Qia Qia tidak menunggu di situ melainkan dia kembali ke meja nya dan langsung duduk kembali di kursi yang sebelumnya dia duduki tanpa menghiraukan para pengunjung lain yang kini menjaga jarak darinya.
"Tuan, bisakah anda memberikan saya satu poci lagi" ucap Qia Qia ke pria pemilik kedai teh dengan ramah saat pria sepuh itu mendirikan lagi kursi yang jatuh dan membereskan semua pecahan poci teh yang di gunakan oleh Qia Qia untuk memukul kepala pemuda tadi.
"Baik Nona, sebentar saya siapkan" ucap pria sepuh itu dengan ramah sambil membawa pecahan poci teh tadi ke dalam dapurnya.
"Apa ku bilang, wanita muda ini sangat kuat, anak tuan kota yang memiliki kultivasi tingkat pencipta semesta saja bisa tidak berdaya seperti itu apalagi kita, bahkan dia tidak memperdulikan status tuan kota dan juga tidak takut akan hukuman yang mungkin diberikan kepadanya" ucap seorang pria sepuh yang duduk di meja samping Qia Qia berada melalui telepati ke teman temannya yang langsung menganggukkan kepalanya sebagai tanda jika mengerti maksud ucapan pria sepuh itu.
"Nona ini teh anda dan anda tidak perlu membayarnya karena tadi bukan kesalahan anda" ucap pria sepuh pemilik kedai teh dengan sangat sopan sambil menyimpan sebuah poci teh di atas meja itu.
"Apakah benar dia anak tuan kota di kota ini?" Ucap Qia Qia dengan santai namun penuh kewaspadaan.
"Itu benar nona namun kami tidak pernah menyukainya, bahkan dia setiap kesini tidak pernah membayar sepeser pun, demikian juga dengan toko toko yang lainnya semua sudah kesal dengan anak sombong itu" ucap pria sepuh itu pelan namun terdengar oleh Qia Qia.
"Ini untuk anda" ucap Qia Qia sambil mengeluarkan seratus keping koin emas dari dalam cincin dimensi milik pemuda itu yang sudah berhasil dia lumpuhkan kontrak nya sehingga cincin dimensi itu kini hanya bisa digunakan olehnya saja.
"Nona ini tidak perlu" ucap pria sepuh itu dengan sangat sopan sambil menolak kepingan koin emas itu.
"Tuan jangan membuat saya kecewa karena saya tidak suka adanya penolakan" ucap Qia Qia dengan ramah.
"Baik Nona terima kasih dan sepertinya tuan kota akan segera datang kesini, apakah anda tidak berpikiran untuk meninggalkan kota ini sebelum tuan kota datang kesini" ucap pria sepuh itu dengan sangat sopan.
"Tuan biarkan saja dia datang, saya ingin tahu ayah model apa itu yang membiarkan perilaku bejat anaknya kepada para penduduk kota ini" ucap Qia Qia dengan ramah sambil menuangkan poci teh itu ke gelasnya.
"Baik nona silahkan dilanjutkan dan jangan khawatir jika anda sampai harus memecahkan poci nya lagi karena saya masih memiliki jumlah yang cukup kok" ucap pria sepuh itu sambil sedikit tertawa dan kemudian meninggalkan Qia Qia.
"Kalian berempat kenapa jadi diam bukankah dari tadi asyik mengobrol apakah kalian masih satu rombongan dengan anak sombong itu" ucap Qia Qia ke pria pria sepuh di meja sebelahnya itu dengan nada suara yang sangat santai.
"Tidak Nona, kami tidak datang bersamanya kami hanya datang berempat saja dan kami takut anda terganggu jadi tidak lagi mengobrol" ucap salah seorang pria sepuh dengan sangat sopan dan ramah.
"Baiklah jika demikian, maafkan aku jika sudah salah kira dengan kalian semua" ucap Qia Qia dengan ramah sambil kembali mengeluarkan kitab yang sebelumnya dia sedang baca.
Ke empat pria sepuh itu hanya bisa tersenyum akan teguran Qia Qia ini dan mereka kini kembali mengobrol sedangkan Qia Qia sudah asyik dengan membaca kitab nya sambil sesekali dia meminum teh nya
Tanpa memperdulikan jika pemuda itu kini sudah pingsan dengan darah yang masih terus mengalir meski tidak deras.
"Siapa diantara kalian yang melakukan hal ini kepada anak ku, aku pastikan akan mendapatkan hukuman gantung" ucap seorang pria sepuh sambil menyuruh empat orang bawahannya untuk mengangkat anak nya itu ke atas kereta kuda miliknya.
Tidak ada seorang penduduk pun yang berani berbicara atau memberikan tahu tuan kota itu jika orang yang sudah melukai anaknya adalah seorang wanita cantik yang masih terlihat berusia dua puluh tahunan.
"Aku berikan seribu keping koin emas untuk kalian yang bisa memberikan aku kepala orang yang telah melukai anak ku" ucap Tuan kota itu dengan menggunakan Qi mendalamnya sehingga terdengar oleh banyak orang di sekitar kedai Teh itu.
"Ternyata nyawa anaknya sangat murah hanya di hargai seribu keping koin emas saja" ucap Qia Qia berbicara dengan cukup kencang namun hanya pengunjung kedai itu saja yang mendengarnya, mereka semua menahan tawa mereka karena mendengar pernyataan Qia Qia itu.
"Kalian semua yang bisa memotong kepala tuan kota maka aku berikan satu juta tael emas bagaimana, apa ada yang berminat, karena nyawaku ini sangat berharga loh" ucap Qia Qia dengan sangat serius ke semua pengunjung kedai itu.
Tidak ada seorang pun yang berani mempertanyakan apakah ucapan Qia Qia itu benar atau tidak namun semuanya tampak ingin memotong kepala tuan Kota itu.
"Eh kalian lihat isi cincin dimensi ini, jika kalian anggap aku ini berbohong" ucap Qia Qia sambil mengeluarkan sebuah cincin dimensi yang tidak terkunci sehingga siapapun bisa melihat isinya dan cincin dimensi itu berisi satu juta tael emas.
"Ayo siapa yang mau ikut sayembara yang ku buat, kalian boleh bekerja sama jika kalian mau, tapi aku hanya akan membayar satu juta tael emas ini saja" ucap Qia Qia dengan sangat serius dan tetap meletakkan cincin dimensi itu.
"Baik nona biar kami saja yang memotong leher tuan kota dan anaknya, kalian semua jangan khawatir pasukan kekaisaran tidak akan menangkap kita karena ini sayembara adil dua pihak" ucap pria sepuh yang duduk di samping Qia Qia itu dan ke tiga temannya juga ikut berdiri.
"Silahkan, saya akan menambah seribu keping koin emas untuk kepala anak sombong itu" ucap Qia Qia dengan santai tanpa memperdulikan sekitarnya yang kini semua pengunjung kedai itu sudah berdiri dengan senjata di tangan mereka.
"Ayo kita habisi bersama dan anggap saja hadiah dari Dewi ini adalah untuk kebersamaan kita saja dalam menghapus Pemimpin durjana" ucap seorang pria sepuh dengan lantang sambil kemudian melesat keluar dan langsung menyerang tuan kota itu.
Semuanya juga sama ikut serta melawan tuan kota dan juga para bawahannya namun jumlah mereka semua seimbang demikian juga dengan kultivasi mereka.
Para penduduk kota yang melihat jika kawan kawan mereka menyerang tuan kota langsung ikut dan mereka semua bersama sama melawan tuan kota itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 160 Episodes
Comments
Dewi
Sepertinya harus ada dorongan besar agar pemimpin yang tidak adil dapat di adili
2022-10-21
1
Dewi
Buah jatuh tidak jauh dari Pohonnya
2022-10-21
1
Caproede1204
jgn kasih kendoorrr...
2022-06-28
0