Pletak
Jitakan keras yang menjawab ucapan Jin Lien, dia kemudian memandang pelaku dengan mata hitam besar yang melotot.
"Hiss, kejam."
Qin Ze tercengang, dalam benaknya, sepupu kecil ini tidak pernah mengeluh seperti ini, paling banter dia hanya memberikan tatapan melotot ketika dia menjitak atau merusak gaya rambut sepupu kecil itu.
Meski mereka jarang berinteraksi dan berbicara, tapi ketika mereka berpapasan di kediaman Qin, dia selalu mencuri kesempatan untuk mengacak rambut sepupu kecil atau menjitak kepalanya tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Apa yang kau lakukan di sini seorang diri?"
Jin Lien memutar matanya dengan kesal, tapi dia masih menjawab.
"Pertama, aku tidak sendiri, tapi bersama Da Hei. Kedua, tentu saja memasuki hutan kabut untuk berlatih."
Bibir Qin Ze berkedut dengan jawaban Jin Lien yang menurutnya tidak masuk akal.
"Tempat ini berbahaya."
Jin Lien tidak mau kalah, dan masih membalas dengan arogan dan percaya diri.
"Justru karena itu aku datang ke sini untuk berlatih, karena hutan Warcraft sama sekali tidak menantang."
"Gadis konyol, aku tidak mengizinkanmu menjauh dariku dalam 3 langkah."
"Da Ge, kau terlalu tidak adil."
"Hei jika terjadi sesuatu padamu, kakek akan murka. Ngomong-ngomong, apakah kakek tahu jika kau keluar?"
Jin Lien tercengang, dan merasa hangat di hatinya, keluarga yang di luar tampak tak peduli padanya, tapi pada kenyataan mereka sangat peduli. Namun, dia masih tidak menunjukkan fluktuasi apa pun dan menjawab pertanyaan Qin Ze dengan percaya diri.
"Tentu saja kakek tahu, aku keluar juga untuk berlatih dengan tujuan kompetisi antara keluarga besar."
"Tapi ..."
Qin Ze menghentikan ucapannya, dia kemudian sadar dengan sekitarnya yang menatap dirinya dan sepupu kecil itu sedang berdebat.
Jin Lien juga tahu apa maksud Qin Ze, dan dengan senyum lebar dia berkata dengan percaya diri.
"Da Ge, jangan meremehkan aku, aku ini kuat. Juga ada Da Hei bersamaku."
Jin Lien juga akhirnya sadar dengan sekitarnya, dia kemudian tersenyum ramah pada rekan tim Qin Ze sambil memperkenalkan diri.
"Panggil saja aku Xiao Qin, aku adik perempuan Qin Ze."
Rekan Qin Ze juga mengangguk, dan wajah salah satu gadis dalam kelompok juga membaik.
Setelah memperkenalkan dirinya pada kelompok Qin Ze, dia menatap kelompok lain dengan dingin. Tidak ada senyum konyol ketika pertama kali bertemu dengan Qin Ze, tapi wajah itu datar dan tatapan ketika menatap kelompok lawan sangat dingin.
Dia kemudian berkata dengan mendominasi dan tidak kalah arogan dari pemuda kekar ketika mengisi kelompok Qin Ze.
"Tempat ini lebih dulu ditempati oleh saudaraku dan kelompoknya, kalian sebaiknya mencari tempat lain atau tinjuku akan menyapa kalian."
"Hee, gadis kecil itu terlalu sombong."
Pemuda kekar menyeringai kesenangan ketika melihat Jin Lien, terlebih wajah Jin Lien sangat cantik dan dia lupa mengenakan topeng.
Jin Lien berbalik dan menatap Qin Ze, kemudian bertanya.
"Da Ge, apakah tidak apa-apa jika aku membunuh mereka semua?"
"Sesukamu."
Jawaban Qin Ze tentu saja membuat senyum Jin Lien semakin merekah, dan dia kemudian menatap kelompok seberang layaknya orang mati.
"Hahahahaha."
Namun, kelompok lawan tertawa mengejek seolah melihat sesuatu yang lucu.
Jin Lien menyipitkan matanya dan tersenyum cerah, tidak ada yang memperhatikan jika dia telah melempar bubuk pembusuk ke arah kelompok lawan.
Jin Lien tidak menanggapi, dan mengangkat bahu dengan acuh tak acuh lalu kembali berbicara.
"Da Ge, atau biarkan tempat ini pada mereka, kita pergi mencari tempat lain."
Qin Ze dan yang lainnya menatap aneh pada Jin Lien, lalu kemudian mereka seolah mengerti sesuatu dan mengangguk.
"Baiklah, kali ini kami mengalah, tempat ini milik kalian."
Setelah mengatakan itu, Qin Ze dan rekannya pergi mencari tempat lain dan tidak pernah menatap ke belakang.
Mereka bisa mendengar tawa mengejek dan kemenangan dari kelompok lawan, tapi tidak lama setelah itu, mereka mendengar jeritan menyakitkan dari kelompok itu.
Ketika jeritan itu semakin keras, mereka semua berbalik dan mendapati jika kelompok tersebut memiliki daging yang membusuk.
Dengan serempak, mereka semua menatap Jin Lien yang menatap kelompok lawan dengan acuh tak acuh, seolah meracuni orang adalah hal biasa baginya.
Tidak ingin melihat lebih lama, mereka berbalik dan pergi. Meski mereka ingin bertanya, tapi ini bukan waktu yang tepat.
Setidaknya mereka tidak boleh berada di lokasi kejadian, bukan karena mereka takut, tapi mereka tidak ingin bertemu masalah lain.
Setelah 2 jam berjalan dan mencari tempat, mereka akhirnya menemukan lokasi yang bagus untuk berkemah. Melihat hutan kabut kejauhan, itu masih belum memiliki tanda-tanda kabut akan menipis.
Segera mereka mendirikan tenda dan beristirahat untuk mengisi perut mereka.
Mereka semua mengeluarkan burger dari tas penyimpanan mereka. Qin Ze juga mengeluarkan untuk Jin Lien.
Jin Lien mengambil dan menggigit dengan wajah berkerut. Rasa ini memang rasa burger yang tidak asing bagi lidahnya.
Dia memakan dengan tenang, dan menatap semua orang yang juga makan dengan tenang.
Dia kemudian melihat Da Hei yang sedang menatap mereka semua dengan liur menetes dari mulutnya.
Jin Lien tersenyum dan kemudian berdiri menghampiri Da Hei.
"Maaf melupakanmu."
Dia kemudian melambai dan tumpukan besar burger muncul di depan Da Hei.
Da Hei meringkuk ringan dan menggosok kepalanya penuh kasih sayang pada Jin Lien.
"Apa yang ingin kau minum?"
"Beri aku jus jeruk."
Jin Lien kembali melambai dan wadah besar berisi jus jeruk muncul di samping wadah burger untuk Da Hei.
"Oke, makan dengan tenang."
Setelah itu Jin Lien kembali ke tempatnya dan mendapati tatapan penuh tanya Qin Ze.
"Da Ge, ada apa?"
"Dari mana kau mendapatkan begitu banyak burger, dan apa yang kau berikan pada Da Hei untuk di minum?"
Jin Lien terperangah dan kemudian dia menjawab dengan tenang.
"Tentu saja aku membelinya, dan yang diminum oleh Da Hei adalah jus jeruk. Apakah Da Ge menginginkannya?"
Qin Ze bingung, dia bertanya-tanya apa itu jeruk? Tapi melihat jika itu sepertinya enak, jadi dia mengangguk.
Jin Lien mengeluarkan 8 gelas jus jeruk, masing-masing dari mereka memiliki 1 gelas.
Baru saat itulah Qin Ze dan yang lainnya sadar jika Jin Lien mengeluarkan sesuatu bukan dari tas ruang, melainkan dari cincin ruang.
Mereka semua terkejut, tapi tidak mengatakan apa-apa, dan memilih untuk makan dalam diam.
Ketika semua menyelesaikan makanannya, mereka kembali bertanya pada Jin Lien.
"Apakah kau meracuni mereka?"
"Uhm, tentu saja. Mereka terlalu menyebalkan."
Jin Lien menjawab pertanyaan Chi Wang dengan santai.
"Apakah mereka mati."
"Uhm."
Jin Lien mengangguk, dia kemudian melanjutkan.
"Siapa pun yang berani merendahkan orangku, mereka tidak akan aku biarkan, kecuali mereka berinisiatif meminta maaf. Namun, kelompok orang-orang arogan itu sama sekali tidak pantas untuk hidup."
****
Hai, Aska muncul lagi, tapi dalam sekejap ja. cuma mau kasih tau insyah allah akhir tahun nanti, Aska bakal selesaiin semua cerita Aska. makasih.
untuk Miracle secret, ceritanya belum tamat, cuma Aska kodein aja hehehe.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 111 Episodes
Comments
Imam Banong
SEMANGAT AUTHOR
💪💪💪💪💪
2025-03-11
0
Note 2
lanjut bc thor
2024-10-30
0
Nf@. Conan 😎
lnjuuuutkaaaan thor seemmaaannggaaaaattt...
2024-03-26
0