Shine memberikan selembar foto, “apakah anda kenal dengan pria ini ?”, tanya Shine pada bang Mingun.
Bang Mingun terdiam, tidak mau menjawab dan terus mengulur waktu. Shine tahu yang dibutuhkan agar bang Mingun mau bicara. Bang Mingun seorang debtcollector, pastilah uang, yang dia inginkan.
“Jujur saja, berapa harga yang harus saya bayar agar anda mau bicara ?”, tanya Shine pada bang Mingun.
“Anda berani berapa, saya bisa saja mempertimbangkannya”, tanya bang Mingun balik.
“Satu juta, saya bayar tunai pada anda ?”, kata Shine menawarkan.
“Lima juta, jika nona tidak mau, saya akan pergi”, bang Mingun mengancam Shine.
“Saya akan berikan uangnya nanti, setelah anda bicara”, tawaran Shine pada bang Mingun.
“Perlihatkan uangya dulu baru saya percaya”, kata bang Mingun yang licik.
Karena Shine tidak membawa uang tunai dia mengambil di ATM terlebih dahulu. Bang Mingun di jaga oleh detektif dan pak Fran, supaya tidak pergi.
“Ini uang tunai lima juta, silahkan anda bicara”, kata Shine pada bang Mingun.
“Oke saya bicara, dia dulu anak buah saya, namanya Jeck. Dia bertugas menagih hutang bagian belakang karena di sana orangnya susah ditagih. Dia hutang sama saya katanya butuh biaya untuk operasi putrinya, penyakitnya kanker hati kalau ga salah, karena dia anak buah saya dan kerjanya bagus, ya saya kasih dong, eh dia malah gak pernah bayar tuh utang, saya usir dia, trus dia balik lagi hanya ngasih sertifikat rumah, dah setelah itu ngilang, sampai sekarang. Jelaskan mbak, sekarang mana uangnya ?”, bang Mingun menagih uang yang telah disepakati.
“Sebentar dulu bang, kalau istrinya ?”, tanya Shine lagi.
“Istrinya udah mati, dia stres, karena sertifikat rumahnya yang dikasihkan saya, udah anaknya sakit, gak punya rumah. Sekarang mana uangnya ?”, bang Mingun meminta uangnya lagi.
“Satu lagi, putrinya tinggal di mana ?”, tanya Shine yang tiada hentinya.
“Tambah uangnya dulu”, bang Mingun meminta tambahan uang.
Detektif yang disewa oma Hara, ikut jengkel terhadap bang Mingun yang terus meminta uang, secara spontan ingin menghajarnya, namun dicegah oleh Shine.
“Jangan…jangan pukul dia dulu, ayo bang jawab dulu pertanyaanku”
“Oke…oke…oke, jangan pukul dulu, sudah cukup uangnya, sudah cukup, ampun…ampun”, bang Mingun ketakutan saat hendak dihajar sang detektif.
“Tolong lepaskan dia”, minta Shine pada detektif.
“Gini dong, kan enak jawabnya, terakhir saya dengar di panti asuhan anak penyakitan itu”, jawab bang Mingun mengambil uang di depannya.
Shine membiarkan uang yang diambil bang Mingun. Shine berpikir panti asuhan yang menerima anak cacat atau memiliki penyakit, seperti tahu dimana panti asuhan itu berada.
Setelah berpikir agak lama, Shine teringat ada satu panti asuhan seperti itu yang ada di kota ini. Panti asuhan Kasih Bunda. Shine langsung pergi ke panti asuhan itu bersama pak Fran. Di sana, Shine mencari anak perempuan yang menderita kanker hati.
“Pak Fran, apakah anda tahu sebuah panti asuhan yang dimaksud bang Mingun tadi ?”, tanya Shine pada pak Fran di dalam mobil.
“Maaf nona, saya kurang tahu”, jawab pak Fran.
“Kalau panti asuhan Kasih Bunda, apakah pak Fran pernah mendengarnya ?”, tanya Shine lagi.
“Panti asuhan Kasih Bunda, seperti pernah dengar nama itu, oh, baru ingat, saya pernah mengantar nyonya memberikan bantuan kesana, tempat itu tidak jauh dari sini”, jawab pak Fran sangat yakin.
“Langsung kesana ya pak Fran !”, ajak Shine.
Shine menemui pengurus panti, saat tiba disana.
“Nona, saya pernah bertemu dengan pengurus disini, ayo saya antar”, kata pak Fran.
Pak Fran menunjukkan kantor pengurus panti yang sudah pernah ia temui. Dia sambut dengan baik oleh pengurus panti.
“Pak Fran, selamat datang kembali di sini, apa yang bisa saya bantu ?”, tanya pengurus panti pada pak Fran.
“Kami datang kesini, ingin mencari informasi tentang salah satu anak perempuan, apakah saya bisa mendapatkannya ?”, tanya Shine langsung pada pengurus panti.
“Anda siapa kalau boleh saya tahu ?”, tanya pengurus pada Shine
“Dia kerabat nyonya Asmaharani”, jawab pak Fran.
“Oh iya, belum perkenalan, nama saya Shine, benar kata pak Fran, saya kerabat dari oma Asmaharani”, jawab Shine menyambung pernyataan dari pak Fran.
“Baiklah nona, siapa anak perempuan yang anda maksud tadi, dan untuk apa anda bertanya tentang asal usulnya, karena disini tidak sembarangan boleh menyebarkan informasi dan status anak, lain persoalannya, jika anda akan mengadopsinya”, kata pengurus bijaksana.
“Saya seorang dokter yang ikut dalam komunitas peduli kanker, anak ini masuk dalam daftar penerima donor, tapi saat kami mencari ke alamatnya, dia sudah tidak di sana lagi, oleh karena itu, saya sekarang mencari informasinya, sangat disayangkan apabila dia tidak dapat menerima kebaikan sang pendonor yang telah terkonfirmasi 99,9 % cocok dengannya”, bujuk Shine pada pengurus panti.
“Memang ada satu anak perempuan yang kini sedang menderita kanker hati”
Shine merasa senang, bisa menemukan anak Big One, tapi dia tidak boleh mengungkapkan alasan yang sesungguhnya pada pengurus panti, dia terpaksa harus membohonginya.
“Apakah itu benar ?, dia pasti akan senang sekali jika sudah mendapatkan donor yang ia tunggu-tunggu selama ini”, perasaan senang pengurus panti.
“Apakah saya bisa menghubungi kedua orang tuanya untuk meminta persetujuan ?”
“Tunggu sebentar, akan saya ambilkan berkasnya”, penguruspanti mencari berkas di ruang lain.
“Nona, kenapa anda berbohong, kasian anak itu jika anda memberikan harapan palsu ?”, tanya pak Fran yang merasa tidak tega.
“Saya terpaksa pak Fran, tapi anda tenang saja, saya pastikan anak ini akan mendapatkan pendonor yang cocok, saya akan menghubungi teman saya”, Shine meyakinkan pak Fran.
“Nah…ini berkas anak itu, apakah kalian mau menemuinya ?”, tanya pengurus panti.
“Boleh, tolong antarkan saya menemuinya, dan berkas ini boleh saya lihat dulu ?”, Shine memastikan berkas yang ia cari bisa ditangannya.
“Tentu saja, silahkan, mari saya antar ke kamarnya”, jawab pengurus panti.
“Sebentar ibu, anak perempuan yang kami maksud, putri dari bapak ini”, Shine meperlihatkan foto Big One.
“Oh, anak ini, dia sudah mendapatkan donor dan dinyatakan sembuh, memang dia pernah ada di sini, tapi tidak lama”, jawab pengurus panti.
“Apakah ibu masih memiliki data dari anak ini ?”, tanya Shine.
“Sebentar kalau begitu, saya cek dulu, karena dia di sini hanya sebentar”, pengurus panti mencari berkas anak Big One.
Shine berharap banyak dari data itu, beruntung sekali, data dari anak Big One masih ada dan disimpan rapi oleh sang pengurus panti asuhan.
“Bolehkah saya tahu tentang anak ini, karena dulu ayahnya sangat bergantung pada komunitas kami, ternyata malah sudah mendapatkan donor, saya sangat bersyukur untuk itu”.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
💮Aroe🌸
waaah.... satu persatu masalah si big di urusin shine🥂 salute
2022-03-12
1
Aris Pujiono
sabar shine
2022-02-15
1
Mom FA
hadirrr🥰
2022-02-11
1