Adaptasi

Kala, Andy, dan tiga teman lainnya duduk di sebuah tempat di pojok kantin. Setelah berkenalan di ketahui tiga teman lainnya itu bernama Ben, Niko, dan juga Heru.

"Eh Kal, disini mie ayamnya enak banget tau." ujar Heru membuka pembicaraan.

"Oh ya?"

"Iya, cobain yak." ajak Heru kemudian.

"Bener Kal, lo harus cobain. Ada ceker dinosaurus nya juga." timpal Andy.

"Ceker dinosaurus?" tanya Kala tak mengerti.

"Ada ceker ayamnya, tapi tuh bengkak dan gede banget." ujar Niko.

Kala tertawa, ia bahkan belum pernah bercanda seperti ini dengan teman manapun. Karena ia sendiri tak pernah memiliki teman sebelumnya.

"Lo suka ceker nggak?" tanya Heru.

"Gue belum pernah makan sih." jawab Kala polos.

"Serius?" tanya Andy diikuti tatapan yang lainya.

"Iya." Kala kembali menjawab.

"Wah anak sultan nih pasti." ujar Andy pada teman-temannya sambil tersenyum.

"Tadi gue sempat ngeliat lo di depan, pas mau masuk. Lo dianter siapa?" Ben bertanya pada Kala.

"Bapak gue." jawab Kala kemudian.

"Bapak lo itu, dokter ya?" tanya Ben lagi.

"Koq lo tau?"

Kala balik bertanya, sementara kini teman-temannya yang lain fokus menunggu jawaban.

"Gue pernah ke rumah sakit tempat bapak lo kerja, dan gue pernah liat dia beberapa kali." jawab Ben.

"Oh." ujar Kala kemudian.

"Bener kan?" Lagi-lagi Ben bertanya.

Kala hanya mengangguk.

"Eh, pesen dong." ujar Andy.

"Oh iya lupa ntar udah jam masuk lagi."

Heru mulai memanggil pelayan kantin dan memesan apa yang ingin mereka makan. Sambil menunggu, Ben mengambil teh dalam botol untuk mereka semua.

"Kal, lo sama kan minumnya?" tanya Ben pada Kala.

"Iya, sama aja." jawab Kala.

Ben lalu meletakkan minuman itu di hadapan mereka semua, dan mereka pun kembali bercakap-cakap.

"Minggir woi!"

Seseorang berteriak dari arah belakang Kala, tepat setelah beberapa menit berlalu. Kala pun menatap teman-temannya, sementara teman-temannya itu diam menatap ke arah belakang dirinya.

"Ini mau ditempatin sama gue dan temen-temen gue."

Suara itu kembali terdengar, tampaknya itu adalah geng pentolan di sekolah tersebut. Karena dari gaya bicaranya saja sudah sok hebat dan mengintimidasi.

"Budek ya lo semua?" ujar pemilik suara itu lagi.

Andy dan yang lainnya baru hendak beranjak, ketika si pemilik suara itu menarik kasar bahu Kala. Dan secara refleks Kala pun berbalik, lalu...

"Buuuk."

Kala meninju wajah si pemilik suara itu. Seketika waktu pun terhenti, seluruh pasang mata kini tertuju ke arah Kala. Mereka semua kaget, Andy dan yang lainnya tak kalah syok melihat semua itu. Pasalnya si pemilik suara kini terjatuh ke lantai, dengan wajah yang biru lebam.

"Lo anak baru ya disini, lo nggak tau siapa gue?"

Siswa yang dihajar oleh Kala itu pun beranjak. Semua orang masih melihat ke arah mereka, termasuk salah seorang siswi cantik yang menjadi idola di sekolah tersebut.

"Lo tau nggak gue siapa?"

Siswa itu berkata dengan nada lantang kepada Kala.

"Gue nggak tau dan gue nggak mau tau." jawab Kala dengan nada yang tak kalah sengak.

"Lo berani sama gue, hah?"

Siswa itu mendorong bahu kala. Tampak teman-temannya turut menatap dan mengintimidasi ke arah Kala.

"Iya, kenapa?" jawab Kala dengan nada yang begitu berani. Padahal selama ini anak-anak itu cukup ditakuti di sekolah.

"Bangsat nih anak."

Siswa itu mencoba meninju Kala, namun Kala dengan cepat menangkis serangan tersebut dan memberi pukulan lagi di tempat yang sama.

"Buuuk."

"Buuuk."

Siswa tersebut nyaris terjatuh, ia berpegang pada meja kantin yang di duduki siswa lain.

"Kala."

Egan muncul dan menarik Kala, tak lama guru pun datang lalu mereka di lerai. Dalam sekejap mereka kini sudah berada di ruang guru, Egan ada di tempat mendampingi remaja itu.

"Kala, kamu ini baru masuk hari ini. Tapi kamu sudah membuat keributan?"

Guru yang tadi membawa Kala ke kelas, berbicara dengan nada kecewa pada anak itu.

"Saya nggak akan buat keributan, kalau dia nggak duluan cari masalah bu." jawab Kala.

"Masalahnya apa?" tanya guru yang lain.

"Saya dan teman-teman saya cuma minta share tempat koq pak, karena sudah pada penuh. Tapi dia tau-tau nonjok muka saya."

Siswa yang bermasalah dengan Kala itu membuat fitnah, sebab ia tau CCTV di kantin rusak. Namun Kala hanya menarik salah satu sudut bibirnya dan tersenyum sinis.

"Oh ya, drama banget lo." ujar remaja itu kemudian.

"Kala, yang sopan kalau bicara."

Gurunya yang perempuan mengingatkan, namun Kala tak peduli dan terus bicara.

"Tadi lo sok garang banget depan gue dan anak-anak yang lain. Kenapa disini kayak ayam sayur?. Bukannya tadi lo tarik bahu gue sambil teriak ngusir gue dan yang lainnya. Kenapa disini lo memposisikan diri sebagai korban yang paling teraniaya?"

Kala memperhatikan anak itu.

"Bohong bu." ujar anak itu membela diri.

"Dia yang tau-tau nonjok saya, nyari masalah sama saya." lanjutnya kemudian.

"Anak baru nggak tau diri."

"Faraz."

Seorang guru laki-laki menahan suara siswa itu, sehingga siswa itu pun kini diam.

"Pengecut lo tau nggak." Kala berujar pada Faraz.

"Kal." Egan mencoba meredam keadaan.

"Gue berani mengakui kalau gue yang nonjok lo duluan. Tapi lo berani nggak, ngakuin kalau awalnya lo yang nyolot?" Lagi-lagi Kala berujar.

"Lo emang brengsek ya." Faraz berteriak.

"Santai dong, jadi ketara kan kalau lo yang mulai duluan." Egan menahan Faraz yang sudah naik pitam pada Kala.

"Sudah, sudah. Cukup!" Guru yang perempuan kembali bersuara.

"Kalau kalian bertengkar lagi, ibu akan hukum kalian. Sana kembali ke kelas masing-masing!"

Kala, Faraz, dan Egan pun beranjak.

"Jangan ribut lagi." ujar guru tersebut.

"Iya bu." jawab Kala dan Egan di waktu yang nyaris bersamaan, sedang Faraz hanya diam saja.

Faraz melangkah duluan, keluar dari ruang guru. Tak lama Egan dan Kala di stop oleh seorang siswa.

"Lo apain tadi saudara sepupu gue?"

Siswa itu bertanya pada Egan.

"Biasa aja kali, untung nggak bonyok tuh adek kesayangan lo itu." ujar Egan kemudian.

"Elo yang mukul dia?"

Siswa itu nyolot pada Kala, namun dengan cepat Egan menjadi tameng.

"Mau jadi pahlawan kesiangan lo?" siswa tersebut makin nyolot.

"Dia adek gue." jawab Egan dengan nada tegas.

"Terus, dia berlindung bawa ketek lo gitu?"

"Apa bedanya sama lo, lo juga ngebelain sepupu lo si Faraz yang nggak berguna itu kan?"

"Anj...."

Sepupu Faraz mendadak emosi, namun kemudian seorang guru melintas di dekat mereka.

"Gue akan bikin perhitungan sama lo."

Sepupu Faraz tersebut berujar dengan penuh dendam, namun sesaat kemudian ia pun berlalu. Egan kini menemani Kala berjalan ke arah kelasnya. Banyak pasang mata yang memperhatikan Kala, karena peristiwa pemukulan terhadap Faraz tadi sangat cepat menyebar.

"Kalau dia nyolot lagi, gebuk lagi aja." ujar Egan pada Kala.

"Selama ini di angkatan lo nggak ada yang berani sama Faraz, karena Faraz itu keponakan ketua yayasan. Tapi menurut gue bodo amat sih. Kalau di keluarin dari sekolah, ya tinggal cari sekolah lain. Repot amat."

Egan menatap Kala dan Kala pun akhirnya tersenyum meski tipis.

Terpopuler

Comments

Irsoehadi Gans

Irsoehadi Gans

sudah kerasa menyentuh fikiran🧐

2022-03-04

2

Nanda Ahsanul

Nanda Ahsanul

bagus kala.... jgn mau ditindas

2022-02-10

0

Sky Blue

Sky Blue

Cie Kala, udh mulai kliatan nie aura ktampanannya🥰🥰🥰

2022-01-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!