"Apakah kamu sudah gila, Ark?"
Jay bertanya kepada Ark dengan ekspresi ketakutan. Meski memiliki tubuh besar dan kuat, pada kenyataannya, pria itu sebenarnya pengecut yang tidak berani memukul orang lain.
"Berhentilah untuk menanyakan pertanyaan yang sama, Jay. Sudah cukup basa-basi, kita segera pergi dari sini."
"Pergi? Pergi ke mana?"
"Ke tempat yang seharusnya kita tuju."
"Apa-apaan dengan jawaban abstrak itu!"
Melihat Ark telah berjalan pergi meninggalkannya, Jay segera berlari menyusulnya dengan ekspresi ketakutan.
"Tunggu aku, Ark! Kamu tidak akan meninggalkan sahabatmu sendiri, kan!"
Jay segera menyusul, tetapi ketika dia menginjak genangan darah, tanpa sadar pria itu menunduk. Melihat leher, kerongkongan, daging merah, dan otak yang dihancurkan ... kaki Jay langsung berasa lemas.
"Hey, Ark!"
Berjalan di samping Ark, Jay memanggil. Memiliki ekspresi ketakutan, dia melanjutkan.
"Bagaimana jika orang-orang yang kamu bunuh ternyata terjangkit penyakit tertentu karena perubahan tiba-tiba ini?"
"Kalau begitu, tidak ada bedanya." Ark menjawab tanpa menoleh. "Daripada tertular penyakit aneh dan berbahaya, lebih baik aku membunuh mereka."
"T-Tapi ..."
"Terima kenyataan ini, Jay. Dunia telah berubah secara tiba-tiba, jadi kamu harus beradaptasi.
Lagipula, hanya orang-orang yang memiliki kemampuan beradaptasi dengan cepat yang akan bertahan di berbagai kondisi."
Melihat bagaimana Ark masih tidak peduli, Jay merasa bingung. Dia merasa, pemuda di sampingnya tiba-tiba berubah drastis. Namun, dari bagaimana Ark memedulikan dirinya, Jay tahu ... pemuda masih Ark yang dia kenal.
"Omong-omong, kenapa kita tidak mengingatkan orang-orang yang berada di bukit sebelumnya? Jika kita—"
"Tidak ada waktu. Selain itu, semakin ramai dan padat suatu tempat, semakin berbahaya."
"Kenapa?"
Jay memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung.
"Anggap saja seperti game atau film apocalypse yang pernah kamu mainkan atau lihat. Virus zombie-zombie itu bisa menular melalui gigitan, cakar, dan beberapa hal lain.
Intinya, usahakan agar tidak terluka karena serangan mereka."
"Jadi, kamu bilang ... kota akan dipenuhi oleh zombie?"
"Ya."
"Lalu ... bukankah kita sekarang berjalan menuju ke arah kota?"
"Ya."
"..."
Mendengar jawaban datar Ark, Jay berhenti di tempatnya. Melihat ke arah sahabatnya dengan ekspresi tidak percaya, dia langsung mengutuk.
"Omong kosong suci! Bukankah itu berarti kita akan pergi bunuh diri?
Tidak bisakah kita mencari persembunyian lalu menunggu bala bantuan?"
"Pfft ..."
Mendengar ucapan Jay, Ark menyeringai dengan senyum penuh ejekan.
"Apanya yang lucu?"
"Bukankah kamu melihatnya sendiri? Listrik mati, mobil serta peralatan elektronik semuanya rusak, bahkan ... banyak pagar dan bahan yang terbuat dari besi tiba-tiba usang.
Itu berarti, kemungkinan besar senjata api tidak akan berfungsi."
Mendengar ucapan Ark, Jay memiringkan kepalanya dan bertanya dengan nada aneh.
"Bukankah itu perkara mudah? Maksudku ... mengalahkan para zombie itu?"
"..."
Ark terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian, senyum muncul di wajahnya.
"Kalau begitu tepat sekali."
"Eh? Maksudmu?"
"Pegang kunci Inggris itu lebih erat, kita kedatangan beberapa pengunjung."
"Eh? Apa?"
Bersama dengan ucapan Ark, di arah berlawanan, tampak banyak sosok pucat berjalan dengan cara aneh. Mereka menggeram seperti binatang. Melihat ke arah Ark dan Jay, mereka bergegas menyerang.
Hanya saja, mereka ... terlalu lambat.
Melihat bagaimana Jay terlihat sangat gugup, Ark hanya bisa menghela napas panjang.
"Waktu tidak menunggu siapapun, Jay."
Setelah mengatakan itu, Ark segera bergegas ke depan secepatnya. Dia dengan kejam memenggal beberapa kepala zombie. Setelah itu, dia melirik ke arah Jay.
"Sisa satu ... hadiah untukmu."
Ucapan Ark langsung membuat Jay terdiam. Memegang kunci Inggris di tangannya, pria itu tampak linglung.
"Seharusnya ini mudah, kan?"
Maju ke arah satu zombie yang tersisa, Jay yang menahan diri mengayunkan kunci Inggris dengan kuat tepat ke belakang leher makhluk itu.
Bruk!
Zombie itu jatuh ke lantai. Melihat itu, Jay yang sebelumnya tampak takut dan enggan tiba-tiba tersenyum. Mengangkat kepala tinggi-tinggi, dia berkata.
"Lihat! Aku juga bisa melakukannya."
Tepat Jay selesai mengatakan itu, zombie yang dia pukul bangkit. Makhluk itu langsung mengayunkan kedua tangan yang dipenuhi cakar tajam.
Jay terkejut dan panik. Ketika hendak mundur, dia malah tersandung. Ketika berpikir dirinya akan terluka dan menjadi zombie, Ark tiba-tiba meraih belakang kerah Jay. Dia kemudian memenggal zombie itu dengan mudah.
Crat!
Darah langsung terciprat ke pakaian Ark dan wajah Jay. Merasakan darah yang mengenai pakaian dan bagian bawah wajahnya, pria bertubuh besar itu langsung berteriak.
"Ah! Darah! Ini akan meracuniku! Aku akan mati!"
Plak!
Ark langsung menampar wajah Jay. Melihat Jay tertegun dan berhenti berteriak, dia berkata dengan nada malas.
"Selain bau busuk, darah itu tidak berarti apa-apa. Bukankah kamu melihat aku baik-baik saja?
Apa yang paling penting adalah menghindari cakar, gigi, ekor, dan bagian tubuh berbahaya lainnya."
Mendengar itu, Jay menyeka darah di wajahnya dengan senyum lega.
"Oh ... Syukurlah kalau begitu. Tunggu sebentar! Kamu bilang, ekor?"
"Ya."
Ark lanjut berjalan tanpa menoleh ke belakang. Jay yang bangkit segera berjalan ke arah temannya itu dan bertanya dengan panik.
"Itu cuma fantasimu kan, Ark? Tidak mungkin zombie memiliki ekor, kan? Kamu tidak bilang kalau ada semacam zombie bermutasi, kan?
Katakan padaku ... tidak mungkin kalau ada makhluk seperti itu, kan?"
"..."
Melihat Ark masih berjalan dalam diam, Jay segera mengikuti dengan ekspresi tertekan. Seperti seorang pria yang bekerja selama sebulan tanpa mendapatkan sedikit pun bayaran.
"Apakah kamu mau mencobanya?"
Menanyakan hal tersebut, Ark memberikan golok kepada Jay. Dia tampak begitu tenang. Ekspresinya tidak banyak berubah ketika melihat beberapa zombie bergerak menuju ke arah mereka.
Setelah Jay menerima golok tersebut, pertempuran pun akhirnya kembali dimulai!
***
Beberapa jam kemudian.
Di sebuah jalan raya yang panjang dan sepi, tampak sosok Jay dan Ark yang berjalan dengan tenang. Di sisi kanan dan kiri jalan, tampak pepohonan yang tinggi, berbeda dari sebelumnya. Selain itu, rerumputan juga tampak lebih rimbun daripada sebelumnya.
Sebelumnya, itu satu-satunya jalan raya yang menuju ke bukit. Sebuah jalan yang disekitarnya adalah hutan kecil. Namun sekarang malah tampak seperti hutan tropis yang belum terjamah oleh manusia.
"Kenapa kamu bisa mengalahkan mereka dengan satu serangan, Ark?"
Jay membuka mulutnya, berusaha membuat perbincangan. Dia merasa sangat aneh ketika situasi di sekitar mereka begitu sunyi.
"Incar titik terlemahnya."
"Aku juga melakukan itu!"
Mendengar Jay yang begitu tidak puas, Ark kembali berkata.
"Incar titik itu dan tebas dengan sekuat tenaga. Yakinkan dirimu, pastikan untuk mengerahkan segalanya. Membuat dirimu sendiri yakin ...
Dalam satu serangan itu, musuh harus mati."
Mendengar ucapan Ark yang tidak terlalu membantu bagi dirinya, Jay hanya bisa menghela napas panjang.
Ketika mereka terus berjalan, fajar akhirnya tiba. Merasakan sedikit sinar yang membawa harapan dan menghangatkan jiwa, Jay berkata.
"Apa yang kita lalui benar-benar seperti neraka. Mungkin saja, dunia ini telah menjadi neraka bagi kita umat manusia."
Mendengar ucapan Jay, Ark menggelengkan kepalanya. Keluar dari hutan, mereka melihat sebuah kota di kejauhan. Namun daripada kota yang indah dan megah seperti sebelumnya, apa yang mereka lihat sekarang adalah ...
Sebuah kota mati yang tampak mengerikan.
Melihat pemandangan itu, Ark membuka mulutnya.
"Jika kamu menganggap ini neraka ..."
Menatap fajar tiba dengan sinar merah bak darah yang dicurahkan ke dunia, ekspresi Ark menjadi semakin tenang.
"Maka kamu hanya akan meratap lalu mati ketika mengetahui apa yang menanti kita."
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 512 Episodes
Comments
☆White Cygnus☆
mungkin ; pemuda ini, masih Ark yang ia kenal lebih pas
2024-12-25
0
☆White Cygnus☆
tepat setelah Jay mengatakan itu
2024-12-25
0
Luthfi Afifzaidan
up
2025-01-16
0