Kembaran

Jam istirahat tiba, ini adalah hari kedua Kala berada di sekolah tersebut. Ia dan teman-temannya kembali pergi ke kantin. Bedanya kali ini ia dan teman-temannya tersebut di perhatikan banyak orang.

Mereka mendadak viral di seantero sekolah, lantaran peristiwa kemarin. Saat Kala akhirnya menumbangkan Faraz di muka umum.

"Kal, makan apa nih?" tanya Andy pada Kala.

"Gue pengen makan nasi." jawab Kala.

"Ya udah, sama." Andy menimpali.

"Gue juga ah." celetuk Ben.

"Gue mau bihun goreng aja." Heru berbeda sendiri, sementara Niko masih bimbang.

"Jadi ngeliatin adek kelas mulu."

Salah seorang teman berujar pada Cindy yang kedapatan melihat ke arah Kala dan teman-temannya. Cindy juga tengah berada di kantin tersebut. Ia duduk tak begitu jauh dari Kala dan teman-temannya.

"Cieee." teman Cindy yang lain menggoda gadis itu.

Ia pun lalu tersenyum sangat tipis. Cindy memang tipikal perempuan yang cukup jarang berbicara ataupun tersenyum, sama seperti Kala. Namun dirinya tak menampik bahwa saat ini ia memang tengah memperhatikan adik kelasnya tersebut.

"Kal, Cindy ngeliatin lo lagi." ujar Heru.

Andy, Ben, dan Niko kompak melirik ke arah Cindy, mengikuti arah lirikan mata Heru. Kala sendiri menoleh dan terdiam sejenak, namun kemudian ia tersenyum.

Cindy dan teman-temannya mengira Kala tersenyum pada mereka. Padahal Kala tersenyum pada gadis cantik yang berdiri di belakangan Cindy.

Ya, Ningrum. Gadis yang sempat berkenalan dengannya kemarin, saat ia baru keluar dari toilet.

"Tuh adek kelas kayaknya terpesona sama lo deh."

Teman Cindy lagi-lagi berceloteh sambil tersenyum.

"Kal."

Seseorang menghampiri Kala dan teman-temannya dengan penuh antusias.

"Chika?"

"Lo kenal dia?" tanya Andy pada Kala. Maka Kala pun mengangguk.

"Gue kemaren absen, ada urusan keluarga. Kata Egan lo udah masuk ke sini." ujar Chika lagi.

"Iya kemaren gue masuk." tukas Kala.

Banyak siswi yang kini mendadak memperhatikan Chika. Mereka bertanya dalam hati, bagaimana Chika bisa dekat dengan Kala. Cindy sendiri memasang wajah tak suka, dan langsung mempercepat makannya.

"Boleh duduk sini nggak sih gue?" tanya Chika.

Kala melihat ke arah teman-temannya.

"Boleh, duduk aja Chik." ujar mereka lalu sedikit bergeser. Chika pun duduk, tak lama makanan pesanan Kala dan yang lainnya tiba.

"Lo nggak makan, Chik?" tanya Ben.

"Udah pesen gue, mie ayam." jawab Chika.

"Koq lo bisa kenal Kala sih?" tanya Niko.

Tak lama Chika pun mulai bercerita, tentang bagaimana ia mengenal Kala. Tetapi tak memberitahu jika Kala adalah seorang indigo. Kemudian mereka terlibat sebuah perbincangan yang cukup panjang.

"Brengsek tuh anak."

Salah satu teman Faraz berujar pada Faraz yang tengah memperhatikan Kala dari kejauhan.

"Lo harus balas dia, bro. Enak aja dia jadi terkenal."

Teman Faraz yang satu lagi nyeletuk. Faraz pun tampak gusar dan meninggalkan tempat itu. Hal yang sama terjadi pada Cindy, gadis itu dengan cepat menyelesaikan makannya lalu beranjak.

"Masuk yuk!" ujarnya kemudian.

Teman-teman Cindy saling bertatapan, mereka kini menduga Chika yang menjadi penyebab semua itu.

***

Sore hari.

"Kal, gue balik ya."

Andy melambaikan tangan pada Kala, saat ia sudah dijemput oleh kakaknya dengan menggunakan mobil. Kala mengangkat tangannya tanda membalas lambaian Andy. Tak lama Ben dan Niko yang naik motor berboncengan melintas di sisi Kala.

"Kal, balik." ujar mereka di waktu yang nyaris bersamaan.

"Hati-hati lo berdua." ucap Kala.

"Sip."

Mereka pun berlalu. Tak lama Heru melintas dan stop di dekat Kala dengan motornya.

"Kal, mau bareng nggak?" tanya remaja itu.

Setelah beradaptasi dan berbincang banyak hal dengan teman-temannya selama dua hari ini. Diketahui jika Heru searah jalan pulang dengan Kala, maka dari itu Heru menawari tebengan.

"Gue di jemput bokap. Ntar deh lain kali kalau bokap gue lagi dinas full seharian." jawab Kala.

"Oke deh, gue duluan ya." tukas Heru.

Kala mengangguk, Heru pun lalu memutar gas motornya dan berlalu. Kala lanjut menunggu kedatangan ayahnya yang masih terjebak kemacetan. Saat itu sekolah telah sepi, karena seluruh siswa sudah pulang sejak tadi.

"Ayah kemana sih?"

Kala melirik arloji yang ia pakai. Sudah sedari tadi ia berdiri di muka gerbang. Remaja itu lalu mencoba menghubungi nomor Philip.

"Kal?"

"Ayah dimana?" tanya Kala pada laki-laki tersebut.

"Ayah masih di jalan, tunggu ya. Bentar lagi sampe koq."

"Oke." jawab Kala.

Remaja itu pun kemudian menyudahi panggilan dan menunggu saja ditempat itu. Namun selang beberapa saat berlalu, ia merasa ingin buang air kecil. Maka remaja itu berjalan menuju ke toilet.

Suasana sekolah benar-benar sepi dan hening, seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Tampaknya guru-guru pun sudah pulang dan hanya tersisa sekuriti yang entah sedang berada dimana.

Kala berjalan menuju toilet, lalu masuk ke salah satu bilik yang ada di dalam. Seluruh toilet di sekolah itu sama saja bentuknya. Baik toilet laki-laki maupun perempuan. Terdiri dari wastafel panjang dengan kaca besar, serta bilik-bilik yang terdapat kloset didalamnya.

Kala masuk ke bilik yang kedua, entah mengapa ia ingin masuk kesana padahal semuanya kosong.

"Celetak."

Ia mengunci pintu bilik tersebut, namun kemudian.

"Celetak."

Terdengar suara yang sama di sebelah. Kala sedikit terdiam, mungkin memang masih ada orang di sekolah ini pikirnya.

Ia membuka kloset yang tertutup dan tanpa sengaja penutup kloset itu mengenai bagian belakang sehingga menimbulkan suara.

"Taaak."

Kala terlihat santai, namun mendadak ia kembali terdiam. Pasalnya di sebelah ia mendengar suara yang sama, diwaktu yang tak lama berselang.

"Taaak."

Kala tak bergerak sama sekali untuk sejenak. Kemudian ia membuka resleting dan buang air kecil, namun suara di sebelah pun sama. Ia bisa mendengar seperti air seni yang keluar dan menerpa bagian dalam kloset.

Kala selesai, di susul dengan orang yang ada di sebelah. Dan ketika Kala memencet flush kloset, di sebelah pun terdengar demikian pada saat setelahnya.

Lagi-lagi Kala terdiam. Usai membersihkan semuanya ia pun mulai mendekat ke arah bilik sebelah kiri, tempat dimana suara menyerupai itu berasal.

"Tak, tak, tak."

Ia sengaja agak menekan langkah, agar menimbulkan suara.

"Tak, tak, tak."

Terdengar suara yang sama dari sebelah. Kala buru-buru membuat gerakan menutup kloset.

"Braaak."

"Braaak."

Suara yang sama juga menggema di sebelah. Kala lalu membuka pintu lebar-lebar dan ternyata pintu sebelah pun terbuka sama lebar.

Ia penasaran ingin mengetahui siapa orang yang telah mengikuti gerakannya tersebut. Namun dari pantulan kaca wastafel, Kala tidak melihat ada siapa-siapa di bilik sebelah. Nafas remaja itu seketika memburu, perasaan merinding dan takut kini mulai menyeruak.

"Braaak."

"Braaak."

"Braaak."

Tiba-tiba pintu di bilik sebelah itu tertutup dan terbuka sendiri, seiring dengan mati hidupnya lampu yang ada di ruangan tersebut. Kala buru-buru meninggalkan toilet, ia berlarian menuju pintu gerbang. Namun pintu gerbang itu terkunci.

Kala melihat kesana kemari, tak ada orang lagi disana. Mungkin saat ia ke toilet tadi, sekuriti terakhir menutup pintu lalu pulang.

"Degh."

Kala melihat sesosok siswa berpakaian sekolah, dengan perawakan yang sangat mirip dengan dirinya. Sosok itu kini tengah berdiri di kejauhan. Tepatnya di depan ruang laboratorium, yang masih banyak ditumbuhi pohon serta bunga di halaman depannya.

Kala kembali menoleh ke arah pintu gerbang, namun itu begitu tinggi untuk di panjat. Begitu pula dengan tembok yang ada di kanan dan kiri. Bukan tembok yang bisa dilalui siswa begitu saja ada banyak kawat duri di atasnya.

Kala menoleh ke arah sosok itu tadi karena ada dorongan dalam dirinya. Namun ia terkejut karena sosok itu sudah semakin dekat. Ia berdiri dengan wajah menunduk, matanya di tutupi sebagian rambut.

"Brengsek."

Kala menggerutu marah sambil membanting gembok yang telah terpasang di pintu pagar. Namun kemudian ia kembali menoleh, tiba-tiba sosok itu berlari cepat ke arahnya. Membuat ia begitu panik lalu menarik dan menghempaskan kunci gembok, berharap ia bisa segera membuka pintu.

"Kala."

Tiba-tiba Philip muncul dihadapannya. Kala yang sudah ketakutan itu pun, menemukan sosok yang semula mengejarnya telah menghilang.

"Kala?"

Kala menyadari kehadiran Philip ditengah rasa syok nya yang amat besar.

"Kamu kenapa bisa terkunci gini sih?"

Philip bertanya, namun Kala belum bisa menjawab apa-apa. Philip melihat ke sana kemari, mencoba memikirkan bagaimana cara mengeluarkan sang anak dari sana. Namun kemudian sekuriti sekolah tiba-tiba kembali.

"Loh masih ada orang." ujar Sekuriti tersebut sambil membuka kunci gembok.

"Bapak gimana sih pak, kenapa bisa nggak ketahuan kalau masih ada siswa satu lagi?"

Philip berujar dengan nada kesal.

"Maaf pak, tadi saya benar-benar sudah memeriksa semuanya dan memang tidak ada orang. Saya juga sudah memberikan pengumuman melalui pengeras suara, bahwa pintu pagar akan segera di tutup."

Kala keluar dan memperhatikan sekuriti tersebut, tadi sama sekali ia tak mendengar pengumuman apa-apa.

"Ya sudah, ayo Kala kita pulang." ajak Philip kemudian.

"Makasih pak." lanjutnya berterima kasih pada sekuriti.

"Sama-sama dan mohon maaf sekali lagi pak." ujar sekuriti itu.

"Iya, nggak apa-apa." jawab Philip.

Philip dan Kala masuk ke dalam mobil, sedang sekuriti kembali ke dalam karena ada barangnya yang tertinggal.

Terpopuler

Comments

Ayla Anindiyafarisa

Ayla Anindiyafarisa

Thor buat kala nya jadi pemberani dong

2025-03-14

0

Jodi Wek Wek

Jodi Wek Wek

jadi ngeri....

2022-01-08

0

Sky Blue

Sky Blue

Wlaupun ad hrorny ksanny sru kax..,
Ska sma alur yg ngak mnoton k permasalhan Plpernikahn mulu.
Ska bget kax.., Slalu up ya kax🥰🥰🥺🥺

2022-01-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!