Sosok itu terasa begitu nyata di depan mata. Sosok yang yang menyerupai dirinya saat di sekolah.
Sosok itu kembali menampakkan diri, dan kini ia pun sama berjalan mendekat bahkan berlarian sama seperti kemarin.
Makin lama ia makin cepat, dan tiba-tiba saja ia mendapatkan Kala. Lalu tangannya tiba-tiba mencekik leher remaja itu.
"Hueeek, uhuk, uhuk."
Kala berusaha melepaskan cekikan tangan yang terasa begitu kuat di lehernya. Namun semakin ia berusaha melepaskan, cekikan tersebut semakin kuat.
"Uhuk, uhuk."
Kala merasa nafasnya sudah begitu sesak, ditambah ketakutannya kini kian memuncak. Sebab sosok itu sangat dingin dan juga menyeramkan.
"Uhuk, uhuk."
"Kala."
"Kala."
Kala tersadar dari mimpinya yang buruk, ia terdiam sejenak dan menyadari siapa yang kini ada di hadapannya.
"Yah." ujarnya lirih seraya menatap Philip. Untuk pertama kalinya secara refleks, Philip pun memeluk anak itu.
"Ayah disini, jangan takut."
Nafas Kala masih memburu, keringat dingin mengucur deras di tubuh remaja itu. Jantungnya juga berdetak sangat cepat, ia mengalami syok berat.
"Kamu tadi mimpi apa?"
Philip bertanya ketika Kala mulai tenang.
"Dia, yang Kala temui di sekolah tadi yah." jawab Kala.
"Apa itu?" tanya Philip dengan nada penuh keingintahuan.
"Sosoknya persis banget kayak Kala, wajahnya, perawakannya, tingginya. Tapi matanya ketutupan rambut."
"Dimana kamu ketemu dia?" tanya Philip lagi.
"Mmm, maksud ayah. Di sekolah bagian mana?" lanjutnya kemudian.
"Awalnya di toilet yah, pas Kala nungguin ayah."
"Dia kayak orang biasa atau gimana?"
"Ya kayak orang biasa aja awalnya."
"Ceritakan sama ayah secara detail!"
"Kala masuk ke toilet, dan Kala beraktifitas layaknya orang yang mau ke toilet pada umumnya. Tapi kemudian Kala sadar, kalau di sebelah itu ada orang. Dan setiap gerakan yang Kala buat, dia kayak copy paste gitu yah."
"Maksudnya dia meniru gerakan kamu?" lagi-lagi Philip mengajukan pertanyaan.
"Iya, kayak misalkan Kala buka tutup kloset, dia buka juga. Kala pencet flush, dia pencet juga."
"Tapi mungkin aja memang timingnya yang berdekatan." ujar Philip.
"Awalnya juga Kala ngira begitu. Tapi masa pas Kala buat gerakan melangkah 3 kali ke arah dia, sambil menghentakkan kaki, dia juga ikut. Kala buru-buru nutup lagi kloset, dia ikut juga. Kala buka pintu, dia juga buka."
"Terus kamu liat sosok itu di toilet?"
"Justru nggak, Kala ngeliat di sebelah itu nggak ada siapa-siapa. Pas Kala udah keluar, dan jalan ke arah gerbang sekolah. Kala tuh pengen banget noleh, nggak tau kenapa. Dan akhirnya Kala ngeliat dia."
"Dia pake seragam sekolah juga?" tanya Philip.
"Iya." jawab Kala.
Philip menghela nafas.
"Bentar tunggu disini."
Philip beranjak, ia mengambilkan segelas air putih untuk anaknya tersebut.
"Minum dulu." ujarnya kemudian.
Kala pun minum sampai habis, lalu meletakkan gelas di sisi tempat tidur.
"Kamu tidur lagi ya." ujar Philip pada remaja itu.
Kala menggeleng.
"Kala takut dia datang lagi yah."
"Ayah disini, ayah akan jagain kamu sampai pagi."
"Tapi ayah juga butuh istirahat kan?."
Philip menatap Kala.
"Ayah ini dokter, Kal. Ayah biasa kurang istirahat."
"Tapi kan ayah bukan dokter bedah. Ayah nggak mungkin begadang karena mengoperasi orang kan?"
Philip tertawa.
"Semua dokter, mau dia spesialis apa aja. Kami semua sudah terbiasa bergadang sejak jaman koas. Sekarang walau ayah praktek siang, ada aja yang minta tolong gantiin untuk jaga malam. Kalau rekan ayah lagi berhalangan hadir."
"Tapi Kala nggak enak, kalau harus ganggu istirahat ayah. Kala tinggal disini aja tuh, Kala...."
Kala tak dapat melanjutkan ucapannya. Philip sendiri mengerti, tak semudah itu bagi Kala untuk bisa menerima dirinya. Apalagi ia selama belasan tahun ini tak pernah bertanggungjawab atas diri anaknya itu.
"Udah, kamu tidur ya. Nggak usah mikir apa-apa." ujar Philip meyakinkan.
Kala pun akhirnya mengangguk, lalu kembali berbaring dan memejamkan mata. Philip menarik selimut untuk menutupi tubuh anaknya itu. Ia kemudian memperhatikan Kala, dan menunggunya hingga lelap.
***
"Anak gue sakit, Ric. Dia bener-bener butuh penanganan yang serius."
Philip bercerita pada Enrico keesokan harinya di rumah sakit.
"Lo udah liat dan dengar semua kan, apa yang selalu dia bicarakan?" tanya Enrico.
Philip mengangguk perlahan.
"Gayatri sangat-sangat egois."
Philip berkata dengan nada penuh penyesalan.
"Kenapa dia nggak kasih tau gue, kalau dia hamil. Atau minimal pesan terakhir, supaya anak itu gue yang ngurus." lanjutnya kemudian.
"Apa yang anak gue terima selama masa tumbuh kembangnya, itu berefek sama kondisi mentalnya saat ini."
"Apa dia butuh obat?" tanya Enrico.
"Sangat."
Philip menjawab seraya melempar pandangannya ke suatu sudut.
"Sangat butuh." lanjutnya kemudian.
"Lo kasih?" tanya Enrico lagi, namun Philip menggeleng.
"Kenapa?"
"Gue nggak tega, Ric. Dia baru 15 tahun."
"Tapi kalau emang dia butuh, ya lo harus kasih. Pasien lo aja banyak anak-anak." ujar Enrico.
"Ric, kita ini dokter. Kita tau resikonya."
"Gue tau, Phil. Tapi kalau memang itu jalan satu-satunya, ya kenapa nggak. Lo nggak mau liat anak lo terus-terusan kayak gitu kan?. Itu sedikit banyak akan mengganggu kehidupan dia. Terutama dalam hal sosialisasi terhadap teman-temannya."
Philip menghela nafas, sungguh ini bukan perkara mudah baginya. Enrico kemudian melirik arloji.
"Gue ada operasi sejam lagi, gue prepare dulu. Ntar kita lanjut bahas hal ini lagi."
Philip mengangguk, ia membiarkan Enrico masuk ke dalam rumah sakit. Sementara dirinya masih duduk termenung memikirkan Kala.
***
"Kal, maen ke rumah gue yuk ntar siang. Papa ada operasi soalnya, jadi pasti lama nungguin dia balik. Masa gue ngobrol sama bik Marni mulu. Ntar dia berubah jadi Kunti gimana?"
Egan berujar pada Kala, ketika Kala baru saja selesai makan di kantin bersama teman-temannya. Saat ini mereka sudah kembali ke kelas dan Egan kebetulan menyambangi kelasnya.
"Kan lo bisa main game online. Bisa ngobrol disana." ujar Kala.
"Ayolah, Kal. Biar gue nggak bete."
"Ya udah deh, ntar paling gue telpon ayah dulu minta izin."
"Udah ntar gue aja yang bilangin." ujar Egan.
"Oke." jawab Kala.
Siang itu ia pulang bersama Egan. Faraz dan teman-temannya sempat melihat Kala yang masuk ke dalam taxi online bersama Egan. Egan sendiri tak diizinkan Enrico membawa mobil, dengan alasan masih di bawah umur.
Pernah beberapa kali ia meminta sepeda motor pada Enrico, namun ayahnya itu tidak memberikan. Ia takut Egan akan jadi remaja yang suka ugal-ugalan di jalan, seperti kebanyakan teman-temannya yang lain.
"Itu bocah emang sengaja nyari bekingan tuh, di sekolah ini."
Salah satu teman Faraz nyeletuk. Sementara Faraz sendiri terlihat diam namun gusar. Mereka kemudian berbalik arah dan melangkah menuju ke toilet.
Karena memang rencana awal mereka hendak ke toilet dulu baru pulang ke rumah masing-masing. Kedua teman Faraz berjalan di depan, mereka bertiga berpapasan dengan seseorang.
"Degh."
Ketiganya pun sontak terdiam, pasalnya mereka sama-sama menyadari jika mereka berpapasan dengan Kala. Padahal mereka bertiga tadi sama-sama melihat Kala sudah naik taxi online bersama Egan.
Jantung ketiganya kini berdetak dengan kencang, secara serta merta mereka pun menoleh. Namun sosok yang menyerupai Kala itu sudah tidak ada. Padahal tidak ada jalan lain kecuali sebuah jalan yang lurus.
Dan tidak mungkin seseorang bisa menghilang secepat itu. Sementara jalan lurus yang membentang cukup panjang. Faraz dan kedua temannya pun merinding, bahkan sampai keringat dingin. Akhirnya mereka pun tak jadi ke toilet dan berlarian menuju pintu gerbang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Bidadarinya Sajum Esbelfik
kembarannya kala
. mungkin dibawa ibunya mati ya. 🤔🤔🤔🤔🤔
2022-02-06
0
Sky Blue
Masih stia nungguin chap bruny kax..,
Smnagt slalu🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Aq ska bget klw alur crita yg brhungun dg hot daddy.., hehehehehhh☺️☺️☺️😅😅
2022-01-04
1
Sky Blue
D tunggu kax untuk chap slanjutny🥰🥰🥰🥰
Smangt slalu👍👍👍👍
2022-01-03
3