Pagi menjelang.
Philip benar-benar syok atas semua kejadian ini. Pria itu sangat kacau, hingga dirinya harus melarikan diri ke suatu tempat.
Sementara di kediaman Enrico, sang dokter bedah tersebut kini berbicara dengan Kala di meja makan.
"Tadi Egan udah berangkat sekolah ya?" tanya pria itu.
"Iya om, baru aja." jawab Kala.
"Kamu makan yang banyak ya. Udahlah nggak usah nyari penginapan, tinggal di sini aja."
"Tapi om, saya nggak enak ngerepotin." ujar Kala.
"Om nggak merasa direpotkan sama sekali, Kal. Jadi kamu tinggal aja disini selama yang kamu mau."
Kala kemudian mengangguk, lalu ia pun mulai makan.
"Om, dokter Philip nggak terganggu kan saya datang?" tanya Kala tiba-tiba.
Enrico yang baru saja hendak makan tersebut, kini menatap Kala. Sepertinya sikap Philip semalam telah membuat remaja itu terbawa perasaan.
"Saya nggak enak soalnya. Saya juga sebenarnya nggak mau, tapi keluarga saya memaksa saya kesini. Karena mereka udah nggak tahan dengan segala keanehan yang ada di dalam diri saya." ucap Kala.
Enrico menghela nafas dan tersenyum tipis.
"Dokter Philip itu orangnya baik, dia pasti mau membantu kamu. Tapi dia belakangan ini memang sibuk banget, pasiennya banyak. Jadi kamu sabar aja, dia pasti datang koq."
Kala mengangguk dan melanjutkan makan. Enrico benar-benar seperti di pukul hatinya. Masalahnya kini ia harus merahasiakan dari Kala, siapa Philip sebenarnya.
"Kamu kelas berapa?" tanya Enrico kemudian.
"Kelas satu SMA, om." jawab Kala.
"Ini kamu izin dari sekolah?" tanya nya lagi.
"Iya, om dan tante saya yang urus izinnya."
"Kalau om boleh tau, kamu punya masalah kesehatan apa?. Mungkin nanti bisa om bicarakan dengan Philip."
Kala menghentikan makan dan menjatuhkan pandangannya ke piring. Seumur hidup ia telah bercerita pada keluarga dan sekitar, namun tak ada yang percaya terhadap apa yang ia rasakan.
Ditambah lagi kini ia harus bercerita di hadapan seorang dokter, yang kebanyakan realistis dan menghubungkan segala sesuatu dengan kondisi medis.
"Saya...."
Kala menghentikan ucapannya, karena di dera rasa ragu yang begitu besar.
"Nggak apa-apa Kal, ngomong aja. Om akan bantu sebisa mungkin." Enrico meyakinkan remaja itu.
Kala menghela nafas dan memberanikan diri untuk berbicara.
"Saya..., saya bisa melihat makhluk gaib om."
Kala berkata seraya menatap Enrico. Sebagai dokter, walupun itu terdengar tidak masuk diakal, namun Enrico mendengarkan dengan baik.
"Kapan kamu menyadari, kalau kamu bisa melihat hal tersebut?" tanya Enrico.
"Di usia 4 tahun, om." jawab Kala.
"Kronologinya?"
"Saat itu saya lari ke sebuah rumah kosong, karena habis di pukul oleh tante saya. Seragam sekolah TK saya kotor, karena saya terlalu banyak bermain dengan teman-teman saya di sekolah."
"Kamu di pukul, di usia segitu karena seragam kotor?. Dan kamu lari ke rumah kosong?." tanya Enrico kaget.
"Iya." jawab Kala.
"Kamu di pukul dibagian mana waktu itu?" tanya nya lagi.
"Kepala, om." lagi-lagi Kala menjawab
Enrico menghela nafas, hatinya sakit mendengar semua itu. Bagaimanapun juga ia adalah seorang ayah, meski Egan bukan darah dagingnya secara biologis. Namun secara hati dan naluriah, Egan adalah anaknya.
Ia sendiri tak pernah melakukan hal tersebut pada Egan, terlebih saat usianya masih empat tahun. Egan mendapat kasih sayang serta perhatian yang cukup selama ini.
"Terus dirumah kosong itu kamu ngapain?" Enrico menanti kelanjutan cerita Kala.
"Saya ketiduran sampai malam." jawab remaja itu.
"Kamu nggak dicariin?" Kali ini Enrico bertanya dengan nada penuh emosi.
"Saya nggak tau, om. Yang jelas pada akhirnya saya pulang sendiri. Dirumah itu pas saya bangun, kondisi udah gelap. Saya nangis, tiba-tiba ada tangan yang menyentuh kepala saya. Mata kita kan bisa melihat didalam gelap setelah beberapa saat."
"Iya, butuh beberapa saat untuk itu." ujar Enrico.
"Nah, saat itu saya liat kalau yang pegang kepala saya itu sosok tinggi berambut panjang, mukanya hancur dan kayak gosong gitu om. Saya teriak, saya nangis, saya berusaha keluar. Dan sejak saat itu saya jadi sering ngeliat hal-hal aneh." ucap Kala.
"Apa disekitar kita sekarang ada?" tanya Enrico kemudian.
Kala melihat sejenak ke sekitar ruangan, lalu menggelengkan kepalanya.
"Tapi semalam ada, di belakang salah satu temannya Egan." ujar remaja itu.
Enrico tampak terkejut.
"Bentuknya seperti apa?" tanya nya lagi.
"Tinggi besar, berbulu, dan matanya merah om." jawab Kala.
Enrico menghela nafas, sejatinya ia bisa saja membantah apa yang dikatakan Kala tentang kondisinya tersebut. Namun Enrico tak mau terlalu terburu-buru. Ia ingin mempelajari dulu, apa yang sesungguhnya telah terjadi dengan remaja itu.
Sebagai dokter spesialis kejiwaan, Philip pasti bisa menangani kondisi anaknya. Tapi yang jelas, saat ini Enrico harus menemukan Philip terlebih dahulu kemudian mengajaknya untuk bicara.
Karena sejak semalam Philip benar-benar tak bisa di hubungi, mungkin ia begitu terpukul mendengar kabar kepergian Gayatri. Sebab ia sangat mencintai wanita itu, setidaknya itulah yang Enrico tau selama ini.
"Kamu makan dulu, istirahat yang cukup. Kalau ada apa-apa, bilang sama om atau minta tolong sama Egan atau bibi, oke?"
Kala mengangguk, lalu ia pun lalu melanjutkan makan.
***
Waktu berlalu.
"Phil."
Enrico menyusul Philip, yang kini berjalan cepat melintasi koridor di sebuah bangsal. Tampak sekali dokter psikiater itu ingin menghindari Enrico.
"Phil, lo mau lari kemana?. Dia anak lo."
Philip menghentikan langkah dan terdiam. Namun ia tak menoleh sedikitpun ke arah Enrico.
"Suruh dia pulang ke rumah keluarganya Ric, dia harus sekolah." ujar Philip.
"Lo nggak bisa menyalahkan dia atas kematian Gayatri."
"Tapi Gayatri meninggal setelah melahirkan dia kan?." Philip menoleh dan menatap Enrico lekat-lekat.
"Itu bukan salah dia, dia nggak tau apa-apa."
"Gue nggak bisa, Ric. Dia harus pulang, sekarang!."
"Dia anak lo."
"Nggak ada bukti tes DNA juga kan?"
"Gue udah ambil sampel darahnya, gue udah siap dengan tes DNA yang lo maksud. Tinggal lo nya aja, maunya kapan. Yang jelas kita punya waktu 72 jam setelah sampel ini diambil."
Enrico berujar seraya balas menatap dalam ke mata Philip, sementara Philip kini membeku.
"Lo nggak berhak mengatur gue." ujarnya sambil berbalik arah.
"Phil."
Philip tak menjawab dan terus melangkah.
"Dia disiksa di keluarga ibunya."
Philip tersentak dan kembali menghentikan langkah. Nafas pria itu kini terdengar memburu.
"Apa lo nggak liat, banyak bekas luka di tangan, leher, dan sebagian pelipisnya?. Itu bekas pemukulan, Phil. kita mudah mengetahui hal semacam itu, tanpa perlu orang yang bersangkutan bicara."
Enrico mendekat ke arah Philip.
"Apa lo nggak kasihan, darah daging lo tumbuh tanpa kasih sayang ibu dan ayahnya?. Dimana hati nurani lo sebagai manusia, sebagai seorang dokter?. Dia sakit, Phil. Orang lain lo tolong, kenapa sama anak kandung sendiri lo malah nggak peduli?"
Kata-kata yang keluar dari bibir Enrico tersebut, seakan menghujam jantung Philip.
"Mental anak itu rusak parah. Lo harus selamatkan dia, sebelum lo kehilangan untuk yang kedua kali. Atau lo akan menyesal, seumur hidup."
Enrico berlalu meninggalkan Philip, tinggal lah pria itu kini sendirian.
***
Flashback
Beberapa jam sebelum Enrico menemui Philip.
"Kal."
Enrico memanggil Kala yang saat itu entah dari mana, sepertinya ia dari melihat-lihat sekitaran rumah. Mungkin remaja itu bosan, pikir Enrico.
"Iya om." jawab Kala seraya mendekat.
"Om mau minta sampel darah kamu, untuk pemeriksaan."
"Emang ada hubungannya ya om, bisa melihat hal gaib dengan darah?" tanya Kala heran sekaligus penuh curiga.
"Mm, iya. Ada koq." jawab Enrico singkat.
"Om mau tau dulu kamu ada penyakit lain atau nggak. Masalahnya kadang kekurangan gula darah pun bisa bikin orang berhalusinasi." lanjutnya lagi.
"Oh, oke."
Kala menyetujui hal tersebut, Enrico membawa remaja itu ke salah satu ruangan dan mengambil sampel darahnya sebanyak beberapa CC.
Kelak darah tersebut akan membuktikan, apakah benar Kala adalah benar darah daging Philip atau hanya sekedar mirip.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Ayla Anindiyafarisa
g suka aja y kok ada bapak yg nolak anaknya gitu
2025-03-14
0
Sri Supeni
bikin jengkel itu philips
2022-03-22
0
FeVey
langsung terikat dan tertarik dengan nivelmu thor
2022-02-25
0