!'
Pada saat Ark mengutuk dalam hati, sosok zombie merah melintas. Kecepatannya langsung meningkat dua kali lipat.
BRUAK!!!
Sosok Ark langsung terhempas hampir sepuluh meter. Tangannya yang memegang katana untuk menangkis serangan zombie juga gemetar.
"Uhuk! Uhuk!"
Ark memuntahkan beberapa suap darah. Menyeka darah dengan punggung tangannya, pemuda itu menatap ke arah zombie yang bergegas menyerangnya dengan marah.
Pukulan demi pukulan dilancarkan. Ark mencoba terus menghindar dan balik menyerang. Menggertakkan gigi sambil terus fokus, pemuda itu bertempur dengan putus asa.
Pada saat itu, Ark terkejut ketika melihat zombie itu membuka mulutnya lebar-lebar dan mencoba menggigit leher pemuda itu.
Karena menggunakan tangan kanan untuk menangkis, Ark langsung menusuk dengan katana di tangan kiri. Hanya saja, daripada menembus mulutnya, katana itu malah digigit oleh zombie tersebut.
'Siapa yang melepaskan terlebih dahulu yang mati, kah?'
Tangan kanan zombie sudah tidak bisa digerakkan. Tangan kirinya memegang bilah katana di tangan kanan Ark. Sementara mulutnya menggigit katana di tangan kiri Ark.
Ark perlahan-lahan terdorong mundur. Kalah dalam kekuatan, pemuda itu hanya bisa menggertakkan gigi sambil bertahan.
JLEB!!!
Saat itu, Jay muncul dari kanan Ark dan menikam tepat di jantung zombie tersebut. Memiliki senyum di wajah lelahnya, pria itu berkata.
"Maaf terlambat."
"Sudah kubilang! Incar lehernya, K-parat!"
Bukannya senang karena dibantu, Ark malah memarahi Jay. Pemuda itu kemudian melihat gigitan serta pegangan zombie pada katana mengendor langsung menendang dada zombie itu.
Menarik kedua katana, pemuda itu langsung memutar tubuhnya dan menebas sekuat tenaga. Dua katana langsung mengenai leher zombie. Namun baru setengah jalan memotong, kedua katana itu terhenti.
"Ayolah! Mati saja untukku!"
Ark menggertakkan gigi. Menggunakan segenap kekuatannya, dia terus mendorong katana. Saat itu juga, Jay juga mengayunkan perisai ke kepala zombie itu dengan segenap tenaga.
Tebasan katana dari kiri, pukulan perisai dari kanan ... zombie itu meraung, sebelum akhirnya kepalanya jatuh ke tanah.
Darah hitam langsung memercik ke tubuh Ark dan Jay. Kedua lelaki itu langsung menjatuhkan diri ke tanah. Mereka langsung berbaring telentang. Napas mereka naik-turun, tampak sangat kelelahan.
Tidak pernah menyangka kalau menghadapi satu zombie bisa sesulit itu!
"Huh ... Huh ..."
Jay yang datang terlambat tampak lebih lelah daripada Ark, membuat pemuda itu tidak bisa banyak berkomentar.
"Setelah beristirahat lima menit, ikuti aku."
"Apa? Apakah kita harus bertarung dengan zombie lain secara gila-gilaan?! Apakah ini tidak cukup?"
"Bukan itu. Ikuti saja."
Melihat ekspresi serius di wajah Ark, Jay akhirnya hanya bisa berkata.
"Baik."
***
Lima belas menit kemudian.
Dalam kantor polisi kosong, tampak Ark dan Jay yang menyeret tubuh zombie merah.
"Apa yang coba kamu lakukan dengan tubuh ini, Ark?"
Tidak memedulikan apa yang Jay katakan, Ark mengeluarkan pisau dari belakang pinggang lalu mulai membedah tubuh zombie tersebut.
Melihat itu, sudut bibir Jay berkedut.
Ark mengambil jantung zombie yang dipenuhi dengan darah. Melihatnya, pemuda itu tampak puas. Hal itu tentu membuat Jay semakin terkejut.
"Ark, kamu—"
Mengabaikan Jay, Ark kembali membedah jantung zombie. Beberapa saat kemudian, dia mengeluarkan benda hitam seperti urat nadi. Namun, dalam gelap, ada kilau aneh pada benda tersebut. Tidak hanya itu ...
Seolah hidup, benda yang dijepit Ark dengan dua jarinya menggeliat seperti cacing.
"Ugh! Benda apa itu, Ark?"
Sekali lagi, Ark tidak langsung menjawab. Dia malah menghela napas panjang. Melihat ke arah benda hitam itu, senyum nostalgia muncul di wajahnya.
"Miracle Root," ucap Ark dengan nada tenang.
"Miracle Root?" Jay memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung.
Melihat ke arah Jay dengan ekspresi serius, Ark berkata.
"Ini ... adalah kunci evolusi kita."
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 512 Episodes
Comments
Alaric Atharbatha
14
2024-07-22
0
Est
thats fucking rights
2023-05-05
1
LOLLYPOP
👍👍👍👍👍
2023-04-30
0