Hari itu Enrico dan Philip mencari tiket yang menuju ke kota, tempat dimana Gayatri tinggal. Setelah sekian waktu mencari, akhirnya di dapat penerbangan jam 8 malam.
"Lo tau dari Kala alamatnya?" tanya Enrico pada Philip.
Sahabatnya itu pun mengangguk.
"Terus rencana lo nanti apa?" tanya Enrico."
"Lo liat aja." jawab Philip.
Maka mereka pun berangkat sore itu menuju bandara.
***
Malam hari, sekitar pukul 01 dini hari. Kala yang masih bermain game online bersama Egan itu pun, keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. Ia bermaksud mengambil air minum, sebab merasa haus.
Usai mendapatkannya, Kala kembali menuju tangga. Namun ia berpapasan dengan bik Marni, yang baru saja turun.
"Belum tidur bik?" tanya Kala pada asisten rumah tangga itu.
Bik Marni hanya diam dan melengos saja. Kala mengira mungkin bik Marni sedang mengantuk atau malas menjawab. Maka dari itu Kala kembali melangkah menaiki anak tangga.
"Mas Kala?"
Tiba-tiba bik Marni muncul di hadapan Kala dan menyapanya. Seketika bulu kuduk kala pun merinding. Betapa tidak, tadi dibawah mereka telah berpapasan. Kala menoleh ke bawah tangga dan ternyata bik Marni yang tadi memang tidak ada.
Kala kembali menoleh ke depan, bik Marni yang barusan pun juga sudah menghilang. Jantung Kala kini berdetak dengan cepat, buru-buru remaja itu melangkah ke arah kamar Egan. Namun belum sempat ia sampai disana tiba-tiba,
"Gubrak."
Kala menginjak sesuatu dan terjatuh.
"Tak, tak, tak."
Sebuah langkah kaki mendekat padanya. Bahkan kini berdiri tepat dihadapannya yang masih dalam posisi terjatuh.
"Mas Kala kenapa tidur-tiduran di lantai?"
Kala menghela nafas lega, ternyata itu adalah bik Marni. Ia sudah mengira jika bik Marni yang ia temui terakhir adalah hantu, namun ternyata bukan.
"Dari mana bik?" tanya Kala seraya berdiri.
"Dari periksa jendela, mas. Soalnya mas Egan suka kelupaan ngunci. Takut aja kalau maling masuk." jawab bik Marni.
"Oh, iya bik." ucap Kala.
Remaja itu tersenyum, namun kemudian senyum itu pun mendadak berubah. Suasana yang tadinya hangat tiba-tiba mencekam.
Jantung Kala berdetak kencang, keringat dingin mulai menetes membanjiri tubuhnya. Betapa tidak, di hadapan Kala ada sebuah cermin yang menempel di dinding.
Ia melihat bayangan dirinya utuh, bahkan bisa melihat seluruh baju yang ia kenakan. Padahal bik Marni berada di hadapannya, menutupi sebagian tubuhnya dari cermin. Tak ada bayangan bik Marni disana.
"Mas Kala."
Wajah bik Marni yang tadinya biasa, kini berubah menjadi pucat dan menyeramkan. Kala berlarian menuju ke kamar Egan, kemudian masuk dan menguncinya.
"Lo kenapa?" tanya Egan heran.
"Lo Egan kan?"
Kala balik bertanya. Ia takut Egan juga merupakan perwujudan.
"Iya ini gue, emang kenapa sih?" Egan makin heran serta penasaran.
"Buuuk."
Kala menendang kaki Egan meski tidak kuat, ternyata kakinya keras dan tidak tembus.
"Ini gue, Kal. Lo kenapa anjir?. Sakit tau nggak."
Kala masih belum percaya. Ia terus mengamati Egan dan...
"Njir, bangsat."
Egan mengumpat sambil tertawa, ketika Kala mencubit dan memutar cubitan itu di lengannya.
"Ini gue Kal, bukan Setan. Lo abis ngeliat setan apa?" tanya Egan masih terus tertawa.
"Bik Marni." jawab Kala kemudian.
Senyum Egan pun mendadak hilang, berubah menjadi sebuah keterkejutan sekaligus kengerian.
"Bik Marni?" tanya Egan lagi.
"Iya, gue ketemu dia dua kali. Dua-duanya setan." jawab Kala.
Egan mengerutkan keningnya, karena merasa sedikit bingung.
"Gue ketemu bik Marni di depan tangga, dia baru aja turun dari atas. Gue tegur dong, tapi dia nggak jawab."
"Terus?" Egan kembali bertanya.
"Gue naik lah ke atas. Pas di atas gue ketemu dia lagi." jawab Kala.
"Anjir."
Bulu kuduk Egan mulai merinding.
"Gue kaget dan gue noleh ke bawah, tapi bik Marni yang tadi udah nggak ada. Pas gue noleh lagi ke depan, bik Marni yang barusan juga ilang."
"Bangsat." ujar Egan mulai cemas.
"Terus lo lari kesini?" tanya nya kemudian.
"Gue mau lari, di depan ruangan yang ada kaca cermin. Gue nginjek sesuatu dan jatuh dong. Nggak lama ada langkah kaki, dan tau nggak itu siapa?"
"Siapa?" tanya Egan.
"Bik Marni." jawab Kala.
"Serius lo, merinding gue Kal." ujar Egan lagi.
"Terus itu beneran bik Marni kan?" tanya nya.
"Iya, untuk beberapa saat. Semua berubah saat gue menyadari, kalau pantulan bik Marni nggak ada di depan cermin." jawab Kala.
"Anjir, bangsat. Serius Kal, jangan nakutin gue." Egan terlihat makin ketakutan.
"Ini beneran kejadian, Gan. Gue bisa ngeliat diri gue utuh di kaca, padahal bik Marni ada di depan gue. Nutupin dari dada gue ke bawah."
"Anjir, anjir."
Egan kini mondar-mandir di hadapan Kala.
"Serius Kal, lo bilang rumah ini nggak ada hantunya."
"Gue cuma bilang nggak ngeliat, waktu lo tanya di rumah ini ada apa nggak." ucap Kala.
"Haduh, harus waspada nih gue sama bik Marni kalau malam."
"Ya, nggak gitu juga. Siapa tau cuma gue doang yang ngeliatnya sebagai bik Marni."
"Tapi lo asli kan?" tanya Egan seraya menoyor-noyor tubuh Kala. Kini gantian ia yang curiga jika Kala merupakan hantu.
"Ini gue, masa iya setan cerita panjang lebar."
"Ya kali aja setannya punya podcast." seloroh Egan.
Keduanya pun tertawa, meski masih diliputi ketakutan.
"Eh lo tidur disini aja Kal, seriusan. Takut gue, anjir."
"Gue juga takut." tukas Kala.
"Ya udah, lo tidur disini. Lagian ini kamar juga pake acara lebar banget segala. Kenapa papa nggak bikin kecil aja sih dulu, gini kan gue parno." seloroh Egan.
"Oh iya, om Rico dinas malam?. Koq nggak pulang?"
Kala baru menyadari jika Enrico tak di rumah.
"Papa bilang sih, dia ada keluar kota mendadak sama om Philip."
"Oh." jawab Kala.
"Kreek."
"Zreeet."
"Zreeet."
"Zreeet."
"Lo denger nggak?" tanya Egan panik.
Kala mengangguk dengan wajah yang tak kalah paniknya. Mereka berdua tampak ketakutan.
"Kreeek."
"Dia buka pintu ruangan satu persatu, anjir."
Egan berujar sambil melawan ketakutan dalam dirinya yang mulai menanjak. Sementara Kala segera mengunci pintu kamar menjadi dua kali, setelah tadi ia telah menguncinya satu kali.
"Kal, langkahnya di seret lagi." ujar Egan.
"Sssst." Kala menyuruh Egan untuk tenang dan diam.
"Zreeet."
"Zreeet."
"Kreeek."
"Anjir, bangsat."
Egan makin ketakutan.
"Zreeet."
"Zreeet."
Langkah itu terhenti tepat di muka pintu kamar Egan. Seketika Kala dan Egan saling bertatapan, keduanya sama-sama menutup mulut.
"Krek."
"Krek."
Tampak gagang pintu kamar seperti berusaha di buka. Jantung Kala dan Egan berdetak sangat cepat. Ini kali pertama dalam hidup, Egan mengalami hal menakutkan secara langsung.
"Zreeet."
"Zreeet."
Kemudian langkah itu menjauh, semakin jauh. Kala dan Egan menghela nafas. Namun baru beberapa detik berlalu tiba-tiba,
"Tak, tak, tak, tak."
Terdengar seperti suara orang berlari. Kala dan Egan yang baru saja hendak mengintip dari lubang kunci tersebut pun, mendadak kembali dikejutkan. Sontak saja kedua remaja itu kini berlari ke atas tempat tidur dan menutupi diri dengan selimut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Bidadarinya Sajum Esbelfik
haaaaa Seeeeerreeemmm 😣😣😣😣😣
2022-02-06
1
Titin Msi
takut tapi ngakak aku bacanya🤣🤣
2022-02-05
0
Ghiets'Enay
kala itu cowok????pantesan bisa dekat sama egan😁😁😁😁
2022-01-09
0