"Ayo pergi."
Mengatakan itu, Ark berjalan pergi. Namun saat itu juga, Jay memegang bahu Ark untuk menghentikan pemuda itu pergi.
"Kamu ingin pergi ke mana, Ark? Kenapa kamu berjalan ke arah berlawanan?"
"Kita menghindari pertarungan yang tidak perlu. Selain itu, tujuan kita berbeda. Kita—"
"Berhenti membuat alasan, Ark. Kita cukup kuat sekarang, bukankah baik-baik saja untuk mencoba menolong orang? Dengan begitu semakin banyak manusia yang bisa diselamatkannya, kan?"
"..."
Ark menatap Jay dengan ekspresi tak acuh. Dia tampak dingin. Hidup dan mati orang lain sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya. Lagipula, pemuda itu telah melihat banyak kematian. Jadi, bukan tidak mungkin orang yang mereka selamatkan akan mati nanti.
Bukannya takut, Jay juga menatap mata Ark. Di kedalaman matanya, tampak niat murni untuk menyelamatkan orang lain. Sikap tulus yang hanya ada dalam hati orang-orang berjiwa heroik.
"Tsk ... lakukan yang kamu mau."
Ark menampik tangan Jay yang ada di bahunya.
Melihat Ark setuju, Jay tersenyum. Dia kemudian menyeret sahabatnya itu menuju ke arah sumber suara.
"Aku bisa berjalan sendiri."
Pada akhirnya Ark berjalan sendiri mengikuti Jay yang tampak bersemangat.
Setelah beberapa saat berjalan, mereka akhirnya sampai di depan sebuah supermarket. Di sana, tampak kelompok berisi enam orang dengan empat orang laki-laki dan dua perempuan. Mereka dikepung lebih dari dua puluh zombie, hampir tiga puluh zombie!
Ketika Ark dan Jay tiba, tentu mereka, khusus Jay membuat suara. Hal itu langsung membuat zombie dan keenam orang tersebut memperhatikan kehadiran mereka.
Kelompok berisi enam orang itu terkejut ketika melihat sosok Ark dan Jay. Selain karena senjata yang mereka bawa, keduanya memang cukup mencolok karena tampak bersih di masa seperti ini.
"Lakukan saja, ini sama sekali tidak ada hubungannya denganku."
Setelah mengatakan itu, Ark berjalan menuju ke arah mobil yang tampak kokoh. Dengan santai, dia melompat ringan, naik lalu duduk di atas atap mobil. Sama sekali tidak memedulikan kelompok enam orang yang menatapnya.
"Bahkan jika tidak mengatakannya, aku sudah mengerti, Ark!"
Setelah mengucapkan itu, Jay langsung menarik satu pedang. Dengan perisai di tangan kiri, pria itu langsung maju ke arah gerombolan zombie.
Melihat perilaku sembrono Jay, Ark hanya diam di tempatnya. Sama sekali tidak bermaksud memprotes betapa cerobohnya sahabatnya itu.
Swoosh!
Sosok Jay melesat maju. Dia langsung membanting perisai ke arah salah satu zombie. Membuat zombie itu terpental dan menabrak zombie-zombie yang berkumpul.
Memilih zombie yang menyendiri, Jay mengayunkan pedangnya. Dengan kekuatannya yang sekarang, kepala zombie langsung ditebang tanpa sempat memiliki banyak reaksi. Setelah itu, pria tersebut langsung bergegas menuju ke arah zombie-zombie lainnya.
Melihat bagaimana Jay memotong zombie dengan mudah seolah menggunakan sabit untuk memotong rumput, keenam orang itu tampak terkejut. Namun, Ark hanya menghela napas panjang.
"Bahkan jika kuat, dia masih ceroboh."
Ark bergumam pelan. Jay terus memotong dengan kejam. Namun karena banyaknya jumlah zombie, daripada segera memusnahkan mereka semua ...
Jay berakhir dikepung belasan zombie!
"Tampaknya aku dalam masalah ... Ark?!"
Mendengar itu, bukannya segera membantu, Ark masih duduk di atas mobil rusak. Pemuda itu memangku tombak sambil menopang dagu, menatap ke arah Jay dengan ekspresi kosong.
"Apakah kamu hanya akan diam, Aibou???" (Rekanku)
Mendengar Jay yang bertanya dengan senyum masam di wajahnya, Ark mengangkat sudut bibirnya.
"Tenang. Jika kamu menjadi zombie, aku yang akan menghabisi dan memakamkan kamu sendiri.
Jadi ... semangat~"
Mendengar kata "semangat" yang begitu datar, sudut bibir Jay berkedut. Dia tidak menyangka kalau sahabatnya akan begitu tega hanya karena dirinya membuat keputusan sendiri.
"Ayo!!!" ucap Jay dengan tegas ketika menghadapi para zombie.
Sekitar setengah jam kemudian, pertarungan akhirnya selesai.
"Huh ... Huh ..."
Berkeringat cukup deras, Jay tersenyum cukup puas sambil memandang Ark.
"Bukankah kamu melihatnya, Ark?!"
"..."
Ark hanya diam, tetapi dalam hati sedikit mencemooh.
'Dengan fisikmu yang telah menembus batasan pertama dan latihan yang aku berikan selama beberapa hari terakhir, jika tidak bisa menghabisi beberapa zombie biasa ini ... lebih baik kamu bunuh diri.'
"Aku tahu kamu sedang memikirkan hal kasar tentangku, Ark!"
Jay menunjuk ke arah Ark sambil protes.
Saat itu, kelompok enam orang itu berjalan menuju Jay lalu berbicara.
"Halo, maaf mengganggu pembicaraan kalian. Terima kasih banyak telah menyelamatkan kami."
Seorang lelaki pirang dengan tubuh tegap, wajah persegi dan tampak sederhana berkata dengan nada sopan. Di belakangnya, tampak lelaki tinggi dan besar berkulit hitam dengan rambut dipotong pendek. Ada juga lelaki kurus berkacamata dengan rambut acak-acakan dan memakai kemeja kotak-kotak. Satu lelaki lain adalah pria kurus tinggi dengan rambut pirang yang dipotong rapi.
Sedangkan dua perempuan memiliki penampilan gadis kampus. Salah satunya memiliki rambut pirang lurus, sementara yang lain memiliki rambut cokelat bergelombang. Mereka memiliki bentuk tubuh indah dan terlatih baik. Sepertinya mereka berdua adalah pemandu sorak dari kampus tertentu.
"Oh! Sama sekali tidak masalah. Kami kebetulan lewat, jadi kami membantu."
Jay membalas dengan ramah, sementara Ark hanya diam tanpa membalas.
"Perkenalkan, saya Frank. Yang ini adalah Brad (pria hitam), Darin (pria berkacamata), Myron (pria pirang dengan penampilan rapi), Stacy (gadis pirang), dan Juana (gadis berambut cokelat bergelombang).
Sekali lagi, terima kasih karena telah menyelamatkan kami. Jika boleh kami tahu, apakah kalian dari tempat perlindungan tertentu? Jika benar, bisakah kalian membantu kami untuk menuju tempat itu?"
Frank berkata sopan. Memang, dari penampilan saja, Ark dan Jay bukan orang biasa. Baik dari pakaian atau senjata yang mereka bawa.
Keenam orang itu menatap Ark dan Jay dengan penuh harap. Mereka berenam hanya membawa tiga pipa besi, satu tongkat baseball, dan dua gadis bahkan hanya memegang dua pisau dapur yang tampak usang. Sangat jauh jika dibandingkan dengan Ark dan Jay.
"Halo, namaku Jay dan ini sahabatku, Ark. Maaf, kami bukan dari tempat perlindungan manapun."
Jay menggaruk belakang kepalanya dengan wajah jujur.
"Lalu, senjata dan pakaian kalian?"
"Kami menemukannya dalam perjalanan."
Ark membalas dengan nada tak acuh.
"Kalau begitu, bisakah kalian membantu kami menuju ke tempat perlindungan?"
"Tidak."
Sebelum Jay menjawab, Ark menolak dengan jelas.
"Kenapa? Hanya karena sedikit kuat, kamu tidak mau membantu orang yang membutuhkan?"
Kali ini, pria bernama Myron berkata dengan nada sengit.
"Tidak seperti Kak Jay yang membatu kami dengan rendah hati, kamu hanya menonton ketika orang lain hampir dibunuh oleh zombie!"
Mendengar itu, mata Ark menyempit. Sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Ketika Jay bertarung, kalian hanya diam menonton di sana padahal dia ingin membantu kalian. Belum lagi, kamu si pirang tak tahu diri.
Kamu malah bersembunyi di belakang dua pria besar ini, Frank dan Brad, kan?"
Mendengar itu, Myron menggertakkan gigi.
"Kalau begitu beri kami senjata! Paling tidak, itu membantu kami bertahan hidup ketika melakukan perjalanan. Sebagai sesama survivor, kita harus saling membantu, kan?"
Mendengar itu, Ark sedikit mengangguk. Dia turun dari mobil dan berjalan ke arah mereka. Tangan kanannya memegang tombak. Memiliki ekspresi datar di wajahnya, pemuda itu berdiri di depan Myron lalu tiba-tiba memukul wajahnya sampai pria pirang itu jatuh ke jalanan.
"Pertama, jangan memerintah aku. Kedua, kami mencari senjata dengan usaha kami, jadi jika menginginkannya, geledah saja rumah-rumah atau gedung di sekitar. Memangnya kalian pikir kami mengambilnya dengan gratis tanpa bertarung?
Ketiga, berhenti mencari simpati dengan menyebut kata-kata kemanusiaan. Kamu hanyalah orang yang bersembunyi di balik orang lain untuk bertahan hidup. Sangat menjijikkan mendengar kata-kata itu dari mulutmu. Keempat ..."
Ark menunjuk ke arah Myron dengan tombak di tangannya. Memandang pria pirang itu dengan ekspresi dingin, dia berkata.
"Jangan membuatku mengulanginya lagi atau aku sendiri yang akan membunuhmu."
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 512 Episodes
Comments
Eleven
memang sulit untuk mendidik si jay 😭🫠
2024-12-22
0
Luthfi Afifzaidan
up
2025-01-22
0
Alaric Atharbatha
11
2024-07-22
0