"Ugh! Aku akan mati! Mati!"
Setelah meminum seteguk ramuan dan meletakkan gelasnya, Jay langsung berguling-guling di tanah dengan ekspresi histeris.
Melihat itu, sudut bibir Ark berkedut. Dia tidak menyangka kalau sahabatnya itu terlalu dramatis.
"Oh? Ternyata aku masih hidup. Rasanya ... tidak seburuk itu?"
Jay duduk lalu mengelus dagu.
"Meski tidak ada gula atau pemanis, kenapa rasanya agak manis? Dari zombie? Lalu, rasa sedikit pahit dan menyegarkan ini ... agak mirip daun mint?"
Melihat Jay yang berakting seperti orang sekarat lalu berbicara seperti komentator makanan, Ark meminum potion itu dalam diam. Dia sama sekali tidak ingin campur dengan orang itu, bahkan memilih untuk sedikit menjauhinya!
"Hey! Kenapa kamu menjauh, Ark? Kamu tidak menyalahkan aku, kan? Lagipula, siapa yang mengira 'cairan aneh dan agak kental' seperti ini akan terasa agak enak?"
"Cara bicaramu membuatnya menjadi ambigu, Bodoh!"
Ark langsung berkata dengan wajah muram. Dia benar-benar ingin memukuli temannya itu. Namun tanpa pemuda itu sadari, kehadiran Jay membuat harinya menjadi agak santai. Tidak begitu tertekan seperti kehidupan sebelumnya dimana dia tidak bisa memercayai siapapun, bertarung di garis depan sendiri sebagai serigala kesepian tanpa kawanan!
"Setelah meminum ini, apa yang harus kita lakukan sekarang, Ark?"
"Tidur."
"Eh?"
"Sudah kubilang, tidur dan hemat tenagamu."
Mengikuti perintah Ark, mereka akhirnya pergi tidur beberapa jam sampai matahari hampir terbenam.
Setelah bangun tidur, Ark yang bersiap untuk membuat ramuan lain dengan api yang masih dinyalakan sejak tadi. Melihat Jay telah bangun, dia tidak banyak berkomentar. Khususnya ketika melihat pria itu berdiri di tempatnya dengan ekspresi tercengang.
"Aku benar-benar bertambah kuat?"
"Setidaknya 10% lebih kuat daripada sebelumnya."
"Hah?! Kamu bahkan menghitung data pastinya, Ark? Kamu membuatnya lagi? Bagaimana jika langsung membuat dan meminum semuanya?"
"Apakah kamu bodoh?"
"..."
Mendengar pertanyaan Ark, Jay terdiam. Bukannya dibalas sopan, dia benar-benar langsung dicap sebagai orang bodoh oleh sahabatnya.
"Obat seperti ini jelas memiliki efek samping jika terlalu banyak meminumnya. Untuk jaga-jaga, lebih baik kita meminum dua porsi setiap harinya.
Ketika matahari terbenam dan setelah matahari terbit. Untuk tadi, anggap saja ujicoba. Karena berhasil, kita akan melakukannya sesuai jadwal."
"Aku tidak begitu paham, tapi baiklah. Aku yakin kamu tidak akan meracuniku."
Jay menunjuk dirinya sendiri dengan senyum penuh percaya diri.
"Ya, ya, ya ... Itulah yang dikatakan seorang lelaki yang berguling di lantai sambil berpikir dirinya sekarat beberapa jam yang lalu."
Ucapan Ark langsung membuat gerakan Jay kaku. Melihat ke arah Ark yang meracik potion lain, pria itu memberikan senyum canggung.
Mengabaikan Jay, Ark yang selesai membuat ramuan duduk santai.
"Setelah minum, mari berkeliling untuk mulai berlatih sekaligus mencari makanan lain."
"Makanan lain?"
"Ya. Buah atau daging binatang lain."
"Binatang lain ..." gumam Jay.
Mengingat banyak burung pipit seukuran kepalan tangan, pria itu menjadi gugup. Saat itu, suara Ark terdengar.
"Kamu bisa tenang. Mereka tidak akan berubah secepat itu."
"Bagaimana kamu tahu? Eh?! Kenapa kamu yakin mereka akan berubah?"
"Karena dunia juga telah berubah."
Ark membalas singkat. Meletakkan satu gelas ramuan di depan Jay, pemuda itu kembali berkata.
"Minum sebelum menjadi terlalu dingin dan sulit ditelan."
"Errr ..."
Melihat cairan hijau mencurigakan dengan gelembung-gelembung di atasnya, Jay masih tidak terbiasa. Namun, mau tidak mau dirinya tetap memaksakan diri untuk minum. Lagipula ...
Meski tampak menjijikkan, itu cukup enak dan bermanfaat baginya!
"Sungguh! Kenapa kamu memiliki ide seperti ini, Ark! Aku pikir kamu terinspirasi dengan hidangan tahu bau itu!
Baunya sangat tidak menyenangkan, penampilannya biasa saja, tapi sebenarnya enak!
Omong kosong suci! Kenapa di dunia ini banyak orang yang memiliki ide aneh!"
Menelan ramuan sampai tetes terakhir, ekspresi rumit di wajahnya.
"..."
Ark hanya diam. Setelah beberapa saat, pemuda itu berkata.
"Segera persiapkan dirimu, kita akan segera berangkat."
"Baik!"
Mendengar ucapan Ark, Jay segera bersiap-siap. Setelah itu, mereka pun berangkat.
***
Di jalanan perumahan elit.
"Huuh ..."
Jay tiba-tiba menghela napas panjang.
"Ada apa?"
"Apakah ini benar-benar apocalypse, Ark?"
Tanya Jay dengan ekspresi penuh keraguan.
"Maksudmu???"
Ark memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung.
"Maksudku, bukankah ketika apocalypse, kita seharusnya menyelamatkan gadis paling cantik di kampus atau kantor? Mereka akan berterima kasih lalu bergantung pada kita, lalu ... uhuk! uhuk!
Kamu pasti tahu apa yang aku maksud, Ark."
"..."
Mendengar itu, sudut bibir Ark berkedut. Dia tidak menyangka kalau temannya itu masih memiliki fantasi yang begitu liar padahal tidak memiliki kemampuan nyata untuk bertahan hidup sendiri.
"Hey, Jay."
"Iya?"
"Aku ingatkan. Ini adalah dunia yang kejam, jadi jangan menyamakannya dengan game dating sim! Memangnya kamu pikir apocalypse itu apa?
Pergi ke sana-sini untuk menjemput gadis? Menghabiskan malam dengan sepenuh hati? Hidup menjadi lebih berwarna?"
"Eh? Tidak?"
Melihat Jay yang tercengang, Ark tersandung tetapi berhasil menjaga keseimbangannya sehingga tidak terjatuh.
"Sungguh, aku bingung apakah menyelamatkanmu adalah pilihan yang tepat atau salah."
Ark menghela napas panjang.
"Lihat Ark, ada yang menanam wortel di samping rumah! Ada cabai dan tomat juga!"
"..."
Melihat Jay yang sejak kapan telah mengabaikannya dan pergi, Ark kehilangan kata-katanya.
"Lihatlah itu, Ark. Besar, indah, lembut, berair ... benar-benar menggoda."
"Berhenti berbicara seolah kamu menatap hal lain!"
Ark memijat keningnya dengan ekspresi tertekan.
Setelah itu, dia tiba-tiba langsung berlari menuju ke arah Jay. Pemuda itu dengan kejam menendang Jay yang berjongkok sampai berguling-guling di tanah beberapa kali.
"Apa yang kamu lakukan, Bung? Jika ada masalah—"
Jay berdiri sambil menepuk debu di tubuhnya. Namun ketika melihat ke arah Ark, dia terdiam.
Crat!
Darah memercik. Tubuh tanpa kepala jatuh ke jalan. Kepala zombie mengerikan berguling di tanah, menatap ke arah Jay dengan dua mata terbuka lebar.
"Bagaimana aku tidak merasakannya?"
"Ini bukanlah area kecil dimana mudah dipertahankan. Di area luas dengan medan kompleks, hal semacam itu memang mungkin."
"Dengan kata lain ..."
Jay berkata dengan nada gugup. Ark langsung melanjutkan.
"Tarik senjatamu dan bersiap untuk bertempur!"
Mendengar perintah Ark, Jay langsung mengambil perisai bulat di punggungnya lalu mencabut pedangnya.
Sementara itu, Ark mencengkeram erat tombak di tangannya. Beberapa saat kemudian, tampak belasan zombie muncul dari berbagai sudut ... langsung mengepung mereka berdua!
Mengamati ke arah para zombie, Ark menyempatkan diri melirik ke arah Jay sambil berkata.
"Meski berjumlah belasan dan tidak sebanyak sebelumnya, kita bertarung di area luas. Jadi pastikan ..."
Mata Ark berkilat dingin.
"Jangan bertindak pasif! Habisi mereka sebelum mereka menghabisimu!"
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 512 Episodes
Comments
Luthfi Afifzaidan
up
2025-01-22
0
PHSNR👾
🤣😂😂
2025-01-12
0
Alaric Atharbatha
7
2024-07-21
0