"Kota ini tidak sekecil yang kulihat semalam ternyata, kedai Teh di depan ku ini sangat ramai sekali, sebaiknya aku mampir" ucap Qia Qia dalam hatinya sambil melangkah memasuki sebuah kedai Teh yang cukup ramai di namun masih terlihat beberapa meja kosong.
"Nona, apakah anda hendak memesan Teh terbaik kami atau hanya teh hijau biasa" ucap seorang pria sepuh yang mendatangi meja dimana Qia Qia berada dengan sangat sopan.
"Tuan, saya ingin mendengar jika teh terbaik anda sangat enak dan menyegarkan jadi saya ingin mencobanya" ucap Qia Qia dengan ramah.
"Baik Nona, mohon tunggu sebentar saya akan segera menyiapkan pesanan anda yaitu teh racikan terbaik saya" ucap pria sepuh itu dengan sangat sopan dan langsung meninggalkan Qia Qia.
"Kekaisaran benar benar keterlaluan, semakin kesini semakin gerak kita dibatasi, apakah kau lihat semalam langit kota kita ini dipenuhi oleh kapal kapal perang kekaisaran" ucap seorang pria sepuh yang duduk persis di meja sebelah kiri Qia Qia.
"Aku juga melihat hal itu, sudah kita semua kaum laki laki di batasi tingkat kultivasi eh sekarang malah semua pergerakan malam tidak diperbolehkan" ucap pria sepuh satunya.
"Sudahlah jangan bahas hal itu lagi" ucap pria sepuh lainnya sambil melihat ke arah Qia Qia sedangkan Qia Qia sendiri sibuk membaca buku dan memang Qia Qia sedang ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kalian berhentilah membicarakan kekaisaran, kalian Lihatlah wanita di sebelah kita itu dan aku sangat yakin jika kultivasi nya sangat tinggi karena bisa sangat tenang duduk diantara kita dan tidak ada seorang pun yang mengawalnya" ucap pria sepuh itu kembali namun kali ini melalui telepati ke teman temannya.
Semua melirik ke Qia Qia dan Qia Qia menyadari hal itu namun dia masih tetap tenang sambil membaca kitab yang di pegangnya.
"Nona maaf membuat anda menunggu lama ini pesanan anda" ucap pria sepuh pemilik kedai teh itu dengan ramah sambil menyimpan sebuah poci teh besar dan satu gelas giok di meja Qia Qia.
"Tuan terima kasih dan berapa saya harus membayar untuk teh anda ini" ucap Qia Qia dengan ramah.
"Nona satu keping koin emas saja sudah cukup, sedikit mahal karena memang bahan bahan yang saya perlukan juga susah saya dapatkan di kota ini" ucap pria sepuh itu dengan ramah.
"Baiklah, ini tuan" ucap Qia Qia sambil memberikan sekeping koin emas ke pria sepuh itu dan sengaja dia tidak memberi lebih karena tidak ingin menarik perhatian siapapun meskipun dia sudah menarik perhatian semua orang sejak datang ke kedai itu.
Pria sepuh itu langsung menerima satu keping koin emas itu dan melangkah menuju bagian dalam kedainya dengan bahagia karena sudah lama tidak ada yang memesan teh racikan terbaiknya.
Qia Qia kemudian menuang poci teh itu ke gelas giok yang ada disana dan langsung mencicipi teh herbal tersebut.
"Teh ini sangat spesial meskipun tidak senikmat buatan penguasa namun cukup menyegarkan" ucap Qia Qia dalam hatinya sambil terus menikmati teh nya.
"Nona apakah anda sendirian" ucap seorang pemuda yang berpakaian layaknya seorang bangsawan tiba tiba duduk di depan Qia Qia dan berbicara dengan nada yang sangat angkuh dan sombong.
"Apakah ada yang bisa saya bantu untuk anda" ucap Qia Qia dengan sangat santai dan sama sekali tidak melihat ke arah pemuda itu melainkan ke kitab yang sedang dia baca.
"Nona lihatlah lawan bicaramu jangan bersikap angkuh kepadaku" ucap pemuda itu dengan suara yang cukup keras dan sambil memukul meja sehingga semua pengunjung menengok ke arahnya.
"Anak muda kau siapa, apakah kau kaisar sampai aku harus melihat mu" ucap Qia Qia dengan cuek sambil menyimpan kitab yang sedang di bacanya.
"Aku putra satu satunya dari tuan kota, kota ini jadi sudah sewajarnya anda bersikap lebih baik kepadaku" ucap pemuda itu dengan sangat angkuh dan membusungkan dadanya.
"Oh, hanya anak manja saja, apakah jika kau mati ayah ibumu menangisi mu" ucap Qia Qia dengan sangat tenang namun sangat pelan sehingga hanya pemuda itu saja yang mendengarnya.
"Dasar wanita bajingan kau mencari mati berani mengancamku" ucap pemuda itu berteriak kencang sambil kembali memukul meja itu dengan tangan kirinya dan tangan kanannya saat ini sudah memegang sebuah pedang yang di angkat untuk menakut nakuti Qia Qia.
"Anak muda jangan bermain api jika kau takut terbakar, kau datang sambil marah marah sedangkan aku hanya duduk tenang disini dan sekarang kau berani mengacungkan pedangmu kepadaku" ucap Qia Qia sambil berdiri dan tangan kanannya dengan sangat cepat mengambil poci teh besar itu lalu memukulkan poci teh besar itu ke kepala pemuda tersebut.
Pemuda itu langsung terjatuh dan dengan cepat Qia Qia bergerak lalu mengambil pedang Pemuda tersebut lalu dia kembali duduk di kursinya sambil melihat ke arah pemuda itu yang kini kepalanya berdarah dan mencoba untuk berdiri kembali.
"Lepas cincin dimensimu atau aku akan melepaskan tangan mu" ucap Qia Qia dengan santai sambil mengacungkan pedang di tangannya yang merupakan pedang pemuda itu.
"Kau berani melukai ku jangan harap kau bisa keluar dari dalam kota ini" ucap pemuda itu sambil tertawa terbahak bahak dan melangkah keluar dari dalam kedai.
"Dasar anak manja, baiklah aku ikuti permainannya kita lihat berapa langkah kau bisa keluar dari kedai ini" ucap Qia Qia sambil berdiri dan menancapkan pedang milik pemuda itu di mejanya, dia kemudian mengambil sebuah sumpit yang ada di mejanya lalu melemparkannya.
Semua orang melihat dengan cepat saat Qia Qia melempar sumpit itu dan sumpit itu dengan cepat menembus paha kanan dari pemuda tersebut yang baru melangkah dua meter saja dari pintu kedai Teh.
Pemuda itu kembali terjatuh dan langsung meraung kesakitan dengan sangat keras karena kini bukan hanya kepalanya saja yang berdarah melainkan juga dengan paha kanannya.
Qia Qia kemudian mendekati pemuda tersebut dengan pedang yang sudah di tangan kanannya lalu dengan cepat menginjak belut mungil milik pemuda itu hingga hancur, perbuatannya itu membuat semua penduduk laki laki langsung memegang belut mereka dan menelan ludah mereka.
Pemuda itu semakin meraung kesakitan dan Qia Qia dengan santai nya mengambil cincin dimensi milik pemuda itu yang masih terpasang di tangan kanannya.
"Hai anak sombong jangan berisik kau atau aku akan memotong lidahmu" ucap Qia Qia karena pemuda itu terus menerus menjerit kesakitan.
Pemuda itu langsung menutup mulutnya dan terlihat jika pemuda itu menahan sakit yang sangat namun tidak ada satupun penduduk kota yang berani menolongnya saat ini karena semua takut mengalami hal sama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 160 Episodes
Comments
Dewi
Hanya mengandalkan jabatan orang tua saja mana mungkin bisa menarik perhatian Qia Qia
2022-10-21
1
Caproede1204
siap..
2022-06-28
0
Caproede1204
mantab...
2022-06-28
0