Malam berlalu tanpa mimpi, ketika Jin Lien bangun, Da Hei telah menarik array yang dia pasang, dia menatap Jin Lien yang sedang mencuci muka dan menggosok gigi.
Setelah pembersihan sederhana, Jin Lien mengeluarkan panci kecil dan kompor alkohol. Dia juga mengeluarkan mi instan dan beberapa sosis serta daging kaleng, ada juga beberapa sayuran.
Menyalakan kompor alkohol, dia menuangkan air di panci dan mulai memanaskan panci. Menunggu sampai air di panci mendidih, Jin Lien pertama memasukan daging kaleng dan sosis yang telah dia potong ketika air di panci mendidih. Dia juga memasukan sayuran terlebih dahulu kemudian memasukan beberapa bungkus mi instan bersama bumbunya.
Menunggu hidangan selesai, dia mengeluarkan 2 mangkuk dari dalam dimensi lotus. Melihat mi telah jadi, dia menuangkan ke dalam mangkuk dan memberikan satu mangkuk pada Da Hei, dan mangkuk lain adalah miliknya.
Keduanya makan dengan tenang, tapi Da Hei selalu merasa jika pemahaman dirinya tentang makanan sangat rendah. Dengan adanya Jin Lien, dia akhirnya tahu apa itu kelezatan.
Mi instan, makanan kalengan, sosis, susu kotak dan segala macam hal tentang materi lengkap di dalam dimensi lotus. Jin Lien pada dasarnya tidak kekurangan apa pun, tapi dia sedikit bingung, kapan dia menyiapkan semua materi ini?
Apa pun yang ingin dia makan, semua ada. Jika Jin Lien berniat menjadi kutu beras, itu tidak ada masalah sama sekali, tapi dia bukan orang seperti itu. Dia rela menderita untuk menjadi kuat, meski dia sesekali menikmati kenyamanan untuk dirinya sendiri.
Menyelesaikan mi dan membereskan tenda, dia masih mengeluarkan burger dan memakannya sambil berjalan mencari Warcraft yang bisa dijadikan objek latihan.
Jin Lien tidak menyerang Warcraft yabg lebih lemah dari dirinya, tapi akan menyerang yang lebih kuat dari dirinya sendiri.
Hari terus berlalu, dan Jin Lien telah berada di hutan Warcraft selama seminggu. Saat ini seluruh tubuhnya berlumuran darah setelah berhasil mengalahkan ular python besar yang ukurannya lebih besar dari tubuh Jin Lien sendiri.
Baju merah miliknya sendiri tidak lagi utuh dan telah dipenuhi robekan akibat bertarung.
Jin Lien tanpa basa-basi memasukan mayat ular python ke dalam dimensi lotus, dia juga membawa Da Hei ketika memasuki dimensi lotus untuk membersihkan diri.
Merasa dirinya telah bersih, dia menggunakan hanfu hitam dengan bordiran lili laba-laba merah di hanfu tersebut. Modelnya pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan set sebelumnya.
Keluar dari dimensi lotus, Jin Lien langsung meninggalkan tepat pertarungan bersama Da Hei. Kali ini dia tidak berniat untuk mencari partner latihan, tapi mencari herbal yang tidak ada di dalam dimensi lotus.
"Da Hei, apakah kau merasakan aura Divine Beast di hutan ini?"
"Tidak, tapi aku merasa akan ada harta surga dan bumi yang akan lahir di hutan ini dalam beberapa hari."
Jin Lien terdiam, dan mengangguk mengerti.
"Jadi itu bukan Divine Beast."
"Tentu bukan."
Jin Lien masih dengan santai memakan burger dan sesekali memberikan pada Da Hei.
Tidak peduli harta surga dan bumi macam apa itu, Jin Lien tidak tertarik. Dia telah memiliki banyak harta dan pusaka yang tak ternilai di dalam dimensi lotus, tapi jika memang dia berjodoh dengan harta kali ini, tentu dia tidak akan melepaskan. Namun bukan berarti dia berinisiatif untuk mencari harta itu.
Dia datang ke hutan ini dengan tujuan untuk berlatih dan mencari herbal yang menurutnya tidak ada di dalam dimensi lotus untuk mengoleksinya dan menambah varietas herbal miliknya.
Ketika sedang berjalan, dia tiba-tiba berhenti dan bibirnya sedikit melengkung.
"Da Hei, lindungi aku. Aku akan menggali rumput bulan ungu terlebih dahulu."
Da Hei tidak menjawab, tapi sedikit menggeram rendah, dan Jin Lien dengan senang hati menggali rumput bulan ungu.
Jin Lien belum memiliki herbal ini di dalam dimensi lotus, jadi dia menggali beberapa dan melemparkan langsung ke dalam dimensi lotus.
Tidak sampai sore hari, Jin Lien akhirnya mengumpulkan selusin jenis varietas herbal. Setelah membersihkan tangannya, dia tiba-tiba mendengar suara orang berbicara tidak jauh, tapi dia hanya berhenti dan tidak peduli.
Duduk di bawah pohon dan bersandar di perut Da Hei, Jin Lien menunggu beberapa sosok mendekat.
"Da Hei, ini hampir malam, apa yang akan kita makan?"
Da Hei tidak tahu harus bereaksi seperti apa, selain latihan dan mencari herbal, sebagian besar waktu dihabiskan untuk makan. Untuk makanan, jangan salahkan Jin Lien tentang itu, siapa yang menyuruhnya memiliki banyak persediaan.
"Aku tidak pilih-pilih, asal itu enak."
"Baiklah."
Pertama Jin Lien mengeluarkan tungku tanah liat yang dia buat sendiri, karena tidak mungkin untuk mengeluarkan kompor secara langsung.
Setelah itu dia mengeluarkan beberapa bahan untuk membuat sup Wonton.
Selain membuat sup Wonton, Jin Lien mengeluarkan tumpukan kayu bakar dan alat pemanggang untuk memanggang daging Warcraft yang telah mereka kalahkan beberapa hari lalu. Dari beberapa Warcraft, yang menjadi pilihan kali ini adalah Rusa impian.
Memanggang di atas api sambil mengoleskan bumbu dan sedikit minyak.
Melihat sup Wonton miliknya telah masak, dia memadamkan api, dan aroma sup serta rusa panggang itu terbawa oleh angin.
Menunggu beberapa saat lagi, rusa panggang juga selesai, dan Jin Lien membagi duo Wonton bersama Da Hei.
Memakan sup Wonton dan rusa panggang, membuat Jin Lien puas. Tidak peduli seberapa keras hidupmu, itu harus dinikmati.
Ketika Jin Lien dan Da Hei telah menghabiskan sup Wonton, masih ada setengah rusa panggang yang tersisa. Kebetulan orang-orang yang ditunggu Jin Lien juga tiba.
Jin Lien mengangkat matanya dan menatap dua orang yang dia sinyalir adalah pemimpin dalam kelompok. Itu adalah gadis muda dan pemuda, tapi dia merasa itu adalah 2 kelompok yang berbeda, tapi entah bagaimana mereka bisa bersama.
Jin Lien tidak peduli dan kembali fokus pada rusa panggang yang masih ada setengah.
"Da Hei, aku sudah kenyang, kau habiskan sisanya."
Setelah mengatakan hal tersebut, Jin Lien mengeluarkan air mineral dari cincin ruang dan menyesapnya.
Dia kembali melihat kelompok orang yang baru saja datang berhenti tidak jauh. Kelompok orang itu tidak datang menyapanya, dan Jin Lien lega.
Namun, ketika dia melihat kelompok orang itu mengeluarkan burger, dia terkejut, tapi wajahnya masih tenang.
Da Hei tidak melanjutkan makan daging panggang, tapi melihat beberapa orang sedang memakan burger dengan santai, dia kemudian menatap Jin Lien.
"Ada apa? Apakah kau sudah kenyang?"
Da Hei tidak menjawab, tapi hanya mengangguk dan menggeleng dan menatap kelompok orang yang baru datang.
"Apakah kau ingin memakan burger juga?"
Melihat Da Hei mengangguk, Jin Lien terkekeh dan kemudian dia menyimpan sisa rusa panggang, kemudian mengeluarkan tumpukan burger dan menaruhnya di depan Da Hei.
"Baiklah, kau bisa memakannya, dan aku akan beristirahat."
Jin Lien bersandar di tubuh Da Hei dan perlahan menutup matanya.
........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Nf@. Conan 😎
kuda pemakan segala ya cuma Ba Hei
2024-03-26
0
Lyssa Ly Alex
𝒘𝒐𝒘𝒘... 𝒌𝒖𝒅𝒂 𝒎𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒃𝒖𝒓𝒈𝒆𝒓 𝒉𝒂𝒉𝒂𝒉𝒂𝒉...
2023-11-29
0
Shinta Dewiana
nah siapa tu...orang2 dr dunia modern kah...
2023-07-19
0