Apa Yang Terjadi

"Kal, dalam hitungan ketiga kita sama-sama masuk ke mobil." ujar Egan pada Kala.

Kala pun mengangguk.

"Satu, dua, tiga."

Kala dan Egan berlarian menuju pintu mobil dan masuk ke dalam lalu menguncinya. Tampak di depan tak ada siapapun juga. Seharusnya jika tadi di belakang Kala memanglah terdapat sosok, mereka pasti bisa melihatnya kini. Namun sosok itu menghilang.

"Kal, apa dia ngikutin kita masuk dan duduk di belakang?"

Egan bertanya dengan suara gemetaran karena takut. Kala yang juga dilanda ketakutan itu melirik ke arah kaca dan melihat ke belakang.

"Nggak, dia nggak ada Gan." jawab Kala.

"Oke."

Egan lalu menghidupkan mesin mobil. Namun kemudian,

"Buuuk."

Terdengar seperti suara jatuh ke atas mobil mereka. Suara tersebut didengar baik Kala maupun Egan sendiri.

"Apaan sih?"

Egan mencoba membuka pintu namun Kala langsung menghalangi.

"Jangan Gan!"

Egan menghentikan perbuatannya.

"Itu bukan benda atau apa." ujar Kala seraya sedikit menunduk.

Bulu kuduk Egan kian merinding.

"Perempuan yang tadi kita tabrak, dia bunuh diri di pohon ini."

Kala menunjuk pohon yang ada di sisi kiri mobil, tepat di sampingnya.

"Lo dapat semacam penglihatan gitu?. Kayak di film-film?" tanya Egan.

"Iya, baru aja." jawab Kala dengan nafas yang kian memburu.

"Sekarang itu cewek di atas kita berarti?" tanya Egan lagi.

"Iya, ini rambutnya ke depan kita." jawab Kala.

"Oh, shit."

Egan segera menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam, mereka kemudian melaju dengan kencang. Beruntung Egan meskipun masih sangat muda, ia terbilang pro dalam hal mengemudikan mobil. Ia tetap bisa berkonsentrasi meski dalam kondisi ketakutan.

"Kal, gue takut tau." ujar Egan ketika mereka telah jauh.

"Sama, tapi lo nggak bisa ngeliat kan?"

"Iya, tapi tadi gue ngeliat saat dia kita tabrak."

"Lo ngeliat saat dia berwujud kayak manusia, tapi lo nggak ngeliat hantunya."

"Iya sih."

"Ya udah, harusnya lo bisa lebih santai dari gue. Lo harus konsentrasi Gan, disini yang bisa nyetir cuma elo."

"Oke, gue akan coba untuk nggak takut lagi."

Egan menarik nafas dan berusaha untuk meredam segala kecemasan serta ketakutan dalam dirinya. Lambat laut ia pun semakin tenang dalam mengemudikan mobil.

"Kal, ini ujung jalannya mana sih?. Perasaan gue dari tadi udah ngebut, harusnya kita udah keluar dan ketemu jalan raya utama."

Egan mulai cemas karena merasa jarak yang mereka tempuh tak habis-habis.

"Coba lo lebih tenang. Biasanya dalam keadaan ketakutan atau habis ketakutan, kita merasa jarak tempuh itu kayaknya lama banget, padahal kita cuma pengen segala sesuatu itu segera berakhir." ujar Kala.

"Iya sih."

Egan kembali fokus, namun tiba-tiba di sebuah jalan seseorang melintas dan,

"Buuuk."

Kejadian yang sama berulang, Egan kembali menekan klakson, berusaha menginjak rem, lalu menabrak seseorang.

"Kal, kita balik ketempat tadi."

Egan berkata degan nada yang sangat gemetaran. Padahal tadi ia sudah berhasil mengusir ketakutan dalam dirinya.

Sementara Kala hanya terdiam dengan nafas yang sudah sangat tak teratur. Mereka berdua melihat ke sekeliling.

"Jalan lagi, Gan."

Kala meminta Egan untuk kembali berjalan. Karena sudah pasti yang mereka tabrak itu tidak ada.

"Mudah-mudahan setelah ini kita bener-bener bisa keluar dari tempat ini." tukas Egan.

Pemuda itu kembali menginjak pedal gas dan kali ini lebih cepat ketimbang sebelumnya.

"Gan itu ujung jalan Gan."

Kala berujar ketika ia dan Egan sama-sama melihat ujung jalan yang mereka lalui. Di ujung jalan itu terdapat jalan raya, dimana masih banyak kendaraan yang lalu lalang. Egan menambah kecepatan, keduanya kini bisa bernafas lega.

"Yes." ujar Egan ketika mobil yang ia kemudikan telah sampai ke bibir jalan raya. Namun tiba-tiba semua berubah, kembali ke puluhan meter di belakang. Keduanya sama-sama terkejut dan kian merasa cemas.

"Coba lo hubungin siapa kek."

Egan berujar seraya terus mengemudikan mobil. Ia masih ingin berjuang untuk keluar dari tempat itu. Kala mengambil handphone.

"Nggak ada sinyal, Gan." ujar Kala kemudian. Nada bicara remaja itu semakin diliputi kecemasan.

"Sama sekali?" tanya Egan.

"Sama sekali."

Egan lalu meraih handphonenya dan ternyata juga sama saja.

"Shit." Ia mengumpat.

Ditengah ketakutan tersebut muncul kekesalan bercampur kepanikan dalam diri remaja itu. Ia makin dalam menekan pedal gas mobil dan berusaha mencapai ujung jalan. Namun lagi-lagi mereka kembali ke tempat semula dan lagi-lagi peristiwa penabrakan itu terjadi.

Egan dan Kala belum mau menyerah, sampai di suatu titik, tepat di tempat penabrakan itu terjadi. Tiba-tiba mobil mereka berhenti mendadak.

"Gan?"

Kala memanggil Egan. Egan sendiri terdiam menatap indikator bahan bakar, yang sudah menunjukkan tanda jika semuanya telah habis.

Egan menatap Kala dengan nafas yang tak teratur, dan begitupun sebaliknya. Tiba-tiba mobil mereka seperti bergoyang sendiri, Kala dan Egan masih bertatapan.

Awalnya mereka mengira hanya perasaan saja, namun lama kelamaan mobil tersebut berguncang hebat, hingga membuat keduanya panik dan mencoba membuka pintu.

Namun pintu tersebut tak bisa dibuka sama sekali. Lama kelamaan kesadaran keduanya pun menghilang.

***

"Kala."

"Kala."

Terdengar sebuah suara, Kala terbangun dan mendapati dirinya tengah terbaring di sebuah ruangan yang serba putih.

"Kal."

Kala menyadari jika Egan juga terbaring pada tempat tidur yang bersebelahan dengannya.

"Kita di rumah sakit ya?" tanya Kala pada Egan.

Tak lama dua dokter pun masuk ke ruangan itu, mereka adalah Philip dan juga Enrico. Kala dan Egan sangat syok.

Tadi mereka berhadapan dengan setan, kini mereka berhadapan dengan pawangnya setan. Sudah pasti mereka akan dimarahi, terutama Egan. Karena sudah mengemudikan mobil ayahnya tanpa izin.

"Papa?"

"Ayah?"

Keduanya berujar di waktu yang nyaris bersamaan. Philip dan Enrico pun mendekat.

"Egan, sebagai hukuman uang jajan kamu selama dua minggu akan di tiadakan."

Enrico berujar kepada sang anak yang masih berada dalam posisi setengah berbaring.

"Dan kamu Kala, kalau main dengan siapapun termasuk Egan. Kalian hanya boleh di rumah, nggak boleh kemana-mana. Apalagi mengendarai kendaraan tanpa izin."

Philip menimpali. Kala dan Egan saling menatap satu sama lain.

"Tapi pa, kita tadi di ganggu hantu di jalan itu. Papa nggak kasian emangnya sama kita?"

Egan menyayangkan sikap sang ayah yang terlihat tak peduli.

"Nggak usah berkilah kamu. Kamu pasti ngebut banget sampe bagian depan mobil hancur begitu. Untung kalian berdua nggak kenapa-kenapa, cuma lecet-lecet kayak gini doang." ujar Enrico.

Egan dan Kala saling menatap satu sama lain, mereka baru menyadari jika banyak terdapat luka di tubuh mereka.

"Yah, tapi tadi kami nggak kecelakaan. Kami muter-muter dan balik lagi ke tempat yang sama. Terus mobil di guncang- guncang sama setan itu dan kami nggak sadar lagi apa yang terjadi."

Kala mencoba membela Egan, namun Philip mengambil handphone dan menunjukkan sebuah bukti. Kala dan Egan pun terkejut setengah mati. Pasalnya posisi mobil yang di kendarai oleh Egan menabrak sebatang pohon dan bagian depannya nyaris tak berbentuk.

"Dengan benturan sekeras itu kalian nggak kenapa-kenapa, itu merupakan sebuah keberuntungan." ujar Enrico.

Kala dan Egan kembali bertatapan satu sama lain. Mereka benar-benar tidak tau dan tidak menyadari jika mereka telah mengalami kecelakaan.

Philip dan Enrico terus memarahi mereka, sementara mereka masih dalam keadaan bingung.

Terpopuler

Comments

Ayla Anindiyafarisa

Ayla Anindiyafarisa

samalah aku juga bingung🤭

2025-03-14

0

"lazygirl"

"lazygirl"

sm nh aku jg bingung ko bs gtu y? 🤔
apa kala sm egan trlalu bnyk berkhayal..

2022-01-10

0

Ghiets'Enay

Ghiets'Enay

bt bgt ga sih💢💢💢😤😤😤😤.
emang sih kalau ga ngalamin sendiri gakan fenomena gaib gitu

2022-01-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!