"Kota ini tampak mengerikan."
Melihat sekeliling, Jay bergumam dengan ekspresi heran. Dibandingkan dengan kota megah sebelumnya, penampilan saat ini sangat berbeda.
Ketika Ark dan Jay masuk ke kota, apa yang mereka lihat adalah gedung-gedung rusak, mobil bobrok memenuhi jalan, dan banyak hal lainnya. Benar-benar mirip dengan kota mati. Lebih tepatnya, telah menjadi kota mati.
"Kenapa begitu sepi? Bagaimana dengan para zombie, Ark?"
Mendengar pertanyaan Jay, Ark terus berjalan dengan ekspresi tak acuh. Namun dia tetap membalas.
"Bersembunyi dalam gedung yang gelap. Mungkin, sebagian dari mereka tidur?
Yang pasti, mereka tidak akan bisa berjalan di bawah sinar matahari seperti kita. Ya ... setidaknya untuk sekarang."
Kalimat terakhir diucapkan Ark dengan pelan. Begitu pelan sampai hanya dia sendiri yang mendengarnya.
"Itu membuatku merasa agak lega.'"
Berjalan di bawah matahari, Jay merasa nyaman dan aman.
"Lalu, kemana kita akan pergi?" tambah Jay.
"Mencari tempat yang aman."
"Apakah ada tempat semacam itu?"
"Tentu saja tidak."
"..."
"Kita akan menemukan lokasi yang layak ditinggali. Setidaknya, bisa menjadi tempat perlindungan bagi kami untuk sementara waktu."
Mengikuti Ark yang berjalan di trotoar, melewati mobil-mobil rusak yang memenuhi jalan ... Jay tiba-tiba merasa tidak nyaman.
"Kemana kita akan pergi?"
"Tentu saja ke perumahan elit kota, tempat paling aman yang tersedia bagi kita."
"Eh? Bukankah kita akan membobol rumah orang? Apakah itu baik-baik saja? Bagaimana jika—"
"Daripada memikirkan hal lain, lebih baik kita memikirkan kehidupan kita sendiri, Jay."
"Ugh ..."
Mendengar ucapan Ark, Jay langsung tampak pucat.
Menoleh ke arah sahabatnya, Ark menghela napas lalu bertanya.
"Ada apa?"
"Aku mengkhawatirkan keluargaku."
Mendengarkan keluhan Jay, tiga tanda tanya besar muncul dalam benak Ark. Dia memiliki ingatan yang kuat, tetapi pemuda itu tidak ingat hal tersebut. Memiringkan kepalanya, Ark bertanya.
"Bukankah kamu yatim-piatu?"
"..."
Ucapan Ark langsung membuat Jay terdiam. Dia ingin memarahi rekannya tersebut karena menyumpahi dirinya. Namun, Jay juga mengetahui alasannya. Jadi akhirnya dia memilih untuk menjelaskan.
"Hey, sebenarnya ... Aku ini adalah anak dari pengusaha kaya."
Jay berbicara dengan ekspresi tidak berdaya. Menoleh ke arah Ark dan melihat ekspresi skeptis di wajah sahabatnya, sudut bibir Jay berkedut.
"Apa-apaan dengan ekspresimu itu! Aku benar-benar serius, Ark!"
"Ya, ya, ya."
Ark tampak tenang dan tak acuh. Namun dalam hati, dia merasa cukup terkejut. Sebelumnya, pemuda itu memiliki banyak informasi dari organisasi. Namun, menurut informasi dalam organisasi, Jay adalah yatim-piatu, sama dengan identitas yang sebelumnya Jay sebutkan.
Oleh karena itu, Ark sebenarnya terkejut. Jika informasi Jay disembunyikan dengan baik, itu berarti ...
Jay adalah salah satu keturunan dari keluarga besar dan kuat!
Cukup kuat karena mereka mampu menyembunyikan informasi penting dari organisasi tempat Ark bekerja. Padahal, organisasi itu termasuk salah satu organisasi pembunuh bayaran terbaik di dunia.
"Omong-omong, kenapa kamu bisa beradaptasi dengan cepat, Ark? Selain itu, kamu juga sangat kuat ...
Tampak seperti seorang profesional! Mungkinkah kamu sebenarnya tentara bayaran atau pembunuh bayaran yang menyembunyikan identitasnya? Haha!"
Jay tertawa santai. Tampaknya pria itu merasa puas masih bisa bercanda dan tertawa di dunia yang sudah kacau ini.
"Memang, sebenarnya aku seorang pembunuh bayaran."
"Eh???"
Ekspresi Jay langsung membeku. Dia berhenti berjalan dan menatap ke arah Ark dengan ekspresi tak terlukiskan.
"Serius???" tanya Jay.
"Ya."
Memang, sebagai alasan, Ark langsung membeberkan identitas aslinya sebagai pembunuh bayaran. Karena itu akan membuat Jay dan orang-orang lain berpikir bahwa alasan dia bisa bertahan adalah karena pekerjaan tersebut. Sebaliknya, mereka tidak akan pernah berpikir bahwa dirinya adalah seorang pemuda yang kembali dari masa depan.
"Hey, Ark—"
"Kita sampai."
Ark langsung menyela perkataan Jay. Dia tidak ingin berbicara lebih banyak. Lagipula, walaupun pria itu sahabatnya, Ark masih perlu melindungi privasi dan berbagai rahasia lainnya.
Ark dan Jay berdiri di depan rumah mewah tiga lantai dengan gaya Eropa. Rumah itu memiliki cat putih yang tampak kusam. Di atas rumah, tampak taman luas. Bahkan, di sekitar rumah tampak dinding tinggi yang melindungi rumah tersebut dengan baik.
"Rumah yang bagus! Setidaknya, sebelumnya." Jay berkata dengan nada kecut. "Sekarang, malah lebih mirip rumah hantu."
"..."
"Apakah kita benar-benar memerlukan rumah sebesar ini, Ark?"
"Rumah luas, dinding yang mengelilinginya tinggi dan tebal, sulit diserang tetapi mudah dipertahankan karena hanya ada satu jalan masuk, intinya ...
Ini adalah tempat yang sangat cocok dijadikan sebagai basis sementara bagi kami. Bahkan, mungkin untuk mengembangkan kelompok kami sendiri."
"Kamu benar." Jay mengangguk. "Omong-omong, kamu berniat untuk membentuk sebuah kelompok?"
"Ya, tapi tidak sekarang. Lagipula, tidak realistis untuk menyapu dunia ini sendirian."
"Baik."
Jay mengangguk. Tampaknya dia juga setuju dengan pemikiran Ark.
"Kalau begitu kita masuk."
Setelah itu, mereka akhirnya berjalan memasuki area rumah mewah tersebut. Melihat pintu kayu besar di depan mereka, keduanya menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong dua pintu terbuka lebar.
Saat itu, mereka langsung disambut pemandangan belasan zombie yang ada di lantai satu. Dari pakaian mereka, tampaknya orang-orang itu adalah para pekerja yang tinggal di rumah tersebut.
"Let's make this quick."
(Mari lakukan ini dengan cepat.)
Ark memegang kapak pemadam kebakaran dan masuk ke dalam rumah dengan ekspresi dingin. Sosok Jay juga memasuki rumah di belakang Ark. Mereka kemudian mulai melakukan kegiatan bersih-bersih.
Sekitar satu jam kemudian.
"ARK!!!"
Suara teriakan terdengar dari salah satu kamar di lantai dua.
Mendengar teriakan itu, Ark sedikit terkejut. Dia tidak menyangka kalau Jay tiba-tiba berteriak dengan nada ketakutan semacam itu.
Ark segera bergegas menuju ke tempat Jay berada. Sampai di sana, dia melihat Jay yang duduk di pojok kamar dengan ekspresi tertekan di wajahnya. Saat itu, dia melirik ke arah tempat tidur bayi.
Di sana, Ark melihat bayi kecil yang berbaring di sebuah ranjang kecil. Ya, zombie kecil yang tampak mengerikan. Menggeliat di sana sambil terus menangis.
"Kenapa? Kenapa dunia tiba-tiba berubah menjadi seperti ini?"
Tangisan itu membuat Ark menyempitkan matanya. Dia tahu, makhluk itu adalah alasan kenapa Jay tiba-tiba menjadi seperti itu.
'Serangan mental, kah?'
Memikirkan itu, Ark menghela napas panjang. Dia kemudian menikam bayi zombie itu dengan ekspresi tenang. Meski demikian, tangannya sedikit gemetar.
Di dunia yang kejam ini, tidak ada sebuah pengecualian. Tua, muda, bahkan anak-anak akan menjadi korbannya. Kedudukan para wanita bahkan akan jatuh ke bawah seperti di masa-masa lampau. Mereka tidak lagi dianggap setara karena tidak banyak membantu dalam sebuah pertempuran.
"Ikuti aku untuk mencari senjata lalu pergi ke atap."
Melihat Jay yang masih tertekan, Ark langsung mengajaknya pergi. Meski enggan, pria itu masih mengikutinya.
Sekitar satu jam kembali berlalu. Kebetulan, tampaknya pemilik rumah sebelumnya adalah orang yang suk mengoleksi banyak benda-benda, khususnya senjata.
Naik ke atap, Ark membawa sebuah tombak di tangan kanannya. Di pinggang kiri ada dua katana, dan di pinggang kanan ada kapak pemadam kebakaran. Tampak agak berlebihan, tetapi dia masih terlihat cocok.
Di sisi lain, Jay membawa perisai bulat di tangan kiri, tombak di tangan kanan. Di kedua sisi pinggang, ada pedang yang bergantung di sana.
Melihat taman di atap yang sangat rimbun, Jay berkata.
"Apakah kita akan melawan Bos sekarang?"
"Tidak." Ark menggelengkan kepalanya.
"Lalu?"
"Kita akan tidur."
"Eh???"
Mengabaikan Jay, Ark meletakkan senjata miliknya di sekitarnya. Duduk bersandar di bawah pohon, dia langsung memejamkan matanya dan tidur.
Jay awalnya bingung. Namun melihat ke arah Ark, dia akhirnya memutuskan untuk mengikutinya. Dengan begitu, waktu kembali berlalu dengan tenang.
Matahari mulai terbenam. Merasakan kegelapan mulai menyelimuti malam, Ark langsung membuka matanya.
"Sungguh tidur yang sangat nyenyak."
Ark berkata dengan ekspresi tenang. Jay juga membuka matanya. Pria itu menggosok matanya, tampak masih mengantuk.
"Sekarang apa?"
Jay bertanya dengan nada linglung.
Merasakan kota yang langsung berubah daripada siang atau malam sebelumnya, Ark segera mempersiapkan senjatanya. Menatap ke arah pintu gerbang dari atas atap, pemuda itu berkata.
"Tutorial selesai, waktunya untuk permainan bertahan hidup yang sebenarnya."
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 512 Episodes
Comments
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
2025-01-16
0
Alaric Atharbatha
3
2024-07-21
0
Piiic
plis ngakak banget bacanya😂😭
2024-07-03
1