Shine pergi ke villa, membawa bendera perdamaian untuk Big Team, dengan berbagai senjata yang telah ia persiapkan, jika ada perlawanan.
Kembali ke cerita Shine mencari latar belakang semua anggota Big Team.
Oma Hara sengaja menyewa dektektif profesional untuk menyelidikinya, Shine tidak hanya tinggal diam, menunggu hasilnya saja, namun dia tetap ikut mencari untuk menghemat waktu.
Shine mencari latar belakang Big One, dialah yang utama, karena selama ini selalu dia yang berhasil mengusir Shine di sekitar Sand.
Pencarian Shine dimulai dari orang-orang yang pernah dekat dengan Big One. Salah satunya adalah tetangga Big One di kampung. Oma Hara memberikan selembar foto pria dan wanita dewasa, serta anak laki-laki di antara mereka.
”Orang ini sudah dikonfirmasi oleh detektif pernah mengenal Big One, mereka tinggal di gang Buncit di perkampungan bawah jembatan biru”, informasi dari oma Hara.
Shine melihat foto itu dan berharap bisa menemukan petunjuk tentang Big One.
”Biarkan pak Fran yang mengantarmu Shine”, minta oma Hara.
“Baik oma, terimakasih untuk tumpangannya”
Shine menemui orang itu bersama pak Fran.
“Pak Fran tahu daerah gang Buncit itu, sepertinya ada di perkampungan padat penduduk ?”, tanya Shine meyakinkan.
“Saya tahu nona, walaupun saya sudah lama bekerja dengan nyonya, sebelumnya saya supir taksi di daerah ini”, jawaban pak Fran sangat meyakinkan.
”Pak Fran berhenti, sepertinya alamatnya yang di sini”
Mengetuk pintu, ”permisi, ada orang di dalam ?”
“Pak Fran sepertinya rumahnya kosong”
“Coba sekali lagi nona, mungkin yang di dalam tidak dengar”, pak Fran mencoba meyakinkan Shine.
Ada seorang anak kecil yang membuka pintu.
”Adek, bapak sama ibumu ada di rumah?”, tanya Shine pelan.
Anak kecil itu hanya mengaangguk, kemudian muncul seorang wanita menyambut Shine.
”Apakah betul anda ibu Masti ?”, tanya Shine pada wanita itu.
”Betul, anda siapa ya mbak ?”, tanya ibu Masti penasaran.
Shine menyodorkan foto Big One.
”Apakah ibu kenal dengan orang ini ?”
Bu masti melihat sambil mengamati foto.
”Sepertinya saya kenal dengan orang ini, tapi siapa ya…?”, bu Masti memanggil suaminya, “pak coba kesini lihat ini, bapak kenal gak ?”
“Sebentar…”, pak Ganu mengamati foto yang diberikan istrinya. “Ini mah si Jaka, biasanya di panggil Jeck, dia anaknya bu Sumi itu lho, ibu ingat gak ?”, pak Ganu memastikan pada istrinya.
“Oalah iya… sekarang aku ingat pak, si Jeck itu to, anaknya bu Sumi, iih… dulunya preman kan, tapi sekarang kok penampilannya kayak orang kaya ya pak ?, udah sukses dia sekarang pak”, bu Masti mengagumi penampilan Big One.
“Iya, ya buk, udah kaya dia sekarang, mbak ngapain cari si Jeck ini, mbak mau bales dendam ya ?”, tanya pak Ganu, suami bu Masti pada Shine.
“Bukan…bukan…, saya ingin menemui keluarganya pak, malah saya yang berhutang budi pada dia”
“Preman gitu masak bisa berbuat baik to mbak ?”, tanya bu Masti.
“Bisa kok buk, saya mau membalas kebaikannya, tapi sampai sekarang belum ketemu, makanya saya mencarinya kesini, mungkin ibu sama bapak tahu”, jawab Shine.
“Dulu sebelum kami pindah dari kampung ke sini, Jeck ini jadi preman pasar mbak, tapi dia sempet nikah kok, punya anak perempuan ya bu ?”, pak Ganu mengkonfirmasi pada istrinya.
“Iya bener pak, kalau bu Suminya masih di kampung seingatku, kalau anak dan istrinya saya gak tahu mbak. Soalnya dia diusir dari kampung karena meresahkan gitu, dan pindahnya saya juga gak tahu dimana mbak. Coba tanya bang Mingun, mungkin lebih tahu tentang Jeck mbak. Tapi hati-hati ya mbak dia itu rentenir. Pasti punya banyak preman”, penjelasan bu Masti pada Shine.
“Terimakasih banyak atas informasi bapak sama ibu”, Shine memberikan amplop untuk anak bu Masti dan pak Ganu.
“Walah mbak, apa ini… gak usah mbak”
“Gak papa kok buk…buat tambahan jajan adeknya aja”
“Bilang apa dek sama mbaknya ?”
“Terimakasih mbak”, anak bu Masti malu-malu sambil memeluk ibunya.
“Kalau gitu saya permisi ya buk… pak…, terimakasih informasinya”
“Hati-hati di jalan mbak”, bu Masti dan Pak Ganu berkata secara bersamaan.
Berdasarkan informasi bu Masti dan pak Ganu, Shine mendapatkan petunjuk bahwa Big One, punya istri dan seorang putri.
Shine mencari tahu keberadaan mereka melalui bang Mingun sang rentenir yang biasanya menagih bayaran di pasar.
Shine dan pak Fran, melanjutkan pencarian mereka.
“Kata bu Masti bang Mingun sering di pasar, kita kepasar mana dulu ya pak Fran ?”
“Setahu saya rentenir banyak menagih hutang, pasti di pasar yang besar, saya akan mengantar nona ke sana”, ucap pak Fran.
Sesampainya Shine di pasar paling besar di kota, dia mencari tahu dengan bertanya kepada salah satu pedangang di pinggir jalan. Shine berada di dalam mobil.
“Permisi ibu…?, apakah anda tahu bang Mingun ?”, tanya Shine sedikit berteriak pada salah satu pedagang.
“Maaf neng, saya tidak tahu”, jawab pedagang itu.
“Pak Fran, apa kita harus masuk kedalam pasar ya ?”, tanya Shine pada pak Fran.
“Baik nona, mungkin ada pedagang yang tahu bang Mingun”, jawab pak Fran.
Shine masuk ke dalam pasar. Suasana di dalam sangat ramai. Shine bertanya kembali pada penjual baju.
“Permisi pak, numpang tanya…, apakah bapak kenal dengan bang Mingun ?”, tanya Shine pada penjual baju.
“Oh…bang Mingun, biasanya menagih hutang lewat sini jam 10 neng”, jawab penjual baju.
Dari pertanyaan Shine itu, membuat para pedagang bergosip, kenapa Shine mencari debtcollector, apakah nantinya bang Mingun akan ditangkap. Para penjual itu berpikir, Shine adalah polisi yang sedang menyamar.
Bang Mingun sangat dikenal di dalam pasar, karena seringmenagih hutang bersama preman, yang berbuat kasar, membuat para padagang, tidak berani melawannya.
Oleh karena itu, bang Mingun sangat terkenal dengan kesadisannya sehingga, setiap pedagang tahu dan dia mudah dicari. Akan tetapi Shine sudah lewat pukul 10, dia kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan bang Mingun.
Keterangan dari banyak pedagang, bang Mingun dan para premannya sering mangkal dekat pos ojek. Benar saja, di sana ada banyak pria nongkrong yan berpakaian seperti preman, pastilah itu bang Mingun dan para premannya. Shine memberanikan diri untuk menemui bang Mingun.
“Permisi bang, saya mencari bang Mingun, dimana ya saya bisa menemuinya ?”, tanya Shine pada salah satu preman.
“Nona cantik mau ketemu bang Mingun ya, sini duduk dulu”, kata preman setengah menggoda Shine.
“Nona Shine, sepertinya mereka tidak bisa diajak kerja sama, lebih baik menunggu para detektif itu untuk membantu kita”, sahut pak Fran kawatir.
Pak Fran menarik mundur Shine.
“Gak papa pak, kita beri uang saja, pasti mereka nurut”, jawab Shine yang tidak menghiraukan perkataan pak Fran.
“Nona Shine, saya tidak akan membiarkan mereka melukai anda, tunggu di sini, saya akan memanggil para detektif dulu”, kata pak Fran sambil menelepon detektif yang disewa oma Hara.
Pak Fran memegangi tangan Shine, takut kalau Shine nekat mendekati mereka.
Setelah para detektif itu datang, Shine tetap ingin mencari bang Mingun dengan tangannya sendiri. Para detektif itu hanya mendampingi Shine.
“Iya saya mau bertemu dengan bang Mingun, dimana orangnya sekarang ?”, tanya Shine pada preman.
“Jangan buru-buru cantik, sini main dulu sama abang”, preman yang lain mulai menggoda Shine,
Para detektif itu mulai menghajar preman yang bersikap tidak sopan terhadap Shine. sedangkan preman lainnya ketakutan mencari bang Mingun.
Bang Mingun datang bersama preman yang kabur tadi, menemui Shine dan menanyakan maksud kedatangannya.
“Nona ada perlu apa dengan saya ?, mengapa anda mengahajar anak buah saya”, tanya bang Mingun yang kesal.
“Maafkan atas keributan ini, saya tidak bermaksud untuk menghajar anak buah anda, saya hanya ingin menanyakan sesuatu pada anda ? kalau tanpa anak buah anda bisa ?”, tanya Shine pada bang Mingun.
Bang Mingun yang takut melihat ada pria berbadan besar di samping Shine, akhirnya dia mau berbicara hanya empat mata. Mereka berbicara di warung dekat pangkalan ojek.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
💮Aroe🌸
shine keren iiih😎
lebih keren, otornya😆
🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️
2022-03-09
1
Si Bungsu
next, mari saling mendukung thor
2022-03-08
0
Aris Pujiono
lanjut kak
2022-02-14
1