"Kamu ... kamu pasti bercanda, kan? Tidak mungkin hanya 5% yang selamat, kan?"
Mendengar pertanyaan Jay, Ark menggeleng ringan. Setelah menghela napas panjang, pemuda itu berkata.
"Karena kamu dari keluarga besar, seharusnya orang tuamu akan baik-baik saja. Namun, kamu juga harus mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang telah terjadi."
"Ark! Bukankah kamu juga punya keluarga, Ark? Apakah kamu tidak takut jika sesuatu terjadi pada mereka?"
Melihat ke arah Jay yang tampak pucat, Ark memiliki wajah kecut di wajahnya.
"Aku memiliki seorang adik laki-laki yang tidak bisa diandalkan. Tentu saja, aku mengkhawatirkan bocah itu. Namun ...
Karena tidak ada yang bisa aku lakukan, aku hanya berharap agar dia baik-baik saja. Selain itu, apa yang bisa aku lakukan hanyalah bertahan dan mencoba mencarinya ketika keadaan telah memungkinkan."
"Kita harus menunggu situasi membaik?"
"Situasi mungkin tak akan pernah membaik, Jay. Kita akan mencoba mencari mereka ketika kita memiliki kekuatan yang cukup.
Sedangkan berpikir untuk melihat dunia yang kembali normal ... mari lupakan saja untuk saat ini."
Mendengar jawaban pesimis dari Ark membuat Jay merasa semakin tertekan.
"Lupakan! Ayo bantu aku!"
Mengabaikan Jay, Ark pergi dari tempat itu. Setelah dia turun, pemuda itu langsung mencari sebuah ember di gudang. Kemudian, pemuda itu pergi ke halaman belakang.
Di sana, tampak sumur tua. Karena kran dan pompa air tidak berfungsi, pemuda itu menggunakan timba dengan katrol. Ark menimba air.
Melihat ke arah sumber air jernih itu, Ark mengangguk puas.
"Seperti yang aku dengar dulu, tampaknya selain taman, ada sumber air yang bisa diandalkan untuk bertahan hidup."
Meski memiliki sedikit keraguan, Ark mencoba meminum air tersebut. Merasakan sensasi segar yang membasahi tenggorokannya, pemuda itu tersenyum. Setelah beberapa hari dalam posisi tegang, rasa lelah yang menumpuk mulai menyapu.
Ark kemudian membersihkan ember. Setelah menuang air ke dalam ember, pemuda itu membawanya ke atap.
Sampai di atap, Jay bingung ketika melihat Ark membawa satu ember air.
"Apa yang coba kamu lakukan, Ark?"
"Penasaran? Kalau begitu bantu aku."
Setelah mengatakan itu, Ark langsung berjalan menuju ke arah tumpukan zombie. Dia kemudian menarik satu mayat dengan santai, tetapi menghindari cakar dan giginya.
Setelah itu, Ark mengambil kapak pemadam kebakaran. Bersama dengan suara "crack!" seperti membuka kulit kacang kenari, salah satu tengkorak zombie dibongkar.
Jay yang hendak membantu langsung pucat. Dia mundur beberapa langkah sebelum muntah.
Mengabaikan Jay, Ark memasukkan tangannya ke dalam tengkorak. Pemuda itu merasakan sensasi lembut, berlendir, dan kenyal dari otak yang dia raba.
Setelah mengeluarkannya, Ark melihat ke tempat yang berdekatan antara otak besar dan otak kecil. Di sana, tampak tonjolan daging putih bersih seukuran telur ayam kampung.
Mengambil pisau, Ark langsung mengiris, mengambil tonjolan daging putih itu kemudian melemparkannya ke dalam ember berisi air. Setelah itu, dia melakukan hal-hal yang sama pada kepala zombie lainnya.
Satu, lima, sepuluh, lima belas ... puluhan kepala dibongkar. Ark hanya berhenti ketika satu ember telah dipenuhi dengan daging putih bersih tersebut.
"Huh ... benar-benar melelahkan."
Melihat tumpukan mayat, lalu ke arah daging putih dan menyegarkan di dalam ember ... Jay merasa heran.
"Apa itu, Ark?"
"Ketika menghabisi zombie, tanpa sadar aku melihatnya. Karena itu satu-satunya bagian tubuh yang tampak sangat bersih, jadi ...
Tampaknya bagian itu bisa dimakan."
Mendengar ucapan Ark, Jay melihat daging di dalam ember. Memang, karena lapar, dia merasa kalau daging-daging itu terlihat nikmat. Namun, ketika mengingat itu adalah bagian dari zombie (yang awalnya manusia), pemuda itu kembali menjadi pucat.
"Kamu tidak akan serius untuk memakan itu, kan?"
"Kalau kamu merasa jijik, biarkan aku yang mencobanya. Lagipula, aku sudah menghabiskan banyak tenaga dalam waktu dua hari ini.
Karena kita tidak mungkin terus bertahan tanpa makan dan minum. Alasan kita bertahan sampai sekarang jelas karena pikiran kita tegang, terpacu adrenalin untuk bertahan hidup ... kita masih bisa bertahan.
Namun, hal itu tidak bertahan selamanya. Jadi, agar bertahan, kita perlu sumber makanan dan minuman.
Di belakang rumah, ada sumber air jernih yang bisa diminum. Kamu bisa minum dulu di sana."
"Lalu ... Apa yang kamu lakukan?"
"Membereskan semua ini."
Ark memandang ke arah mayat-mayat yang berada di sekeliling. Jelas, bukan hanya merusak pemandangan, tetapi aromanya juga sangat tidak menyenangkan.
"Aku akan membantumu terlebih dahulu."
Tidak ingin lagi terlalu merepotkan Ark, Jay memutuskan untuk membantu.
Sekitar tengah hari, atap benar-benar selesai dibersihkan.
Duduk di sana, Ark dan Jay tampak kelelahan. Ketika melihat seember daging putih, Jay tidak bisa tidak menelan ludah.
"Apakah ... benda itu benar-benar bisa dimakan?"
"Aku akan mencobanya terlebih dahulu jika kamu tidak percaya."
"Tapi, jika kita memakannya ... bukankah kita akan menjadi kanibal?"
Mendengar itu, Ark langsung membuat alasan.
"Anggap saja zombie itu binatang yang memakai kedok manusia. Manusia biasanya memakan daging makhluk lain, kan?
Anggap saja kita memakan daging binatang eksotis."
"..."
Mendengar bagaimana Ark mencoba membujuknya dengan cara aneh, Jay terdiam. Benar-benar tidak bisa membayangkan bahwa daging sebelumnya adalah daging binatang eksotis. Lagipula ...
Jay telah melihat bagaimana Ark memanen daging tersebut dengan mata kepalanya sendiri!
Mencoba mengalihkan pembicaraan, Jay tiba-tiba teringat sesuatu.
"Hey, Ark, apakah ada jenis kristal atau mutiara dalam zombie?"
"Lalu kita bisa menyerap energi dan berkultivasi?"
"Ya!" Jay mengangguk.
"Maaf kalau aku merusak khayalanmu, Kawan. Namun, tidak ada yang seperti itu!"
"..."
"Apa yang tampak spesial adalah tonjolan daging bersih tersebut. Jadi, jika benda itu dianggap bermanfaat ... kamu harus memakannya."
"..."
Melihat ke arah daging di ember, Jay terdiam. Mengalihkan pandangannya ke arah Ark, pria itu berkata.
"Apakah tidak ada cara lain?"
"Cara lain?"
"Ya! Cara yang lebih normal dan manusiawi."
"..."
Mendengar keluhan Jay, sudut bibir Ark berkedut. Dia tidak menyangka, di dunia yang kacau ini, benar-benar masih ada pria yang pilih-pilih makanan sepertinya!
"Tidak! Tidak ada yang namanya normal dan manusiawi dalam dunia yang kacau ini!"
Mengatakan itu, Ark tiba-tiba mengambil sepotong daging putih. Dia kemudian berjalan ke arah Jay dengan ekspresi muram.
"Eh? Ark? Kawan? Apa yang coba kamu lakukan, Kawan?
Tidak. Kamu tidak bisa melakukan ini, Kawan! Tidak—"
Ark yang memiliki ekspresi tak acuh di wajahnya langsung menjejalkan daging putih tersebut ke dalam mulut Jay. Dia mengunci tangan pria itu dan menginjak kakinya, membuatnya tidak bisa meronta!
Jay terus menggigit dan akhirnya dengan terpaksa menelan daging tersebut. Setelah menelannya, pria itu terdiam.
Ark yang melihatnya memutuskan untuk mundur. Duduk di tempatnya, Jay memiliki ekspresi rumit.
"Rasanya seperti sashimi? Menyegarkan, agak manis, dan sedikit berlemak?
Tunggu! Ini daging ..."
Jay memegang perutnya dengan ekspresi kesakitan. Dia merasa mual, tetapi tidak bisa memuntahkannya. Pria itu menunjuk ke arah Ark. Namun ketika melihat sahabatnya menggigit daging dan mengunyahnya di dengan tenang ... Jay kembali terdiam.
"Kamu benar-benar memakannya, Ark?"
Mendengar pertanyaan itu, Ark mengangkat bahu.
"Terus? Haruskah aku tidak makan apa-apa dan terus bertarung dengan para zombie sampai mati?"
Pertanyaan skeptis Ark langsung membuat Jay kehilangan kata-katanya.
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 512 Episodes
Comments
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
2025-01-16
0
Da Qiao
EUWWW 😭
2024-11-29
1
Abbie Jard
beban banget si jay.ngapain juga punya temen model si jay yang tolol gitu.banyak bicara banyak pertanyaan.buang saja 🤣🤣🤣
2024-09-17
0